At issue is not whether we should question God, but in what manner—and for what reason—we question Him. To question God is not in itself wrong. The prophet Habakkuk had questions for God concerning the timing and agency of the Lord’s plan. Habakkuk, rather than being rebuked for his questions, is patiently answered, and the prophet ends his book with a song of praise to the Lord. Many questions are put to God in the Psalms (Psalms 10, 44, 74, 77). These are the cries of the persecuted who are desperate for God’s intervention and salvation. Although God does not always answer our questions in the way we want, we conclude from these passages that a sincere question from an earnest heart is welcomed by God.
Insincere questions, or questions from a hypocritical heart, are a different matter. “And without faith it is impossible to please God, because anyone who comes to him must believe that he exists and that he rewards those who earnestly seek him” (Hebrews 11:6). After King Saul had disobeyed God, his questions went unanswered (1 Samuel 28:6). It is entirely different to wonder why God allowed a certain event than it is to directly question God's goodness. Having doubts is different from questioning God's sovereignty and attacking His character. In short, an honest question is not a sin, but a bitter, untrusting, or rebellious heart is. God is not intimidated by questions. God invites us to enjoy close fellowship with Him. When we “question God,” it should be from a humble spirit and open mind. We can question God, but we should not expect an answer unless we are genuinely interested in His answer. God knows our hearts, and knows whether we are genuinely seeking Him to enlighten us. Our heart attitude is what determines whether it is right or wrong to question God.
ga cakep tapi menarik kadang jutek dan cuek selalu kocak dan gaul suka narcis tpi tetep manis kadang nyebelin tpi ngangenin kadang cupu tpi lucu,, itulah gue..
Sabtu, 13 November 2010
Is it wrong to question God?
Apa artinya memiliki takut akan Allah?
Alkitab tidak pernah secara khusus berbicara mengenai soal aborsi. Namun demikian, ada banyak ajaran Alkitab yang membuat jelas apa pandangan Allah mengenai aborsi. Yeremia 1:5 memberitahu kita bahwa Allah mengenal kita sebelum Dia membentuk kita dalam kandungan. Mazmur 139:13-16 berbicara mengenai peran aktif Allah dalam menciptakan dan membentuk kita dalam rahim. Keluaran 21:22-25 memberikan hukuman yang sama kepada orang yang mengakibatkan kematian seorang bayi yang masih dalam kandungan dengan orang yang membunuh. Hal ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah memandang bayi dalam kandungan sebagai manusia sama seperti orang dewasa. Bagi orang Kristen aborsi bukan hanya sekedar soal hak perempuan untuk memilih. Aborsi juga berkenaan dengan hidup matinya manusia yang diciptakan dalam rupa Allah (Kejadian 1:26-27; 9:6).
Argumen pertama yang selalu diangkat untuk menentang posisi orang Kristen dalam hal aborsi adalah, “Bagaimana dengan kasus pemerkosaan dan/atau hubungan seks antar saudara. Betapapun mengerikannya hamil sebagai akibat pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara, apakah membunuh sang bayi adalah jawabannya? Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran. Anak yang lahir sebagai hasil pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara dapat saja diberikan untik diadopsi oleh keluarga yang tidak mampu memperoleh anak – atau anak tsb dapat dibesarkan oleh ibunya. Sekali lagi sang bayi tidak seharusnya dihukum karena perbuatan jahat ayahnya.
Argumen kedua yang biasanya diangkat untuk menentang posisi orang Kristen dalam hal aborsi adalah, “Bagaimana jikalau hidup sang ibu terancam?” Secara jujur ini adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab dalam soal aborsi. Pertama-tama perlu diingat bahwa situasi semacam ini hanya kurang dari 1/10 dari 1 persen dari seluruh aborsi yang dilakukan di dunia saat ini. Jauh lebih banyak perempuan yang melakukan aborsi karena merka tidak mau “merusak tubuh mereka” daripada perempuan yang melakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kedua, mari kita mengingat bahwa Allah kita adalah Allah dari mujizat. Dia dapat menjaga hidup dari ibu dan anak sekalipun secara medis hal itu tidak mungkin. Akhirnya, keputusan ini hanya dapat diambil antara suami, isteri dan Allah. Setiap pasangan yang menghadapi situasi yang sangat sulit ini harus berdoa minta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5) untuk apa yang Tuhan mau mereka buat.
Pada 99% dari aborsi yang dilakukan sekarang ini alasannya adalah “pengaturan kelahiran secara retroaktif.” Perempuan dan/atau pasangannya memutuskan bahwa mereka tidak menginginkan bayi yang dikandung. Maka mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup dari bayi itu daripada harus bertanggung jawab. Ini adalah kejahatan yang terbesar. Bahkan dalam kasus 1% yang sulit itu, aborsi tidak sepantasnya dijadikan opsi pertama. Hidup dari manusia dalam kandungan tu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya.
Bagi mereka yang telah melakukan aborsi, dosa aborsi tidaklah lebih sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Melalui iman dalam Kristus, semua dosa apapun dapat diampuni (Yohanes 3:16; Roma 8:1; Kolose 1:14). Perempuan yang telah melakukan aborsi, atau lai-laki yang mendorong aborsi, atau bahkan dokter yang melakukan aborsi, semuanya dapat diampuni melalui iman di dalam Yesus Kristus.
Argumen pertama yang selalu diangkat untuk menentang posisi orang Kristen dalam hal aborsi adalah, “Bagaimana dengan kasus pemerkosaan dan/atau hubungan seks antar saudara. Betapapun mengerikannya hamil sebagai akibat pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara, apakah membunuh sang bayi adalah jawabannya? Dua kesalahan tidak menghasilkan kebenaran. Anak yang lahir sebagai hasil pemerkosaan atau hubungan seks antar saudara dapat saja diberikan untik diadopsi oleh keluarga yang tidak mampu memperoleh anak – atau anak tsb dapat dibesarkan oleh ibunya. Sekali lagi sang bayi tidak seharusnya dihukum karena perbuatan jahat ayahnya.
Argumen kedua yang biasanya diangkat untuk menentang posisi orang Kristen dalam hal aborsi adalah, “Bagaimana jikalau hidup sang ibu terancam?” Secara jujur ini adalah pertanyaan paling sulit untuk dijawab dalam soal aborsi. Pertama-tama perlu diingat bahwa situasi semacam ini hanya kurang dari 1/10 dari 1 persen dari seluruh aborsi yang dilakukan di dunia saat ini. Jauh lebih banyak perempuan yang melakukan aborsi karena merka tidak mau “merusak tubuh mereka” daripada perempuan yang melakukan aborsi untuk menyelamatkan jiwa mereka. Kedua, mari kita mengingat bahwa Allah kita adalah Allah dari mujizat. Dia dapat menjaga hidup dari ibu dan anak sekalipun secara medis hal itu tidak mungkin. Akhirnya, keputusan ini hanya dapat diambil antara suami, isteri dan Allah. Setiap pasangan yang menghadapi situasi yang sangat sulit ini harus berdoa minta hikmat dari Tuhan (Yakobus 1:5) untuk apa yang Tuhan mau mereka buat.
Pada 99% dari aborsi yang dilakukan sekarang ini alasannya adalah “pengaturan kelahiran secara retroaktif.” Perempuan dan/atau pasangannya memutuskan bahwa mereka tidak menginginkan bayi yang dikandung. Maka mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup dari bayi itu daripada harus bertanggung jawab. Ini adalah kejahatan yang terbesar. Bahkan dalam kasus 1% yang sulit itu, aborsi tidak sepantasnya dijadikan opsi pertama. Hidup dari manusia dalam kandungan tu layak untuk mendapatkan segala usaha untuk memastikan kelahirannya.
Bagi mereka yang telah melakukan aborsi, dosa aborsi tidaklah lebih sulit diampuni dibanding dengan dosa-dosa lainnya. Melalui iman dalam Kristus, semua dosa apapun dapat diampuni (Yohanes 3:16; Roma 8:1; Kolose 1:14). Perempuan yang telah melakukan aborsi, atau lai-laki yang mendorong aborsi, atau bahkan dokter yang melakukan aborsi, semuanya dapat diampuni melalui iman di dalam Yesus Kristus.
What does it mean to have the fear of God?
For the unbeliever, the fear of God is the fear of the judgment of God and eternal death, which is eternal separation from God (Luke 12:5; Hebrews 10:31). For the believer, the fear of God is something much different. The believer's fear is reverence of God. Hebrews 12:28-29 is a good description of this: “Therefore, since we are receiving a kingdom that cannot be shaken, let us be thankful, and so worship God acceptably with reverence and awe, for our ’God is a consuming fire.’” This reverence and awe is exactly what the fear of God means for Christians. This is the motivating factor for us to surrender to the Creator of the Universe.
Proverbs 1:7 declares, “The fear of the LORD is the beginning of knowledge.” Until we understand who God is and develop a reverential fear of Him, we cannot have true wisdom. True wisdom comes only from understanding who God is and that He is holy, just, and righteous. Deuteronomy 10:12, 20-21 records, “And now, O Israel, what does the LORD your God ask of you but to fear the LORD your God, to walk in all his ways, to love him, to serve the LORD your God with all your heart and with all your soul. Fear the LORD your God and serve him. Hold fast to him and take your oaths in his name. He is your praise; he is your God, who performed for you those great and awesome wonders you saw with your own eyes.” The fear of God is the basis for our walking in His ways, serving Him, and, yes, loving Him.
Some redefine the fear of God for believers to “respecting” Him. While respect is definitely included in the concept of fearing God, there is more to it than that. A biblical fear of God, for the believer, includes understanding how much God hates sin and fearing His judgment on sin—even in the life of a believer. Hebrews 12:5-11 describes God’s discipline of the believer. While it is done in love (Hebrews 12:6), it is still a fearful thing. As children, the fear of discipline from our parents no doubt prevented some evil actions. The same should be true in our relationship with God. We should fear His discipline, and therefore seek to live our lives in such a way that pleases Him.
Believers are not to be scared of God. We have no reason to be scared of Him. We have His promise that nothing can separate us from His love (Romans 8:38-39). We have His promise that He will never leave us or forsake us (Hebrews 13:5). Fearing God means having such a reverence for Him that it has a great impact on the way we live our lives. The fear of God is respecting Him, obeying Him, submitting to His discipline, and worshipping Him in awe.
Proverbs 1:7 declares, “The fear of the LORD is the beginning of knowledge.” Until we understand who God is and develop a reverential fear of Him, we cannot have true wisdom. True wisdom comes only from understanding who God is and that He is holy, just, and righteous. Deuteronomy 10:12, 20-21 records, “And now, O Israel, what does the LORD your God ask of you but to fear the LORD your God, to walk in all his ways, to love him, to serve the LORD your God with all your heart and with all your soul. Fear the LORD your God and serve him. Hold fast to him and take your oaths in his name. He is your praise; he is your God, who performed for you those great and awesome wonders you saw with your own eyes.” The fear of God is the basis for our walking in His ways, serving Him, and, yes, loving Him.
Some redefine the fear of God for believers to “respecting” Him. While respect is definitely included in the concept of fearing God, there is more to it than that. A biblical fear of God, for the believer, includes understanding how much God hates sin and fearing His judgment on sin—even in the life of a believer. Hebrews 12:5-11 describes God’s discipline of the believer. While it is done in love (Hebrews 12:6), it is still a fearful thing. As children, the fear of discipline from our parents no doubt prevented some evil actions. The same should be true in our relationship with God. We should fear His discipline, and therefore seek to live our lives in such a way that pleases Him.
Believers are not to be scared of God. We have no reason to be scared of Him. We have His promise that nothing can separate us from His love (Romans 8:38-39). We have His promise that He will never leave us or forsake us (Hebrews 13:5). Fearing God means having such a reverence for Him that it has a great impact on the way we live our lives. The fear of God is respecting Him, obeying Him, submitting to His discipline, and worshipping Him in awe.
Pernahkah orang melihat Allah?
Alkitab mengatakan bahwa tidak seorangpun pernah melihat Allah (Yohanes 1:18) kecuali Tuhan Yesus Kristus. Dalam Keluaran 33:20, Allah menyatakan, "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup." (Keluaran 33:20) Ayat-ayat Alkitab ini sepertinya bertentangan dengan bagian Alkitab lainnya di mana bermacam-macam orang “melihat” Allah. Misalnya, Keluaran 33:19-23 menggambarkan Musa berbicara kepada Allah “muka dengan muka.” Bagaimana mungkin Musa berbicara dengan Allah “muka dengan muka” kalau tidak seorangpun dapat melihat wajah Allah dan tetap hidup? Dalam contoh ini, kalimat “muka dengan muka” adalah kalimat figuratif yang mengindikasikan bahwa mereka berada dalam persekutuan yang amat dekat. Allah dan Musa berbicara satu kepada yang lain “sepertinya” mereka itu dua orang manusia yang bercakap-cakap secara akrab.
Dalam Kejadian 32:30 Yakub melihat Allah menampakkan diri sebagai seorang malaikat – Dia tidak betul-betul melihat Allah. Orangtua Simson ketakutan ketika mereka menyadari bahwa mereka telah melihat Allah (Hakim-Hakim 13:22), namun mereka hanya melihat Dia dalam penampakannya sebagai seorang malaikat. Yesus adalah Allah dalam wujud manusia (Yohanes 1:1, 14) sehingga ketika orang-orang melihat Dia, mereka melihat Allah. Jadi, ya, Allah dapat “dilihat” dan banyak orang telah “melihat” Allah. Pada saat yang sama, tidak seorangpun pernah melihat Allah dalam segala kemuliaanNya. Dalam kondisi kita sebagai manusia yang jatuh, jika Allah benar-benar menyatakan diri kepada kita secara penuh, kita akan habis binasa. Karena itu Allah menutup diriNya dan menampakkan diri dalam rupa yang dapat kita “lihat.” Namun demikian, ini tidak sama dengan melihat Allah dalam segala kemuliaan dan kekudusanNya. Orang-orang mendapat penglihatan tentang Allah, gambar Allah, dan penampakan diri Allah – namun tidak seorangpun pernah melihat Allah dalam kesempurnaanNya (Kejadian 33:20).
Dalam Kejadian 32:30 Yakub melihat Allah menampakkan diri sebagai seorang malaikat – Dia tidak betul-betul melihat Allah. Orangtua Simson ketakutan ketika mereka menyadari bahwa mereka telah melihat Allah (Hakim-Hakim 13:22), namun mereka hanya melihat Dia dalam penampakannya sebagai seorang malaikat. Yesus adalah Allah dalam wujud manusia (Yohanes 1:1, 14) sehingga ketika orang-orang melihat Dia, mereka melihat Allah. Jadi, ya, Allah dapat “dilihat” dan banyak orang telah “melihat” Allah. Pada saat yang sama, tidak seorangpun pernah melihat Allah dalam segala kemuliaanNya. Dalam kondisi kita sebagai manusia yang jatuh, jika Allah benar-benar menyatakan diri kepada kita secara penuh, kita akan habis binasa. Karena itu Allah menutup diriNya dan menampakkan diri dalam rupa yang dapat kita “lihat.” Namun demikian, ini tidak sama dengan melihat Allah dalam segala kemuliaan dan kekudusanNya. Orang-orang mendapat penglihatan tentang Allah, gambar Allah, dan penampakan diri Allah – namun tidak seorangpun pernah melihat Allah dalam kesempurnaanNya (Kejadian 33:20).
Has anyone ever seen God?
The Bible tells us that no one has ever seen God (John 1:18) except the Lord Jesus Christ. In Exodus 33:20, God declares, “You cannot see my face, for no one may see me and live.” These Scriptures seem to contradict other Scriptures which describe various people “seeing” God. For example, Exodus 33:19-23 describes Moses speaking to God “face to face.” How could Moses speak with God “face to face” if no one can see God's face and live? In this instance, the phrase “face to face” is a figure of speech indicating they were in very close communion. God and Moses were speaking to each other as if they were two human beings having a close conversation.
In Genesis 32:30, Jacob saw God appearing as an angel; he did not truly see God. Samson’s parents were terrified when they realized they had seen God (Judges 13:22), but they had only seen Him appearing as an angel. Jesus was God in the flesh (John 1:1, 14) so when people saw Him, they were seeing God. So, yes, God can be “seen” and many people have “seen” God. At the same time, no one has ever seen God revealed in all His glory. In our fallen human condition, if God were to fully reveal Himself to us, we would be consumed and destroyed. Therefore, God veils Himself and appears in forms in which we can “see” Him. However, this is different than seeing God with all His glory and holiness displayed. People have seen visions of God, images of God, and appearances of God, but no one has ever seen God in all His fullness (Exodus 33:20).
In Genesis 32:30, Jacob saw God appearing as an angel; he did not truly see God. Samson’s parents were terrified when they realized they had seen God (Judges 13:22), but they had only seen Him appearing as an angel. Jesus was God in the flesh (John 1:1, 14) so when people saw Him, they were seeing God. So, yes, God can be “seen” and many people have “seen” God. At the same time, no one has ever seen God revealed in all His glory. In our fallen human condition, if God were to fully reveal Himself to us, we would be consumed and destroyed. Therefore, God veils Himself and appears in forms in which we can “see” Him. However, this is different than seeing God with all His glory and holiness displayed. People have seen visions of God, images of God, and appearances of God, but no one has ever seen God in all His fullness (Exodus 33:20).
Apakah Allah mengubah pikiranNya?
Maleakhi 3:6 menyatakan, “Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap.” Demikian pula Yakobus 1:17 memberitahukan kita, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” Makna dari Bilangan 23:19 amatlah jelas, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Tidak, Allah tidak mengubah pikiranNya. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak berubah dan tidak dapat diubah.
Namun ini nampaknya bertolakbelakang dengan apa yang diajarkan dalam ayat-ayat lain, seperti misalnya Kejadian 6:6, “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” Demikian pula Yunus 3:10 yang mengatakan, “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” Keluaran 32:14 juga mengatakan, “Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” Ayat-ayat ini bebicara mengenai Tuhan “menyesali” sesuatu, dan kelihatan bertolakbelakang dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak berubah. Namun demikian, analisa lebih dalam dari ayat-ayat ini mengungkapkan bahwa ini bukanlah indikasi yang sebenarnya bahwa Allah dapat berubah. Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan “menyesal” adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berarti “berbelas kasihan.” Merasa kasihan untuk sesuatu hal bukan berarti ada perubahan yang terjadi, hal itu hanya menyatakan kesedihan untuk sesuatu yang telah terjadi.
Pertimbangkan Kejadian 6:6 bahwa, “menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi.” Ayat ini selanjutnya mengatakan, “…dan hal itu memilukan hati-Nya.” Ayat ini mengatakan bahwa Allah menyesal telah menciptakan manusia. Namun jelas bahwa Dia tidak mengubah keputusanNya. Sebaliknya, melalui Nuh Dia mengijinkan manusia tetap ada. Kenyataan bahwa kita masih hidup sekarang ini adalah bukti nyata bahwa Allah tidak mengubah pikiranNya soal menciptakan manusia. Juga konteks dari ayat ini adalah gambaran mengenai keadaan manusia yang hidup dalam dosa, dan dosa manusialah yang memicu kesedihan Allah, bukan keberadaan manusia. Pertimbangkan apa yang dikatakan oleh Yunus 3:10, …“maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” Kata menyesal di sini adalah kata yang sama dalam Bahasa Ibrani yang berarti “berbelas kasihan.” Mengapa Allah berbelas kasihan kepada orang-orang Niniwe? Karena mereka bertobat, dan sebagai hasilnya, mereka berubah dari tidak taat kepada ketaatan. Allah sama sekali konsisten. Allah akan menghukum Niniwe karena kejahatan mereka. Namun Niniwe menyesal dan mengubah cara hidup mereka. Sebagai hasilnya Allah berbelas kasihan kepada Niniwe, semua ini tetap konsisten dengan karakterNya.
Roma 3:23 mengajar kita bahwa semua orang sudah berdosa dan tidak mencapai standar Allah. Roma 6:23 mengatakan bahwa konsekwensi dari semua ini adalah kematian (rohani dan jasmaniah). Jadi penduduk Niniwe pantas untuk dihukum. Setiap kita juga menghadapi situasi yang sama karena pilihan manusia untuk berdosalah yang memisahkan kita semua dari Allah. Manusia tidak dapat meminta Allah bertanggung jawab untuk kesulitannya. Karena itu adalah berlawanan dengan karakter Allah kalau Dia tidak menghukum penduduk Niniwe saat mereka terus berdosa. Namun orang-orang Niniwe berbalik menjadi taat, dan karena itu Allah memilih untuk tidak menghukum mereka sebagaimana yang semula direncanakan. Apakah perubahan dari orang-orang Niniwe mewajibkan Allah tetap melakukan apa yang direncanakan? Sama sekali tidak! Allah tidak punya kewajiban kepada manusia. Allah baik dan adil, dan Dia memilih untuk tidak menghukum orang-orang Niniwe karena pertobatan mereka. Paling sedikit ayat ini sebetulnya justru menunjukkan bahwa Allah tidak berubah karena kalau Allah tidak menyelamatkan orang-orang Niniwe, hal itu justru bertentangan dengan karakter Allah.
Ayat-ayat Alkitab yang menggambarkan Allah sepertinya “mengubah pikiranNya” adalah upaya manusia untuk menjelaskan tindakan Allah. Allah mau melakukan sesuatu, namun sebaliknya Dia justru melakukan yang lain. Bagi kita, hal ini sepertinya berubah. Namun bagi Allah yang Mahakuasa dan berdaulat, itu bukanlah perubahan. Allah selalu tahu apa yang Dia mau lakukan. Allah juga tahu apa yang Dia harus lakukan untuk membuat manusia melakukan apa yang Dia ingin mereka lakukan. Allah mengancam untuk menghancurkan Niniwe, Dia tahu bahwa hal itu akan mengakibatkan Niniwe bertobat. Allah mengancam untuk menghancurkan Israel, dan Dia tahu bahwa Musa akan berdoa syafaat bagi mereka. Allah tidak menyesali keputusanNya, namun sedih karena respon dari sebagian orang terhadap keputusan-keputusanNya. Allah tidak mengubah pikiranNya, namun bertindak konsisten sesuai dengan FirmanNya sebagai respon terhadap tindakan kita.
Namun ini nampaknya bertolakbelakang dengan apa yang diajarkan dalam ayat-ayat lain, seperti misalnya Kejadian 6:6, “maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” Demikian pula Yunus 3:10 yang mengatakan, “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” Keluaran 32:14 juga mengatakan, “Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya.” Ayat-ayat ini bebicara mengenai Tuhan “menyesali” sesuatu, dan kelihatan bertolakbelakang dengan ayat-ayat yang mengatakan bahwa Allah tidak berubah. Namun demikian, analisa lebih dalam dari ayat-ayat ini mengungkapkan bahwa ini bukanlah indikasi yang sebenarnya bahwa Allah dapat berubah. Dalam bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan “menyesal” adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang berarti “berbelas kasihan.” Merasa kasihan untuk sesuatu hal bukan berarti ada perubahan yang terjadi, hal itu hanya menyatakan kesedihan untuk sesuatu yang telah terjadi.
Pertimbangkan Kejadian 6:6 bahwa, “menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi.” Ayat ini selanjutnya mengatakan, “…dan hal itu memilukan hati-Nya.” Ayat ini mengatakan bahwa Allah menyesal telah menciptakan manusia. Namun jelas bahwa Dia tidak mengubah keputusanNya. Sebaliknya, melalui Nuh Dia mengijinkan manusia tetap ada. Kenyataan bahwa kita masih hidup sekarang ini adalah bukti nyata bahwa Allah tidak mengubah pikiranNya soal menciptakan manusia. Juga konteks dari ayat ini adalah gambaran mengenai keadaan manusia yang hidup dalam dosa, dan dosa manusialah yang memicu kesedihan Allah, bukan keberadaan manusia. Pertimbangkan apa yang dikatakan oleh Yunus 3:10, …“maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” Kata menyesal di sini adalah kata yang sama dalam Bahasa Ibrani yang berarti “berbelas kasihan.” Mengapa Allah berbelas kasihan kepada orang-orang Niniwe? Karena mereka bertobat, dan sebagai hasilnya, mereka berubah dari tidak taat kepada ketaatan. Allah sama sekali konsisten. Allah akan menghukum Niniwe karena kejahatan mereka. Namun Niniwe menyesal dan mengubah cara hidup mereka. Sebagai hasilnya Allah berbelas kasihan kepada Niniwe, semua ini tetap konsisten dengan karakterNya.
Roma 3:23 mengajar kita bahwa semua orang sudah berdosa dan tidak mencapai standar Allah. Roma 6:23 mengatakan bahwa konsekwensi dari semua ini adalah kematian (rohani dan jasmaniah). Jadi penduduk Niniwe pantas untuk dihukum. Setiap kita juga menghadapi situasi yang sama karena pilihan manusia untuk berdosalah yang memisahkan kita semua dari Allah. Manusia tidak dapat meminta Allah bertanggung jawab untuk kesulitannya. Karena itu adalah berlawanan dengan karakter Allah kalau Dia tidak menghukum penduduk Niniwe saat mereka terus berdosa. Namun orang-orang Niniwe berbalik menjadi taat, dan karena itu Allah memilih untuk tidak menghukum mereka sebagaimana yang semula direncanakan. Apakah perubahan dari orang-orang Niniwe mewajibkan Allah tetap melakukan apa yang direncanakan? Sama sekali tidak! Allah tidak punya kewajiban kepada manusia. Allah baik dan adil, dan Dia memilih untuk tidak menghukum orang-orang Niniwe karena pertobatan mereka. Paling sedikit ayat ini sebetulnya justru menunjukkan bahwa Allah tidak berubah karena kalau Allah tidak menyelamatkan orang-orang Niniwe, hal itu justru bertentangan dengan karakter Allah.
Ayat-ayat Alkitab yang menggambarkan Allah sepertinya “mengubah pikiranNya” adalah upaya manusia untuk menjelaskan tindakan Allah. Allah mau melakukan sesuatu, namun sebaliknya Dia justru melakukan yang lain. Bagi kita, hal ini sepertinya berubah. Namun bagi Allah yang Mahakuasa dan berdaulat, itu bukanlah perubahan. Allah selalu tahu apa yang Dia mau lakukan. Allah juga tahu apa yang Dia harus lakukan untuk membuat manusia melakukan apa yang Dia ingin mereka lakukan. Allah mengancam untuk menghancurkan Niniwe, Dia tahu bahwa hal itu akan mengakibatkan Niniwe bertobat. Allah mengancam untuk menghancurkan Israel, dan Dia tahu bahwa Musa akan berdoa syafaat bagi mereka. Allah tidak menyesali keputusanNya, namun sedih karena respon dari sebagian orang terhadap keputusan-keputusanNya. Allah tidak mengubah pikiranNya, namun bertindak konsisten sesuai dengan FirmanNya sebagai respon terhadap tindakan kita.
Does God change His mind?
Malachi 3:6 declares, “I the LORD do not change. So you, O descendants of Jacob, are not destroyed.” Similarly, James 1:17 tells us, “Every good and perfect gift is from above, coming down from the Father of the heavenly lights, who does not change like shifting shadows.” The meaning of Numbers 23:19 could not be more clear: “God is not a man, that He should lie, nor a son of man, that He should change His mind. Does He speak and then not act? Does He promise and not fulfill?” No, God does not change His mind. These verses assert that God is unchanging and unchangeable.
How then do we explain verses such as Genesis 6:6, “The LORD was grieved that He had made man on the earth, and His heart was filled with pain”? Also, Jonah 3:10, which says, “When God saw what they did and how they turned from their evil ways, He had compassion and did not bring upon them the destruction He had threatened.” Similarly, Exodus 32:14 proclaims, “Then the LORD relented and did not bring on His people the disaster He had threatened.” These verses speak of the Lord “repenting” of something and seem to contradict the doctrine of God’s immutability. However, close examination of these passages reveals that these are not truly indications that God is capable of changing. In the original language, the word that is translated as “repent” or “relent” is the Hebrew expression “to be sorry for.” Being sorry for something does not mean that a change has occurred; it simply means there is regret for something that has taken place.
Consider Genesis 6:6: “…the LORD was grieved that He had made man on the earth.” This verse even goes on to say “His heart was filled with pain.” This verse declares that God had regret for creating man. However, obviously He did not reverse His decision. Instead, through Noah, He allowed man to continue to exist. The fact that we are alive today is proof that God did not change His mind about creating man. Also, the context of this passage is a description of the sinful state in which man was living, and it is man’s sinfulness that triggered God’s sorrow, not man’s existence. Consider Jonah 3:10: “…He had compassion and did not bring upon them the destruction He had threatened.” Again, the same Hebrew word is used, which translates “to be sorry for.” Why was God sorry for what He had planned for the Ninevites? Because they had a change in heart and as a result changed their ways from disobedience to obedience. God is entirely consistent. God was going to judge Nineveh because of its evil. However, Nineveh repented and changed its ways. As a result, God had mercy on Nineveh, which is entirely consistent with His character.
Romans 3:23 teaches us that all men sin and fall short of God’s standard. Romans 6:23 states that the consequence for this is death (spiritual and physical). So the people of Nineveh were deserving of punishment. All of us face this same situation; it is man’s choosing to sin that separates us from God. Man cannot hold God responsible for his own predicament. So it would be contrary to the character of God to not punish the Ninevites had they continued in sin. However, the people of Nineveh turned to obedience, and for that the Lord chose not to punish them as He had originally intended. Did the change on the part of the Ninevites obligate God to do what He did? Absolutely not! God cannot be placed in a position of obligation to man. God is good and righteous, and chose not to punish the Ninevites as a result of their change of heart. If anything, what this passage does is point to the fact that God does not change, because had the Lord not preserved the Ninevites, it would have been contrary to His character.
The Scriptures that are interpreted as God seeming to change His mind are human attempts to explain the actions of God. God was going to do something, but instead did something else. To us, that sounds like a change. But to God, who is omniscient and sovereign, it is not a change. God always knew what He was going to do. God does what He needs to do to cause humanity to fulfill His perfect plan. “…declaring the end from the beginning, and from the past things which were not done, saying, My purpose shall stand, and I will do all My pleasure … What I have said, that will I bring about; what I have planned, that will I do” (Isaiah 46:10-11). God threatened Nineveh with destruction, knowing that it would cause Nineveh to repent. God threatened Israel with destruction, knowing that Moses would intercede. God does not regret His decisions, but He is saddened by some of what man sometimes does in response to His decisions. God does not change His mind but rather acts consistently with His Word in response to our actions.
How then do we explain verses such as Genesis 6:6, “The LORD was grieved that He had made man on the earth, and His heart was filled with pain”? Also, Jonah 3:10, which says, “When God saw what they did and how they turned from their evil ways, He had compassion and did not bring upon them the destruction He had threatened.” Similarly, Exodus 32:14 proclaims, “Then the LORD relented and did not bring on His people the disaster He had threatened.” These verses speak of the Lord “repenting” of something and seem to contradict the doctrine of God’s immutability. However, close examination of these passages reveals that these are not truly indications that God is capable of changing. In the original language, the word that is translated as “repent” or “relent” is the Hebrew expression “to be sorry for.” Being sorry for something does not mean that a change has occurred; it simply means there is regret for something that has taken place.
Consider Genesis 6:6: “…the LORD was grieved that He had made man on the earth.” This verse even goes on to say “His heart was filled with pain.” This verse declares that God had regret for creating man. However, obviously He did not reverse His decision. Instead, through Noah, He allowed man to continue to exist. The fact that we are alive today is proof that God did not change His mind about creating man. Also, the context of this passage is a description of the sinful state in which man was living, and it is man’s sinfulness that triggered God’s sorrow, not man’s existence. Consider Jonah 3:10: “…He had compassion and did not bring upon them the destruction He had threatened.” Again, the same Hebrew word is used, which translates “to be sorry for.” Why was God sorry for what He had planned for the Ninevites? Because they had a change in heart and as a result changed their ways from disobedience to obedience. God is entirely consistent. God was going to judge Nineveh because of its evil. However, Nineveh repented and changed its ways. As a result, God had mercy on Nineveh, which is entirely consistent with His character.
Romans 3:23 teaches us that all men sin and fall short of God’s standard. Romans 6:23 states that the consequence for this is death (spiritual and physical). So the people of Nineveh were deserving of punishment. All of us face this same situation; it is man’s choosing to sin that separates us from God. Man cannot hold God responsible for his own predicament. So it would be contrary to the character of God to not punish the Ninevites had they continued in sin. However, the people of Nineveh turned to obedience, and for that the Lord chose not to punish them as He had originally intended. Did the change on the part of the Ninevites obligate God to do what He did? Absolutely not! God cannot be placed in a position of obligation to man. God is good and righteous, and chose not to punish the Ninevites as a result of their change of heart. If anything, what this passage does is point to the fact that God does not change, because had the Lord not preserved the Ninevites, it would have been contrary to His character.
The Scriptures that are interpreted as God seeming to change His mind are human attempts to explain the actions of God. God was going to do something, but instead did something else. To us, that sounds like a change. But to God, who is omniscient and sovereign, it is not a change. God always knew what He was going to do. God does what He needs to do to cause humanity to fulfill His perfect plan. “…declaring the end from the beginning, and from the past things which were not done, saying, My purpose shall stand, and I will do all My pleasure … What I have said, that will I bring about; what I have planned, that will I do” (Isaiah 46:10-11). God threatened Nineveh with destruction, knowing that it would cause Nineveh to repent. God threatened Israel with destruction, knowing that Moses would intercede. God does not regret His decisions, but He is saddened by some of what man sometimes does in response to His decisions. God does not change His mind but rather acts consistently with His Word in response to our actions.
Kamis, 11 November 2010
Pasangan Sinting ML di Tempat Umum
MENJUAL SISIR PADA BIKSU
Pertanyaan :
Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul) -- Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda ?
a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)
Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.
Cerita : MENJUAL SISIR PADA BIKSU
Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru.
Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut.. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.
Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara.
Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. A menjawab: "Hanya SATU."
Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"
Mr. A menjawab:
"Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."
"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung sang Buddha."
Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"
Mr. B menjawab: "SERIBU buah!"
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"
Mr. C menjawab:
"Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!"MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.
Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."
"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita."
Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%. Semoga sukses !"
Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul) -- Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda ?
a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)
Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.
Cerita : MENJUAL SISIR PADA BIKSU
Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru.
Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.
Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut.. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.
Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara.
Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)
Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."
Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. A menjawab: "Hanya SATU."
Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"
Mr. A menjawab:
"Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."
Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."
"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada patung sang Buddha."
Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"
Mr. B menjawab: "SERIBU buah!"
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"
Mr. C menjawab:
"Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!"MORAL DARI CERITA
Universitas Harvard telah melakukan riset, dengan hasil :
1) 85% kesuskesan itu adalah karena SIKAP dan 15% adalah karena kemampuan.
2) SIKAP itu lebih penting dari kepandaian, keahlian khusus dan keberuntungan.
Dengan kata lain, pengetahuan profesional hanya menyumbang 15% dari sebuah kesuksesan seseorang dan 85% adalah pemberdayaan diri, hubungan sosial dan adaptasi. Kesuksesan dan kegagalan bergantung pada bagaimana sikap kita menghadapi masalah.
Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."
"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegah teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita."
Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan. Jadi, dengan sepenuh hati terapkanlah SIKAP kerja yang benar 85%. Semoga sukses !"
mitos-mitos yang ada di Jogja
1. Memeluk Tugu Jogja
Mitos ini telah berkembang di kalangan mahasiswa sejak dahulu kala. Dari jaman saya masih kuliah sampai sekarang saya lulus. Padahal perasaan sudah meluk Tugu berkali-kali sampe bobok-bobok disana segala, huehe... Tugu Jogja ini tepat berada ditengah-tengah perempatan jalan besar, salah satunya Jalan Mangkubumi yang menuju ke Jalan Malioboro. Biasanya pada malam hari banyak gerombolan anak muda yang berfoto-foto riang di depan ataupun samping Tugu Jogja yang pada awalnya bernama Golog Giling ini. Kamu pengen cepet lulus kuliah? Cepetan peluk Tugu! Jangan lupa foto-foto disana buat ditaruh di Facebook atau Multiply kamu *narsis mah kudu!*
2. Suara derap kaki kuda di malam hari
Nah, kalau kamu pas tengah malam tiba-tiba merasa mendengar suara andong lengkap dengan suara langkah derap kaki kuda melewati depan rumah atau kamar kamu, itu artinya kamu bakal betaaaaaaah sekali tinggal di Jogja. Mitosnya itu adalah suara andong milik Kanjeng Ratu Kidul yang memberi pangestu kepada kita untuk tinggal di Jogja dengan damai. Tapi hati-hati jangan kecelek seperti temen saya, merasa denger suara andong, eh yang lewat cuma tukang sate, hihi....
3. Minum air selokan Mataram
Kalau kamu tinggal di utara dan timur Jogja pasti sudah gak asing sama yang namanya selokan Mataram. Selokan yang melewati tempat hunian anak-anak kos di daerah Pogung sampai di daerah Babarsari yang menggurita akan kampus-kampus. Mitos yang berkembang nih kalau kamu minum air selokan ini katanya setelah kamu meninggalkan kota Jogja, suatu hari nanti pasti akan kembali dan terus kembali ke Jogja. Bisa jadi karena dapat jodoh cowok atau cewek asli Jogja, mungkin lho.... Tapi menarik juga nih! *tuing tuing*
4. Tidak boleh foto-foto di depan gerbang utama kampus UGM yang bertuliskan Universitas Gadjah Mada.
Nah! Ini yang paling menarik menurut saya, hehe... Mitosnya adalah kalau kamu belum lulus kuliah dan berani foto-foto di depan tulisan itu, maka kamu akan menjadi mahasiswa abadi, selamanya! S-E-L-A-M-A-N-Y-A! Duh kayak dikutuk aja....
Tapi entah kenapa memang biasanya mereka yang foto-foto disana adalah hanya wisudawan serta wisudawati atau sekedar pengunjung yang iseng. Kalau mahasiswa UGM sendiri jarang sekali yang iseng foto-foto disana. Ah tapi gak terbukti kok, setelah teman2ku foto-foto di sana dengan wajah cemas dan gemeteran, akhirnya bisa lulus semua kuliah bodohnya di UGM itu, hihi *itu karena UGM bosen liat kalian mondar-mandir mulu Bian!*
5. Suara korps drum band di waktu subuh
Jika mendengar korps drum band dari kerajaan Merapi yang sedang apel pagi, hyuk. Gak ada artinya apa-apa sih, tapi memang gak semua orang bisa dengerin suara musik drum band yang berirama flat itu.
6.Legenda Yu Darmi
Dengan payung hitam dan baju hangat semacam sweater berkerah menutup leher, beliau "bekerja" menjadi PSK senior. Rumahnya kalo tidak salah diselatannya stasiun lempuyangan.
7.Kuyuhan dibawah Kretek Kewek
Jembatan atau Kretek Kewek, berasal dari kata Kerk=Gereja dan Wek=Weg=Jalan.Merupakan serapan dari kata bahasa Belanda.
Orang jogja, pasti sekali dua kali pernah merasakan kecipratan uyuh ketika melintas di bawah jembatan ini yang notabene adalah jalan atau rel kereta. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek ini menjadi fenomena unik di Jogja.
8. Legenda Manuk Bence dan Cul
Manuk atau burung Bence, kedatangannya yang ditandai dengan suara ocehannya pada tengah malam, dijadikan tanda akan adanya bahaya, kematian, bencana, dll. Sedangkan manuk atau burung Culi, dijadikan tanda bahwa ada jenazah yang tali kain kafannya belum dilepas, sehingga minta diculi, di-uculi (dilepas-Jawa).
9. Mitos dilarang nuding kuburan
Dahulu waktu ane masih kecil, ada mitos kalau tidak atau dengan sengaja menudingkan jari kita ke arah kuburan, maka kita harus menggigit ujung jari yang digunakan untuk menuding, jika bisa sampai berdarah, lantas ujung jari tersebut disentuhkan ke tanah dan bilang amit-amit ora ndulit. Tanah yang menempel di ujung jari, baru boleh dibersihkan setelah sampai kerumah. Kalau tidak dibegitukan namanya nuding setan, jarinya bisa bengkok gan
10. Mbah Atin
Mbah Atin adalah seorang ibu tua yang agak waras. Berbusana jarik-kebaya dan mengempit tas berwarna hitam, mbah Atin selalu saja tahu dan selalu ada jika ada sripah atau lelayu atau orang meninggal. Hingga, mbah Atin selalu dikait-kaitkan membawa kematian pada setiap daerah yang didatanginya.
11. Rumor tentang adanya hantu biyung tulung di njeron beteng
Dahulu, pernah sekali terjadi rumor tentang hantu biyung tulung di seputaran kadipaten ke arah ngasem (masih area njeron beteng). Hantu biyung tulung ini selalu tidak pernah menampakkan wujud, hanya suara yang mengaduh memanggil ibunya minta tolong "aduh biyung, tulung"
12. Gauk (sirine-Jawa) pabrik gula Madukismo
Suara gauk yang meraung raung setiap jam 5.45, 6.00, 21.45, dan pukul 22.00. Suara ini akan terdengar setiap musim tebang tebu atau disebut cembengan, yaitu pada bulan April-Oktober.
13. Gauk pitulasan, 1 maret, dan 10 november
Suara gauk ini berasal dari tower gauk di selatan pasar Gampingan (Serangan) selatan jalan.Kalau tanggal 1 maret dan 10 November pasti dibunyikan tepat jam 6 pagi. Kalau pas 17-an pasti jam 10 pagi. Pada saat gauk pitulasan dibunyikan, ada ritual kusus yang dilakukan para mahasiswa Institut Seni Indonesia, yaitu tiarap. Tapi akhir 80-an, tower yang sudah tidak berfungsi sejak awal 90-an itu sudah dirubuhkan karena dibelakangnya dibangun PLN baru. Sebelum PLN, bangunan pabrik anim yang terkenal angker.
14. Legenda LAMPOR
Lampor adalah tentara dari kerajaan Ratu Pantai Selatan. Mereka datang dengan kereta kuda mengantarkan Ratu yang hendak berkunjung dengan kereta kencananya menuju Gunung Merapi melewati sungai Code. Tapi jaman dulu memang mereka benar-benar mendengarkan suara gemerincing ituTapi suara itu terdengar benar-benar!!! Legenda tentang Lampor ini pernah dituliskan dalam sebuah cerpen oleh seorang tukang becak, tapi ketika tulisannya mendapat juara dalam sebuah kompetisi, dia menolak untuk menulis lagi.
15.Rumah kentang jogja
denger2 ini mitos warga sekitar katanya di malem malem tertentu suka kecium bau kentang,konon ada anak dari warga belanda yang sangat suka kentang.saat pembantunya memasak kentang rebus si anak jatuh dari gendongan si pembantu dan jatuh ke panci
16.Sumur gumuling
Sumur Gumuling sebenarnya bukanlah objek wisata tersendiri.
Sumur Gemuling adalah sebuah bangunan melingkar yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.Begitu keluar, seperti juga ketika masuk, kami melalui sebuah lorong gelap. Lorong itu sebenarnya panjang, namun tidak boleh ditelusuri.
17.SMP 5 Kotabaru Yk
kata pedagang di sekitar smp itu pintu ma jendela suka kebuka sendiri tapi kata yang jaga malem itu ngga papa kok mas asal jangan nge ganggu
(menurut ane itu angin doang
18.SMA BOSA (Bopkri I)
menurut kata orang sekitar disitu sering terdengar tentara baris..
tapi karena sekarang udah rame yaaa jarang terdengar lagi...
kalo ada cendol lagi ane update
19.Mitos Beringin Kembar Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta
Pada alun - alun ini terdapat dua buah beringin uyang masyarakat setempat menyebutnya beringin kembar. Ada mitos bahwasanya apabila seseorang jalan dengan mata tertutup dan berhasil melewati diantara kedua beringin tersebut, maka keinginannya dapat terwujud." Bila pikiran kita tiba-tiba berubah atau terpengaruh sesuatu sedikit saja, otomatis mempengaruhi arah jalan dan pastilah menemui kegagalan," kata mas mas yang jaga
20.Mbah Petruk sang "penunggu" Merapi
ane baru denger yang ini setelah merapi meletus,kata sesepuh pagi sebelum petangnya merapi meletus si mbah melihat awan di atas merapi berbentuk petruk dengan hidung mengarah ke jogja
21.Candi prambanan
ane cma dnger denger ini katanya kalo pacaran di prambanan bisa cepet putus lho... (jangan dipercaya,soalnya sumber masih blom jelas)
22.Lele Putih Di Kotabaru
ini ane baru denger juga gan katanya kalo liat lele berwarna putih di kali(sungai) dikotabaru bisa kaya gan...
Mitos ini telah berkembang di kalangan mahasiswa sejak dahulu kala. Dari jaman saya masih kuliah sampai sekarang saya lulus. Padahal perasaan sudah meluk Tugu berkali-kali sampe bobok-bobok disana segala, huehe... Tugu Jogja ini tepat berada ditengah-tengah perempatan jalan besar, salah satunya Jalan Mangkubumi yang menuju ke Jalan Malioboro. Biasanya pada malam hari banyak gerombolan anak muda yang berfoto-foto riang di depan ataupun samping Tugu Jogja yang pada awalnya bernama Golog Giling ini. Kamu pengen cepet lulus kuliah? Cepetan peluk Tugu! Jangan lupa foto-foto disana buat ditaruh di Facebook atau Multiply kamu *narsis mah kudu!*
2. Suara derap kaki kuda di malam hari
Nah, kalau kamu pas tengah malam tiba-tiba merasa mendengar suara andong lengkap dengan suara langkah derap kaki kuda melewati depan rumah atau kamar kamu, itu artinya kamu bakal betaaaaaaah sekali tinggal di Jogja. Mitosnya itu adalah suara andong milik Kanjeng Ratu Kidul yang memberi pangestu kepada kita untuk tinggal di Jogja dengan damai. Tapi hati-hati jangan kecelek seperti temen saya, merasa denger suara andong, eh yang lewat cuma tukang sate, hihi....
3. Minum air selokan Mataram
Kalau kamu tinggal di utara dan timur Jogja pasti sudah gak asing sama yang namanya selokan Mataram. Selokan yang melewati tempat hunian anak-anak kos di daerah Pogung sampai di daerah Babarsari yang menggurita akan kampus-kampus. Mitos yang berkembang nih kalau kamu minum air selokan ini katanya setelah kamu meninggalkan kota Jogja, suatu hari nanti pasti akan kembali dan terus kembali ke Jogja. Bisa jadi karena dapat jodoh cowok atau cewek asli Jogja, mungkin lho.... Tapi menarik juga nih! *tuing tuing*
4. Tidak boleh foto-foto di depan gerbang utama kampus UGM yang bertuliskan Universitas Gadjah Mada.
Nah! Ini yang paling menarik menurut saya, hehe... Mitosnya adalah kalau kamu belum lulus kuliah dan berani foto-foto di depan tulisan itu, maka kamu akan menjadi mahasiswa abadi, selamanya! S-E-L-A-M-A-N-Y-A! Duh kayak dikutuk aja....
Tapi entah kenapa memang biasanya mereka yang foto-foto disana adalah hanya wisudawan serta wisudawati atau sekedar pengunjung yang iseng. Kalau mahasiswa UGM sendiri jarang sekali yang iseng foto-foto disana. Ah tapi gak terbukti kok, setelah teman2ku foto-foto di sana dengan wajah cemas dan gemeteran, akhirnya bisa lulus semua kuliah bodohnya di UGM itu, hihi *itu karena UGM bosen liat kalian mondar-mandir mulu Bian!*
5. Suara korps drum band di waktu subuh
Jika mendengar korps drum band dari kerajaan Merapi yang sedang apel pagi, hyuk. Gak ada artinya apa-apa sih, tapi memang gak semua orang bisa dengerin suara musik drum band yang berirama flat itu.
6.Legenda Yu Darmi
Dengan payung hitam dan baju hangat semacam sweater berkerah menutup leher, beliau "bekerja" menjadi PSK senior. Rumahnya kalo tidak salah diselatannya stasiun lempuyangan.
7.Kuyuhan dibawah Kretek Kewek
Jembatan atau Kretek Kewek, berasal dari kata Kerk=Gereja dan Wek=Weg=Jalan.Merupakan serapan dari kata bahasa Belanda.
Orang jogja, pasti sekali dua kali pernah merasakan kecipratan uyuh ketika melintas di bawah jembatan ini yang notabene adalah jalan atau rel kereta. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek ini menjadi fenomena unik di Jogja.
8. Legenda Manuk Bence dan Cul
Manuk atau burung Bence, kedatangannya yang ditandai dengan suara ocehannya pada tengah malam, dijadikan tanda akan adanya bahaya, kematian, bencana, dll. Sedangkan manuk atau burung Culi, dijadikan tanda bahwa ada jenazah yang tali kain kafannya belum dilepas, sehingga minta diculi, di-uculi (dilepas-Jawa).
9. Mitos dilarang nuding kuburan
Dahulu waktu ane masih kecil, ada mitos kalau tidak atau dengan sengaja menudingkan jari kita ke arah kuburan, maka kita harus menggigit ujung jari yang digunakan untuk menuding, jika bisa sampai berdarah, lantas ujung jari tersebut disentuhkan ke tanah dan bilang amit-amit ora ndulit. Tanah yang menempel di ujung jari, baru boleh dibersihkan setelah sampai kerumah. Kalau tidak dibegitukan namanya nuding setan, jarinya bisa bengkok gan
10. Mbah Atin
Mbah Atin adalah seorang ibu tua yang agak waras. Berbusana jarik-kebaya dan mengempit tas berwarna hitam, mbah Atin selalu saja tahu dan selalu ada jika ada sripah atau lelayu atau orang meninggal. Hingga, mbah Atin selalu dikait-kaitkan membawa kematian pada setiap daerah yang didatanginya.
11. Rumor tentang adanya hantu biyung tulung di njeron beteng
Dahulu, pernah sekali terjadi rumor tentang hantu biyung tulung di seputaran kadipaten ke arah ngasem (masih area njeron beteng). Hantu biyung tulung ini selalu tidak pernah menampakkan wujud, hanya suara yang mengaduh memanggil ibunya minta tolong "aduh biyung, tulung"
12. Gauk (sirine-Jawa) pabrik gula Madukismo
Suara gauk yang meraung raung setiap jam 5.45, 6.00, 21.45, dan pukul 22.00. Suara ini akan terdengar setiap musim tebang tebu atau disebut cembengan, yaitu pada bulan April-Oktober.
13. Gauk pitulasan, 1 maret, dan 10 november
Suara gauk ini berasal dari tower gauk di selatan pasar Gampingan (Serangan) selatan jalan.Kalau tanggal 1 maret dan 10 November pasti dibunyikan tepat jam 6 pagi. Kalau pas 17-an pasti jam 10 pagi. Pada saat gauk pitulasan dibunyikan, ada ritual kusus yang dilakukan para mahasiswa Institut Seni Indonesia, yaitu tiarap. Tapi akhir 80-an, tower yang sudah tidak berfungsi sejak awal 90-an itu sudah dirubuhkan karena dibelakangnya dibangun PLN baru. Sebelum PLN, bangunan pabrik anim yang terkenal angker.
14. Legenda LAMPOR
Lampor adalah tentara dari kerajaan Ratu Pantai Selatan. Mereka datang dengan kereta kuda mengantarkan Ratu yang hendak berkunjung dengan kereta kencananya menuju Gunung Merapi melewati sungai Code. Tapi jaman dulu memang mereka benar-benar mendengarkan suara gemerincing ituTapi suara itu terdengar benar-benar!!! Legenda tentang Lampor ini pernah dituliskan dalam sebuah cerpen oleh seorang tukang becak, tapi ketika tulisannya mendapat juara dalam sebuah kompetisi, dia menolak untuk menulis lagi.
15.Rumah kentang jogja
denger2 ini mitos warga sekitar katanya di malem malem tertentu suka kecium bau kentang,konon ada anak dari warga belanda yang sangat suka kentang.saat pembantunya memasak kentang rebus si anak jatuh dari gendongan si pembantu dan jatuh ke panci
16.Sumur gumuling
Sumur Gumuling sebenarnya bukanlah objek wisata tersendiri.
Sumur Gemuling adalah sebuah bangunan melingkar yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.Begitu keluar, seperti juga ketika masuk, kami melalui sebuah lorong gelap. Lorong itu sebenarnya panjang, namun tidak boleh ditelusuri.
17.SMP 5 Kotabaru Yk
kata pedagang di sekitar smp itu pintu ma jendela suka kebuka sendiri tapi kata yang jaga malem itu ngga papa kok mas asal jangan nge ganggu
(menurut ane itu angin doang
18.SMA BOSA (Bopkri I)
menurut kata orang sekitar disitu sering terdengar tentara baris..
tapi karena sekarang udah rame yaaa jarang terdengar lagi...
kalo ada cendol lagi ane update
19.Mitos Beringin Kembar Alun-alun Selatan Kraton Yogyakarta
Pada alun - alun ini terdapat dua buah beringin uyang masyarakat setempat menyebutnya beringin kembar. Ada mitos bahwasanya apabila seseorang jalan dengan mata tertutup dan berhasil melewati diantara kedua beringin tersebut, maka keinginannya dapat terwujud." Bila pikiran kita tiba-tiba berubah atau terpengaruh sesuatu sedikit saja, otomatis mempengaruhi arah jalan dan pastilah menemui kegagalan," kata mas mas yang jaga
20.Mbah Petruk sang "penunggu" Merapi
ane baru denger yang ini setelah merapi meletus,kata sesepuh pagi sebelum petangnya merapi meletus si mbah melihat awan di atas merapi berbentuk petruk dengan hidung mengarah ke jogja
21.Candi prambanan
ane cma dnger denger ini katanya kalo pacaran di prambanan bisa cepet putus lho... (jangan dipercaya,soalnya sumber masih blom jelas)
22.Lele Putih Di Kotabaru
ini ane baru denger juga gan katanya kalo liat lele berwarna putih di kali(sungai) dikotabaru bisa kaya gan...
Langganan:
Postingan (Atom)




























