Minggu, 21 November 2010

Pada Mulanya Allah Menciptakan

Judul asli Kitab Kejadian sebenarnya adalah “Pada Mulanya”, atau menurut versi terjemahan Septuagint (bahasa Yunani), adalah “Genesis” (dari bahasa Latin), yang berarti kelahiran atau asal mula. Kitab Kejadian mendatangkan kelahiran bagi segala sesuatu, memberi permulaan bagi segalanya. Dalam Kitab Kejadian inilah kita temukan benih-benih kebenaran ilahi. Semua kebenaran ilahi dalam seluruh Alkitab telah ditaburkan dalam kitab ini. Benih kebenaran ini selanjutnya berkembang di seluruh Alkitab.
Kitab Kejadian diawali dengan kalimat, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Inilah permulaan waktu, karena ditujukan kepada penciptaan Allah. Injil Yohanes 1:1 juga dimulai dengan frase, “pada mulanya”, tetapi yang dimaksud di sini adalah permulaan sebelum ada waktu atau kekekalan azali yang tanpa permulaan. Haleluya! Allah kita bukan hanya Dia yang ada sejak mulanya, tetapi juga permulaan dari segala sesuatu. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.
Frase “Pada mulanya Allah...” juga menunjukkan bahwa Allah kita adalah Allah yang berinisiatif. Dia berinisiatif menciptakan langit dan bumi, Dia juga berinisiatif menyelamatkan orang berdosa. Itulah sebabnya, kehidupan keluarga kita, pernikahan kita, atau pekerjaan kita seharusnya berawal dari Allah, bukan dari diri kita atau orang lain. Marilah kita memberi Allah kesempatan untuk memulai sesuatu yang baru di dalam hidup kita! Dialah sang Pencipta segala sesuatu!

Allah kita adalah Allah yang hidup, juga Allah yang memiliki keinginan/tujuan. Itulah sebabnya Ia membuat rencana untuk mencapai tujuan-Nya. Penciptaan alam semesta adalah bagian dari rencana Allah. Mengapa Allah menciptakan langit? Apa tujuan-Nya? Alkitab menunjukkan bahwa langit diciptakan untuk bumi; para ahli dan sarjana pun dapat membuktikan hal ini. Banyaknya benda-benda di langit hanyalah untuk bumi; misalnya sinar matahari dan air berasal dari langit. Lalu untuk apakah bumi? Menurut Alkitab, bumi adalah untuk manusia. Zakharia 12:1 mengatakan, “Demikianlah firman TUHAN yang membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia.” Jadi, langit adalah untuk bumi, bumi untuk manusia, dan manusia untuk Allah. Allah menciptakan manusia adalah untuk menampung Dia, mengekspresikan Dia, dan memuliakan Dia. Hal ini bisa terjadi, karena roh yang diciptakan Allah dalam diri manusia memiliki kemampuan berkontak dengan Allah yang adalah Roh (Yoh. 4:24).
Sarana penciptaan Allah ialah Putra Allah (Kol. 1:15-16; Ibr. 1:2b) dan firman Allah (Ibr. 11:3; Yoh. 1:1-3). Ketika Allah menciptakan langit, bumi, dan segala isinya, Ia melakukannya melalui Kristus, dan berdasarkan Kristus. Sejak penciptaan, segala sesuatu mempertahankan eksistensinya dalam Kristus. Kristus adalah pusat (poros) yang mengendalikan setiap bagian jagat raya. Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Kristus menopang segala sesuatu dengan firman kuasa-Nya, dan Kolose 1:17 mengatakan bahwa segala sesuatu berada dalam Kristus. Kelihatannya bumi tidak bergantung pada apa pun, tetapi sebenarnya ia ditopang oleh Kristus. Jika salah satu dari planet-planet menyimpang sedikit saja dari orbitnya, maka akan terjadi suatu benturan yang dahsyat. Tetapi Kristus menopang, mengendalikan, dan menggerakkan segalanya. Mengapa? Dia melakukan ini untuk kemuliaan-Nya. Jika langit runtuh dan bumi hancur, bagaimana dengan kita? Langit bermanfaat bagi bumi, bumi untuk kita, dan kita untuk kemuliaan-Nya. Itulah sebabnya, Kristus menopang, mengendalikan, dan menggerakkan seluruh alam semesta.
Penciptaan itu juga menyatakan Allah sendiri.“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2). Meskipun manusia tidak dapat berkata banyak mengenai Allah, tetapi melalui keagungan yang terlihat dalam setiap ciptaan, manusia dapat mengenal bahwa Allah itu Maha Kuasa, sehingga mereka tidak dapat berdalih (Rm. 1:20). Tengoklah ciptaan-Nya. Bagaimana mungkin kita berkata, tidak ada Allah?

Karena Allah adalah pemula dari segala sesuatu, marilah kita belajar mengawali hidup kita dengan Allah. Begitu membuka mata di pagi hari, datanglah kepada Tuhan terlebih dahulu. Hanya Dia yang sanggup menjadikan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Karena itu, marilah kita bawa semua rencana kita kepada-Nya dan melewati hari-hari kita bersama Allah dalam doa dan ucapan syukur.

Ya Allah, aku mengundang Engkau masuk ke dalam hidupku, ke dalam pekerjaanku, ke dalam keluargaku, dan ke dalam rencana-rencanaku. Aku mau mengawali semua yang kulakukan bersama Engkau. Ya Allah, ciptakanlah sesuatu yang baru, yang berkenan kepada-Mu di dalam hidupku.

Kali pertama Alkitab menyebutkan “Allah (Elohim)” adalah dalam Kejadian 1:1, yang berbunyi, “Pada mulanya Allah (Elohim - bahasa Ibrani) menciptakan....” Scofield menunjukkan bahwa “Elohim” tersusun dari dua kata Ibrani yang berarti “kekuatan” dan “kesetiaan”. Allah kita adalah Allah yang kuat dan setia. Semua yang Ia lakukan menunjukkan betapa besarnya kekuatan-Nya. Apa pun yang Ia katakan, pasti dipegang-Nya. Elohim merupakan sebuah kata benda tunggal-jamak (uni-plural noun). Kata ini adalah kata bentuk tunggal, tetapi juga jamak. Haleluya! Hal ini dengan jelas menyiratkan Trinitas Ilahi, yakni Bapa, Putra, dan Roh (Kej. 1:26a; 3:22a; 11:7a; Yes. 6:8a; Yoh. 17:11b, 22b; Mat. 28:19; 2 Kor. 13:14). Sebutan yang mengacu kepada Allah yang esa namun tritunggal ini, digunakan lebih dari 2500 kali dalam Perjanjian Lama.
Puji Tuhan, Allah sejati, yang kita sembah, bukan hanya sang Maha Kuasa tetapi juga sang Setia. Sebagai sang Maha Kuasa, Allah dapat menciptakan langit, bumi, segala sesuatu, dan manusia. Ia dapat menjadikan yang ada dari yang tidak ada. Sebagai sang Setia, Dia dapat disandari, tidak pernah berubah, dan tidak dapat digoyahkan. Perkataan dan pekerjaan-Nya adalah sekuat matahari dan seteguh bulan (Mzm. 89:33-37). Karena Dia Maha Kuasa, Dia dapat melakukan segalanya bagi kita. Karena Dia setia, Dia dapat melakukan apa pun bagi kita sesuai dengan firman-Nya, sesuai dengan janji-Nya, dan sesuai dengan perjanjian-Nya. Allah yang demikian sanggup memenuhi semua keperluan kita. Marilah kita belajar hanya bersandar pada-Nya.

Meskipun nama Iblis tidak disebutkan dalam Kitab Kejadian, kita semua tahu bahwa ular dalam Kejadian pasal dua adalah wadah Iblis dan bahkan mungkin adalah perwujudan dari si Iblis. Wahyu 12:9 mengatakan, “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”
Kejadian pasal satu tidak mencatat apa pun mengenai penciptaan Iblis. Dari mana datangnya Iblis? Selain itu, dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, sering kali kita baca mengenai roh-roh jahat (roh-roh najis [Inggris:unclean spirits]). Dari manakah datangnya roh-roh jahat ini? Selain itu, kita juga tidak melihat penciptaan malaikat dalam enam hari pekerjaan Allah dalam Kejadian pasal satu. Lalu, dari manakah datangnya malaikat?
Ayub 38:4-7 mengatakan bahwa tatkala Allah meletakkan dasar bumi, anak-anak Allah (malaikat) bersorak-sorai. Hal ini membuktikan bahwa Allah telah menciptakan malaikat sebelum Ia menciptakan bumi.
Yehezkiel 28:1-19 juga menjelaskan mengenai hal ini. Sembilan belas ayat ini dibagi menjadi dua bagian: (1) ayat 1-10 mencatat mengenai peringatan untuk raja Tirus.(2) ayat 11-19 adalah nyanyian ratapan untuk raja Tirus. Bagian pertama, yaitu peringatan untuk raja Tirus, mudah untuk dipahami. Namun, ketika kita membaca ayat 11-19, banyak hal yang sulit dipahami. Misalnya, ayat 13 mengatakan, “Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah.” Ayat sebelum dan sesudahnya menyatakan bahwa taman Eden ini bukan taman tempat Adam pernah tinggal. Taman Eden ini tidak berada di bumi, tetapi di langit, di atas gunung suci Allah. Ayat ini pasti bukan membicarakan raja Tirus, tetapi si Iblis.
Yehezkiel 28:12 menunjukkan bahwa Iblis (cat: Iblis adalah nama yang digunakan setelah ia berdosa) sebelum kejatuhannya sungguh luar biasa. Ia adalah “Gambar dari kesempurnaan …, penuh hikmat dan maha indah.” Ini berarti ia lebih unggul dari malaikat yang lain, sempurna, dan paling agung di antara semua ciptaan Allah. Yesaya 14:12 juga menunjukkan asal mula Iblis. Di sana Iblis disebut, “Bintang timur; putra fajar”. Sebagaimana bintang timur adalah bintang pemimpin dari sekian banyak bintang, maka Iblis pastilah merupakan pemimpin para malaikat. Gelar “putra fajar” menunjukkan bahwa ia sudah ada pada masa-masa alam semesta baru dijadikan. Jadi, Iblis bukan hanya salah satu dari antara malaikat-malaikat, ia bahkan penghulu malaikat yang tertinggi, kepala dari semua malaikat.

Ketika menghadapi suatu masalah yang sulit, biasanya kita akan mencari beberapa cara yang kita anggap mampu menyelesaikan persoalan itu. Bila semua cara itu sudah dicoba dan gagal, barulah kita datang kepada Allah sebagai jalan terakhir. Mulai sekarang, marilah kita ubah urutan ini. Jadikanlah Allah sebagai yang pertama, bukan terakhir, maka kita akan mengalami sang Elohim itu.

Ya Allah, ampunilah aku yang sering melupakan kekuatan dan kesetiaan-Mu. Aku sering mengandalkan manusia dan cara-caraku sendiri tanpa mengindahkan Engkau. Ajarlah aku menjadikan Engkau sebagai kekuatanku dan sandaranku satu-satunya.

Terjemahan yang lebih tepat dari ayat dua adalah “Bumi menjadi gersang, sepi, sunyi, muram, hancur, dan kosong.” Kata “menjadi” menunjukkan bahwa bumi “telah berubah menjadi sesuatu yang lain”, menjadi begitu menyedihkan dan kosong. Yesaya 45:18 mengatakan, “Ia menciptakannya bukan supaya kosong.” Ayub 38 juga menunjukkan bahwa ketika Allah “meletakkan dasar bumi”, “menetapkan ukurannya” dan “merentangkan tali pengukur padanya”, bintang-bintang fajar bersorak-sorak bersama, dan semua anak Allah (malaikat-malaikat) bersorak-sorai. Ini menunjukkan bahwa bumi pada mulanya diciptakan oleh Allah dalam bentuk yang baik karena Allah tidak menghendaki kekacauan (1 Kor. 14:33). Ciptaan-Nya pasti sempurna. Karena itu, kondisi gersang, sepi, sunyi, dan kosong dalam ayat dua, bukanlah kondisi asli penciptaan Allah pada mulanya.
Yeremia 4:23-26 menunjukkan alasannya. Ayat 26 mengatakan bahwa semua ini tak lain karena murka-Nya yang menyala-nyala. Mengapa Allah begitu murka dan menghukum alam semesta? Tidak ada alasan yang lebih tepat kecuali dosa. Dari Yehekiel 28:15, kita tahu bahwa penghulu malaikat telah memberontak kepada Allah. Dialah Iblis. Allah tidak menciptakan malaikat yang jahat. Allah menciptakan pemimpin malaikat yang baik dan sempurna. Pada saat memberontak, sejumlah besar malaikat mengikutinya dan berada di bawah kuasanya (Why. 12:4, 9). Seluruh mahkluk hidup yang ada di bumi waktu itu juga ikut dalam pemberontakan ini. Karena dosa inilah, Allah menghakimi bumi sehingga menjadi gersang, kosong, dan gelap.

Yehezkiel 28 menggambarkan jabatan Iblis dalam alam semesta sebelum pemberon-takan dan perusakannya. Ayat tiga belas mengatakan, “Engkau di taman Eden, yaitu taman Allah penuh segala batu permata yang berharga”. G.H. Pember mengatakan bahwa ini menunjukkan tempat tinggalnya yang terbuat dari batu-batu permata.
Menurut bahasa aslinya, dalam ayat tiga belas seharusnya ada kalimat yang berbunyi, “Engkau selalu disertai bunyi seruling dan rebana, yang disediakan pada hari penciptaanmu (T.L.)”. Pada zaman kuno, alat-alat musik seperti nafiri, seruling dan kecapi dipakai untuk raja-raja (Dan. 3:5; 6:18). Hal ini menunjukkan bahwa penghulu malaikat itu (sekarang menjadi Iblis) adalah raja, pemegang kedudukan tertinggi dalam alam semesta sebermula.
Saat itu, Allah benar-benar telah menunjuk penghulu malaikat itu sebagai kepala alam semesta dan Allah pun telah menyerahkan segala makhluk dan benda ciptaan, baik yang di langit maupun yang di bumi kepadanya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri menyebutnya sebagai “Penguasa dunia ini” (Yoh. 12:31). Rasul pun menyebutnya sebagai “Penguasa kerajaan angkasa” (Ef. 2:2). Lukas 4:5-6 juga menegaskan “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: ‘Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki.’” Bohongkah ini? Kalau bohong, tentunya Tuhan Yesus sudah menghardik Iblis. Karena Tuhan Yesus tidak menegurnya, pasti ini adalah fakta. Kalau ini adalah fakta, kapankah Allah memberikan semuanya itu kepada Iblis? Pasti ini terjadi sebelum ada Adam.
Posisi dan pangkat Iblis waktu itu begitu tinggi, sampai-sampai “Bahkan pemimpin malaikat Mikhael … tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan” (Yud. 9). Mikhael adalah salah satu pemimpin malaikat (Dan. 10:13). Ia tidak berani menghardik Iblis. Ini membuktikan bahwa dulu pangkat Iblis tentu lebih tinggi daripada Mikhael. Jadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Iblis pasti adalah raja, pemimpin malaikat yang tertinggi pangkatnya.
Iblis yang asalnya memiliki kedudukan yang begitu mulia, sekarang menjadi begitu hina. Hal ini harus menjadi peringatan serius bagi kita, jangan kita mengulangi kesalahan yang sama.
Sebaliknya kita asalnya adalah orang dosa yang sangat kasihan, namun Allah telah memberi kita kemuliaan. Haleluya!

Setelah sekian lama menjadi orang Kristen, kecenderungan kita untuk melakukan dosa masih ada, karena sifat dosa sudah ada di dalam diri kita. Inilah sebabnya, kita sering merasa gersang dan hampa. Karena itu, marilah kita mengutamakan Tuhan dalam segala hal, sehingga Tuhan ada jalan untuk mengubah kita.

Tuhan Yesus, lepaskanlah aku dari kegersangan, kekosongan, dan kegelapan di dalam diriku. Biarlah Roh-Mu bekerja di dalamku untuk menghasilkan hayat. Tuhan Yesus, aku mau agar air kematian di dalamku berubah menjadi air kehidupan.

Pemberontakan Iblis membawa masuk penghakiman Allah (Yeh. 28:15-18). Allah tidak dapat membiarkan adanya pemberontakan di tengah ciptaan-Nya. Ayub 9:5-7 mengatakan bahwa “Allah membongkar-bangkirkan gunung-gunung dalam murka-Nya, menggeser bumi dari tempatnya, memberi perintah kepada matahari sehingga tidak terbit dan mengurung bintang-bintang dengan meterai.” Akibat hukuman Allah ini, langit tidak lagi memancarkan terang. Bumi tertutup kegelapan dan tenggelam dalam air.
Wahyu 12:4 mencatat bahwa pada saat memberontak, Iblis menyeret sepertiga dari para malaikat (sepertiga bintang) untuk memberontak kepada Allah. Hal ini bisa saja terjadi karena malaikat-malaikat yang menguasai dan memerintah alam semesta pra-Adam berada di bawah tangan Iblis. Para malaikat itu kini menjadi roh-roh jahat di udara (Ef. 2:2; 6:12).
Seluruh makhluk hidup yang berada di bumi pada waktu itu juga mengikuti Iblis memberontak melawan Allah. Mereka pun dihakimi oleh Allah. Sesudah dihakimi Allah, seluruh makhluk hidup itu menjadi roh-roh jahat (najis) yang tidak bertubuh. Itulah sebabnya mereka suka masuk ke dalam tubuh jasmani manusia atau binatang. Roh-roh jahat (najis) ini bergerak di bumi dan tinggal di dalam air (lih. Mat. 8:28-32). Air, yang dengannya Allah telah mengakhiri mereka, menjadi lautan yang dalam, tempat roh-roh jahat (najis) harus tinggal. G.H. Pember juga membuktikan bahwa di bawah samudera yang sangat dalam terdapat jurang yang tidak terduga dalamnya (abyss), yang merupakan tempat roh-roh jahat (najis) tinggal.

Yehezkiel 28:12b mengatakan bahwa Iblis “penuh hikmat”. Ini mungkin mengacu kepada pengertiannya atas kehendak Allah. Ini berarti saat itu ia menjabat sebagai imam.
Yehezkiel 28:14a mengatakan, “Engkaulah kerub terurap yang menudungi - (TL.), di gunung kudus Allah engkau berada.” Iblis adalah kerub terurap yang menudungi. Mungkin ini mengacu kepada ia menaungi (lih. Kel. 25:20) tabut perjanjian Allah di surga (Why. 11:19). Allah pernah mengurapi dan mengangkat pemimpin malaikat itu untuk menaungi tabut perjanjian-Nya. Yehezkiel memberitahukan bahwa kerub membawakan kemuliaan Allah (9:3; 10:18) dan sangat dekat dengan takhta Allah (10:1; 1:26). Hal ini menunjukkan, sebelum memberontak, Iblis tentu sangat dekat dengan Allah, membawakan kemuliaan Allah. Yehezkiel juga memberitahukan bahwa kerub itu ialah empat makhluk hidup yang mengemban fungsi khusus bagi Allah (10:20). Lagi pula keempat makhluk hidup dalam kitab Yehezkiel itu sama dengan yang ada dalam Kitab Wahyu (Yeh. 1:10, lih. Why. 4:7). Mereka berperan sebagai pemimpin dalam penyembahan kepada Allah. Hal ini sekali lagi menyatakan bahwa saat itu ia adalah imam besar dalam alam semesta yang memimpin semua makhluk menyembah Allah.
“… di gunung kudus Allah engkau berada dan berjalan-jalan di tengah batu-batu yang bercahaya-cahaya” (Yeh. 28:14b). Ini tentu di surga, tempat kemuliaan Allah dinyatakan. Seorang Imam Allah tentu harus berada di tempat yang terdekat dengan Allah untuk melayani Allah. Selanjutnya, dalam Kitab Keluaran 24:10, 17, Musa, Harun, dan banyak orang lainnya melihat batu-batu nilam dengan kemuliaan Allah bagaikan api yang menghanguskan di bawah takhta Allah. Itulah batu-batu yang bercahaya-cahaya, seperti yang disebutkan dalam Yehezkiel ini. Dari sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa saat itu, Iblis juga memiliki wewenang khusus untuk bergerak di daerah kemuliaan Allah, tepat di bawah takhta Allah, dan sangat dekat dengan Allah.
Saudara saudari, asal mula Iblis amatlah elok. Ia adalah kerub yang diurapi Allah, yang paling dekat dengan Allah, menempati kedudukan yang tertinggi dalam ciptaan Allah. Ia sempurna dalam jalannya sejak ia diciptakan. Ia tidak saja memiliki jabatan raja tetapi juga jabatan imam. Namun karena ambisinya yang ingin melampaui Allah, maka Iblis telah disingkirkan dari kedudukan dan pelayanannya. Hari ini masih banyak orang yang mengikuti langkahnya yang salah. Padahal Allah telah memilih kita sebagai imam-imam dan raja-raja-Nya (Why. 5:9-10; 20:4-6) untuk mengambil alih kedudukan dan pelayanan Iblis, agar Iblis dipermalukan dan Allah dipermuliakan.

Jika di dalam kita ada sifat pemberontak, misalnya: tidak taat terhadap pimpinan Tuhan yang di dalam, tidak taat terhadap orang yang lebih tua, kita perlu waspada, karena hal itu akan membawa masuk penghakiman Allah yang membuat kita merasa kosong dan gelap.

Tuhan, ampuni diriku, seringkali aku sok pintar dan tidak taat pada pimpinan-Mu. Tuhan beriku hati yang mau taat, supaya setiap tindakanku sesuai dengan pimpinan-Mu.

Iblis memberontak terhadap Allah karena kesombongan hatinya. Ia sombong karena kecantikannya, hikmatnya ia musnahkan demi semaraknya (Yeh. 28:17). Ia “penuh hikmat dan maha indah”, “gambar dari kesempurnaan” (Yeh. 28:12). Ini berarti ia sepenuhnya sempurna dan tidak bercacat sedikit pun. Tetapi ia terpesona memandang kecantikannya dan menjadi sombong. Ia melihat kesemarakannya dan menjadi binasa. Memandang kepada apa yang dijadikan Allah pada diri kita dan melupakan diri Allah sendiri selalu membuat kita sombong. Kesombongan itulah penyebab pemberontakan Iblis. Karena itu, rasul tidak mengizinkan orang yang baru bertobat menjadi penatua, “agar jangan menjadi sombong dan kena hukuman Iblis” (1 Tim. 3:6).
Semua kebajikan dan segala karunia rohani dapat diperalat Iblis untuk membuat kita sombong. Bahkan Rasul Paulus sendiri pun bisa saja “meninggikan diri karena pernyataan-pernyataan yang luar biasa itu” (2 Kor. 12:7). Iblis yang congkak itu masih berkeliaran di bumi untuk mencari mangsanya, yaitu orang sombong yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8). Tetapi, ia tidak berkuasa atas diri Tuhan Yesus (Yoh. 14:30), karena Tuhan Yesus merendahkan diri-Nya hingga taat sampai mati (Flp. 2:8).
Dalam 1 Petrus 5:5 dikatakan, “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”. Ini berarti, terhadap orang yang sombong, Allah akan menentangnya; terhadap orang yang rendah hati, Allah akan memberi karunia kepadanya. Jika kita pada hari ini ingin mendapatkan karunia Allah, kita harus memiliki satu sikap yang mendasar, yaitu rendah hati.

Para ahli geologi dan arkeologi berkata bahwa umur bumi ini jutaan tahun. Namun bila kita menghitung rentang waktu antara Adam sampai sekarang ini, kita akan menemukan angka kira-kira enam ribu tahun. Bagaimanakah kita menjelaskan hal ini?
Dalam bukunya “Earth’s Earliest Ages”, G.H. Pember mengatakan bahwa di antara Kejadian 1:1 dan 1:2 terdapat suatu “masa selang.” Berapa lamakah masa selang ini? Tak seorang pun dapat mengatakan berapa lama masa selang itu dan apa yang terjadi di atas permukaan bumi dan di atmosfer sebelum terjadi kondisi yang gersang dan kosong; Alkitab tidak memberi tahu apa-apa tentang hal ini. Tetapi, yang pasti, Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa bumi kita hanya berumur enam ribu tahun. Namun kita yakin bahwa sejarah manusia memang hanya berumur sekitar enam ribu tahun.
Masa selang yang panjang ini mencakup seluruh periode sejarah pra-Adam. Di masa selang inilah terjadi pemberontakan Iblis yang menyeret sepertiga malaikat dan makhluk-makhluk hidup di bumi. (Telah kita bahas bahwa Iblis asalnya adalah penghulu malaikat yang diciptakan Allah jauh sebelum manusia). Allah menghakimi bumi dan seluruh makhluk hidup yang ikut memberontak tersebut dengan air. Itulah sebabnya bumi terendam air. Tidak heran jika hari ini, para ahli dapat menemukan fosil yang umurnya jutaan tahun. Fosil-fosil itu pasti berasal dari makhluk-makhluk hidup yang terendam dalam air tersebut.

Dari sisa-sisa fosil, kita bisa melihat adanya kebuasan dan pembantaian. Bahkan penyakit dan kematian yang merupakan akibat dosa. Ini menjadi gambaran umum di antara makhluk hidup di bumi. Fakta ini menunjukkan bahwa fosil itu tidak berkaitan dengan dunia kita, sebab Alkitab menyatakan bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah selama enam hari itu baik, dan tidak ada kejahatan sampai Adam berbuat dosa. Karena itu, fosil adalah sisa-sisa makhluk sebelum jaman Adam, dan juga menunjukkan tanda-tanda adanya penyakit, kematian, dan saling menghancurkan. Ini merupakan bukti milik jaman yang lain dan noda sejarah dosa mereka, sejarah yang diakhiri dengan hancurnya diri dan tempat tinggal mereka sendiri.— G. H. Pember, Earth’s Earliest Ages, 1942, reprinted 1975, pp. 34-35.

Jadi, kita sangat yakin bahwa tidak ada kontradiksi antara Alkitab dengan geologi. Segala bantahan ahli geologi atas Alkitab hanyalah bukti ketidak-mengertian mereka atas Alkitab. Betapa menakjubkannya Firman Allah, ia sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Jangan merasa tinggi hati karena memiliki kemampuan untuk melakukan banyak perkara, sehingga kita merasa lebih penting dan lebih baik dari orang lain. Kita perlu waspada selalu karena kemampuan yang kita miliki dapat diperalat Iblis untuk membuat kita menjadi sombong, sehingga kita melupakan Tuhan dan tidak mengandalkan-Nya lagi.

Ya Tuhan, ampuni aku yang seringkali menjadi sombong. Aku begitu sering melakukan perkara dengan kemampuan alamiahku tanpa bersandar pada-Mu. Pimpinlah aku Tuhan, agar aku boleh menjadi seorang yang rendah hati.

Tujuan pemberontakan Iblis ialah untuk meninggikan dirinya guna menyamai Allah. Dalam Yesaya 14:13-14, tercatat lima kali Iblis mengatakan, “aku hendak” pada saat pemberontakannya. “Aku hendak naik ke langit . . . aku hendak meninggikan takhtaku . . . aku hendak duduk di atas bukit . . . aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan; aku hendak menyamai Yang Mahatinggi.”
Perkataan Iblis “aku hendak” dengan jelas menunjukkan ambisi besar Iblis. Iblis berambisi memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, menyamai Allah. Ambisi ini menjadi motivasi pemberontakannya terhadap Allah dengan maksud jahat yang ingin menjatuhkan kekuasaan Allah. Alkitab mencatat, ambisi akan kedudukan adalah motivasi segala pemberontakan. Pemberontakan di Babel (Kej. 11:4), pemberontakan Datan, Abiram, dan 250 orang pemimpin bani Israel (Bil. 16:1-3), juga pemberontakan Absalom (2 Sam. 15:10-12), semuanya disebabkan oleh ambisi akan kedudukan. Tetapi Tuhan Yesus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba,....” Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama (Flp. 2:7, 9).
Kita perlu berhati-hati terhadap ambisi, karena ambisi sangat mengerikan dan tersembunyi di dalam diri kita. Tentu saja setiap orang memiliki ambisi. Seorang yang tidak memiliki ambisi bukan seorang manusia. Kita perlu waspada, jangan tergoda oleh kedudukan dan kehormatan sehingga membuat kita memiliki ambisi yang salah dan melakukan dosa pemberontakan.

Meskipun Iblis, para malaikat pemberontak, dan roh-roh jahat (najis) telah dihakimi Allah, hari ini mereka masih tetap bergerak dan bekerja, karena hukuman terhadap mereka belum dilaksanakan. Hari ini, Iblis masih bisa pergi ke hadapan Allah untuk menuduh umat Allah (Ayb. 1:6-12; 2:1-7; Why. 12:10). Dia masih berkeliaran di bumi, mencari mangsa yang dapat ditelannya (1 Ptr. 5:8), masih bekerja membutakan orang (2 Kor. 4:4), mengelabui mereka (2 Kor. 11:14), memenuhi hati mereka (Kis. 5:3, T.L.), dan beroleh keuntungan atas manusia (2 Kor. 2:11, T.L.). Dia masih “seorang yang kuat” yang menguasai “harta bendanya” (Mat. 12:29). Malaikat-malaikat pemberontak masih tetap merupakan penguasa dunia yang gelap ini (Ef. 6:12; lih. Dan. 10:20), (beberapa malaikat yang telah jatuh sekarang di penjara sampai hari penghakiman — 2 Ptr. 2:4, Yud. 6), dan setan-setan masih tetap sebagai roh-roh jahat (najis) yang bekerja di bumi (Mat. 12:43-45).
Siapa yang akan melaksanakan hukuman Allah terhadap Iblis dan pengikut-pengikutnya? Para pelaksana itu ialah orang-orang Kristen, orang-orang percaya yang menang. Dalam Wahyu 12, kita tahu bahwa para pemenang akan melaksanakan hukuman Allah terhadap Iblis. Allah telah menyatakan hukuman-Nya atas kaum pemberontak. Namun, hukuman itu tidak akan dilaksanakan sebelum gereja bangkit untuk melakukannya. Mengapa hukuman pada Iblis dan para pengikutnya belum dilaksanakan? Sebab Allah menunggu terbangunnya gereja. Hakim telah menentukan hukuman, tetapi Ia masih menunggu para pelaksana (executor) untuk melaksanakannya.
Ketika Tuhan Yesus hidup dalam daging sebagai manusia, Ia telah mulai melaksanakan hukuman Allah. Ia “menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (1 Yoh. 3:8). Tuhan memberi murid-murid-Nya “kuasa” (Luk. 10:19) untuk mengalahkan kekuatan musuh. Ketika murid-murid mengusir setan-setan, Iblis jatuh dari langit (Luk. 10:17-20). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Ia memusnahkan Iblis (Ibr. 2:14). Ia telah meremukkan kepala ular tua.
Sekarang kita sebagai Tubuh-Nya, harus melanjutkan pelaksanaan ini, menghancurkan ekor ular itu. Hari ini gereja harus berdoa untuk “mengikat orang kuat itu” dan “merampok rumahnya” (Mat. 12:29), berperang melawan roh-roh jahat di udara (Ef. 6:12), dan mengusir setan-setan (Mat. 17:21) yang bekerja merusak orang-orang.
Melalui pelaksanaan hukuman oleh gereja, Iblis akan “dilemparkan ke bumi,” malaikat-malaikatnya akan “dilemparkan bersama-sama dengannya” (Why. 12:9). Kemudian ia akan diikat dan dilempar ke dalam jurang maut. Akhirnya, ia akan “dilempar ke dalam lautan api” (Why. 20:10). Saat itu genaplah pelaksanaan hukuman Allah atas Iblis dan pengikut-pengikutnya.

Satu-satunya jalan untuk melawan Iblis adalah merendahkan diri. “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat” (1 Ptr. 5:5b-6a). Tuhan Yesus adalah teladan yang baik. Iblis meninggikan dirinya, namun Tuhan Yesus “merendahkan diri-Nya” (Flp. 2:8).

Tuhan Yesus, selamatkan aku dari ambisi akan kedudukan. Tuhan, ajarku untuk merendahkan diri seperti diri-Mu

Apakah Islam menghargai agama lain??? (buat yg fanatik, jgn tersinggung!)

Islam, sebagaimana juga agama Kristen, diyakini oleh pemeluknya sebagai agama yang harus disampaikan kepada seluruh umat manusia. Pertautan antara semangat memperkenalkan Islam dan kebesaran Islam itu sendiri menjadikan Islam berkembang dengan sangat cepat. Kenyataan ini telah mambangun sebuah kesadaran kepada sesama umat beragama untuk saling mengenal, serta menyokong kepada kebaikan bersama (common interests), yang terealisasikan dalam bentuk kunjungan-kunjungan persahabatan, dialog konstruktif, dan bahkan melakukan kegiatan-kegiatan sosial bersama. Di Amerika Serikat, gereja-gereja, sekolah-sekolah, dan bahkan institusi-insitusi pemerintahan sekalipun, membuka diri bagi para Imam untuk memberikan ceramah-ceramah tentang Islam. Sebaliknya, mesjid-mesjid juga semakin ramai dikunjungi oleh para non Muslims

Islam memberikan kebebasan kepada semua pemeluk agama untuk melakukan kewajiban-kewajibannya. Rasulullah di Madinah tetap melestarikan sekolah-sekolah Yahudi, Midras, agar mereka mampu menjaga kelestarian agama mereka. Ketika utusan bangsa Nejran, sebuah kota di Yaman ketika itu, mendatangi Rasulullah untuk berdebat selama 3 hari dan 3 malam, beliau menerima mereka dan memberikan izin kepada mereka untuk tidur, makan, dan bahkan beribadah sesuai keyakinan mereka di dalam mesjid. Bahkan Rasulullah SAW menegaskan: "Barangasiapa yang menyakiti non Muslim (dalam sebuah Negara mayoritas Muslim), maka saya akan menjadi musuhnya pada hari Kiamat". Inipun dipraktekkan oleh para sahabat agung beliau. Ketika Umar masuk ke kota Jerusalem untuk menerima kunci kota itu, beliaulah yang memerintahkan agar tempat ibadah kaum Yahudi yang telah lama menjadi tempat sampah bagi kaum Kristen, kembali dibersihkan dan diberikan hak kaum Yahudi untuk melakukan ibadah mereka.
__________________
&  
 
 
Umat Islam diperintahkan:
"Jangan engkau mencaci atau menjelekkan apa-apa yang mereka sembah selain Allah, karena dengan itu, mereka akan mencaci atau menjelekkan Allah atas dasar kejahilan. Demikianlah Kami hiasi amalan setiap umat, kemudian kepada Allah tempat kembali mereka dan Allah akan memberitahu akan amalan-amalan mereka" (QS 6:107).

Allah juga mengingatkan:
"Dan ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan bijakdan nasehat yang baik, serta berdialoglah dengan mereka dengan cara yang terbaik" (QS 16: 125).
Maka jika ada umat Islam yang menjelekkan atau mencaci maki keyakinan orang lain, sungguh itu adalah sebuah pelanggaran yang nyata terhadap ajaran Islam itu sendiri.

Akhir-akhir ini, sekelompok kecil dari agama tertentu dengan dukungan luas dari kalangan mass media, dunia entertainment, maupun corporate melancarkan upaya-upaya pembunuhan karakter terhadap agama Islam. Islam digambarkan sebagai agama yang tidak mengajarkan moralitas dengan propaganda yang sistimatis dan komprehensif. Seolah agama ini hanya penuh dengan ajaran-ajaran immoralitas, pembunuhan, terorisme, dan berbagai ajaran-ajaran syetan (evil teachings) lainnya. Tidak jarang, kelompok ini berkongkalikong dengan kekuasaan, sehingga pada akhirnya seolah semakin mendapat angin segar dan secara illutif menyangka mendapatkan kemenangan. Hakikat inilah sesungguhnya yang digambarkan oleh AlQuran: "Mereka ingin memadamkan cahaya Allah (Islam), namun Allah menyempurnakan cahayaNya kendati orang-orang yang ingkar membencinya" (QS 61:8).
__________________
&

Kisah dua ekor kodok (emangnya kodok punya ekor?)

Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan. Malangnya, dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut, mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati.Kedua kodok tersebut mengacuhkan komentar-komentar itu dan mencoba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap melanjutkan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusahadan mati saja.Dia bahkan berusaha lebih kencang dan akhirnya berhasil.

Akhirnya, dengan sebuah lompatan yang kencang, dia berhasil sampai di atas.Kodok lainnya takjub dengan semangat kodok yang satu ini, dan bertanya "Apa kau tidak mendengar teriakan kami?" Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia tuli.Akhirnya mereka sadar bahwa saat di bawah tadi mereka dianggap telah memberikan semangat kepada kodok tersebut.

Apa yang dapat kita pelajari dari ilustrasi di atas?Kata-kata positif yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" justru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari. Sebaliknya, kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang "jatuh" dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan.

Suarakan 'kata-kata kehidupan' kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa 'kata-kata kehidupan' itu dapat membuat kita berpikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan.Semua orang dapat mengeluarkan 'kata-kata kehidupan' untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit dari keputus-asaanya, kejatuhannya, kemalangannya.Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan spirit bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh!

Kisah Nyata: Kecantikan dan Uang (Cewek Matre jangan tersinggung)

Surat dari cewek cantik yang ingin mendapatkan pria kaya yang dimuat di suatu majalah terlaris di Amerika. Suratnya ditanggapi oleh seorang pria kaya dengan serius. Bagus kata-katanya dan jangan lupa lihat nama pria yang membalas suratnya.


Inilah isi suratnya :

Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah terkenal, dengan judul: "Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?"


Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. Tahun ini saya berumur 25 tahun. Saya sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. Saya ingin menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun.


Anda mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya dianggap sebagai kelas menengah di New York . Persyaratan saya tidak tinggi. Apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? Apa kalian semua sudah menikah? Yang saya ingin tanyakan:


Apa yang harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda?Yang terkaya pernah berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York , penghasilan $ 250rb/tahun tidaklah cukup.


Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan:

Dimana para lajang2 kaya hang out? Kisaran umur berapa yang harus saya cari? Kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?


Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya? Bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang hanya bisa menjadi pacar?


Ttd,

Si Cantik


------------ --------- --------- --------


Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street :

Saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2 di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.


Pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap semuanya tidak berpikir saya main2 di sini. dari sisi seorang bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan:


Coba tempatkan "kecantikan" dan "uang" bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan uang: pihak A menyediakan kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun. karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. Bukan hanya penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.


Jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan yang anda inginkan.


Mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di jual atau "disewakan." siapa saja dengan penghasilan tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda, tapi tidak akan menikahi anda.


Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari orang kaya bodoh.


Mudah2an balasan ini dapat membantu. jika anda tertarik untuk servis "sewa pinjam," hubungi saya.


Ttd,J.P. Morgan

Berhentilah berteriak....

Berhentilah berteriak karena teriakan akan mematikan ROH

Kali ini, saya ingin bercerita tentang salah satu kebiasaan yang ditemui pada penduduk yang tinggal di sekitar kepulauan Solomon, yang letaknya di Pasifik Selatan. Nah, penduduk primitif yang tinggal di sana punya sebuah kebiasaan yang menarik yakni meneriaki pohon. Untuk apa? Kebisaan ini ternyata mereka lakukan apabila terdapat pohon dengan akar-akar yang sangat kuat dan sulit untuk dipotong dengan kapak.

Inilah yang mereka lakukan, jadi tujuannya supaya pohon itu mati.Caranya adalah, beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat hingga ke atas pohon itu.Lalu, ketika sampai di atas pohon itu bersama dengan penduduk yang ada di bawah pohon, mereka akan berteriak sekuat-kuatnya kepada pohon itu. Mereka lakukan teriakan berjam-jam, selama kurang lebih empat puluh hari. Dan, apa yang terjadi sungguh menakjubkan. Pohon yang diteriaki itu perlahan-lahan daunnya mulai mengering. Setelah itu dahan-dahannya juga mulai rontok dan perlahan-lahan pohon itu akan mati dan mudah ditumbangkan.

Kalau kita perhatikan apa yang dilakukan oleh penduduk primitif ini sungguhlah aneh. Namun kita bisa belajar satu hal dari mereka. Mereka telah membuktikan bahwa teriakan-teriakan yang dilakukan terhadap mahkluk hidup tertentu seperti pohon akan menyebabkan benda tersebut kehilangan rohnya. Akibatnya, dalam waktu panjang, makhluk hidup itu akan mati.

Nah, sekarang, apakah yang bisa kita pelajari dari kebiasaan penduduk primitif di kepulauan Solomon ini? Ooow, sangat berharga sekali! Yang jelas, ingatlah baik-baik bahwa setiap kali Anda berteriak kepada mahkluk hidup tertentu maka berarti Anda sedang mematikan rohnya.

Pernahkah Anda berteriak pada anak Anda?

Ayo cepat !Dasar lelet !Bego banget sih ! Begitu aja nggak bisa dikerjakan ?Jangan main-main disini !Berisik !

Atau, mungkin Anda pun berteriak balik kepada pasangan hidup Anda karena Anda  merasa sakit hati ?

Saya nyesal kawin dengan orang seperti kamu nggak tahu diri !Bodoh banget jadi laki/bini nggak bisa apa-apa !Aduuuuh, perempuan / laki kampungan banget sih !?

Atau, bisa seorang guru berteriak pada anak didiknya :

Stupid, soal mudah begitu aja nggak bisa ! Kapan kamu jadi pinter ?!

Atau seorang atasan berteriak pada bawahannya saat merasa kesal :

Eh tahu nggak ?! Karyawan kayak kamu tuh kalo pergi aku nggak bakal nyesel !Ada banyak yang bisa gantiin kamu !Sial ! Kerja gini nggak becus ? Ngapain gue gaji elu ?

Ingatlah! Setiap kali Anda berteriak pada seseorang karena merasa jengkel, marah, terhina, terluka ingatlah dengan apa yang diajarkan oleh penduduk kepulauan Solomon ini. Mereka mengajari kita bahwa setiap kali kita mulai berteriak, kita mulai mematikan roh pada orang yang kita cintai. Kita juga mematikan roh yang mempertautkan hubungan kita. Teriakan-teriakan, yang kita keluarkan karena emosi-emosi kita perlahan -lahan, pada akhirnya akan membunuh roh yang telah melekatkan hubungan kita.

Jadi, ketika masih ada kesempatan untuk berbicara baik-baik, cobalah untuk mendiskusikan mengenai apa yang Anda harapkan.

Coba kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Teriakan, hanya kita berikan tatkala kita bicara dengan orang yang jauh jaraknya, bukan? Nah, tahukah Anda mengapa orang yang marah dan emosional, mengunakan teriakan-teriakan padahal jarak mereka hanya beberapa belas centimeter. Mudah menjelaskannya. Pada realitanya, meskipun  secara fisik mereka dekat tapi sebenarnya hati mereka begitu jauh. Itulah sebabnya mereka harus saling berteriak! Selain itu, dengan berteriak, tanpa sadar mereka pun mulai berusaha melukai serta mematikan roh orang yang dimarahi karena perasaan-perasaan dendam, benci atau kemarahan yang dimiliki. Kita berteriak karena kita ingin melukai, kita ingin membalas.

Jadi mulai sekarang ingatlah selalu. Jika kita tetap ingin roh pada orang yang kita sayangi tetap tumbuh, berkembang dan tidak mati, janganlah menggunakan teriakan-teriakan. Tapi, sebaliknya apabila Anda ingin segera membunuh roh orang lain ataupun roh hubungan Anda, selalulah berteriak. Hanya ada 2 kemungkinan balasan yang Anda akan terima. Anda akan semakin dijauhi. Ataupun Anda akan mendapatkan teriakan balik, sebagai balasannya.

Saatnya sekarang, kita coba ciptakan kehidupan yang damai, tanpa harus berteriak-teriak untuk mencapai tujuan kita


Peace & Love

Sabtu, 20 November 2010

Gereja Arushayat (1)

Ef. 1:9-11
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.

Untuk memakai kitab Amsal dengan tepat, kita harus mengenal ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah bahwa Allah menjadi manusia supaya manusia bisa menjadi Allah di dalam hayat dan sifat tetapi tidak di dalam Keallahan untuk menghasilkan organisme dari Allah Tritunggal, yaitu Tubuh Kristus, yang merampungkan Yerusalem Baru.
Menurut ekonomi-Nya…amsal bukanlah agar kita bisa membangun manusia lama kita, mengembangkan ego kita dan manusia alamiah kita. Sebaliknya, amsal-amsal itu adalah agar kita membangun manusia baru kita. Untuk tujuan inilah bahwa amsal-amsal itu berguna. Ketika kita masih hidup di dalam tubuh ini, kita memerlukan Amsal untuk memberikan instruksi-instruksi kepada kita tentang bagaimana hidup dengan tepat di dalam begitu banyak aspek, untuk membangun manusia baru kita.

Kita perlu mempertimbangkan apa yang Allah lakukan di dalam kekekalan yang lampau. Efesus pasal 1 dan 3 memberikan satu pandangan sekilas kepada kita tentang apa yang Dia lakukan sebelum waktu di mulai. …[Lihat Efesus 1:9-11 di atas]. Efesus 3:9-11 mengatakan, “Dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang sudah berabad-abad tersembunyi di dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh gereja diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Ada banyak istilah penting yang dipakai oleh Paulus di dalam ayat-ayat ini—kehendak Allah, tujuan Allah, kerelaan kehendak Allah, rencana Allah, dan ekonomi Allah.
Kita telah melihat bahwa garis sentral dari wahyu ilahi dimulai dari Allah. Kemudian wahyu ilahi ini menunjukkan kepada kita tentang ekonomi ilahi dan penyaluran ilahi. Allah sendiri, ekonomi Allah, dan penyaluran Allah bisa terlihat di seluruh Alkitab. Ketiga butir ini adalah garis sentral dari wahyu ilahi:…Allah sendiri, ekonomi Allah, dan penyaluran Allah.
Ekonomi ilahi adalah hasil dari kehendak, tujuan, kerelaan, dan rencana Allah. …Kehendak Allah adalah apa yang Dia lakukan dan yang ingin Dia lakukan. Kerelaan kehendak Allah terwujud di dalam kehendak-Nya, karena itu, kehendak-Nya muncul terlebih dahulu. Kehendak Allah ini tersembunyi di dalam Allah sebagai satu misteri, karena itu, Efesus 1:9 membicarakan tentang “misteri/rahasia kehendak-Nya.” Di dalam kekekalan, Allah merencanakan satu kehendak. Kehendak ini tersembunyi di dalam Dia; karena itu, ini adalah satu misteri. Kehendak Allah sebagai misteri yang tersembunyi di dalam Allah ini menghasilkan ekonomi Allah, dispensasi Allah (3:9). Dari kehendak Allah ini menghasilkan ekonomi Allah melalui tujuan, kerelaan kehendak, dan rencana-Nya.
Tujuan Allah adalah maksud Allah yang dibuat sebelumnya. Kerelaan kehendak Allah dibuat di dalam Allah sendiri (Ef. 1:9b). Ini menunjukkan bahwa kerelaan kehendak Allah bukan hanya terwujud di dalam kehendak Allah melainkan juga di dalam tujuan Allah. Kita telah ditakdirkan menurut tujuan Allah sepanjang zaman, yang adalah tujuan kekal-Nya (1:11a; 3:11). Tujuan Allah itu kekal. Ini adalah rencana kekal Allah yang dibuat di dalam kekekalan yang lampau sebelum permulaan waktu.
Kerelaan kehendak Allah adalah yang membuat Allah gembira. Ini adalah yang Allah suka, yaitu yang menyukakan Allah. …Allah telah menakdirkan kita kepada keputraan menurut kerelaan kehendak-Nya (Ef. 1:5). Ini berarti bahwa Allah suka memiliki putra-putra. Penakdiran-Nya adalah kepada keputraan. Kepada berarti bagi atau di dalam pandangan. Penakdiran Allah terhadap kita adalah bagi keputraan-Nya atau di dalam pandangan akan keputraan-Nya. Allah gembira dan senang akan mendapatkan putra-putra. Ini adalah kerelaan kehendak-Nya untuk memiliki kita sebagai putra-putra-Nya.
Allah telah membuat kita mengenal misteri kehendak-Nya menurut kerelaan kehendak-Nya, yang Dia maksudkan di dalam diri-Nya sendiri (Ef. 1:9). Pertama, ada kehendak Allah, kedua, tujuan Allah, dan ketiga, kerelaan kehendak-Nya.


2 Kor. 13:13
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Yoh. 4:14
Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

Allah damba untuk memiliki gereja untuk menjadi Tubuh Kristus sebagai kepenuhan-Nya bagi satu ekspresi yang korporat dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses (Ef. 1:23; 3:19b). Ini bukan sekadar satu jemaat yang terdiri dari banyak kaum beriman. Tubuh Kristus adalah satu Tubuh yang organik dari satu persona yang besar—Kristus. Agar Kristus bisa memiliki satu Tubuh yang demikian, maka Dia harus menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya.
Penggenapan dari ekonomi ilahi ini adalah oleh penyaluran ilahi dari Trinitas ilahi. Allah itu ilahi, dan Dia juga tritunggal. Dia itu tritunggal untuk melengkapi langkah-langkah bagi penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam kita.

Lapisan yang paling dalam dari wahyu ilahi di dalam Alkitab adalah Allah itu sendiri, dan bukan sekadar Allah sendirian saja, melainkan juga ekonomi dan penyaluran Allah. Ekonomi Allah adalah rencana dan pengaturan-Nya yang berasal dari kedambaan dan tujuan-Nya. Penyaluran Allah adalah penyaluran dan pembagian-Nya menurut rencana dan pengaturan ini.
Maksud Allah di dalam ekonomi-Nya, yaitu pemerintahan rumah tangga-Nya adalah menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam Trinitas Ilahi-Nya—Bapa, Putra, dan Roh itu—ke dalam umat pilihan-Nya.
Allah sungguh memiliki satu ekonomi, satu administrasi rumah tangga, untuk melaksanakan tujuan kekal-Nya. Ekonomi ini adalah operasi/pekerjaan universal-Nya. …Hari ini…Allah sedang bekerja di dalam satu hal dan bagi satu hal: Dia sedang meluangkan waktu dengan sabar untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam semua umat pilihan-Nya. Segala sesuatu yang disinggung di dalam Perjanjian Baru mengenai Allah berhubungan dengan penyaluran-Nya bagi ekonomi-Nya.
Allah kita itu tritunggal bagi tujuan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Dia adalah Bapa, seluruh buah semangka itu. Dia juga adalah putra, yang dipotong menjadi beberapa bagian. Dia juga adalah Roh itu, yang diperas menjadi jus. Supaya sebuah semangka yang besar bisa masuk ke dalam manusia, maka ia harus melalui semua proses ini. Tahap-tahap ini adalah tahap-tahap dari penyaluran itu. Semangka itu bukan hanya perlu disalurkan, melainkan juga harus dicerna, dan diasimilasi menjadi susunan manusia. Demikian juga, Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh itu—telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat supaya kita bisa minum Dia dan supaya Dia bisa menjadi elemen kita. Iniah penyaluran ilahi dari Trinitas ilahi.
2 Korintus 13:13 adalah satu bukti yang kuat bahwa trinitas dari Keallahan itu bukanlah untuk pemahaman teologi sistematik, melainkan bagi penyaluran Allah sendiri di dalam Trinitas-Nya ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya. DI dalam Alkitab, Trinitas itu tidak pernah diwahyukan sekadar sebagai satu doktrin. Hal ini selalu diwahyukan atau disinggung dalam hubungannya Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, terutama dengan manusia yang diciptakan oleh-Nya dan lebih-lebih lagi dengan umat pilihan dan tebusan-Nya.
Wahyu ilahi tentang trinitas Keallahan di dalam Firman Kudus, dari Kejadian sampai Wahyu ini bukanlah untuk pengkajian teologi, melainkan bagi pemahaman akan bagaimana Allah di dalam trinitas-Nya yang misterius dan menakjubkan ini menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar kita sebagai umat pilhan dan tebusan-Nya bisa, seperti yang ditunjukkan di dalam berkat dari para rasul kepada kaum beriman Korintus, mengambil bagian, mengalami, menikmati, dan memiliki Allah Tritunggal yang telah melalui proses sekarang dan sampai selama-lamanya.
Kedambaan Allah dengan maksud-Nya yang kuat adalah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya sebagai hayat mereka, sebagai suplai hayat mereka, dan sebagai segala sesuatu mereka. Untuk melaksanakan penyaluran ini, Dia perlu menjadi tritunggal.
Bapa sebagai pemula adalah sumber air; Putra sebagai ekspresi adalah mata air; dan Roh itu sebagai transmisi adalah aliran. Roh itu sebagai aliran adalah pencapaian, penerapan dari Allah Tritunggal, bagi pembagian diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya.


Mzm. 68:20
Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita, Allah adalah keselamatan kita. S e l a

2 Tes. 3:16
Kiranya Ia, Tuhan damai sejahtera, mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus menerus kepada kamu dalam segala hal. Tuhan menyertai kamu sekalian.

Hari ini, Kristus di dalam kaum beriman adalah Roh pemberi hayat. Dia menyalurkan hayat ilahi dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses kepada kita supaya kita dapat menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6:17) dan dapat menikmati penyaluran ilahi dari segala kekayaan Allah Tritunggal di dalam Dia.
Ketika kita menikmati Kristus yang almuhit setiap hari, Dia akan menjadi suplai batiniah kita dalam segala sesuatu. Dia akan menjadi penyaluran di dalam kita. Akhirnya, Dia akan dimanifestasikan dalam sidang-sidang dan pelayanan kita, dalam karunia-karunia kita, dan dalam semua aktivitas kita.



Segala sesuatu dari Hayat yang Allah berikan kepada kita adalah tenang dan kalem. Kita tidur tepat waktu, tidur dengan kalem, bangun dengan tenang, mandi, doa-baca, sarapan pagi, melakukan pekerjaan, dan belajar kita dengan tenang. Selain melatih fisik, kita melakukan segala sesuatu secara tenang. Hidup secara ini sangat sehat. Kehidupan ini sama dengan kehidupan tanaman. Dalam pertumbuhan bunga, berbahaya jika memupuki atau menyirami terlalu banyak. Kita seharusnya tidak menggangu tanaman terlalu banyak. Sebaliknya, kita harus membiarkan mereka tumbuh dengan perlahan. Bahkan jika kita tidak menyiram tanaman, kadang-kadang langit akan memberi mereka air dan membuat mereka bertumbuh. Kadang-kadang kita “dingin” terhadap Tuhan; kita mungkin tidak pergi bersidang kapan pun. Pada saat yang lain kita mungkin sangat mengasihi Tuhan sehingga kita menjadi sangat tekun. Tadinya, sulit hanya membaca setengah pasal dalam Alkitab. Sekarang mudah untuk membaca sampai lima pasal dalam satu hari. Tetapi karena “dingin” kita dan “membara” kita adalah sesuatu dari diri kita sendiri, mereka tidak akan tahan. Hanya mereka yang tidak tergesah-gesah dan mantap akan tetap tinggal dan gigih.
Jika kita terus menempuh jenis kehidupan yang mantap ini, kita akan benar-benar menjadi orang Kristen yang sehat. Kita akan menikmati transfusi dan penyaluran hayat Putra-Nya dan sifat ilahi-Nya ke dalam kita yang terus menerus dari Bapa. Kita harus menyadari bahwa beberapa hal rohani dirampungkan sekali untuk selamanya. Sama seperti kehidupan fisik kita, banyak hal rohani harus diulang sekali demi sekali. Sebagai contoh, kita perlu makan, minum, dan bernafas untuk kehidupan fisik kita setiap hari; kita tidak dapat lulus dari hal-hal ini. Namun, kita tidak perlu melakukan hal-hal ini terlalu banyak; kita perlu sederhana melakukannya dalam bagian kecil sejangka waktu. Demikian juga, lebih tenang kehidupan kristiani kita, lebih baik jadinya. Setiap hari kita harus mengizinkan Bapa untuk menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita. Ini dapat dibandingkan dengan listrik, yang selalu mengalir sedikit demi sedikit ke dalam rumah. Jika terlalu banyak masuk sekaligus, akan berbahaya. Kita harus melihat pertama-tama bahwa apa pun yang Allah kita ingin lakukan, Dia tidak ingin kita melakukannya oleh kerja keras kita sendiri, tetapi oleh Dia. Kedua, apa pun yang Allah berikan kepada kita tidak diberikan semuanya sekaligus sehingga tak tertampung oleh kita. Sebaliknya, diberikan sedikit demi sedikit. Untuk alasan ini, kita harus menjadi orang Kristen yang mantap dan normal. Tanpa kekhususan dan semakin normal kita, lebih baik.
Penyaluran dimulai dengan ekonomi Allah. Sebelum zaman Allah, di alam semesta, memiliki kedambaan di dalam diri-Nya, yang adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam umat-Nya yang dipilih, diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kembali sehingga Dia dapat menjadi hayatnya dan unsur ilahinya.…umat ini menjadi ekspresi Allah, dan ekspresi ini menjadi Tubuh Kristus, yang juga kepenuhan Kristus. Kepenuhan ini adalah kekayaan Allah Tritunggal yang sepenuhnya digarapkan ke dalam umat-Nya yang dipilih, dilahirkan kembali, dan diubah.…Keperluan kita adalah kekayaan Kristus yang disalurkan kepada kita.…Kita tidak perlu mengusahakan dan mereformasi rohani apa pun. Kita hanya perlu menerima penyaluran ilahi ini… berulang-ulang secara perlahan dan mantap dari pagi sampai petang dan dari petang sampai pagi. Secara praktis, Kristus dalam kebangkitan adalah Kristus yang pneumatik. Maka, setiap tempat dan sepanjang waktu, Dia dapat masuk ke dalam kita, menyertai kita, dan menjadi hayat dan unsur kita di dalam.

 Rm. 8:10-11
…Jika Kristus ada di dalam kita, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran. Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.

Mat. 6:11
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.
:
Kita seharusnya jangan berharap memiliki waktu yang spektakuler setiap hari dalam menerima penyaluran ilahi. Saya baru-baru ini membicarakan perkataan kepada peserta pelatihan di pelatihan sepenuh waktu mengenai kehidupan rohani sehari-hari mereka. Saya memberi tahu mereka jangan berharap memiliki hasil yang spektakuler dalam kehidupan kristiani mereka. Kita harus melupakan mengenai memiliki sesuatu yang spektaculer. Kita harus belajar dipuaskan dengan hari-hari biasanya yang penuh dengan pengaturan dan pelaksanaan normal dalam penyaluran ilahi. Di pagi hari kita harus memiliki banyak waktu bersama Tuhan untuk menjamah Dia dan diterima oleh Dia. Kemudian kita perlu melalui rutinitas sehari-hari untuk dibekerjakan. Menempuh kehidupan dalam penyaluran ilahi secara normal akan membuat kita sehat secara jasmani dan rohani. Apakah kita memiliki hari yang baik atau buruk keduanya tidak tergantung kepada kita; tergantung kepada kedaulatan-Nya. Dia telah memiliki kita, dan tidak terlambat untuk berbalik. Kita diberkati karena Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung ada di dalam kita. Dia ada di dalam kita, bukan secara spektakuler tetapi secara biasa.


Kita seharusnya diberkati untuk dipuaskan dengan hari-hari biasa dalam penyaluran ilahi. Allah Tritunggal pasti di dalam kita, tetapi diri-Nya di dalam kita tidak spektakuler. Setiap hari Dia di dalam kita menyalurkan dan secara positif menguatkan dan mendorong kita. Dalam tiga tahun terakhir, saya mengalami banyak masalah, namun tidak satu pun yang menggangu saya. Saya telah menerbitkan banyak berita, saya telah mengunjungi berbagai tempat, dan saya telah mengadakan banyak konferensi. Namun, hal ini bukan karena saya memiliki hari-hari yang spektakuler. Saya hanya menempuh kehidupan biasa menerima penyaluran-Nya. Surat Kiriman mengungkapkan bahwa pekerjaan Kristus di dalam kita adalah pekerjaan penyaluran yang lembut.…Allah Bapa kita telah menentukan supaya kita hidup secara biasa di bawah penyaluran-Nya terus menerus.
Saya harap semua saudara dan saudari, apakah yang tua atau yang muda, apakah mereka baru beoleh selamat atau telah melayani Tuhan sejangka waktu, semua dapat melihat visi. Hari ini, Allah tidak bermaksud agar kita melakukan segala sesuatu oleh diri kita sendiri. Benar bahwa apa pun yang Dia ingin kita lakukan kita harus lakukan. Tetapi Allah menginginkan kita melakukan segala sesuatu melalui bersandar kepada Dia, melalui mengambil Dia sebagai hayat, dan melalui mengizinkan Dia menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Ketika kita menikmati Dia dan mengalami Dia, kita dapat mengekspresikan Dia. Inilah apa yang Allah inginkan.
Menciptakan manusia dalam gambar Allah adalah untuk penyaluran Allah ke dalam manusia. Setelah manusia diciptakan, Allah menempatkan dia di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9). Dengan segera, Allah memperingatkan manusia tentang makanannya (ayat 16-17). Jika manusia makan pohon hayat, dia akan hidup; tetapi jika makan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, dia akan mati. Pohon hayat melambangkan diri Allah sendiri. Hari ini, Allah adalah makanan kita; Dia dapat dimakan. Dalam Yohanes 6 Yesus berkata bahwa Dia adalah roti hayat (ayat 35, 48), dalan dalam ayat 57 Dia berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Kita perlu makan Yesus.
Menjadi orang Kristen lebih dari sekadar bertobat dari dosa-dosa kita, menerima mengampunan dosa-dosa, dibasuh oleh darah, dibenarkan, dan dilahirkan kembali. Kehidupan orang Kristen juga termasuk bertumbuh dan matang. Agar berlanjut dari kelahiran kembali sampai kepada kematangan, kita harus makan. Kelahiran kembali adalah permulaan kehidupan rohani kita, tetapi kita perlu makan setelah kelahiran kembali kita. Tidak seorang pun dapat bertumbuh tanpa makan. Kita harus makan, mencerna, dan mengasimilasi makanan setiap hari. Mengasimilasi adalah langkah akhir makanan untuk disalurkan ke dalam diri kita. Kita perlu makan, mencerna, dan mengasimilasi Yesus sebagai makanan rohani kita hari demi hari.


Yoh. 6:35
Kata Yesus kepada mereka, “Akulah roti kehidupan; siapa saja yang datang kepada-Ku, Ia tidak akan lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, Ia tidak akan pernah haus lagi.”

Yoh. 6:51
Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya…

Yoh. 6:53
Karena itu, kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.”

Ekonomi Allah adalah supaya kita makan Kristus dan disusun oleh Dia. Dalam Yohanes 6 Tuhan Yesus berkata bahwa Dia adalah roti hayat, roti yang turun dari surga, dan siapa yang makan Dia akan hidup oleh Dia (ayat 35, 41, 57). Kemudian dalam Yohanes 7 Dia berseru: “Siapa saja yang haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum” (ayat 37). Tuhan Yesus berkata mengenai Roh. Dalam Wahyu 22:17 menyerukan lagi untuk datang dan minum. Tuhan memanggil kita untuk minum Roh, Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Telah melalui langkah-langkah proses ilahi, Allah Tritunggal sekarang adalah minuman yang universal, almuhit, disiapkan dan tersedia. Apa yang kita perlukan bukan kemajuan atau perbaikan luaran. Kita perlu mengambil masuk Allah Tritunggal melalui makan dan minum Dia. Menurut ketentuan Allah, cara berbagian atas Dia adalah makan dan minum Dia.

Allah bukan saja mendambakan supaya manusia menjadi bejana-Nya untuk diisi Dia (Rm. 9:21, 23; 2 Kor. 4:7), tetapi juga menginginkan manusia makan, mencerna, dan mengasimilasi Dia (Yoh. 6:57). Ketika kita makan, mencerna, dan mengasimilasi makanan jasmani, kita diberi tenaga dan dikuatkan. Makanan yang kita makan disalurkan ke dalam darah kita, dan melalui darah ke dalam setiap bagian tubuh kita. Akhirnya, makanan yang kita makan menjadi serat, jaringan, dan sel diri kita. Dalam cara yang sama, rencana kekal Allah adalah menyalurkan diri-Nya ke dalam kita supaya Dia menjadi setiap serat diri batiniah kita. Dia ingin dicerna dan diasimilasi oleh kita supaya Dia dapat menjadi susunan diri batiniah kita.
Hanya sesuatu yang organik yang dapat dicerna oleh kita dan kemudian diasimilasi ke dalam kita untuk menjadi suplai hayat kita.…[Allah Tritunggal] harus masuk ke dalam kita untuk dicerna dan diasimilasi oleh kita. Sungguh, Allah Tritunggal hidup dan organik. Menurut…[Yohanes 6], Kristus adalah roti jelai, roti hayat, untuk kita makan. Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti kehidupan yang telah turun dari surga. Jikalau seseorang makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya” (ayat 51). Kemudian Dia selanjutnya mengatakan, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku akan hidup oleh Aku”(ayat 57). Setiap orang beriman yang makan Tuhan Yesus sebagai roti hayat akan hidup oleh Dia. Ketika kita makan roti hayat ini, Dia masuk ke dalam kita dicerna oleh kita dan diasimilasi ke dalam kita secara organik. Inilah jalan satu-satunya Allah Tritunggal dapat menjadi…suplai hayat kita dan hayat kita melalui masuk ke dalam kita secara organik untuk diasimilasi ke dalam setiap serat diri rohani kita.
Cara tepat untuk menerima sesuatu ke dalam perut kita adalah melalui makan atau melalui minum. Makna makan dan minum adalah menerima sesuatu ke dalam diri kita. Karena itu, makan daging Tuhan dan minum darah-Nya, adalah menerima daging dan darah Tuhan ke dalam diri kita. Makan adalah mengambil makanan ke dalam kita diasimilasi ke dalam tubuh kita secara organik. Makan Tuhan Yesus adalah menerima Dia ke dalam kita untuk diasimilasi oleh manusia baru yang dilahirkan kembali secara hayat. Prisnispnya sama dengan minum.
Kita seharus tidak hanya belajar tekhnik berbuah dan memberi makan orang baru. Kita setiap hari harus menempuh kehidupan bernafas, minum, dan mendapat makanan dari Kristus, mengambil Kristus setiap hari sebagai unsur dan esens kita. Kita seharusnya tidak hanya menerima Dia, tetapi juga mencerna Dia, mengasimilasi Dia, dan membiarkan Dia menjadi isi diri kita. Kemudian kita akan menjadi satu dengan Dia. Kemudian kita pergi keluar untuk Injil, kita akan pergi keluar dalam keesaan dengan Dia dan dengan kuasa-Nya


Yer. 15:16
Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

Yoh. 6:57
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Kita perlu makan Yesus melalui menyeru nama Tuhan. Tetapi setelah kita makan, kita juga perlu mencerna dengan baik. Kita jangan salah cerna. Salah cerna pertama-tama mengakibatkan perut bermasalah dan kemudian mungkin menyebabkan sakit perut.…Ketika kita makan Kristus, kita juga perlu secara rohani mencerna Dia secara tepat. Jika Anda mencerna dengan tepat, makanan yang Anda makan dapat masuk ke dalam setiap bagian jasmani kita. Ada jalan untuk makanan masuk melaluinya. Salah cerna berarti bahwa tidak ada jalan bagi makanan. Sekarang kita perlu mempertimbangkan bagaimana menerapkan ini kepada kita dalam pengertian rohani. Banyak orang beriman terkasih dapat menikmati menyeru Tuhan dan mendoabacakan Firman kali pertama. Tetapi setelah sejangka waktu tertentu, mereka kehilangan selera dan keinginan untuk hal ini. Ini dikarenakan setelah mengambil Tuhan Yesus, sesuatu terjadi di dalam mereka. Ada salah cerna. Tidak ada jalan bagi Tuhan Yesus masuk melaluinya. Setelah menyeru Tuhan Yesus dan mendoabacakan Firman-Nya, kita harus berkata, “Tuhan, rahmati aku. Jaga seluruh diriku dengan seluruh bagian batiniahku untuk terbuka kepada-Mu.”

Saya tidak membicarakan sesuatu secara doktrinal, tetapi sesuatu yang sangat praktis dalam kehidupan kristiani kita.…Masalahnya adalah — setelah Anda menyeru nama Tuhan, setelah Tuhan masuk ke dalam Anda, Anda mungkin tidak mau terbuka kepada Dia. Anda terbuka kepada Dia sebagian kecil diri Anda, tetapi kebanyak diri Anda tertutup kepada Dia. Tuhan Yesus adalah riil, hidup, dan praktis. Ketika Anda menyeru, “Tuhan Yesus,” Dia masuk ke dalam Anda dan memenuhi anda. Ketika Anda menyeru “Tuhan Yesus,” Yesus yang praktis dan hidup ini akan menjamah diri alamiah Anda. Tetapi banyak dari Anda dapat berkata, “Tidak, Tuhan. Jangan jamah aku di sini. Tinggal di manakah Engkau. Engkau adalah tamuku dan Engkau harus tinggal di ruang tamu. Jangan masuk ke dalam kamar tidur pribadiku. Ini untukku, bukan untuk-Mu. ”Ini berarti salah cerna. Tidak ada cara bagi Tuhan sebagai makanan rohani masuk melewati Anda. Tidak ada jalan bebas untuk makanan masuk ke dalam bagian batiniah Anda, sehingga Anda salah cerna. tetapi ketika Anda merespon dan mengikuti perasaan batin, selesa Anda untuk Tuhan Yesus datang kembali dan pencernaan rohani Anda menjadi tepat. Kemudian kekayaan Tuhan Yesus menjadi sel Anda, dan sel ini bertumbuh menjadi jaringan organik Anda. Ini menyebabkan Anda bertumbuh dalam hayat ilahi dan membuat Anda kuat dalam Tuhan. Mudah bagi Anda berdiri teguh dan tidak mudah bagi Anda untuk berbalik, karena Anda bertumbuh dalam Tuhan. Adalah sulit bagi orang-orang yang bertumbuh untuk jatuh. Karena mereka memiliki pencernaan yang baik untuk mengasimilasi semua rawatan dari makanan rohani yang mereka makan. Melalui makan kita mencerna; melalui mencerna mengasimilasi; dan melalui mengasimilasi ini kita mendapat rawatan praktis dari kekayaan Yesus ke dalam diri kita. Semua kekayaan Kristus akhirnya akan bertumbuh ke dalam jaringan organik kita. Kemudian kita menjadi Kristus. Ini bukan lagi aku, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Bagiku hidup adalah Kristus. Kita perlu Yesus, bukan secara obyektif tetapi secara subyektif. Kita perlu Yesus masuk ke dalam kita. Kita perlu mengasimilasi Yesus supaya Dia dapat menjadi sel dan jaringan organik kita untuk menjadi esens dan unsur kita. Kemudian kita dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kemudian isi dan wadah menjadi satu.
Dalam Yohanes 6:57, Tuhan Yesus berkata bahwa mereka yang menikmati Dia akan hidup oleh Dia.…Mereka yang makan Dia adalah mereka yang menikmati Dia. Tuhan Yesus dapat dimakan dan diminum. Mereka yang makan dan minum Dia akan memiliki Dia di dalam mereka sebagai hayat dan gizi hayat mereka, dan akan hidup oleh Dia. Inilah ekonomi Allah dan penyaluran Allah







Sifat Kepiting

Mungkin banyak yang tahu wujud kepiting, tapi tidak banyak yang tahu sifatkepiting. Semoga Anda tidak memiliki sifat kepiting yang dengki.

Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakankepiting sawah.

Kepiting itu ukurannya kecil namun rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom/wadah, tanpa diikat.

Keesokkan harinya, kepiting-kepiting ini akan direbus dan lalu disantapuntuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaanini, kepiting-kepiting itu akan selalu berusaha untuk keluar dari baskom,sekuat tenaga mereka, dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat.

Namun seorang penangkap kepiting yang handal selalu tenang meskipun hasilburuannya selalu berusaha meloloskan diri.

Resepnya hanya satu, yaitu si pemburu tahu betul sifat si kepiting.

Bila ada seekor kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom,teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar.

Jika ada lagi yang naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannyaakan menariknya turun… dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yang berhasil keluar.

Keesokan harinya sang pemburu tinggal merebus mereka semua dan matilahsekawanan kepiting yang dengki itu.

Begitu pula dalam kehidupan ini…tanpa sadar kita juga terkadang menjadi seperti kepiting-kepiting itu.

Yang seharusnya bergembira jika teman atau saudara kita mengalamikesuksesan kita malahan mencurigai, jangan-jangan kesuksesan itu diraihdengan jalan yang nggak bener.

Apalagi di dalam bisnis atau hal lain yang mengandung unsur kompetisi,sifat iri, dengki, atau munafik akan semakin nyata dan kalau tidak segerakita sadari tanpa sadar kita sudah membunuh diri kita sendiri.

Kesuksesan akan datang kalau kita bisa menyadari bahwa di dalam bisnis ataupersaingan yang penting bukan siapa yang menang, namun terlebih pentingdari itu seberapa jauh kita bisa mengembangkan diri kita seutuhnya.

Jika kita berkembang, kita mungkin bisa menang atau bisa juga kalah dalamsuatu persaingan, namun yang pasti kita menang dalam kehidupan ini.

Pertanda seseorang adalah ‘kepiting’:

1. Selalu mengingat kesalahan pihak luar (bisa orang lain atau situasi)yang sudah lampau dan menjadikannya suatu prinsip/pedoman dalambertindak

2. Banyak mengkritik tapi tidak ada perubahan

3. Hobi membicarakan kelemahan orang lain tapi tidak mengetahui kelemahandirinya sendiri sehingga ia hanya sibuk menarik kepiting-kepiting yangakan keluar dari baskom dan melupakan usaha pelolosan dirinya sendiri.

..Seharusnya kepiting-kepiting itu tolong-menolong keluar dari baskom,namun yah… dibutuhkan jiwa yang besar untuk melakukannya…

Coba renungkan berapa waktu yang Anda pakai untuk memikirkan cara-caramenjadi pemenang. Dalam kehidupan sosial, bisnis, sekolah, atau agama.Dan gantilah waktu itu untuk memikirkan cara-cara pengembangan diri Andamenjadi pribadi yang sehat dan sukses.

Betapa pun banyaknya kucing berkelahi, selalu saja banyak anak kucinglahir. (Abraham Lincoln)

Jumat, 19 November 2010

Tentang Si Kuning....(kisah inspisasi)

Satu ketika di ruang kelas sekolah, terlihat suatu percakapan yang menarik. Seorang guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas. Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan.

"Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah disini. Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuatmu bahagia? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini?”

Murid-murid tampak saling pandang. Terdengar suara dari guru, “Ya,ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidupmu…”. Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan guru itu menunjuk pada seorang murid.

“Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui? Berbagilahdengan teman-temanmu…”.

Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid, “Seminggu yang lalu, adalah masa yang sangat besar buatku. Orangtuaku, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang aku impikan selama ini”.

Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. “Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu!”Sang guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka,terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara, hingga terdengar suara dari arah belakang.

“Pak Guru..Pak, aku belum bercerita”. Rupanya, ada seorang anak dipojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya. “Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua”, ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu. “Apa hal terbesar yang kamu dapatkan?”, Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali.


“Keberhasilan terbesar buatku, dan juga buat keluargaku adalah..saat nama keluarga kami tercantum dalam buku telpon yang baru terbit 3 hari yang lalu”. Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak2 mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, “Ha? aku sudah sejak lahir menemukan nama keluargaku di buku telpon. Buku Telpon? Betapa menyedihkan…hahaha”. Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, “Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu?”

Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan.

Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. “Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak…”. Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. “Ya. Memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah aku dapatkan. Dulu, Ayahku bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi”.

Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan.

“Tapi, kini Ayah telah berubah. Dia telah mau menjadi Ayah yang baik buat keluargaku. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja.Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Ayahku. Dan kini, Ayah berhasil. Bukan hanya itu, Ayah juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi”.

“Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluargamu ada di buku telpon? Itu artinya, aku tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan ayah untuk terus berlari. Itu artinya, aku tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang aku sayangi. Itu juga berarti, aku tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, aku, dan juga keluargaku, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya”.

Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. “Itu artinya,akan ada harapan-harapan baru yang aku dapatkan nanti…”.

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan. Mereka juga belajar satu hal : “Bersyukurlah dan berbesar hatilah setiap kali mendengar keberhasilan orang lain. Sekecil apapun. Sebesar apapun”.

"Bodoh vs Pintar" ala Om Bob Sadino

Setiap orang punya perjalanan hidup yang berbeda-beda dan menerjemahkan perjalanan hidupnya pun tak akan sama kedalam petuah-petuah kata yang bermakna.

Demikian pula dengan sosok Bob Sadino yang ber-azzam untuk tidak membawa ilmu yang dimilikinya keliang kubur sebelum di ajarkan kepada anak bangsa ini.

Berikut tulisan-tulisan Beliau, semoga bermanfaat.

1. Terlalu Banyak Ide - Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya

2. Miskin Keberanian untuk memulai - Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang “bodoh” sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang “pintar” telalu banyak pertimbangan.

3. Telalu Pandai Menganalisis - Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usaha.

4. Ingin Cepat Sukses - Orang “pintar” merasa mampu melakukan berbagai hal dengan kepintarannya termasuk mendapatkahn hasil dengan cepat. Sebaliknya, orang “bodoh” merasa dia harus melalui jalan panjang dan berliku sebelum mendapatkan hasil.

5. Tidak Berani Mimpi Besar - Orang “pintar” berlogika sehingga bermimpi sesuatu yang secara logika bisa di capai. Orang “bodoh” tidak perduli dengan logika, yang penting dia bermimpi sesuatu, sangat besar, bahkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai menurut orang lain.

6. Bisnis Butuh Pendidikan Tinggi - Orang“pintar” menganggap, untuk berbisnis perlu tingkat pendidikan tertentu. Orang “bodoh” berpikir, dia pun bisa berbisnis.

7. Berpikir Negatif Sebelum Memulai - Orang “pintar” yang hebat dalam analisis, sangat mungkin berpikir negatif tentang sebuah bisnis, karena informasi yang berhasil dikumpulkannya sangat banyak. Sedangkan orang “bodoh” tidak sempat berpikir negatif karena harus segera berbisnis.

8. Maunya Dikerjakan Sendiri - Orang “pintar” berpikir “aku pasti bisa mengerjakan semuanya”, sedangkan orang “bodoh” menganggap dirinya punya banyak keterbatasan, sehingga harus dibantu orang lain.

9. Miskin Pengetahuan Pemasaran dan Penjualan - Orang “pintar” menganggap sudah mengetahui banyak hal, tapi seringkali melupakan penjualan. Orang “bodoh” berpikir simple, “yang penting produknya terjual”.

10. Tidak Fokus - Orang “pintar” sering menganggap remeh kata Fokus. Buat dia, melakukan banyak hal lebih mengasyikkan. Sementara orang “bodoh” tidak punya kegiatan lain kecuali fokus pada bisnisnya.

11. Tidak Peduli Konsumen - Orang “pintar” sering terlalu pede dengan kehebatannya. Dia merasa semuanya sudah Oke berkat kepintarannya sehingga mengabaikan suara konsumen. Orang “bodoh” ?. Dia tahu konsumen seringkali lebih pintar darinya.

12. Abaikan Kualitas - Orang “bodoh” kadang-kadang saja mengabaikan kualitas karena memang tidak tahu, maka tinggal diberi tahu bahwa mengabaikan kualitas keliru. Sednagnkan orang “pintar” sering mengabaikan kualitas, karena sok tahu.

13. Tidak Tuntas - Orang “pintar” dengan mudah beralih dari satu bisnis ke bisnis yang lain karena punya banyak kemampuan dan peluang. Orang “bodoh” mau tidak mau harus menuntaskan satu bisnisnya saja.

14. Tidak Tahu Pioritas - Orang “pintar” sering sok tahu dengan mengerjakan dan memutuskan banyak hal dalam waktu sekaligus, sehingga prioritas terabaikan. Orang “bodoh” ? Yang paling mengancam bisnisnyalah yang akan dijadikan pioritas

15. Kurang Kerja Keras dan Kerja Cerdas - Banyak orang “bodoh” yang hanya mengandalkan semangat dan kerja keras plus sedikit kerja cerdas, menjadikannya sukses dalam berbisnis. Dilain sisi kebanyakan orang “pintar” malas untuk berkerja keras dan sok cerdas,

16. Menacampuradukan Keuangan - Seorang “pintar” sekalipun tetap berperilaku bodoh dengan dengan mencampuradukan keuangan pribadi dan perusahaan.

17. Mudah Menyerah - Orang “pintar” merasa gengsi ketika gagal di satu bidang sehingga langsung beralih ke bidang lain, ketika menghadapi hambatan. Orang “bodoh” seringkali tidak punya pilihan kecuali mengalahkan hambatan tersebut.

18. Melupakan Tuhan - Kebanyakan orang merasa sukses itu adalah hasil jarih payah diri sendiri, tanpa campur tangan “TUHAN”. Mengingat TUHAN adalah sebagai ibadah vertikal dan menolong sesama sebagai ibadah horizontal.

19. Melupakan Keluarga - Jadikanlah keluarga sebagai motivator dan supporter pada saat baru memulai menjalankan bisnis maupun ketika bisnis semakin meguras waktu dan tenaga

20. Berperilaku Buruk - Setelah menjadi pengusaha sukses, maka seseorang akan menganggap dirinya sebagai seorang yang mandiri. Dia tidak lagi membutuhkan orang lain, karena sudah mampu berdiri diats kakinya sendiri.

Sumber : Bob Sadino
Bob Sadino

Kaca Spion Oleh: Andy Noya

Kick Andy

*maap kalau sudah pernah baca

Kaca SpionOleh: Andy Noya


Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta. Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana. Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri.

Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah. Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di sana. Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia.

Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis Indonesia. Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV. Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri.

Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya. Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya. Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya.

Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah. Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca.

Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya.

Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya. Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan. Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut.

Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya. Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah.

Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan. Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah.

Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani. Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah.

Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan.

Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa.

Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong. Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya.

Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya.

Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka.

Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.