The Scripture has several words translated "right" and the usage of the term, "right hand" ranges from a direction, to the opposite of wrong, what is just or what conforms to an established standard, and to a place of honor or authority. In the case of division or appointment in the Bible, the right hand or right side came first, as when Israel (Jacob) divided the blessings to Joseph's sons before he died (Genesis 48:13-14).
In addition, a person of high rank who put someone on his right hand gave him equal honor with himself and recognized him as possessing equal dignity and authority. And this is what the Apostle Paul writes of Jesus Christ in Ephesians. "And what is the surpassing greatness of His power toward us, the ones believing according to the working of His mighty strength which He worked in Christ in raising Him from the dead, and He seated Him at His right hand in the heavenlies, far above all principality and authority and power and dominion, and every name being named, not only in this world, but also in the coming age" (Ephesians 1:19-21). Here we see God exalting Jesus above all others by seating Him at the right hand of the Father.
The term "God's right hand" in prophecy refers to the Messiah to whom is given the power and authority to subdue His enemies (Psalm 110:1; Psalm 118:16). We find a quote in Matthew 22:44 from Psalm 110:1, which is a Messianic Psalm. "The Son of David" is claimed by the LORD Jesus Christ as He is the "greater son of David" or the Messiah. In this passage of Matthew 22, Jesus questions the Pharisees about who they think the "Christ" or the Messiah is. "While the Pharisees were gathered together, Jesus asked them, Saying, What think ye of Christ? Whose son is He? They say unto him, The Son of David. He saith unto them, How then doth David in spirit call him Lord, saying, The LORD said unto my Lord, Sit thou on my right hand, till I make Thine enemies thy footstool? If David then call Him Lord, how is He his son?" (Matthew 22:41-45). The position of the Messiah is at God's right hand.
The fact that Jesus Christ is at the "right hand of God" was a sign to the disciples that Jesus had indeed gone to heaven. In John 16:7-15, Jesus told the disciples that He had to go away and He would send the Holy Spirit. So the coming of the Holy Spirit in the upper room on the day of Pentecost (Acts 2:1-13) was proof positive that Jesus was indeed in heaven seated at the right hand of God. This is confirmed in Romans 8:34 where the Apostle Paul writes that Christ is sitting at God's right hand making intercession for us.
Therefore, what we can say is that "God's right hand" refers to the Messiah, the LORD Jesus Christ and He is of equal position, honor, power and authority with God (John 1:1-5). The fact that Christ is "sitting" refers to the fact that His work of redemption is done and when the fullness of the gentiles is brought in (Romans 11:25), Christ's enemies will be made His footstool as the end of the age comes, all prophecy is completed, and time is no more.
ga cakep tapi menarik kadang jutek dan cuek selalu kocak dan gaul suka narcis tpi tetep manis kadang nyebelin tpi ngangenin kadang cupu tpi lucu,, itulah gue..
Selasa, 23 November 2010
Kasih Karunia Dan Damai Sejahtera Makin Melimpahi Kamu
2 Petrus 1:2
"Kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpahi kamu dalam pengenalan yang penuh akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita (TL)"
Dalam ayat 2 ini, Petrus seolah-olah ingin menunjukkan bahwa untuk mengalami bagian iman yang luar biasa itu, kita perlu kasih karunia. Saat berada dalam situasi yang begitu menekan, kadang-kadang kita ingin lari, meninggalkan semuanya. Kita lupa atau bahkan tidak peduli dengan bagian iman yang luar biasa yang telah kita terima. Saat inilah kita perlu kasih karunia. Puji Tuhan untuk kasih karunia yang cuma-cuma dan selalu tersedia. Kasih karunia berfungsi untuk menopang, menunjang, dan menguatkan kita, juga menutupi dan melindungi kita. Tuhan juga ingin hati kita terpelihara oleh damai sejahtera yang melampaui segala akal. Tetapi semua itu tidak diberikan-Nya dalam porsi kecil. Ia ingin memberi kita dengan berlimpah-limpah.
Tanpa kasih karunia, tidak seorang pun dapat memiliki iman dan kasih. Kita perlu sadar bahwa adalah sesuatu yang luar biasa jika kita dapat percaya kepada Yesus dan bahkan mengasihi Dia yang tidak pernah kita lihat. Inilah kasih karunia yang berlimpah-limpah. Secara sederhana, kasih karunia berarti Allah datang untuk menggantikan manusia (Yoh. 1:14, 16, 17). Ketika Paulus tidak tahan dengan duri dalam dirinya, ia berdoa tiga kali kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor. 12:9a). Itulah sebabnya Paulus dapat berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Kor. 12:9b).
Pengenalan Yang Penuh
2 Ptr. 1:2, 3, 8; 2:20
Istilah "pengenalan yang penuh" dalam bahasa aslinya adalah "epignosis". Kata ini menunjukkan suatu pengenalan yang dalam, tuntas, dan bersifat pengalaman.
Lukas pasal 7 mengisahkan seorang perwira yang hambanya sedang sakit. Tetapi tatkala Tuhan tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, ... Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya (Luk. 7:6-8)." Begitu mendengar perkataan ini, Tuhan Yesus merasa heran, Ia berkata, "Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" (Luk. 7:9).
Mengapa Tuhan Yesus merasa begitu heran? Karena perwira ini mengenal kuasa Allah dan segala pengaturan di dalam otoritas Allah. Ia mengenal realitas Kerajaan Sorga. Hati Allah damba untuk mendapatkan realitas Kerajaan Sorga di atas bumi. Apakah realitas Kerajaan Sorga itu? Realitas Kerajaan Surga adalah: Bapa berkata pergi, maka Putra pergi; Bapa berkata datang, maka Putra datang; Allah Tritunggal berkata kepada kita pergi, maka kita pergi; Allah Tritunggal berkata kepada kita datang, maka kita datang.
Karena pengenalannya akan Tuhan, maka walaupun perwira itu seorang kafir, ia dapat mengalami kasih karunia dan damai sejahtera yang melimpahi dirinya dan hambanya. Dari manakah perwira itu memiliki pengenalan akan Tuhan kita? Pasti ia pernah mendengarnya, kemudian perkataan itu tersimpan di hatinya sehingga begitu situasi tertentu muncul, pengenalan itu menjadi pengalamannya atas kasih karunia yang berlimpah-limpah.
Kita perlu belajar menyimpan firman Tuhan di hati kita, juga belajar mencernanya. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mengalami kasih karunia dan damai sejahtera. Tinggal di dalam Ruang Maha Kudus, dan bukan hanya sekali-kali berkunjung ke sana, adalah cara terbaik untuk mengenal rahasia kasih karunia dan damai sejahtera.
"Kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpahi kamu dalam pengenalan yang penuh akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita (TL)"
Dalam ayat 2 ini, Petrus seolah-olah ingin menunjukkan bahwa untuk mengalami bagian iman yang luar biasa itu, kita perlu kasih karunia. Saat berada dalam situasi yang begitu menekan, kadang-kadang kita ingin lari, meninggalkan semuanya. Kita lupa atau bahkan tidak peduli dengan bagian iman yang luar biasa yang telah kita terima. Saat inilah kita perlu kasih karunia. Puji Tuhan untuk kasih karunia yang cuma-cuma dan selalu tersedia. Kasih karunia berfungsi untuk menopang, menunjang, dan menguatkan kita, juga menutupi dan melindungi kita. Tuhan juga ingin hati kita terpelihara oleh damai sejahtera yang melampaui segala akal. Tetapi semua itu tidak diberikan-Nya dalam porsi kecil. Ia ingin memberi kita dengan berlimpah-limpah.
Tanpa kasih karunia, tidak seorang pun dapat memiliki iman dan kasih. Kita perlu sadar bahwa adalah sesuatu yang luar biasa jika kita dapat percaya kepada Yesus dan bahkan mengasihi Dia yang tidak pernah kita lihat. Inilah kasih karunia yang berlimpah-limpah. Secara sederhana, kasih karunia berarti Allah datang untuk menggantikan manusia (Yoh. 1:14, 16, 17). Ketika Paulus tidak tahan dengan duri dalam dirinya, ia berdoa tiga kali kepada Tuhan. Tetapi Tuhan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna" (2 Kor. 12:9a). Itulah sebabnya Paulus dapat berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku" (2 Kor. 12:9b).
Pengenalan Yang Penuh
2 Ptr. 1:2, 3, 8; 2:20
Istilah "pengenalan yang penuh" dalam bahasa aslinya adalah "epignosis". Kata ini menunjukkan suatu pengenalan yang dalam, tuntas, dan bersifat pengalaman.
Lukas pasal 7 mengisahkan seorang perwira yang hambanya sedang sakit. Tetapi tatkala Tuhan tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: "Tuan, janganlah bersusah-susah, ... Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya (Luk. 7:6-8)." Begitu mendengar perkataan ini, Tuhan Yesus merasa heran, Ia berkata, "Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!" (Luk. 7:9).
Mengapa Tuhan Yesus merasa begitu heran? Karena perwira ini mengenal kuasa Allah dan segala pengaturan di dalam otoritas Allah. Ia mengenal realitas Kerajaan Sorga. Hati Allah damba untuk mendapatkan realitas Kerajaan Sorga di atas bumi. Apakah realitas Kerajaan Sorga itu? Realitas Kerajaan Surga adalah: Bapa berkata pergi, maka Putra pergi; Bapa berkata datang, maka Putra datang; Allah Tritunggal berkata kepada kita pergi, maka kita pergi; Allah Tritunggal berkata kepada kita datang, maka kita datang.
Karena pengenalannya akan Tuhan, maka walaupun perwira itu seorang kafir, ia dapat mengalami kasih karunia dan damai sejahtera yang melimpahi dirinya dan hambanya. Dari manakah perwira itu memiliki pengenalan akan Tuhan kita? Pasti ia pernah mendengarnya, kemudian perkataan itu tersimpan di hatinya sehingga begitu situasi tertentu muncul, pengenalan itu menjadi pengalamannya atas kasih karunia yang berlimpah-limpah.
Kita perlu belajar menyimpan firman Tuhan di hati kita, juga belajar mencernanya. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita mengalami kasih karunia dan damai sejahtera. Tinggal di dalam Ruang Maha Kudus, dan bukan hanya sekali-kali berkunjung ke sana, adalah cara terbaik untuk mengenal rahasia kasih karunia dan damai sejahtera.
Why does God allow birth defects?
The ultimate answer to this difficult question is that when Adam and Eve sinned (Genesis chapter 3), they brought evil, sickness, disease, and death into the world. Sin has been wreaking havoc on the human race ever since. Birth defects occur because of sin...not because of sins the parents or the baby have committed, but because of sin itself. The hard part of the question is why God allows people to be born with terrible birth defects and/or deformities. Why doesn't God prevent birth defects from occurring?
The book of Job deals with the issue of not understanding why God allows certain things to occur. God had allowed Satan to do everything he wanted to Job except kill him. What was Job’s reaction? “Though he slay me, yet will I hope in him” (Job 13:15). “The LORD gave and the LORD has taken away; may the name of the LORD be praised” (Job 1:21). Job didn’t understand why God had allowed the things He did, but he knew that God was good and therefore continued to trust in Him. Ultimately, that should be our reaction as well. God is good, just, loving, and merciful. Often things happen to us that we simply cannot understand. However, instead of doubting God's goodness, our reaction should be to trust Him. "Trust in the LORD with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways acknowledge Him, and He will make your paths straight" (Proverbs 3:5-6).
Ultimately, the answer to this question has to be “I don’t know.” We will never be able to fully understand God and His ways. It is wrong for us to question why God allows something to occur. We simply have to trust that He is loving, good, and merciful – just like Job did – even when the evidence seems to indicate the opposite. Sickness and disease are the result of sin. God provided the “cure” for sin in sending Jesus Christ to die for us (Romans 5:8). Once we are in heaven, we will be free from sickness, disease, and death. Until that day, we will have to deal with sin, its effects, and its consequences. We can praise God, though, that He can and will use birth defects and other tragedies for our good and His glory. John 9:2-3 declares, "His disciples asked Him, 'Rabbi, who sinned, this man or his parents, that he was born blind?' 'Neither this man nor his parents sinned,' said Jesus, 'but this happened so that the work of God might be displayed in his life.'
The book of Job deals with the issue of not understanding why God allows certain things to occur. God had allowed Satan to do everything he wanted to Job except kill him. What was Job’s reaction? “Though he slay me, yet will I hope in him” (Job 13:15). “The LORD gave and the LORD has taken away; may the name of the LORD be praised” (Job 1:21). Job didn’t understand why God had allowed the things He did, but he knew that God was good and therefore continued to trust in Him. Ultimately, that should be our reaction as well. God is good, just, loving, and merciful. Often things happen to us that we simply cannot understand. However, instead of doubting God's goodness, our reaction should be to trust Him. "Trust in the LORD with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways acknowledge Him, and He will make your paths straight" (Proverbs 3:5-6).
Ultimately, the answer to this question has to be “I don’t know.” We will never be able to fully understand God and His ways. It is wrong for us to question why God allows something to occur. We simply have to trust that He is loving, good, and merciful – just like Job did – even when the evidence seems to indicate the opposite. Sickness and disease are the result of sin. God provided the “cure” for sin in sending Jesus Christ to die for us (Romans 5:8). Once we are in heaven, we will be free from sickness, disease, and death. Until that day, we will have to deal with sin, its effects, and its consequences. We can praise God, though, that He can and will use birth defects and other tragedies for our good and His glory. John 9:2-3 declares, "His disciples asked Him, 'Rabbi, who sinned, this man or his parents, that he was born blind?' 'Neither this man nor his parents sinned,' said Jesus, 'but this happened so that the work of God might be displayed in his life.'
Bagian Iman Yang Sama Berharganya
2 Petrus 1:1
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya seperti bagian kami di dalam kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (TL)"
Kata "sama berharganya" dalam ayat 1, bahasa aslinya adalah "isotimos" yang artinya sama nilainya, sama jenisnya, atau sama kehormatannya. Dengan demikian, meskipun tidak sama dalam ukurannya, tetapi tetap sama dalam nilai, kehormatan, dan mutunya. Hal ini dapat kita lihat dari bagian tanah yang diundikan untuk bangsa Israel. Ukuran tanah yang mereka terima berbeda-beda, tetapi mutunya tetap sama.
Mengetahui bahwa kita juga memiliki bagian iman yang sama berharganya seperti bagian iman rasul Petrus, merupakan hiburan dan dorongan yang besar, khususnya bagi kaum beriman yang menjadi musafir di tanah kafir pada masa itu. Seolah-olah Petrus ingin mengatakan bahwa meskipun mereka menghadapi banyak penderitaan dalam perantauan, mereka pasti bisa melampaui semuanya karena iman yang Tuhan berikan sama berharganya.
Watchman Nee mati martir setelah dipenjarakan 20 tahun. William Tyndale dihukum mati pada tanggal 6 Oktober 1536 karena menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Gottlob Bruckner (1814-1857), misionaris dari Jerman, dengan mengorbankan segalanya, menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jawa, sehingga membuka pintu Injil bagi orang Jawa. Dan masih banyak saksi-saksi yang telah mendahului kita. Mereka bisa bertahan melalui berbagai kesulitan dan tetap setia sampai akhir karena memiliki iman yang berharga ini. Haleluya, kita juga memiliki bagian iman yang sama berharganya seperti mereka.
Kebenaran Allah Dan Juruselamat Kita Yesus Kristus
2 Ptr. 1:1; Ef. 2:12
Efesus 2:12 mengatakan, "Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia." Inilah kondisi kita dahulu. Lalu bagaimana mungkin kita sekarang dapat menerima bagian iman yang sama berharganya dengan rasul Petrus? Puji Tuhan! Jawabannya adalah di dalam kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dua aspek kebenaran ini, yaitu kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus, dapat juga kita lihat dalam Keluaran 12, yaitu kisah mengenai keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir. Saat itu, mereka harus menyembelih anak domba Paskah dan darahnya dioleskan di tiang pintu dan ambang pintu rumah orang Israel. Allah berfirman, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu." (Kel 12:13). Jadi, karena darah domba yang tersembelih itulah Allah tidak menghukum mereka.
Demikian juga, Tuhan sebagai Juruselamat kita, telah menumpahkan darah-Nya untuk merampungkan penebusan bagi kita. Inilah tindakan kebenaran Juruselamat kita. Karena penebusan Juruselamat kita Yesus Kristus (Rm. 3:24-25), Allah harus membenarkan semua orang beriman dalam Kristus (Rm. 3:26), baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi (Rm. 8:30). Karena Allah telah membenarkan kita, maka kita bisa mendapat bagian iman yang sama berhargarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Perkataan Petrus mengenai kebenaran Allah dan Juruselamat kita menunjukkan bahwa zaman telah berubah. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang diberkati berdasarkan kebenaran mereka (Rm. 10:3) menurut hukum Taurat (Flp 3:9). Tetapi sekarang, dalam Perjanjian Baru, Allah memberi kita bagian iman yang sangat berharga bukan karena kebenaran kita sendiri menurut hukum Taurat, tetapi karena kebenaran-Nya menurut penebusan Kristus. Haleluya, kebenaran ini menjadi jaminan kita yang kuat untuk selalu menikmati bagian iman kita yang sangat berharga.
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya seperti bagian kami di dalam kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (TL)"
Kata "sama berharganya" dalam ayat 1, bahasa aslinya adalah "isotimos" yang artinya sama nilainya, sama jenisnya, atau sama kehormatannya. Dengan demikian, meskipun tidak sama dalam ukurannya, tetapi tetap sama dalam nilai, kehormatan, dan mutunya. Hal ini dapat kita lihat dari bagian tanah yang diundikan untuk bangsa Israel. Ukuran tanah yang mereka terima berbeda-beda, tetapi mutunya tetap sama.
Mengetahui bahwa kita juga memiliki bagian iman yang sama berharganya seperti bagian iman rasul Petrus, merupakan hiburan dan dorongan yang besar, khususnya bagi kaum beriman yang menjadi musafir di tanah kafir pada masa itu. Seolah-olah Petrus ingin mengatakan bahwa meskipun mereka menghadapi banyak penderitaan dalam perantauan, mereka pasti bisa melampaui semuanya karena iman yang Tuhan berikan sama berharganya.
Watchman Nee mati martir setelah dipenjarakan 20 tahun. William Tyndale dihukum mati pada tanggal 6 Oktober 1536 karena menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Gottlob Bruckner (1814-1857), misionaris dari Jerman, dengan mengorbankan segalanya, menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jawa, sehingga membuka pintu Injil bagi orang Jawa. Dan masih banyak saksi-saksi yang telah mendahului kita. Mereka bisa bertahan melalui berbagai kesulitan dan tetap setia sampai akhir karena memiliki iman yang berharga ini. Haleluya, kita juga memiliki bagian iman yang sama berharganya seperti mereka.
Kebenaran Allah Dan Juruselamat Kita Yesus Kristus
2 Ptr. 1:1; Ef. 2:12
Efesus 2:12 mengatakan, "Bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia." Inilah kondisi kita dahulu. Lalu bagaimana mungkin kita sekarang dapat menerima bagian iman yang sama berharganya dengan rasul Petrus? Puji Tuhan! Jawabannya adalah di dalam kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Dua aspek kebenaran ini, yaitu kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus, dapat juga kita lihat dalam Keluaran 12, yaitu kisah mengenai keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir. Saat itu, mereka harus menyembelih anak domba Paskah dan darahnya dioleskan di tiang pintu dan ambang pintu rumah orang Israel. Allah berfirman, "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu." (Kel 12:13). Jadi, karena darah domba yang tersembelih itulah Allah tidak menghukum mereka.
Demikian juga, Tuhan sebagai Juruselamat kita, telah menumpahkan darah-Nya untuk merampungkan penebusan bagi kita. Inilah tindakan kebenaran Juruselamat kita. Karena penebusan Juruselamat kita Yesus Kristus (Rm. 3:24-25), Allah harus membenarkan semua orang beriman dalam Kristus (Rm. 3:26), baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi (Rm. 8:30). Karena Allah telah membenarkan kita, maka kita bisa mendapat bagian iman yang sama berhargarnya itu. Inilah yang dimaksud dengan kebenaran Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Perkataan Petrus mengenai kebenaran Allah dan Juruselamat kita menunjukkan bahwa zaman telah berubah. Dalam Perjanjian Lama, orang-orang diberkati berdasarkan kebenaran mereka (Rm. 10:3) menurut hukum Taurat (Flp 3:9). Tetapi sekarang, dalam Perjanjian Baru, Allah memberi kita bagian iman yang sangat berharga bukan karena kebenaran kita sendiri menurut hukum Taurat, tetapi karena kebenaran-Nya menurut penebusan Kristus. Haleluya, kebenaran ini menjadi jaminan kita yang kuat untuk selalu menikmati bagian iman kita yang sangat berharga.
God helps those who help themselves - is it in the Bible?
"God helps those who help themselves" is probably the most often quoted phrase that is not found in the Bible. This saying is usually attributed to Ben Franklin, quoted in Poor Richard's Almanac in 1757. In actuality, it originated from Algernon Sydney in 1698 in an article titled Discourses Concerning Government. Whatever the original source of this saying, the Bible teaches the opposite. God helps the helpless! Isaiah 25:4 declares, "For You have been a defense for the helpless, a defense for the needy in his distress, a refuge from the storm, a shade from the heat..." Romans 5:6 tells us, "For while we were still helpless, at the right time Christ died for the ungodly."
In terms of salvation, we are all utterly helpless. We are all infected by sin (Romans 3:23), and condemned as a result of that sin (Romans 6:23). Nothing we can do on our own can remedy this situation (Isaiah 64:6). Thankfully, God is the helper of the helpless. While we were still sinners, Jesus died for us (Romans 5:8). Jesus paid the penalty that we were incapable of paying (2 Corinthians 5:21). God provided the "help" that we need precisely because we could not help ourselves.
Apart from salvation, there is perhaps a way that the concept "God helps those who help themselves" is correct. As an example, if you asked me to help you move a piece of furniture, but then just watched me as I moved the furniture for you, I was not actually helping you. I would be doing the work for you. Many Christians fall into the trap of inactivity. Many Christians ask God for help, but then expect God to do everything Himself. They excuse this by pointing to the fact that God will provide according to His will and in His timing. However, this is not a reason for inactivity. As a specific example, if you are in need of a job, ask the Lord to help you find a job - but then be active in actually looking for a job. While it is in His power to do so, it is highly unlikely that God will cause employers to come looking for you!
In terms of salvation, we are all utterly helpless. We are all infected by sin (Romans 3:23), and condemned as a result of that sin (Romans 6:23). Nothing we can do on our own can remedy this situation (Isaiah 64:6). Thankfully, God is the helper of the helpless. While we were still sinners, Jesus died for us (Romans 5:8). Jesus paid the penalty that we were incapable of paying (2 Corinthians 5:21). God provided the "help" that we need precisely because we could not help ourselves.
Apart from salvation, there is perhaps a way that the concept "God helps those who help themselves" is correct. As an example, if you asked me to help you move a piece of furniture, but then just watched me as I moved the furniture for you, I was not actually helping you. I would be doing the work for you. Many Christians fall into the trap of inactivity. Many Christians ask God for help, but then expect God to do everything Himself. They excuse this by pointing to the fact that God will provide according to His will and in His timing. However, this is not a reason for inactivity. As a specific example, if you are in need of a job, ask the Lord to help you find a job - but then be active in actually looking for a job. While it is in His power to do so, it is highly unlikely that God will cause employers to come looking for you!
Iman
2 Petrus 1:1
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya …. (TL)"
Ibrani 11:1 memberikan definisi iman, "Iman adalah dasar (substansiasi) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Kata "substansi" mudah dipahami. Misalnya, substansi meja kayu adalah kayu; dan substansi lempengan logam adalah besi. Sedangkan arti kata "substansiasi" adalah "kesanggupan untuk memahami substansi". Misalnya, bila Anda melihat sebuah meja kayu, Anda segera tahu bahwa substansinya adalah dari kayu. Kemampuan ini, kesanggupan ini, adalah substansiasi (substantiating).
Semua unsur dalam dunia materi ini nyata, demikian pula semua perkara dalam dunia rohani. Namun Anda memerlukan satu "organ" untuk dapat melihat dan mendengar hal-hal rohani. Apakah "organ" itu? "Organ" itu adalah iman!
Iman adalah satu organ yang sangat penting, seperti halnya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium. Iman adalah organ untuk mensubstansiasi segala perkara rohani ke dalam kita.
Tanpa iman, segala perkara rohani akan seperti tidak ada bagi kita. Tanpa iman, semua perkara rohani menjadi tidak masuk akal dan hanya berupa khayalan bagi kita. Alangkah pentingnya iman. Dengan iman inilah kita dapat menerima semua fakta-fakta dalam Alkitab. Itulah sebabnya iman berbeda dengan persetujuan yang merupakan hasil pemikiran. Puji Tuhan, Ia telah memberikan kepada kita bagian iman yang begitu limpah.
Substansiasi
Ibr. 11:1
Dunia di sekitar kita terdiri dari miliaran obyek dengan berbagai warna dan bentuk. Di dalam tubuh manusia kita, juga ada berbagai obyek dan benda yang tersusun menjadi suatu dunia tersendiri. Dunia yang di luar kita sering berkontak dengan dunia yang di dalam kita. Alat penengah yang menghubungkan kedua dunia itu pada pokoknya dikenal sebagai pancaindera. Kalau seseorang telah kehilangan fungsi pancainderanya, ia akan sangat sulit menyalurkan apa yang ada di dunia luar itu ke dalam dirinya.
Dalam dunia ini ada berbagai macam warna. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki mata, maka berbagai macam warna itu tidak dapat masuk ke dalam dirinya, dan ia tidak akan memahami keindahan semuanya itu, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mensubstansiasi warna-warna itu. Di samping itu, ada hal-hal yang perlu kita dengar. Melalui mendengar, hal-hal itu baru dapat masuk ke dalam kita. Kalau kita tidak memiliki telinga, kita tidak akan memiliki hubungan dengan suara. Ada juga hal-hal yang memerlukan alat pengecap kita, ada pula yang memerlukan alat penciuman kita. Fungsi pancaindera kita adalah mengalihkan semua hal obyektif itu ke dalam diri kita supaya menjadi pengalaman subyektif kita. Kalau kita tidak memiliki pancaindera, obyek-obyek luaran itu tetap akan di luar kita, mereka tidak dapat masuk ke dalam kita. Antara yang di dalam dan yang di luar selamanya akan terpisah. Yang dilakukan oleh pancaindera kita adalah pekerjaan substansiasi (substantiating).
Saudara saudari, apakah perkara-perkara rohani itu ada? Kita tidak dapat memastikannya dengan pancaindera kita! Terhadap perkara rohani, pancaindera kita sama sekali tidak berguna. Terhadap perkara rohani, mata kita seperti buta, telinga kita seperti tuli, hidung kita seperti buntu, lidah kita tawar, semua indera kita tumpul. Kalau hanya mengandalkan pancaindera, Anda pasti berkesimpulan tidak ada Allah, tidak ada satu perkara pun yang disebut perkara rohani. Sebenarnya, bukannya tidak ada substansi, melainkan tidak ada kemampuan mensubstansiasi. Itulah sebabnya kita harus bersyukur untuk bagian iman kita. Tanpa organ ini, segala perkara rohani gelap bagi kita. Haleluya.
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya …. (TL)"
Ibrani 11:1 memberikan definisi iman, "Iman adalah dasar (substansiasi) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Kata "substansi" mudah dipahami. Misalnya, substansi meja kayu adalah kayu; dan substansi lempengan logam adalah besi. Sedangkan arti kata "substansiasi" adalah "kesanggupan untuk memahami substansi". Misalnya, bila Anda melihat sebuah meja kayu, Anda segera tahu bahwa substansinya adalah dari kayu. Kemampuan ini, kesanggupan ini, adalah substansiasi (substantiating).
Semua unsur dalam dunia materi ini nyata, demikian pula semua perkara dalam dunia rohani. Namun Anda memerlukan satu "organ" untuk dapat melihat dan mendengar hal-hal rohani. Apakah "organ" itu? "Organ" itu adalah iman!
Iman adalah satu organ yang sangat penting, seperti halnya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium. Iman adalah organ untuk mensubstansiasi segala perkara rohani ke dalam kita.
Tanpa iman, segala perkara rohani akan seperti tidak ada bagi kita. Tanpa iman, semua perkara rohani menjadi tidak masuk akal dan hanya berupa khayalan bagi kita. Alangkah pentingnya iman. Dengan iman inilah kita dapat menerima semua fakta-fakta dalam Alkitab. Itulah sebabnya iman berbeda dengan persetujuan yang merupakan hasil pemikiran. Puji Tuhan, Ia telah memberikan kepada kita bagian iman yang begitu limpah.
Substansiasi
Ibr. 11:1
Dunia di sekitar kita terdiri dari miliaran obyek dengan berbagai warna dan bentuk. Di dalam tubuh manusia kita, juga ada berbagai obyek dan benda yang tersusun menjadi suatu dunia tersendiri. Dunia yang di luar kita sering berkontak dengan dunia yang di dalam kita. Alat penengah yang menghubungkan kedua dunia itu pada pokoknya dikenal sebagai pancaindera. Kalau seseorang telah kehilangan fungsi pancainderanya, ia akan sangat sulit menyalurkan apa yang ada di dunia luar itu ke dalam dirinya.
Dalam dunia ini ada berbagai macam warna. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki mata, maka berbagai macam warna itu tidak dapat masuk ke dalam dirinya, dan ia tidak akan memahami keindahan semuanya itu, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mensubstansiasi warna-warna itu. Di samping itu, ada hal-hal yang perlu kita dengar. Melalui mendengar, hal-hal itu baru dapat masuk ke dalam kita. Kalau kita tidak memiliki telinga, kita tidak akan memiliki hubungan dengan suara. Ada juga hal-hal yang memerlukan alat pengecap kita, ada pula yang memerlukan alat penciuman kita. Fungsi pancaindera kita adalah mengalihkan semua hal obyektif itu ke dalam diri kita supaya menjadi pengalaman subyektif kita. Kalau kita tidak memiliki pancaindera, obyek-obyek luaran itu tetap akan di luar kita, mereka tidak dapat masuk ke dalam kita. Antara yang di dalam dan yang di luar selamanya akan terpisah. Yang dilakukan oleh pancaindera kita adalah pekerjaan substansiasi (substantiating).
Saudara saudari, apakah perkara-perkara rohani itu ada? Kita tidak dapat memastikannya dengan pancaindera kita! Terhadap perkara rohani, pancaindera kita sama sekali tidak berguna. Terhadap perkara rohani, mata kita seperti buta, telinga kita seperti tuli, hidung kita seperti buntu, lidah kita tawar, semua indera kita tumpul. Kalau hanya mengandalkan pancaindera, Anda pasti berkesimpulan tidak ada Allah, tidak ada satu perkara pun yang disebut perkara rohani. Sebenarnya, bukannya tidak ada substansi, melainkan tidak ada kemampuan mensubstansiasi. Itulah sebabnya kita harus bersyukur untuk bagian iman kita. Tanpa organ ini, segala perkara rohani gelap bagi kita. Haleluya.
Why does God require faith? Why doesn't God "prove" Himself to us so there is no need for faith?
Our relationship with God is similar to our relationship with others in that all relationships require faith, and I can never and will never fully know any other person. This is because we are incapable of fully knowing others because we cannot experience all they experience nor enter into their minds to know what their thoughts and emotions are. Proverbs 14:10 says, "The heart knows its own bitterness, and a stranger does not share its joy." We are even incapable of knowing our own heart fully. Jeremiah 17:9 says that the human heart is wicked and deceptive, and this verse asks concerning the human heart, "Who can know it?" In other words, the human heart is such that it seeks to hide the depth of its wickedness and gloss over it, deceiving even its owner. We do this through blame shifting, justifying wrong behavior, minimizing our sins, etc.
Because we are incapable of fully knowing fellow humans, to some degree faith (trust) is an integral ingredient in all relationships. For example, my wife gets into a car with me driving, trusting me to drive safely, even though I drive faster than she does on winter roads. She and my children trust me to act in their best interest when handling finances or when I am away from them and can choose to act in faithfulness to them or not. We all share information about ourselves with others, trusting they won't betray us with that knowledge. We drive down the road, trusting those driving around us to follow the rule of the road. So, whether with strangers or with intimate friends and companions, because we cannot fully know others, trust is always a necessary component of our relationships.
If we cannot know our fellow finite human beings fully, how can we expect to fully know an infinite God? Even if He should desire to fully reveal Himself, it is impossible for us to fully know Him. It is like trying to pour the ocean (seemingly infinite in quantity) into a quart-measuring jar (finite)... impossible! But nonetheless, even as we can have meaningful relationships with those around us that we have grown to trust because of our knowledge of them and of their character, so God has revealed enough about Himself through His creation (Romans 1:18-21), through His written word, the Bible (2 Timothy 3:16-17; 2 Peter 1:16-21), and through His Son (John 14:9) that we can enter into a meaningful relationship with Him. But this is only possible when the barrier of one's sin has been removed by coming to trust in Christ's person and work on the cross as payment for one's sin. This is necessary because, as it is impossible for both light and darkness to dwell together, so it is impossible for a holy God to have fellowship with sinful mankind unless our sin has been paid for and removed. Jesus Christ, the sinless Son of God, died on the cross to take our punishment and change us so that the one who believes on Him can become a child of God and live eternally in His presence (John 1:12; 2 Corinthians 5:21; 2 Peter 3:18; Romans 3:10-26).
There have been times in the past that God has revealed Himself more "visibly" to people. One example of this is at the time of the exodus from Egypt, when God revealed His care for the Israelites by sending the miraculous plagues upon the Egyptians until they were willing to release the Israelites from their slavery. God then opened up the Red Sea, enabling the approximately two million Israelites to cross over on dry ground. Then, as the Egyptian army sought to pursue them through the same opening, He defeated this enemy by bringing the waters upon them. Later, in the wilderness, God fed them miraculously with manna, guided them in the day by a pillar of cloud and by night by a pillar of fire, visible representations of His presence with them. He also obtained water for this great number of people in the wilderness through miraculous means, including causing water to flow from a rock as Moses struck it with his rod.
Yet, in spite of these repeated demonstrations of His love, guidance, and power, they still refused to trust Him when He wanted them to enter into the Promised Land. They chose instead to trust the word of ten men who frightened them with their stories of the walled cities and the giant stature of some of the people of the land, and to ignore the counsel of two godly men who encouraged them to trust God who had always been faithful. These events, found in the books of Exodus and Numbers, show that God's further revealing Himself to us would have no greater effect on our ability to trust Him. For were God to interact in a similar fashion with all of the people living today, we would respond no differently than did those Israelites...our sinful hearts are the same as theirs. But even as a few of the Israelites chose to trust God based on what He had revealed of Himself in the past and were willing to trust Him for the future, (going into the Promised Land - Numbers 13:1-14:9), so we can choose to trust Him for our future based upon what He has already revealed about Himself and His character.
The Bible also speaks of a future time when the glorified Christ will return to rule the earth from Jerusalem for 1,000 years (Revelation 20:1-10). More people will be born on the earth during that reign of Christ. He will rule with complete justice and righteousness, yet in spite of His perfect rule, the Bible states that at the end of the 1,000 years, Satan will have no trouble raising up an army of men to rebel against and to seek to overthrow Christ's rule. The future event of the millennium and the past event of the exodus reveal that the problem is not with God insufficiently revealing Himself to man; rather, the problem is with man's sinful heart rebelling against God's loving reign because it craves its own sinful self-rule.
God has revealed enough of His nature for us to be able to trust Him. He has declared and shown through the events of history, in the workings of nature, and through the life of His only-begotten Son, Jesus Christ, that He is all-powerful, all-knowing, all-wise, all-loving, all-holy, unchanging, and eternal. And in that revelation, He has shown that He is worthy to be trusted. But as with the Israelites in the wilderness, the choice is ours as to whether or not we will trust Him. Often, one is inclined to make this choice based on what he/she thinks he knows about God rather than what He has revealed about Himself and can be understood about Him through a careful study of His inerrant word, the Bible. I encourage you to begin this careful study of the Bible, that you may come to know God through a reliance upon His Son, Jesus Christ, who came to earth to save us from our sin so that we might have sweet companionship with God both now and in a fuller way in heaven one day.
Because we are incapable of fully knowing fellow humans, to some degree faith (trust) is an integral ingredient in all relationships. For example, my wife gets into a car with me driving, trusting me to drive safely, even though I drive faster than she does on winter roads. She and my children trust me to act in their best interest when handling finances or when I am away from them and can choose to act in faithfulness to them or not. We all share information about ourselves with others, trusting they won't betray us with that knowledge. We drive down the road, trusting those driving around us to follow the rule of the road. So, whether with strangers or with intimate friends and companions, because we cannot fully know others, trust is always a necessary component of our relationships.
If we cannot know our fellow finite human beings fully, how can we expect to fully know an infinite God? Even if He should desire to fully reveal Himself, it is impossible for us to fully know Him. It is like trying to pour the ocean (seemingly infinite in quantity) into a quart-measuring jar (finite)... impossible! But nonetheless, even as we can have meaningful relationships with those around us that we have grown to trust because of our knowledge of them and of their character, so God has revealed enough about Himself through His creation (Romans 1:18-21), through His written word, the Bible (2 Timothy 3:16-17; 2 Peter 1:16-21), and through His Son (John 14:9) that we can enter into a meaningful relationship with Him. But this is only possible when the barrier of one's sin has been removed by coming to trust in Christ's person and work on the cross as payment for one's sin. This is necessary because, as it is impossible for both light and darkness to dwell together, so it is impossible for a holy God to have fellowship with sinful mankind unless our sin has been paid for and removed. Jesus Christ, the sinless Son of God, died on the cross to take our punishment and change us so that the one who believes on Him can become a child of God and live eternally in His presence (John 1:12; 2 Corinthians 5:21; 2 Peter 3:18; Romans 3:10-26).
There have been times in the past that God has revealed Himself more "visibly" to people. One example of this is at the time of the exodus from Egypt, when God revealed His care for the Israelites by sending the miraculous plagues upon the Egyptians until they were willing to release the Israelites from their slavery. God then opened up the Red Sea, enabling the approximately two million Israelites to cross over on dry ground. Then, as the Egyptian army sought to pursue them through the same opening, He defeated this enemy by bringing the waters upon them. Later, in the wilderness, God fed them miraculously with manna, guided them in the day by a pillar of cloud and by night by a pillar of fire, visible representations of His presence with them. He also obtained water for this great number of people in the wilderness through miraculous means, including causing water to flow from a rock as Moses struck it with his rod.
Yet, in spite of these repeated demonstrations of His love, guidance, and power, they still refused to trust Him when He wanted them to enter into the Promised Land. They chose instead to trust the word of ten men who frightened them with their stories of the walled cities and the giant stature of some of the people of the land, and to ignore the counsel of two godly men who encouraged them to trust God who had always been faithful. These events, found in the books of Exodus and Numbers, show that God's further revealing Himself to us would have no greater effect on our ability to trust Him. For were God to interact in a similar fashion with all of the people living today, we would respond no differently than did those Israelites...our sinful hearts are the same as theirs. But even as a few of the Israelites chose to trust God based on what He had revealed of Himself in the past and were willing to trust Him for the future, (going into the Promised Land - Numbers 13:1-14:9), so we can choose to trust Him for our future based upon what He has already revealed about Himself and His character.
The Bible also speaks of a future time when the glorified Christ will return to rule the earth from Jerusalem for 1,000 years (Revelation 20:1-10). More people will be born on the earth during that reign of Christ. He will rule with complete justice and righteousness, yet in spite of His perfect rule, the Bible states that at the end of the 1,000 years, Satan will have no trouble raising up an army of men to rebel against and to seek to overthrow Christ's rule. The future event of the millennium and the past event of the exodus reveal that the problem is not with God insufficiently revealing Himself to man; rather, the problem is with man's sinful heart rebelling against God's loving reign because it craves its own sinful self-rule.
God has revealed enough of His nature for us to be able to trust Him. He has declared and shown through the events of history, in the workings of nature, and through the life of His only-begotten Son, Jesus Christ, that He is all-powerful, all-knowing, all-wise, all-loving, all-holy, unchanging, and eternal. And in that revelation, He has shown that He is worthy to be trusted. But as with the Israelites in the wilderness, the choice is ours as to whether or not we will trust Him. Often, one is inclined to make this choice based on what he/she thinks he knows about God rather than what He has revealed about Himself and can be understood about Him through a careful study of His inerrant word, the Bible. I encourage you to begin this careful study of the Bible, that you may come to know God through a reliance upon His Son, Jesus Christ, who came to earth to save us from our sin so that we might have sweet companionship with God both now and in a fuller way in heaven one day.
Bagian Iman Kita
2 Petrus 1:1
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya …. (TL)"
Menurut catatan Kejadian 1, pada hari ketiga Allah berfirman agar segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Saat itu, daratan atau tanah muncul dari laut. Pada hari ketiga, Tuhan kita bangkit dari alam maut. Jadi, tanah atau daratan dalam Kejadian 1:9-10 melambangkan Kristus sebagai "tanah" kita. Paulus menasihati agar kita berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Kol. 2:7). Kristus adalah tanah kita tempat yang di dalamnya dan olehnya kita hidup.
Dalam Perjanjian Lama, masalah tanah menjadi perhatian Allah. Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya untuk pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkan-Nya, yaitu tanah Kanaan. Demikian juga, ketika orang-orang Israel berseru-seru kepada Tuhan karena perbudakan di Mesir, Tuhan mengutus Musa untuk melepaskan mereka dari Mesir dan menuntun mereka ke suatu negeri yang baik dan luas, negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel. 3:8). Begitu orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka segera mengundi milik pusaka itu dan membagi-bagikannya. Segala keperluan hidup mereka tergantung dari tanah bagian mereka.
Sebagaimana orang-orang Israel mendapatkan bagian tanah (Yos. 13:6; 14:1-5; 19:51), hari ini kita telah diberi bagian iman. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk kehidupan rohani kita ada pada bagian iman ini. Karena itu, kita perlu mengucap syukur atas bagian iman yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Kelimpahan Yang Tersedia
Ul. 8:7-9; 11:11-12; 32:13-14; Kel. 3:8
Bagian tanah yang diundikan kepada bangsa Israel sungguh sangat baik. Tanah itu luas (Kel. 3:8) juga berbukit-bukit, suatu negeri yang tinggi dan unggul (Ul. 32:13). Kekayaannya pun tak terduga; ada air, ada enam jenis makanan dari dunia nabati; ada madu dan susu (perpaduan nabati dan hewani); ada besi dan tembaga. Ulangan 8:7-9, "… suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga." Tanah yang luar biasa!
Ayat-ayat di atas mengatakan bahwa ada aliran (sungai), danau, dan mata air yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung. Tetapi Ulangan 11:11 juga menerangkan, bahwa negeri ini "mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit." Jadi, gunung maupun lembah bukanlah sumbernya, sumbemya adalah langit! Semua air hidup dan aliran air berasal dari sorga; sumbernya berada di sorga. Ini memberitahu kita, bahwa negeri ini adalah "… suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN" (Ul. 11:12).
Selain itu, ada pohon anggur yang memproduksi arak, untuk menyukakan hati Allah dan manusia (Hak. 9:13). Ada juga pohon zaitun yang memproduksi minyak, dipakai khusus untuk menghormati Allah dan manusia (Hak. 9:9).
Tanah Kanaan yang penuh kelimpahan tersebut, menjadi bagian orang Israel agar mereka tersuplai dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk mendirikan rumah Allah dan kerajaan-Nya di bumi. Hari ini, kita yang telah percaya Tuhan juga menerima bagian iman yang dilambangkan oleh tanah yang kaya, yang dapat memenuhi segala keperluan rohani kita sehingga kita bisa hidup di bawah pemerintahan-Nya bagi kehendak-Nya di atas bumi.
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya …. (TL)"
Menurut catatan Kejadian 1, pada hari ketiga Allah berfirman agar segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering. Saat itu, daratan atau tanah muncul dari laut. Pada hari ketiga, Tuhan kita bangkit dari alam maut. Jadi, tanah atau daratan dalam Kejadian 1:9-10 melambangkan Kristus sebagai "tanah" kita. Paulus menasihati agar kita berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia (Kol. 2:7). Kristus adalah tanah kita tempat yang di dalamnya dan olehnya kita hidup.
Dalam Perjanjian Lama, masalah tanah menjadi perhatian Allah. Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya untuk pergi ke suatu negeri yang akan ditunjukkan-Nya, yaitu tanah Kanaan. Demikian juga, ketika orang-orang Israel berseru-seru kepada Tuhan karena perbudakan di Mesir, Tuhan mengutus Musa untuk melepaskan mereka dari Mesir dan menuntun mereka ke suatu negeri yang baik dan luas, negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya (Kel. 3:8). Begitu orang Israel memasuki tanah Kanaan, mereka segera mengundi milik pusaka itu dan membagi-bagikannya. Segala keperluan hidup mereka tergantung dari tanah bagian mereka.
Sebagaimana orang-orang Israel mendapatkan bagian tanah (Yos. 13:6; 14:1-5; 19:51), hari ini kita telah diberi bagian iman. Segala sesuatu yang Allah sediakan untuk kehidupan rohani kita ada pada bagian iman ini. Karena itu, kita perlu mengucap syukur atas bagian iman yang telah Tuhan berikan kepada kita.
Kelimpahan Yang Tersedia
Ul. 8:7-9; 11:11-12; 32:13-14; Kel. 3:8
Bagian tanah yang diundikan kepada bangsa Israel sungguh sangat baik. Tanah itu luas (Kel. 3:8) juga berbukit-bukit, suatu negeri yang tinggi dan unggul (Ul. 32:13). Kekayaannya pun tak terduga; ada air, ada enam jenis makanan dari dunia nabati; ada madu dan susu (perpaduan nabati dan hewani); ada besi dan tembaga. Ulangan 8:7-9, "… suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga." Tanah yang luar biasa!
Ayat-ayat di atas mengatakan bahwa ada aliran (sungai), danau, dan mata air yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung. Tetapi Ulangan 11:11 juga menerangkan, bahwa negeri ini "mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit." Jadi, gunung maupun lembah bukanlah sumbernya, sumbemya adalah langit! Semua air hidup dan aliran air berasal dari sorga; sumbernya berada di sorga. Ini memberitahu kita, bahwa negeri ini adalah "… suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN" (Ul. 11:12).
Selain itu, ada pohon anggur yang memproduksi arak, untuk menyukakan hati Allah dan manusia (Hak. 9:13). Ada juga pohon zaitun yang memproduksi minyak, dipakai khusus untuk menghormati Allah dan manusia (Hak. 9:9).
Tanah Kanaan yang penuh kelimpahan tersebut, menjadi bagian orang Israel agar mereka tersuplai dengan segala sesuatu yang mereka butuhkan untuk mendirikan rumah Allah dan kerajaan-Nya di bumi. Hari ini, kita yang telah percaya Tuhan juga menerima bagian iman yang dilambangkan oleh tanah yang kaya, yang dapat memenuhi segala keperluan rohani kita sehingga kita bisa hidup di bawah pemerintahan-Nya bagi kehendak-Nya di atas bumi.
Menanggulangi keinginan untuk bersenang-senang
Yakobus 4:3 "atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak mendaopat apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."
Dalam pasal 4 ayat 1 dan 3, Yakobus berbicara mengenai menanggulangi hawa nafsu, "Hawa nafsu" disini bahasa Yunaninya adalah "hedone" yang berarti keinginan untuk bersenang-senang atau berpelesiran. Dalam hidup gereja, kita hanya memiliki kenikmatan, bukan pelesiran. Kenikmatan adalah suatu hal yang sangat positif, berbeda dengan pelesiran duniawi yang bersifat negatif.
Diseluruh dunia, hari Minggu telah menjadi hari untuk bersenang-senang. Hari itu, pada umumnya tidak lagi dipandang sebagai hari Tuhan, hari di mana umat Tuhan bersekutu dengan-Nya, tinggal bersama-Nya, menyembah-Nya, menikmati-Nya, dan mengalami perhentian di dalam Dia.
Pada hari Minggu, orang-orang dunia melakukan pelesiran untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Itulah sebabya, begitu banyak percakapan di sekolah atau tempat kerja pada hari Senin pagi yang berkaitan dengan dosa dan dunia.
Hari ini, walaupun banyak orang mengumbar hawa nafsu mereka dalam segala jenis pelesiran, seorang beriman tidak seharusnya berbuat demikian. Seorang beriman yang menggunakan akhir pekannya secara demikian akan sangat merosot kerohaniannya. Untuk mengangkatnya kembali mungkin ia memerlukan "derek" yang sangat besar.
Karenanya, Yakobus dalam pasal 4:1-3 menunjukkan bahwa kita perlu menanggulangi hawa nafsu pelesiran yang berkaitan dengan dunia(ay4), dan iblis(ay7). Inilah salah satu perilaku orang Kristen yang sempurna.
Penerapan
Bagaimanakah cara anda membelanjakan uang? Berdasarkan prinsip kebutuhan atau untuk memuaskan keinginan bersenang-senang?
Pokok Doa:
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Gal.5:16), Berdoalah agar manusia batiniah (roh) Anda dikuatkan oleh firman-Nya dan Roh Kristus yang berhuni dibatin dan agar Kristus makin berumah dan berakar didalam hati anda (Ef.3:16-17) untuk mengalahkan hawa nafsu (pelesiran) yang saling berjuang didalam tubuh Anda.
Dalam pasal 4 ayat 1 dan 3, Yakobus berbicara mengenai menanggulangi hawa nafsu, "Hawa nafsu" disini bahasa Yunaninya adalah "hedone" yang berarti keinginan untuk bersenang-senang atau berpelesiran. Dalam hidup gereja, kita hanya memiliki kenikmatan, bukan pelesiran. Kenikmatan adalah suatu hal yang sangat positif, berbeda dengan pelesiran duniawi yang bersifat negatif.
Diseluruh dunia, hari Minggu telah menjadi hari untuk bersenang-senang. Hari itu, pada umumnya tidak lagi dipandang sebagai hari Tuhan, hari di mana umat Tuhan bersekutu dengan-Nya, tinggal bersama-Nya, menyembah-Nya, menikmati-Nya, dan mengalami perhentian di dalam Dia.
Pada hari Minggu, orang-orang dunia melakukan pelesiran untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Itulah sebabya, begitu banyak percakapan di sekolah atau tempat kerja pada hari Senin pagi yang berkaitan dengan dosa dan dunia.
Hari ini, walaupun banyak orang mengumbar hawa nafsu mereka dalam segala jenis pelesiran, seorang beriman tidak seharusnya berbuat demikian. Seorang beriman yang menggunakan akhir pekannya secara demikian akan sangat merosot kerohaniannya. Untuk mengangkatnya kembali mungkin ia memerlukan "derek" yang sangat besar.
Karenanya, Yakobus dalam pasal 4:1-3 menunjukkan bahwa kita perlu menanggulangi hawa nafsu pelesiran yang berkaitan dengan dunia(ay4), dan iblis(ay7). Inilah salah satu perilaku orang Kristen yang sempurna.
Penerapan
Bagaimanakah cara anda membelanjakan uang? Berdasarkan prinsip kebutuhan atau untuk memuaskan keinginan bersenang-senang?
Pokok Doa:
Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging (Gal.5:16), Berdoalah agar manusia batiniah (roh) Anda dikuatkan oleh firman-Nya dan Roh Kristus yang berhuni dibatin dan agar Kristus makin berumah dan berakar didalam hati anda (Ef.3:16-17) untuk mengalahkan hawa nafsu (pelesiran) yang saling berjuang didalam tubuh Anda.
Why does God refer to Himself in the plural in Genesis 1:26 and 3:22?
Genesis 1:26 says, “Then God said, 'Let us make man in our image, in our likeness, and let them rule over the fish of the sea and the birds of the air, over the livestock, over all the earth, and over all the creatures that move along the ground.'” Genesis 3:22 states, "And the LORD God said, 'The man has now become like one of us...'" There are other Scriptures in the Old Testament that refer to God using the plural. It is also interesting to note that "Elohim," one of the primary titles of God in the Old Testament (occurring over 2500 times), is in the plural.
Some people have used these scriptures to hypothesize that there is more than one God. We can rule out polytheism (belief in multiple gods), because that would contradict countless other Scriptures that tell us that God is one and that there is only one God. Three times in Isaiah 45 alone, He states: “I am the LORD, and there is no other; there is no God besides Me” (vv. 5,6,18). A second possible explanation is that God was referring to the angels by saying "us" and "our." However, the Bible nowhere states that angels have the same "image" or "likeness" as God (see Genesis 1:26). That description is given to humanity alone.
Since the Bible, and the New Testament especially, presents God as a Trinity (three Persons but only one God), Genesis 1:26 and 3:22 can only represent a conversation within the Trinity. God the Father is having a "conversation" with God the Son and/or God the Holy Spirit. The Old Testament hints at the plurality of God, and the New Testament clarifies this plurality with the doctrine of the Trinity. Obviously, there is no way we can fully understand how this works – but God has given us enough information to know that He does exist in three Persons, - Father, Son and Holy Spirit.
Some people have used these scriptures to hypothesize that there is more than one God. We can rule out polytheism (belief in multiple gods), because that would contradict countless other Scriptures that tell us that God is one and that there is only one God. Three times in Isaiah 45 alone, He states: “I am the LORD, and there is no other; there is no God besides Me” (vv. 5,6,18). A second possible explanation is that God was referring to the angels by saying "us" and "our." However, the Bible nowhere states that angels have the same "image" or "likeness" as God (see Genesis 1:26). That description is given to humanity alone.
Since the Bible, and the New Testament especially, presents God as a Trinity (three Persons but only one God), Genesis 1:26 and 3:22 can only represent a conversation within the Trinity. God the Father is having a "conversation" with God the Son and/or God the Holy Spirit. The Old Testament hints at the plurality of God, and the New Testament clarifies this plurality with the doctrine of the Trinity. Obviously, there is no way we can fully understand how this works – but God has given us enough information to know that He does exist in three Persons, - Father, Son and Holy Spirit.
Langganan:
Postingan (Atom)