Kamis, 16 Desember 2010

GEREJA ARUSHAYAT (LENGKAPNYA)

Kaum saleh terkasih,
Mulai minggu ini, selama 4 minggu, Arus Hayat akan diisi dengan bahan mengenai Iman, Hayat, Gereja dan Injil.
Setelah 4 minggu, maka Arus Hayat akan kembali dilanjutkan dengan Arus Hayat Kitab Roma.

Selamat menikmati:

Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Ibr. 11:6
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab siapa yang berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah adalah, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
1 Tim. 1:19
Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka.

Mengenai iman ada dua aspek, yaitu aspek obyektif dan aspek subyektif. Secara obyektif, iman adalah apa yang kita percayai. Secara subyektif, iman adalah kepercayaan kita. Karena itu, iman menekankan tindakan percaya dan apa yang kita percayai. Dalam hubungannya dengan tindakan percaya kita, iman itu subyektif, sedangkan dalam hubungannya dengan apa yang kita percayai, iman itu obyektif. Ketika kita mendengarkan tentang hal-hal yang kepadanya kita percaya, maka iman itu dihasilkan di dalam kita. Semakin kita mendengar tentang hal-hal yang baik ini, kita akan semakin mengapresiasinya. Dengan spontan, apresiasi ini menghasilkan kepercayaan kita kepada hal-hal yang telah kita dengar. Karena itu, iman itu obyektif dan subyektif.

Aspek iman yang subyektif ini sedikitnya menunjukkan delapan butir. Pertama, iman…berasal dari pendengaran. Firman yang kita dengar itu mencakup perihal Allah, Kristus, Roh itu, salib, penebusan, keselamatan, pengampunan, dan hayat yang kekal. Ini juga mencakup fakta bahwa Allah telah melalui proses untuk menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit. Menurut Perjanjian Baru, injil memberi tahu kita tentang semua perkara ini. Ketika injil diberitakan dengan tepat, orang-orang yang mendengarnya akan terangsang dan penuh dengan apresiasi. Pendengaran mereka terhadap firman injil ini adalah permulaan kepercayaan mereka. Alasan mengapa orang Kristen kekurangan dalam iman itu adalah karena pendengaran mereka miskin. Jika mereka mendengar tentang satu berita yang hidup tentang bagaimana Allah Tritunggal telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat yang almuhit, maka tidak diragukan lagi pendengaran ini akan menghasilkan iman di dalam mereka.
Kedua, iman juga menunjukkan apresiasi. Setelah mendengar firman tentang injil, maka dengan spontan apresiasi itu akan bangkit di dalam mereka yang mendengarnya. Ini benar bukan hanya bagi mereka yang baru pertama kali mendengar injil, melainkan juga bagi semua kaum beriman dalam Kristus. Kapan kala kita mendengar firman dengan tepat, maka pendengaran ini membangkitkan lebih banyak apresiasi kepada Tuhan.
Apresiasi ini diikuti dengan berseru, yaitu butir yang ketiga yang ditunjukkan di dalam aspek iman yang subyektif. Semua orang yang mengapresiasi Tuhan Yesus dengan spontan akan berseru kepada nama-Nya. Jika pemberitaan injil kita dingin, tumpul, dan mati, maka kita perlu merangsang orang untuk berdoa dan berseru kepada nama Tuhan. Tetapi jika pemberitaan kita mustika, kaya, hidup, penuh ilham, dan menggerakkan orang, maka kita tidak perlu merangsang orang lagi. Sebaliknya, mereka akan dengan spontan berseru, “O Tuhan Yesus.” Mungkin bukannya berseru kepada-Nya dengan cara ini, mereka malah akan mengucapkan kata-kata apresiasi kepada Tuhan. Mungkin mereka akan berkata, “O betapa baiknya Tuhan Yesus itu!”
Keempat, iman berarti menyambut. Melalui mengapresiasi Tuhan Yesus dan berseru kepada-Nya, maka kita dengan spontan akan menyambut Dia.
Setelah menyambut, kita memiliki aspek yang kelima, yaitu menerima. Adalah mungkin menyambut sesuatu tanpa menerimanya. Iman mencakup menyambut dan menerima. Orang-orang yang mendengar injil dan mengapresiasi Tuhan Yesus secara otomatis akan menerima Dia juga menyambut-Nya.
Keenam, iman meliputi diikatkan kepada Tuhan Yesus. Melalui menyambut dan menerima Dia, kita diikatkan kepada-Nya.
Kemudian, butir yang ketujuh dan kedelapan, kita mengambil bagian di dalam-Nya dan menikmati Dia. Iman mengambil bagian dan menikmati apa yang kita sambut dan kita terima.
Di dalam pemberitaan injil, orang-orang mendengar tentang kasih karunia Allah. Kemudian mereka mengapresiasinya dan berseru kepada Tuhan. Mereka selanjutnya menyambutnya, menerimanya, mengikatkan diri, mengambil bagian dan menikmati kasih karunia ini, yang adalah Allah Tritunggal yang telah melalui proses menjadi segala sesuatu bagi kita. Inilah iman itu.


Gal. 1:23
Mereka hanya mendengar bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman yang pernah hendak dibinasakannya.

1Tim. 1:4
Ataupun sibuk dengan dongeng dan silsilah yang tidak putus-putusnya, yang menghasilkan angan-angan belaka, dan bukan ekonomi Allah dalam iman.

Gal. 3:23-25
Sebelum iman itu datang kita berada di bahwa pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi, hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan berdasarkan iman. Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.


Di dalam Galatia 1:23 kita diberi tahu bahwa Paulus, yang dahulu menganiaya kaum beriman dalam Kristus, sekarang memberitakan “iman yang pernah hendak dibinasakannya.” Iman di sini dan di dalam 3:2, 5, 7, 9, 23, 25, dan 6:10 menunjukkan kepercayaan kita di dalam Kristus, mengambil persona-Nya dan pekerjaan penebusan-Nya sebagai obyek dari iman kita. Ini menggantikan hukum taurat, yang olehnya Allah menanggulangi orang-orang di dalam Perjanjian Lama, dan menjadi prinsip penanggulangan Allah terhadap orang-orang di dalam Perjanjian Baru. Iman ini memberikan ciri khas kaum beriman dalam Kristus dan membedakan mereka dari para pemelihara hukum taurat. Inilah penekanan utama kitab ini.
Di dalam 3:22-25 kita melihat satu perbedaan yang kontras di antara hukum taurat dan iman. …Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa ada satu waktu di mana iman itu datang dan dinyatakan. Menurut ayat 24 dan 25, sekarang iman itu telah datang maka kita tidak lagi berada di bawah hukum sebagai penuntun kita. Iman dan hukum taurat tidak dapat ada bersama-sama. Sebelum iman itu datang, kita berada di bawah hukum taurat. Tetapi sekarang iman itu telah datang dan telah diwahyukan, maka iman ini menggantikan hukum taurat.

Di dalam 1 Timotius 1:4 Paulus memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman. Penyaluran Allah ke dalam kita mutlak adalah melalui iman. Penyaluran Allah adalah perkara iman, yaitu, di dalam ruang lingkup dan elemen iman, di dalam Allah melalui Kristus. Iman sangat berlawanan dengan pertanyaan-pertanyaan. Ekonomi Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya bukan di dalam ruang lingkup alamiah, atau pun di dalam pekerjaan hukum taurat, melainkan di dalam ruang lingkup rohani dari ciptaan baru melalui kelahiran kembali oleh iman dalam Kristus (Gal. 3:23-26). Oleh iman kita dilahirkan dari Allah untuk menjadi putra-putra-Nya, mengambil bagian dalam hayat dan sifat-Nya untuk mengekspresikan Dia. Oleh iman kita dimasukkan ke dalam Kristus untuk menjadi anggota-anggota Tubuh-Nya, dan mengambil bagian dalam apa adanya Dia bagi ekspresi-Nya. Inilah dispensasi Allah menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya, yang dilaksanakan di dalam iman.
Kita perlu terkesan dengan dalam dengan makna tentang iman di dalam Perjanjian Baru. …Iman pertama-tama adalah Allah menjadi Firman yang dibicarakan kepada kita. Kita memiliki Allah dan kemudian Allah sebagai Firman itu dibicarakan. Melalui Firman Allah dan oleh Roh Allah, kita diinfus dengan Allah di dalam Kristus. Alhasilnya, ada sesuatu yang bangkit di dalam kita. Inilah iman. Iman kemudian bekerja di dalam kita untuk membawa kita masuk ke dalam persatuan yang organik dengan Allah Tritunggal. Melalui persatuan organik ini, Allah secara kontinyu ditransfusikan dan diinfuskan ke dalam kita. Alhasilnya, kita memiliki hayat ilahi dan sifat ilahi untuk menjadi putra-putra Allah, anggota-anggota Kristus, dan bagian-bagian dari manusia baru. Secara keseluruhan, kita menjadi rumah Allah, Tubuh Kristus, dan manusia baru. Inilah ekonomi Allah dalam iman. (Life-study of 1Timothy, hal. 12-13)
Alkitab memberi tahu kita bahwa ekonomi Allah adalah di dalam iman [1 Tim 1:4]. Iman adalah substansi dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr. 11:1). Ekonomi Allah adalah satu rencana mengenai segala sesuatu yang tidak dilihat oleh kita. …Tidak ada hal lainnya di sini kecuali Yesus! Kita perlu beralih dari melihat segala sesuatu yang bukan apa-apa, kepada Yesus.
Efesus 3:17 memberi tahu kita bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita “melalui iman.” Kristus sedang membuat rumah-Nya, bangunan-Nya, di dalam hati kita dengan Diri-Nya sendiri sebagai bahannya. …Penghunian Kristus itu misterius dan abstrak. Kita tidak dapat memahaminya dengan perasaan fisik kita melainkan dengan perasaan iman. 


1 Tim. 1:3-4
Aku telah mendesak engkau…dan menasehatkan orang-orang tertentu, agar mereka jangan mengajarkan hal-hal yang berbeda…bukan ekonomi Allah dalam iman.

Rm. 10:17
Jadi iman timbul dari pendengaran dan pendengaran melalui firman Kristus.

Ef. 3:9
Dan untuk menerangi semua supaya mereka dapat melihat apa ekonomi rahasia itu…

Ibr. 12:2
Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.


Ekonomi Allah adalah di dalam iman. Ini bukanlah oleh perbuatan kita melainkan oleh iman kita di dalam kasih karunia. Ini bukan oleh perbuatan kita di dalam diri kita sendiri melainkan melalui kita percaya kepada Kristus, perwujudan Allah Tritunggal. Di dalam ministri Tuhan, kita tidak mengajar kaum saleh untuk menyelidiki sesuatu, memelihara sesuatu, atau melakukan sesuatu. Kita meministrikan kepada kaum saleh sesuatu yang memerlukan latihan iman mereka. Iman tidak berasal dari kita. Iman berasal dari apa yang kita lihat. Ketika kita melihat ekonomi Allah, iman ini melahirkan dan memulai satu kepercayaan di dalam kita. Ekonomi Allah adalah kehendak Allah untuk menyalurkan Diri-Nya sendiri ke dalam Anda dan saya untuk menghasilkan satu organisme, Tubuh Kristus, bagi kerelaan kehendak-Nya. Iman berasal dari melihat visi ini. Kita perlu satu visi, satu penglihatan. Kita perlu melihat bahwa di seluruh alam semesta ini kerelaan kehedak Allah adalah menyalurkan Diri-Nya sendiri, mendispensikan Diri-Nya sendiri, ke dalam kita supaya kita dapat menjadi bagian-bagian dari organisme-Nya, Tubuh organik Kristus.

Orang-orang Kristen seringkali membicarakan iman secara obyektif. Ada yang mungkin bertanya apa iman itu, yang berarti apa yang Anda percayai. Aspek iman ini, yaitu aspek yang obyektif ini, bukanlah perkara tindakan percaya kita melainkan apa yang kita percayai. Iman yang obyektif ini mencakup isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.
Ketika kita menerima firman mengenai iman yang obyektif, yaitu isi dari ekonomi Perjanjian Baru Allah, dengan spontan iman yang subyektif dihasilkan di dalam kita. Kita memberi respon kepada iman yang obyektif ini melalui percaya. …Kita mendengar iman yang obyektif, dan kemudian iman yang subyektif bangkit di dalam kita. Iman yang subyektif ini adalah tindakan percaya kita.
Iman yang subyektif tidak terjadi sekali untuk selamanya. Sebaliknya, sejak waktu kita mulai percaya, tindakan percaya ini telah berlangsung di dalam kita, karena kehidupan orang Kristen adalah kehidupan iman, yaitu kehidupan percaya. Hari demi hari kita sedang menempuh kehidupan yang percaya ini. Kita tidak hidup menurut apa yang kita lihat; kita hidup menurut apa yang kita percayai. Seperti yang dikatakan Paulus, “Kita berjalan oleh iman, bukan oleh penglihatan” (2 Kor. 5:7).
Orang-orang yang menyimpang, meliputi orang-orang yang meninggalkan kehidupan gereja, yang mengalami kehilangan iman. Mereka mungkin tidak kehilangan iman mereka secara mutlak, tetapi sedikitnya mereka telah kehilangan satu bagian iman. …Kapan kala seseorang kehilangan pandangan tentang isi dari ekonomi Allah, yaitu iman yang subyektif, maka tindakan percaya di dalamnya juga akan berkurang. Kemampuan di dalam kita untuk percaya itu selalu merupakan satu produk, satu hasil, satu akibat dari memiliki satu pandangan yang tepat terhadap ekonomi Allah. Karena itu, adalah satu hal yang mengerikan bila kita kehilangan pandangan tentang ekonomi Allah.
Di dalam sidang-sidang gereja dan sidang-sidang ministri, kita semua seolah-olah sedang menonton satu televisi surgawi untuk melihat lebih banyak hal tentang ekonomi Allah. Semakin kita melihat televisi surgawi ini, semakin kita percaya. …Karena itu,…sidang-sidang gereja dan ministri ini memperluas kapasitas kita untuk percaya.
Kita semua perlu memiliki satu pandangan yang luas tentang ekonomi Allah. Sekali kita melihat pandangan yang demikian, maka dengan spontan kita apa percaya kepada apa yang kita lihat. …Tulisan-tulisan Paulus membawa kita dalam satu tour yang memperlihatkan kepada kita hal-hal surgawi, dan rohani mengenai Kristus, pencapaian-pencapaian-Nya, dan apa yang telah diperoleh-Nya. Semakin kita melihat mengenai perkara ini, semakin kita akan terkesan, dan semakin banyak iman yang kita miliki. Kita akan menemukan bahwa kita tidak mungkin tidak mempercayainya.

Gal. 2:20
Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

2 Kor. 5:7
Karena kami berjalan dengan iman, bukan dengan apa yang kelihatan.

Rm. 1:17
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman."

Bagaimanakah Anda bisa memperhidupkan Kristus? Anda perlu berseru kepada-Nya sambil mengatakan, “O, Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu.” Berserulah kepada-Nya dan katakan saja demikian kepada-Nya. Maka dengan segera Dia akan “melompat” di dalam Anda, dan Yesus yang “melompat” ini akan menjadi iman Anda. Yesus yang “melompat” ini sebagai iman yang disalurkan ke dalam Anda itu mengikatkan Anda dengan Dia. Kemudian Anda tidak bisa tahan selain memperhidupkan Dia selama hari itu. Bila Anda berseru kepada-Nya dengan cara demikian, maka Dia menjadi iman yang disalurkan ke dalam Anda sehingga Anda dengan spontan memperhidupkan Dia oleh iman ini.
Anda harus berseru kepada-Nya dengan cara demikian ketika Anda bangun di pagi hari. Kemudian pada jam sembilan, di tempat kerja Anda, Anda bisa memandang ke langit-langit dan mengatakan, “Tuhan Yesus, Engkau begitu baik.” Tidak perlu mengatakan banyak, Berbicara kepada Tuhan sedikit saja itu sudah cukup baik. Ketika Anda mengatakan demikian kepada Tuhan, maka Anda akan menerima pemenuhan lainnya. Kristus segera disalurkan ke dalam Anda sebagai iman Anda. Sebenarnya, Dia sendiri sebagai iman itu menjadi iman Anda, dan ini adalah organ penghubung, yang menghubungkan Anda dengan Kristus yang tidak terbatas itu.

Ketika saya menyuruh orang-orang untuk berseru kepada nama Tuhan, mereka mengira bahwa mereka perlu berseru kepada-Nya dengan nyaring dan dengan berulang-ulang. Memang tidak ada salahnya dengan hal ini. Kita berseru kepada Tuhan dengan cara apa pun itu benar. Tetapi kita tidak perlu berseru dengan cara demikian untuk dipenuhi oleh-Nya. Kita bisa mengucapkan satu perkataan yang sederhana, “Tuhan Yesus, Engkau tahu aku terlalu sibuk. Aku harus buru-buru pergi ke kantor. Terima kasih kepada-Mu, Tuhan.” Dengan sedikit seruan seperti ini saja, Anda akan diinfus. Penginfusan Kristus di dalam Anda akan menyebabkan Anda memiliki Dia di dalam Anda sebagai iman Anda, yang adalah organ penghubung yang menghubungkan Anda dengan Dia. Inilah cara untuk memperhidupkan Kristus.
2 Korintus 5:7 mengatakan bahwa kita kaum beriman tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan iman. Apa yang kelihatan membawakan banyak hal kepada Anda, tetapi iman menghapuskan segalanya. Ketika apa yang kelihatan itu ada di sini, maka Anda melihat semua benda materi. Bila iman itu datang, maka semua benda fisik ini akan musnah. Kita berjalan dengan iman; kita tidak berjalan dengan apa yang kita lihat, melainkan dengan apa yang tidak kita lihat.
Ini adalah penggenapan akhir dari Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman.” Orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman! Firman ini harus menjadi spanduk dari ekonomi kekal Allah, yang mutlak merupakan perkara iman (1 Tim. 1:4)!
Orang benar, yaitu mereka yang mutlak benar di hadapan Allah dan manusia, akan memiliki hayat, yaitu hayat ilahi. Lalu, bagaimana kita, orang-orang dosa yang busuk ini, bisa memiliki hayat ilahi dari Allah yang benar menurut kebenaran-Nya? Oleh iman! Oleh iman, yang adalah Allah yang bergerak dan bekerja di dalam Kristus yang menaruh kita ke dalam Kristus sebagai kebenaran kitalah (1 Kor. 1:30), bahwa kita, orang-orang dosa memiliki hayat ilahi menurut kebenaran Allah secara yudisial. Oleh iman yang menghubungkan inilah, kita dihubungkan dengan Allah di dalam Kristus untuk mengambil bagian di dalam segala apa adanya Kristus yang almuhit, segala yang Dia miliki dan yang telah Dia capai untuk menghasilkan anggota-anggota Kristus yang organik untuk menyusun dan membangun Tubuh organik-Nya, yang akan rampung di dalam Yerusalem Baru sebagai perbesaran dan ekspresi dari Allah Tritunggal yang kekal di dalam kemuliaan-Nya yang tidak terbatas dalam perbauran yang misterius antara keilahian dengan keinsanian sampai kekal (Why. 21:2—22:5). Inilah penggenapan yang kekal dari injil di dalam Roma 1:17, bahwa “orang benar akan memiliki hayat dan hidup oleh iman!”

Ibr. 11:1
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Ef. 3:17
Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Rm. 3:22
Yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

Rm. 10:17
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
 

Inspirasi saja tidak bisa diandalkan. Ini seperti angin. Anda mungkin merasakannya untuk sejangka waktu, tetapi tidak berlangsung lama. Bila kita memiliki satu waktu bersama dengan Tuhan di pagi hari di dalam firman-Nya, maka kita tidak seharusnya berharap untuk memiliki satu perasaan yang spektakuler. Pada waktu yang sama, saya tidak bisa mengatakan bahwa ketika membaca Firman Allah, tidak akan ada perasaan. Kita mungkin memiliki beberapa perasaan dan kita mungkin menyebutnya sebagai inspirasi, tetapi kita tidak seharusnya mengharapkan satu perasaan yang spektakuler atau luar biasa. Kita harus hati-hati karena pengalaman yang luar biasa itu mungkin sangat menipu. Kita tidak boleh menaruh sandaran kita kepada sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Sebaliknya, kita harus belajar untuk memiliki iman kepada apa saja yang Alkitab katakan.

Pengalaman kita akan Kristus adalah oleh iman. Kadang-kadang, kita mengira bahwa karena Kristus hidup di dalam kita, kita seharusnya kuat. Ketika kita merasa bahwa kita lemah, kita mempertanyakan apakah Kristus benar-benar hidup di dalam kita atau tidak. Kristus itu agung, besar dan luas. Tetapi penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan dan begitu abstrak hingga kita mungkin sering ragu apakah Dia itu ada di dalam kita atau tidak. Di dalam pengalaman saya sendiri, saya menemukan bahwa semakin Tuhan beserta dengan saya, semakin saya tidak memiliki perasaan bahwa Dia beserta dengan saya. Perasaan kita sangat tidak bisa diandalkan. Karena alasan ini, maka kehidupan Kristiani kita di dalam Perjanjian Baru itu mutlak merupakan perkara iman. Iman adalah substansiasi dari hal-hal yang tidak kelihatan (Ibr. 11:1).
Pengalaman yang riil akan Kristus itu tidak kelihatan. Ini mutlak merupakan perkara iman. Di dalam Efesus 3:17, Paulus mengatakan, “Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu.” Frase oleh/melalui iman ini sangat penting karena kita seringkali tidak memiliki perasaan apa pun bahwa Kristus sedang membuat rumah-Nya di dalam hati kita. Ketika Kristus masuk ke dalam kita, kesukaan dan ketidaksukaan kita akan berubah sampai satu tingkatan tertentu. Tetapi kelihatannya bahwa di dalam banyak hal kita tetap sama saja. Seringkali kita tidak merasakan sesuatu di dalam kita. Puji Tuhan, bahwa Paulus menambahkan melalui iman kepada firmannya mengenai Kristus membuat rumah-Nya di dalam hati kita.
Berdasarkan pengalaman saya, saya menemukan bahwa iman Yesus Kristus [di dalam Roma 3:22] itu adalah Yesus Kristus itu sendiri. Kita percaya kepada Yesus Kristus oleh iman Yesus Kristus. Kita diselamatkan oleh iman Kristus. Iman Kristus adalah Kristus itu sendiri. Semua hal yang positif di dalam alam rohani adalah Allah itu sendiri. Meskipun kita tidak bisa merasakan atau melihatnya, tetapi hal-hal itu sungguh riil. Yang diperlukan di pihak kita adalah mengatakan “ya” kepada setiap firman dari Alkitab. Bila kita mengatakan “ya” kepada firman-firman dari Alkitab, maka kita percaya. …Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh. 1:1, 14) atau bahwa Yesus telah mati bagi kita (Rm. 5:8), kita harus mengatakan “ya.” Maka Yesus adalah Allah bagi kita, dan kematian-Nya adalah bagi kita. Bila Alkitab mengatakan bahwa Yesus adalah Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45b) dan bahwa Dia menghuni kita (Rm. 8:9-11), maka kita harus mengatakan “ya.” Kita tidak seharusnya melangkah lebih jauh dengan meminta Tuhan menunjukkan kepada kita sesuatu secara fisik dan kelihatan. Jalan iman adalah membaca Firman dan percaya kepadanya tanpa melihat sesuatu.
Memperhidupkan Kristus itu selalu oleh iman. Kristus…hidup di dalam kita, dan kita harus hidup oleh Dia. …Di dalam Yohanes 14:19, Tuhan Yesus mengatakan, “Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku; sebab Aku hidup, kamu pun akan hidup. Tuhan hidup di dalam kita agar kita bisa memperhidupkan Dia. Penghidupan-Nya di dalam kita itu tidak kelihatan, tetapi ini adalah satu fakta. Kita memandang Tuhan Yesus dan melihat Dia hari ini, bukan dengan mata fisik kita, melainkan oleh iman di dalam fakta bahwa Dia hidup di dalam kita dan kita memperhidupkan Dia. Kita harus mengambil fakta yang diwahyukan di dalam Firman Tuhan yang patut diandalkan dan menolak perasaan-perasaan kita yang tidak bisa diandalkan.

Luk. 18:8
…Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?

Mat. 25:21
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

1 Ptr. 1:7-9
Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.


Iman yang menghubungkan ini adalah tuntutan ilahi bagi para pemenang untuk berjumpa dengan Kristus di dalam kedatangan-Nya yang menang. Ini berdasarkan kepada Lukas 18:8, di mana Tuhan mengatakan, “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Hari ini seluruh dunia itu tidak percaya. …Tetapi oleh belas kasihan-Nya, di tahun-tahun yang lampau, melalui kepemimpinan Saudara Nee, kita telah dibawa masuk ke dalam satu situasi yaitu belajar untuk tidak mengandalkan diri kita sendiri untuk sesuatu, melainkan percaya bahwa Allah kita adalah segalanya.
Saya harap agar ketika Tuhan datang kembali, Dia akan menemukan Anda dan saya sebagai orang-orang yang percaya, yang selalu bersandar kepada-Nya, tidak bersandar kepada diri kita sendiri, dan yang selalu tidak memiliki keyakinan di dalam diri kita sendiri. Keyakinan kita sepenuhnya ada di dalam Dia. Inilah iman yang menghubungkan itu. Iman ini melayakkan para pemenang. Ini adalah tuntutan ilahi bagi Anda dan saya sebagai para pemenang untuk berjumpa dengan Kristus di dalam kedatangan-Nya yang menang.

Pada akhirnya, Tuhan akan menemukan beberapa orang, yaitu sedikit para pemenang yang hidup oleh iman yang menghubungkan ini ketika Dia datang kembali. …Saya percaya bahwa secara perbandingan, ada lebih banyak orang-orang yang percaya yang tersembunyi di dalam pemulihan ini daripada di tempat-tempat lainnya. …Kita hanyalah bagi Kristus itu sendiri. Kita bukanlah untuk mujizat-mujizat yang besar, pekerjaan-pekerjaan yang besar atau karir-karir yang besar. Ketika Tuhan datang kembali, Dia berharap untuk menemukan orang-orang yang demikian. Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus berharap menemukan orang-orang yang hidup oleh iman yang menghubungkan ini. Kristus berharap menemukan kita sebagai para pemenang-Nya yang tersembunyi.
Kaum beriman yang menempuh satu kehidupan yang menang dan bersukaria oleh iman yang menghubungkan ini akan ditemukan oleh Kristus pada kedatangan-Nya kembali sebagai harta-harta yang siap untuk menerima keselamatan jiwa mereka sebagai akhir (hasil) dari iman mereka (1 Ptr. 1:8-9). Di satu pihak, kita tidak tahu apa-apa atau pun melakukan apa-apa. Kita hanya tahu bagaimana untuk menang dan bagaimana bersukaria oleh iman yang menghubungkan ini. Hari ini, orang-orang yang hidup oleh iman, pada akhirnya akan menerima akhir dari iman mereka, yaitu keselamatan jiwa mereka. Kita telah menerima satu keselamatan, tetapi ini hanyalah keselamatan yang mula-mula. Tahap kemajuan dari keselamatan ini adalah tahap transformasi. Tahap kelengkapan dari keselamatan ini adalah tahap pemuliaan. Jika kita hidup oleh iman yang menghubungkan ini di dalam tahap kemajuan untuk ditransformasi, maka kita akan menjadi raja-raja bersama dengan Kristus di dalam kerajaan seribu tahun.
Sekarang, kita sedang menyiapkan diri kita untuk hari itu. Menyiapkan diri kita berarti menjadi seorang pemenang yang selalu dihubungkan oleh iman yang hidup dengan Allah Tritunggal. …Inilah syarat bagi Anda untuk menjadi seorang pemenang, untuk berjumpa dengan Kristus pada kedatangan-Nya kembali.
Para pemenang akan diberi pahala oleh Kristus dengan kerajaan dan kenikmatan yang puncak akan hayat ilahi bersama dengan Dia di dalam milenium (Why. 20:4, 6). Tuhan akan mengatakan kepada para pemenang-Nya, “Baik sekali, hai hamba yang setia…masuklah ke dalam sukacita tuanmu” (Mat. 25:21, 23). Ini seperti yang pernah dikatakan J. N Darby, “O betapa sukacitanya tidak memiliki apa-apa dan tidak menjadi apa-apa, serta tidak melihat apa-apa selain Kristus yang hidup di dalam kemuliaan dan tidak memperhatikan apa-apa selain kepentingan-kepentingan-Nya di sini.”

Ef. 1:9-11
Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan—kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.

Untuk memakai kitab Amsal dengan tepat, kita harus mengenal ekonomi Allah. Ekonomi Allah adalah bahwa Allah menjadi manusia supaya manusia bisa menjadi Allah di dalam hayat dan sifat tetapi tidak di dalam Keallahan untuk menghasilkan organisme dari Allah Tritunggal, yaitu Tubuh Kristus, yang merampungkan Yerusalem Baru.
Menurut ekonomi-Nya…amsal bukanlah agar kita bisa membangun manusia lama kita, mengembangkan ego kita dan manusia alamiah kita. Sebaliknya, amsal-amsal itu adalah agar kita membangun manusia baru kita. Untuk tujuan inilah bahwa amsal-amsal itu berguna. Ketika kita masih hidup di dalam tubuh ini, kita memerlukan Amsal untuk memberikan instruksi-instruksi kepada kita tentang bagaimana hidup dengan tepat di dalam begitu banyak aspek, untuk membangun manusia baru kita.

Kita perlu mempertimbangkan apa yang Allah lakukan di dalam kekekalan yang lampau. Efesus pasal 1 dan 3 memberikan satu pandangan sekilas kepada kita tentang apa yang Dia lakukan sebelum waktu di mulai. …[Lihat Efesus 1:9-11 di atas]. Efesus 3:9-11 mengatakan, “Dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang sudah berabad-abad tersembunyi di dalam Allah yang menciptakan segala sesuatu, supaya sekarang oleh gereja diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Ada banyak istilah penting yang dipakai oleh Paulus di dalam ayat-ayat ini—kehendak Allah, tujuan Allah, kerelaan kehendak Allah, rencana Allah, dan ekonomi Allah.
Kita telah melihat bahwa garis sentral dari wahyu ilahi dimulai dari Allah. Kemudian wahyu ilahi ini menunjukkan kepada kita tentang ekonomi ilahi dan penyaluran ilahi. Allah sendiri, ekonomi Allah, dan penyaluran Allah bisa terlihat di seluruh Alkitab. Ketiga butir ini adalah garis sentral dari wahyu ilahi:…Allah sendiri, ekonomi Allah, dan penyaluran Allah.
Ekonomi ilahi adalah hasil dari kehendak, tujuan, kerelaan, dan rencana Allah. …Kehendak Allah adalah apa yang Dia lakukan dan yang ingin Dia lakukan. Kerelaan kehendak Allah terwujud di dalam kehendak-Nya, karena itu, kehendak-Nya muncul terlebih dahulu. Kehendak Allah ini tersembunyi di dalam Allah sebagai satu misteri, karena itu, Efesus 1:9 membicarakan tentang “misteri/rahasia kehendak-Nya.” Di dalam kekekalan, Allah merencanakan satu kehendak. Kehendak ini tersembunyi di dalam Dia; karena itu, ini adalah satu misteri. Kehendak Allah sebagai misteri yang tersembunyi di dalam Allah ini menghasilkan ekonomi Allah, dispensasi Allah (3:9). Dari kehendak Allah ini menghasilkan ekonomi Allah melalui tujuan, kerelaan kehendak, dan rencana-Nya.
Tujuan Allah adalah maksud Allah yang dibuat sebelumnya. Kerelaan kehendak Allah dibuat di dalam Allah sendiri (Ef. 1:9b). Ini menunjukkan bahwa kerelaan kehendak Allah bukan hanya terwujud di dalam kehendak Allah melainkan juga di dalam tujuan Allah. Kita telah ditakdirkan menurut tujuan Allah sepanjang zaman, yang adalah tujuan kekal-Nya (1:11a; 3:11). Tujuan Allah itu kekal. Ini adalah rencana kekal Allah yang dibuat di dalam kekekalan yang lampau sebelum permulaan waktu.
Kerelaan kehendak Allah adalah yang membuat Allah gembira. Ini adalah yang Allah suka, yaitu yang menyukakan Allah. …Allah telah menakdirkan kita kepada keputraan menurut kerelaan kehendak-Nya (Ef. 1:5). Ini berarti bahwa Allah suka memiliki putra-putra. Penakdiran-Nya adalah kepada keputraan. Kepada berarti bagi atau di dalam pandangan. Penakdiran Allah terhadap kita adalah bagi keputraan-Nya atau di dalam pandangan akan keputraan-Nya. Allah gembira dan senang akan mendapatkan putra-putra. Ini adalah kerelaan kehendak-Nya untuk memiliki kita sebagai putra-putra-Nya.
Allah telah membuat kita mengenal misteri kehendak-Nya menurut kerelaan kehendak-Nya, yang Dia maksudkan di dalam diri-Nya sendiri (Ef. 1:9). Pertama, ada kehendak Allah, kedua, tujuan Allah, dan ketiga, kerelaan kehendak-Nya.

2 Kor. 13:13
Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.

Yoh. 4:14
Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.

Allah damba untuk memiliki gereja untuk menjadi Tubuh Kristus sebagai kepenuhan-Nya bagi satu ekspresi yang korporat dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses (Ef. 1:23; 3:19b). Ini bukan sekadar satu jemaat yang terdiri dari banyak kaum beriman. Tubuh Kristus adalah satu Tubuh yang organik dari satu persona yang besar—Kristus. Agar Kristus bisa memiliki satu Tubuh yang demikian, maka Dia harus menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya.
Penggenapan dari ekonomi ilahi ini adalah oleh penyaluran ilahi dari Trinitas ilahi. Allah itu ilahi, dan Dia juga tritunggal. Dia itu tritunggal untuk melengkapi langkah-langkah bagi penyaluran diri-Nya sendiri ke dalam kita.

Lapisan yang paling dalam dari wahyu ilahi di dalam Alkitab adalah Allah itu sendiri, dan bukan sekadar Allah sendirian saja, melainkan juga ekonomi dan penyaluran Allah. Ekonomi Allah adalah rencana dan pengaturan-Nya yang berasal dari kedambaan dan tujuan-Nya. Penyaluran Allah adalah penyaluran dan pembagian-Nya menurut rencana dan pengaturan ini.
Maksud Allah di dalam ekonomi-Nya, yaitu pemerintahan rumah tangga-Nya adalah menyalurkan diri-Nya sendiri di dalam Trinitas Ilahi-Nya—Bapa, Putra, dan Roh itu—ke dalam umat pilihan-Nya.
Allah sungguh memiliki satu ekonomi, satu administrasi rumah tangga, untuk melaksanakan tujuan kekal-Nya. Ekonomi ini adalah operasi/pekerjaan universal-Nya. …Hari ini…Allah sedang bekerja di dalam satu hal dan bagi satu hal: Dia sedang meluangkan waktu dengan sabar untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam semua umat pilihan-Nya. Segala sesuatu yang disinggung di dalam Perjanjian Baru mengenai Allah berhubungan dengan penyaluran-Nya bagi ekonomi-Nya. (The Economy and Dispensing of God, hal. 13, 70)
Allah kita itu tritunggal bagi tujuan menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Dia adalah Bapa, seluruh buah semangka itu. Dia juga adalah putra, yang dipotong menjadi beberapa bagian. Dia juga adalah Roh itu, yang diperas menjadi jus. Supaya sebuah semangka yang besar bisa masuk ke dalam manusia, maka ia harus melalui semua proses ini. Tahap-tahap ini adalah tahap-tahap dari penyaluran itu. Semangka itu bukan hanya perlu disalurkan, melainkan juga harus dicerna, dan diasimilasi menjadi susunan manusia. Demikian juga, Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh itu—telah melalui proses menjadi Roh pemberi hayat supaya kita bisa minum Dia dan supaya Dia bisa menjadi elemen kita. Iniah penyaluran ilahi dari Trinitas ilahi. (A Deeper Study of the Divine Dispensing, hal. 16)
2 Korintus 13:13 adalah satu bukti yang kuat bahwa trinitas dari Keallahan itu bukanlah untuk pemahaman teologi sistematik, melainkan bagi penyaluran Allah sendiri di dalam Trinitas-Nya ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya. DI dalam Alkitab, Trinitas itu tidak pernah diwahyukan sekadar sebagai satu doktrin. Hal ini selalu diwahyukan atau disinggung dalam hubungannya Allah dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya, terutama dengan manusia yang diciptakan oleh-Nya dan lebih-lebih lagi dengan umat pilihan dan tebusan-Nya.
Wahyu ilahi tentang trinitas Keallahan di dalam Firman Kudus, dari Kejadian sampai Wahyu ini bukanlah untuk pengkajian teologi, melainkan bagi pemahaman akan bagaimana Allah di dalam trinitas-Nya yang misterius dan menakjubkan ini menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya, agar kita sebagai umat pilhan dan tebusan-Nya bisa, seperti yang ditunjukkan di dalam berkat dari para rasul kepada kaum beriman Korintus, mengambil bagian, mengalami, menikmati, dan memiliki Allah Tritunggal yang telah melalui proses sekarang dan sampai selama-lamanya. (Life-study of 2 Corinthians, hal. 526, 529)
Kedambaan Allah dengan maksud-Nya yang kuat adalah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya sebagai hayat mereka, sebagai suplai hayat mereka, dan sebagai segala sesuatu mereka. Untuk melaksanakan penyaluran ini, Dia perlu menjadi tritunggal.
Bapa sebagai pemula adalah sumber air; Putra sebagai ekspresi adalah mata air; dan Roh itu sebagai transmisi adalah aliran. Roh itu sebagai aliran adalah pencapaian, penerapan dari Allah Tritunggal, bagi pembagian diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya.

Mzm. 68:20
Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita, Allah adalah keselamatan kita. S e l a

2 Tes. 3:16
Kiranya Ia, Tuhan damai sejahtera, mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus menerus kepada kamu dalam segala hal. Tuhan menyertai kamu sekalian.

Hari ini, Kristus di dalam kaum beriman adalah Roh pemberi hayat. Dia menyalurkan hayat ilahi dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses kepada kita supaya kita dapat menjadi satu roh dengan Dia (1 Kor. 6:17) dan dapat menikmati penyaluran ilahi dari segala kekayaan Allah Tritunggal di dalam Dia.
Ketika kita menikmati Kristus yang almuhit setiap hari, Dia akan menjadi suplai batiniah kita dalam segala sesuatu. Dia akan menjadi penyaluran di dalam kita. Akhirnya, Dia akan dimanifestasikan dalam sidang-sidang dan pelayanan kita, dalam karunia-karunia kita, dan dalam semua aktivitas kita.

Segala sesuatu dari Hayat yang Allah berikan kepada kita adalah tenang dan kalem. Kita tidur tepat waktu, tidur dengan kalem, bangun dengan tenang, mandi, doa-baca, sarapan pagi, melakukan pekerjaan, dan belajar kita dengan tenang. Selain melatih fisik, kita melakukan segala sesuatu secara tenang. Hidup secara ini sangat sehat. Kehidupan ini sama dengan kehidupan tanaman. Dalam pertumbuhan bunga, berbahaya jika memupuki atau menyirami terlalu banyak. Kita seharusnya tidak menggangu tanaman terlalu banyak. Sebaliknya, kita harus membiarkan mereka tumbuh dengan perlahan. Bahkan jika kita tidak menyiram tanaman, kadang-kadang langit akan memberi mereka air dan membuat mereka bertumbuh. Kadang-kadang kita “dingin” terhadap Tuhan; kita mungkin tidak pergi bersidang kapan pun. Pada saat yang lain kita mungkin sangat mengasihi Tuhan sehingga kita menjadi sangat tekun. Tadinya, sulit hanya membaca setengah pasal dalam Alkitab. Sekarang mudah untuk membaca sampai lima pasal dalam satu hari. Tetapi karena “dingin” kita dan “membara” kita adalah sesuatu dari diri kita sendiri, mereka tidak akan tahan. Hanya mereka yang tidak tergesah-gesah dan mantap akan tetap tinggal dan gigih.
Jika kita terus menempuh jenis kehidupan yang mantap ini, kita akan benar-benar menjadi orang Kristen yang sehat. Kita akan menikmati transfusi dan penyaluran hayat Putra-Nya dan sifat ilahi-Nya ke dalam kita yang terus menerus dari Bapa. Kita harus menyadari bahwa beberapa hal rohani dirampungkan sekali untuk selamanya. Sama seperti kehidupan fisik kita, banyak hal rohani harus diulang sekali demi sekali. Sebagai contoh, kita perlu makan, minum, dan bernafas untuk kehidupan fisik kita setiap hari; kita tidak dapat lulus dari hal-hal ini. Namun, kita tidak perlu melakukan hal-hal ini terlalu banyak; kita perlu sederhana melakukannya dalam bagian kecil sejangka waktu. Demikian juga, lebih tenang kehidupan kristiani kita, lebih baik jadinya. Setiap hari kita harus mengizinkan Bapa untuk menyalurkan hayat dan sifat-Nya ke dalam kita. Ini dapat dibandingkan dengan listrik, yang selalu mengalir sedikit demi sedikit ke dalam rumah. Jika terlalu banyak masuk sekaligus, akan berbahaya. Kita harus melihat pertama-tama bahwa apa pun yang Allah kita ingin lakukan, Dia tidak ingin kita melakukannya oleh kerja keras kita sendiri, tetapi oleh Dia. Kedua, apa pun yang Allah berikan kepada kita tidak diberikan semuanya sekaligus sehingga tak tertampung oleh kita. Sebaliknya, diberikan sedikit demi sedikit. Untuk alasan ini, kita harus menjadi orang Kristen yang mantap dan normal. Tanpa kekhususan dan semakin normal kita, lebih baik.
Penyaluran dimulai dengan ekonomi Allah. Sebelum zaman Allah, di alam semesta, memiliki kedambaan di dalam diri-Nya, yang adalah menggarapkan diri-Nya ke dalam umat-Nya yang dipilih, diciptakan, ditebus, dan dilahirkan kembali sehingga Dia dapat menjadi hayatnya dan unsur ilahinya.…umat ini menjadi ekspresi Allah, dan ekspresi ini menjadi Tubuh Kristus, yang juga kepenuhan Kristus. Kepenuhan ini adalah kekayaan Allah Tritunggal yang sepenuhnya digarapkan ke dalam umat-Nya yang dipilih, dilahirkan kembali, dan diubah.…Keperluan kita adalah kekayaan Kristus yang disalurkan kepada kita.…Kita tidak perlu mengusahakan dan mereformasi rohani apa pun. Kita hanya perlu menerima penyaluran ilahi ini… berulang-ulang secara perlahan dan mantap dari pagi sampai petang dan dari petang sampai pagi. Secara praktis, Kristus dalam kebangkitan adalah Kristus yang pneumatik. Maka, setiap tempat dan sepanjang waktu, Dia dapat masuk ke dalam kita, menyertai kita, dan menjadi hayat dan unsur kita di dalam.

Rm. 8:10-11
…Jika Kristus ada di dalam kita, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran. Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu.

Mat. 6:11
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

Kita seharusnya jangan berharap memiliki waktu yang spektakuler setiap hari dalam menerima penyaluran ilahi. Saya baru-baru ini membicarakan perkataan kepada peserta pelatihan di pelatihan sepenuh waktu mengenai kehidupan rohani sehari-hari mereka. Saya memberi tahu mereka jangan berharap memiliki hasil yang spektakuler dalam kehidupan kristiani mereka. Kita harus melupakan mengenai memiliki sesuatu yang spektaculer. Kita harus belajar dipuaskan dengan hari-hari biasanya yang penuh dengan pengaturan dan pelaksanaan normal dalam penyaluran ilahi. Di pagi hari kita harus memiliki banyak waktu bersama Tuhan untuk menjamah Dia dan diterima oleh Dia. Kemudian kita perlu melalui rutinitas sehari-hari untuk dibekerjakan. Menempuh kehidupan dalam penyaluran ilahi secara normal akan membuat kita sehat secara jasmani dan rohani. Apakah kita memiliki hari yang baik atau buruk keduanya tidak tergantung kepada kita; tergantung kepada kedaulatan-Nya. Dia telah memiliki kita, dan tidak terlambat untuk berbalik. Kita diberkati karena Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung ada di dalam kita. Dia ada di dalam kita, bukan secara spektakuler tetapi secara biasa.

Kita seharusnya diberkati untuk dipuaskan dengan hari-hari biasa dalam penyaluran ilahi. Allah Tritunggal pasti di dalam kita, tetapi diri-Nya di dalam kita tidak spektakuler. Setiap hari Dia di dalam kita menyalurkan dan secara positif menguatkan dan mendorong kita. Dalam tiga tahun terakhir, saya mengalami banyak masalah, namun tidak satu pun yang menggangu saya. Saya telah menerbitkan banyak berita, saya telah mengunjungi berbagai tempat, dan saya telah mengadakan banyak konferensi. Namun, hal ini bukan karena saya memiliki hari-hari yang spektakuler. Saya hanya menempuh kehidupan biasa menerima penyaluran-Nya. Surat Kiriman mengungkapkan bahwa pekerjaan Kristus di dalam kita adalah pekerjaan penyaluran yang lembut.…Allah Bapa kita telah menentukan supaya kita hidup secara biasa di bawah penyaluran-Nya terus menerus.(The Divine Dispensing for the Divine Economy, pp. 37-38)
Saya harap semua saudara dan saudari, apakah yang tua atau yang muda, apakah mereka baru beoleh selamat atau telah melayani Tuhan sejangka waktu, semua dapat melihat visi. Hari ini, Allah tidak bermaksud agar kita melakukan segala sesuatu oleh diri kita sendiri. Benar bahwa apa pun yang Dia ingin kita lakukan kita harus lakukan. Tetapi Allah menginginkan kita melakukan segala sesuatu melalui bersandar kepada Dia, melalui mengambil Dia sebagai hayat, dan melalui mengizinkan Dia menyalurkan diri-Nya ke dalam kita. Ketika kita menikmati Dia dan mengalami Dia, kita dapat mengekspresikan Dia. Inilah apa yang Allah inginkan. (A Deeper Study of the Divine Dispensing, p. 174)
Menciptakan manusia dalam gambar Allah adalah untuk penyaluran Allah ke dalam manusia. Setelah manusia diciptakan, Allah menempatkan dia di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9). Dengan segera, Allah memperingatkan manusia tentang makanannya (ayat 16-17). Jika manusia makan pohon hayat, dia akan hidup; tetapi jika makan pohon pengetahuan yang baik dan jahat, dia akan mati. Pohon hayat melambangkan diri Allah sendiri. Hari ini, Allah adalah makanan kita; Dia dapat dimakan. Dalam Yohanes 6 Yesus berkata bahwa Dia adalah roti hayat (ayat 35, 48), dalan dalam ayat 57 Dia berkata, “Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” Kita perlu makan Yesus.
Menjadi orang Kristen lebih dari sekadar bertobat dari dosa-dosa kita, menerima mengampunan dosa-dosa, dibasuh oleh darah, dibenarkan, dan dilahirkan kembali. Kehidupan orang Kristen juga termasuk bertumbuh dan matang. Agar berlanjut dari kelahiran kembali sampai kepada kematangan, kita harus makan. Kelahiran kembali adalah permulaan kehidupan rohani kita, tetapi kita perlu makan setelah kelahiran kembali kita. Tidak seorang pun dapat bertumbuh tanpa makan. Kita harus makan, mencerna, dan mengasimilasi makanan setiap hari. Mengasimilasi adalah langkah akhir makanan untuk disalurkan ke dalam diri kita. Kita perlu makan, mencerna, dan mengasimilasi Yesus sebagai makanan rohani kita hari demi hari.

Yer. 15:16
Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah diserukan atasku, ya TUHAN, Allah semesta alam.

Yoh. 6:57
Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa saja yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.

Kita perlu makan Yesus melalui menyeru nama Tuhan. Tetapi setelah kita makan, kita juga perlu mencerna dengan baik. Kita jangan salah cerna. Salah cerna pertama-tama mengakibatkan perut bermasalah dan kemudian mungkin menyebabkan sakit perut.…Ketika kita makan Kristus, kita juga perlu secara rohani mencerna Dia secara tepat. Jika Anda mencerna dengan tepat, makanan yang Anda makan dapat masuk ke dalam setiap bagian jasmani kita. Ada jalan untuk makanan masuk melaluinya. Salah cerna berarti bahwa tidak ada jalan bagi makanan. Sekarang kita perlu mempertimbangkan bagaimana menerapkan ini kepada kita dalam pengertian rohani. Banyak orang beriman terkasih dapat menikmati menyeru Tuhan dan mendoabacakan Firman kali pertama. Tetapi setelah sejangka waktu tertentu, mereka kehilangan selera dan keinginan untuk hal ini. Ini dikarenakan setelah mengambil Tuhan Yesus, sesuatu terjadi di dalam mereka. Ada salah cerna. Tidak ada jalan bagi Tuhan Yesus masuk melaluinya. Setelah menyeru Tuhan Yesus dan mendoabacakan Firman-Nya, kita harus berkata, “Tuhan, rahmati aku. Jaga seluruh diriku dengan seluruh bagian batiniahku untuk terbuka kepada-Mu.”

Saya tidak membicarakan sesuatu secara doktrinal, tetapi sesuatu yang sangat praktis dalam kehidupan kristiani kita.…Masalahnya adalah — setelah Anda menyeru nama Tuhan, setelah Tuhan masuk ke dalam Anda, Anda mungkin tidak mau terbuka kepada Dia. Anda terbuka kepada Dia sebagian kecil diri Anda, tetapi kebanyak diri Anda tertutup kepada Dia. Tuhan Yesus adalah riil, hidup, dan praktis. Ketika Anda menyeru, “Tuhan Yesus,” Dia masuk ke dalam Anda dan memenuhi anda. Ketika Anda menyeru “Tuhan Yesus,” Yesus yang praktis dan hidup ini akan menjamah diri alamiah Anda. Tetapi banyak dari Anda dapat berkata, “Tidak, Tuhan. Jangan jamah aku di sini. Tinggal di manakah Engkau. Engkau adalah tamuku dan Engkau harus tinggal di ruang tamu. Jangan masuk ke dalam kamar tidur pribadiku. Ini untukku, bukan untuk-Mu. ”Ini berarti salah cerna. Tidak ada cara bagi Tuhan sebagai makanan rohani masuk melewati Anda. Tidak ada jalan bebas untuk makanan masuk ke dalam bagian batiniah Anda, sehingga Anda salah cerna. tetapi ketika Anda merespon dan mengikuti perasaan batin, selesa Anda untuk Tuhan Yesus datang kembali dan pencernaan rohani Anda menjadi tepat. Kemudian kekayaan Tuhan Yesus menjadi sel Anda, dan sel ini bertumbuh menjadi jaringan organik Anda. Ini menyebabkan Anda bertumbuh dalam hayat ilahi dan membuat Anda kuat dalam Tuhan. Mudah bagi Anda berdiri teguh dan tidak mudah bagi Anda untuk berbalik, karena Anda bertumbuh dalam Tuhan. Adalah sulit bagi orang-orang yang bertumbuh untuk jatuh. Karena mereka memiliki pencernaan yang baik untuk mengasimilasi semua rawatan dari makanan rohani yang mereka makan. Melalui makan kita mencerna; melalui mencerna mengasimilasi; dan melalui mengasimilasi ini kita mendapat rawatan praktis dari kekayaan Yesus ke dalam diri kita. Semua kekayaan Kristus akhirnya akan bertumbuh ke dalam jaringan organik kita. Kemudian kita menjadi Kristus. Ini bukan lagi aku, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku. Bagiku hidup adalah Kristus. Kita perlu Yesus, bukan secara obyektif tetapi secara subyektif. Kita perlu Yesus masuk ke dalam kita. Kita perlu mengasimilasi Yesus supaya Dia dapat menjadi sel dan jaringan organik kita untuk menjadi esens dan unsur kita. Kemudian kita dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus.” Kemudian isi dan wadah menjadi satu. (The Living and Practical Way to Enjoy Christ, pp. 45-47)
Dalam Yohanes 6:57, Tuhan Yesus berkata bahwa mereka yang menikmati Dia akan hidup oleh Dia.…Mereka yang makan Dia adalah mereka yang menikmati Dia. Tuhan Yesus dapat dimakan dan diminum. Mereka yang makan dan minum Dia akan memiliki Dia di dalam mereka sebagai hayat dan gizi hayat mereka, dan akan hidup oleh Dia. Inilah ekonomi Allah dan penyaluran Allah

Kol. 3:11
…Manusia baru… dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Mat. 23:8
Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara

Di antara umat Allah, hanya ada satu Kepala—Kristus. Konstitusi ini memelihara semua kaum saleh, semua gereja, dan semua wilayah pekerjaan di dalam kontak secara langsung dengan Tuhan. Jadi, tidak perlu ada perantara apa pun. Ini adalah jalan yang rohani, jalan hayat yang memelihara setiap kaum beriman, gereja, lokal, dan wilayah pekerjaan di dalam hayat dan tanpa adanya organisasi atau kepemimpinan manusia apa pun.

Kita perlu melihat apa konstitusi gereja itu, yaitu, jalan di mana gereja terbentuk. Konstitusi gereja erat hubungannya dengan kekepalaan Kristus.
Pertama, saya ingin menunjukkan bahwa di dalam Kekristenan hari ini, kekepalaan Kristus itu mutlak disangkal. Ini terjadi karena Kekristenan telah menjadi satu organisasi. Pembentukan organisasi apa pun akan menghasilkan satu hirarki dan setiap hirarki adalah satu kepala. Jadi, hirarki di dalam Kekristenan menghina kekepalaan Kristus.
Di dalam pemulihan Tuhan, tidak ada pemimpin. Satu-satunya Kepala adalah Kristus. Semua penatua berada pada tingkatan yang sama, semua rasul berada pada tingkatan yang sama, semua gereja berada pada tingkatan yang sama, dan wilayah-wilayah pekerjaan juga berada pada tingkatan yang sama. Hasil dari siapa yang mengambil pimpinan pada waktu apa pun selalu ditentukan oleh situasi rohani di waktu mana itu diberikan. Penatua atau gereja yang memiliki kerohanian yang paling tinggi adalah yang harus mengambil pimpinan, tetapi ini janganlah bersifat resmi, permanen, atau organisasi. Ini harus selalu tergantung kepada kondisi rohani. Mempraktekkan secara demikian ini akan menjauhkan umat Allah dari kepemimpinan yang akan menghina kekepalaan Kristus. …Gereja dibentuk menurut kebenaran bahwa Kristus adalah Kepala yang unik. Di dalam pemulihan Tuhan tidak ada organisasi karena Kristus adalah Kepala yang unik. Gereja dibangun menurut kebenaran ini. (Crucial Principles for the Proper Church Life, hal. 43, 55-56)
Gereja adalah satu organisme, bukan satu organisasi, namun memang perlu ada beberapa pengaturan di antara ribuan orang yang datang berkumpul di berbagai kota sebagai gereja-gereja lokal. Mencari pengaturan demikian dan jalan yang tepat agar semua urusan gereja bisa dilaksanakan ini adalah satu masalah yang besar, karena konsep organisasi yang berhubungan dengan gereja tidak bisa ditemukan di dalam Perjanjian Baru. Kita perlu melihat prinsip dasar bahwa organisasi macam apa pun akan memimpin kepada satu hirarki dan bahwa hirarki apa pun adalah satu penghinaan terhadap kekepalaan Kristus. (Crucial Principles for the Christian Life and the Church Life, hal. 73)
Di dalam beberapa gereja lokal, ada satu praktek yaitu membuat satu pengaturan menurut siapa yang pertama di antara para penatua. Tidak ada ayat di dalam Alkitab yang memberikan petunjuk apa pun bahwa harus ada pengaturan yang demikian. Namun, prinsip rohani dalam hubungannya dengan kepenatuaan itu selalu bersifat jamak. Allah tidak ingin seorang saudara menjadi penatua yang unik; Dia ingin beberapa saudara menjadi sekelompok penatua. …Kejamakan dari kepenatuaan ini akan menjaga penatua mana pun dari menjadi seorang penatua yang bersifat resmi atau seorang penatua permanen. Hasil dari siapa yang mengambil pimpinan di antara para penatua itu ditentukan oleh kapasitas setiap orang. Karena seorang saudara memiliki kapasitas yang tertinggi di dalam area-area tertentu, maka ia mungkin adalah seorang pemimpin di dalam satu perkara tertentu. Di dalam perkara lainnya, seorang saudara lainnya mungkin memiilki kapasitas yang paling tinggi; karena itu, di dalam perkara itu, ia akan menjadi pemimpin. Enam bulan kemudian, kedua saudara ini mungkin kehilangan kapasitas mereka, dan saudara lainnya mungkin bertumbuh dan bertambah di dalam kapasitas rohaninya oleh kasih karunia dan belas kasihan Tuhan. Jadi, saudara yang ketiga ini dengan spontan akan menjadi pemimpin di antara para penatua itu. Di dalam Perjanjian Baru, di antara umat Allah, tidak ada kepemimpinan yang unik, tegas, bersifat resmi atau permanen. Kepemimpinan yang demikian akan menjadi satu penghinaan terhadap kekepalaan Kristus. Karena itu, di setiap gereja lokal hari ini, tidak boleh ada kepala selain dari Kristus.

Kis. 14:23
Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.

1 Ptr. 5:1
Aku menasihatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak.

Menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, tidak ada kepemimpinan yang permanen, resmi, atau bersifat kedudukan di antara umat Allah pada hari ini. Adalah hikmat Allah tidak memiliki seorang penatua di dalam satu gereja melainkan memiliki sejumlah penatua. Ada beberapa yang mungkin membayangkan bagaimana kepenatuaan bisa dipraktekkan jika tidak ada penatua yang utama. Kasus, Petrus, Yakobus, Barnabas, dan Paulus menunjukkan bahwa semua penatua memiliki status yang sama, tetapi pada satu waktu tertentu, atau di dalam satu perkara tertentu, ada yang mungkin memiliki kapasitas yang lebih tinggi daripada yang lainnya dan karena demikian ia akan mengambil pimpinan. Pada waktu lainnya atau di dalam perkara lainnya, ada saudara lainnya yang mungkin memiliki kapasitas yang paling besar; karena itu, ia akan menjadi pemimpin pada waktu itu. Melalui kepenatuaan yang bersifat jamak ini, maka tidak ada penatua yang pasti/permanen dan kemutlakan kekepalaan Kristus harus dihormati, dipelihara, dan dihargai.

Pekerjaan dari para penatua ini, tidak tergantung hanya kepada satu orang di tempat mana pun. Memiliki pendeta di dalam satu gereja itu alkitabiah, tetapi sistem kependetaan sekarang ini sangat tidak alkitabiah; ini adalah penemuan manusia.
Di dalam Kitab Suci, kita melihat bahwa selalu ada lebih dari seorang penatua atau penilik di dalam satu gereja lokal. Bukanlah kehendak Allah bahwa seorang kaum beriman harus keluar secara individu dari semua kaum beriman lainnya untuk menduduki satu tempat utama yang istimewa, sedangkan yang lainnya secara pasif tunduk kepada kehendaknya. Jika pengelolaan seluruh gereja tergantung kepada seseorang, maka betapa mudah baginya untuk menjadi angkuh, menganggap dirinya sendiri lebih tinggi daripada yang lainnya dan menekan saudara-saudara lainnya (3 Yohanes). Allah telah menentukan beberapa penatua bersama-sama untuk mengambil bagian di dalam pekerjaan gereja supaya tidak seorang pun individu yang bisa melakukan hal-hal menurut kesenangannya sendiri, memperlakukan gereja sebagai miliknya yang spesial dan meninggalkan kesan kepribadiannya di atas semua kehidupan dan pekerjaannya. Menaruh tanggung jawab di tangan beberapa saudara, bukannya di tangan seseorang secara individu adalah jalan Allah untuk menjaga gereja-Nya terhadap kejahatan-kejahatan sebagai akibat dari penguasaan seorang pribadi yang kuat. Allah bertujuan bahwa beberapa saudara harus bersatu untuk memikul tanggung jawab di dalam gereja, sehingga di dalam hal mengendalikan urusan-urusannya pun mereka harus bergantung satu sama lain dan tunduk satu sama lain. Jadi, secara pengalaman, mereka akan menemukan kesempatan untuk memberikan ekspresi yang praktis terhadap kebenaran tentang Tubuh Kristus. Bila mereka saling menghormati dan saling mengandalkan terhadap pimpinan dari Roh itu, maka tidak ada seorang pun yang akan mengambil tempat sang Kepala, melainkan setiap orang akan menghormati yang lainnya sebagai sesama anggota, dan elemen saling/kebersamaan yang adalah keistimewaan khusus gereja akan terpelihara. (Watchman Nee, The Normal Christian Church Life, hal. 49-50)
Tidak peduli kedudukan atau fungsinya, setiap anggota itu berhubungan langsung dengan Kepala; setiap anggota memiliki pendirian yang sama. Tidak ada perantara anggota-anggota.
Di satu pihak, kita jangan pernah menjadi seorang perantara di antara umat Allah dan Tuhan itu sendiri. Kita perlu membiarkan umat Tuhan menerima perintah-perintah secara langsung dari Tuhan. Oleh belas kasihan Tuhan, di berbagai waktu di sepanjang tahun, bila ada kaum saleh datang kepada saya untuk bersekutu, saya tidak pernah memberikan satu keputusan, satu pesan, atau satu perintah kepada mereka. Sebaliknya, saya selalu memberi tahu mereka, “Anda perlu pergi kepada Tuhan. Berdoalah untuk mencari pimpinan Tuhan secara langsung.” Di lain pihak, kita jangan pernah mengambil seseorang lainnya sebagai seorang perantara di antara kita dengan Tuhan. Karena kebanyakan kaum beriman itu lemah, maka mereka lebih suka untuk bergantung kepada orang lain daripada pergi secara langsung kepada Tuhan.
Oleh belas kasihan Tuhan, sejak permulaan dari pemulihan Tuhan di antara kita selama lima puluh tahun yang lalu, Tuhan telah menunjukkan kebenaran kepada kita bahwa setiap anggota itu berhubungan secara langsung kepada Kepala.

Mat. 28:18
Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

Kis. 20:28
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.

Sumber gereja adalah Kristus, karena itu gereja adalah pertambahan Kristus. Fungsi gereja adalah untuk menjadi Tubuh Kristus dan rumah Allah. Selain itu, praktek gereja itu bersifat lokal, bukan universal, dan gereja diekspresikan di lokalitas-lokalitas, isinya adalah Kristus, dan gereja memiliki satu susunan yang tepat.
Susunan gereja yang tepat ini terlihat di dalam Filipi 1:1 yang membicarakan tentang kaum saleh, para penilik, yang adalah para penatua dan para diaken. Di dalam gereja kita memiliki kaum saleh sebagai anggota-anggota dasar, dan di antara kaum saleh ini, kita memiliki para penatua dan para diaken. Di satu pihak, kita menyadari bahwa di dalam gereja tidak ada organisasi manusia, tetapi di lain pihak, Kitab Suci dengan jelas memberi tahu kita bahwa ada satu susunan di dalam gereja. Bukan hanya dari pengajaran-pengajaran Kitab Suci, melainkan juga dari pengalaman kita, kita bisa melihat bahwa tanpa susunan di bawah pimpinan Roh Kudus ini, maka tidak ada kemungkinan untuk memiliki kehidupan gereja yang sesungguhnya, praktek gereja yang sesungguhnya. Praktek gereja yang sesungguhnya itu sangat tergantung kepada susunan di bawah pimpinan Roh Kudus ini.

Susunan gereja berasal dari otoritas di dalam gereja. Kita harus mempertimbangkan secara terperinci apa otoritas di dalam gereja itu. Kita diberi tahu dengan jelas bahwa gereja adalah Tubuh Kristus dan rumah Allah. Ada otoritas di dalam tubuh kita, dan juga ada otoritas di dalam sebuah rumah, yaitu di dalam satu keluarga. Tanpa otoritas, rumah kita akan kacau. Demikian juga, selama satu tubuh itu hidup dan berdiri, maka ada otoritas di dalamnya, tetapi bila tubuh itu menjadi satu bangkai dan bukan lagi satu tubuh, maka tidak ada otoritas di dalamnya. Selama ada satu tubuh, maka pasti ada otoritas, dan selama kita memiliki satu keluarga, satu rumah, maka pasti juga ada otoritas. Ini mengilustrasikan bahwa di dalam gereja itu benar-benar ada satu otoritas.
Otoritas dari satu tubuh adalah kepala. Ketika seseorang berdiri, apakah tubuhnya yang memikul kepalanya ataukah kepalanya yang menopang tubuhnya? Jika kita memenggal kepala seseorang, maka tubuhnya akan roboh. Tanpa kepala, tubuh tidak bisa berdiri. Kelihatannya, tubuhlah yang memikul kepala, tetapi dalam keadaan yang sebenarnya, kepalalah yang menopang tubuh. Karena itu, kepala adalah otoritas. Kepala gereja adalah Kristus Tuhan, dan otoritas di dalam gereja adalah kekepalaan Kristus. Memang jelas bahwa di dalam gereja harus ada satu susunan, tetapi susunan ini berasal dari kekepalaan Kristus. Kita harus menyadari, menghormati, dan menghargai kekepalaan Tuhan. Jika kita tidak berada di bawah kekepalaan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa benar di dalam susunan gereja. Seringkali, pada tahun-tahun yang lampau, saudara atau saudari datang kepada saya dan mengatakan, ”Saudara Lee, aku tidak bisa berjalan bersama beberapa penatua.” Setiap kali seseorang membawa satu masalah seperti ini kepada saya, saya bertanya kepada mereka, ”Pada saat ini dan mengenai kasus ini, apakah Anda berada di bawah kekepalaan Tuhan?” Tanpa kecuali, orang yang bertanya itu akan mengakui bahwa ia tidak berada di bawah kekepalaan-Nya. Saya menjawab, ”Pertama, Anda harus benar terhadap Tuhan. Tundukkanlah diri Anda sendiri kepada kekepalaan Tuhan, dengan demikian Anda akan menjadi jelas.”
Tidak ada perbedaan di antara kita, karena kita semua adalah ras Adam. Ini bukanlah masalah Timur atau Barat. Ini adalah masalah apakah kita berada di bawah kekepalaan Kristus atau tidak dan apakah kita telah belajar menundukkan diri kita sendiri kepada kekepalaan Tuhan atau tidak. Untuk memelihara susunan yang benar di dalam gereja dan di antara kaum saleh, kita harus berada di bawah jabatan Tuhan dan kekepalaan Tuhan. Otoritas di dalam gereja adalah kekepalaan Tuhan.

1 Kor. 12:24
Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun/membaurkan tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus.

1 Kor. 10:17
Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.

Allah telah membaurkan Tubuh itu bersama-sama (1 Kor. 12:24). Kata membaurkan juga berarti menyesuaikan, mengharmoniskan, melembutkan. Allah telah membaurkan Tubuh, menyesuaikan Tubuh, mengharmoniskan Tubuh. Kata Yunani untuk membaurkan menyiratkan kehilangan perbedaan. Perbedaan seorang saudara mungkin adalah kecepatannya dan yang lainnya mungkin adalah kelambatannya. Tetapi di dalam kehidupan Tubuh, kelambatan itu akan musnah, dan kecepatan itu akan diangkut. Semua perbedaan demikian akan musnah. Allah telah membaurkan semua kaum beriman yang terdiri dari berbagai ras dan warna kulit. Siapakah yang bisa membuat kulit hitam dan putih kehilangan perbedaan mereka? Hanya Allah yang bisa melakukan demikian. Seorang suami dan istri bisa memiliki keharmonisan di dalam kehidupan pernikahan mereka hanya dengan kehilangan perbedaan-perbedaan mereka.

Untuk dibaurkan di dalam kehidupan Tubuh, kita harus pergi melalui salib dan oleh Roh itu, dan menyalurkan Kristus kepada orang lain demi Tubuh Kristus. Para sekerja dan penatua harus belajar disalibkan. Apa saja yang kita lakukan haruslah oleh Roh itu untuk menyalurkan Kristus. Selain itu, apa yang kita lakukan itu tidak boleh untuk kepentingan kita dan menurut selera kita melainkan bagi gereja. Selama kita mempraktekkan poin-poin ini, kita akan memiliki perbauran.
Semua poin ini berarti bahwa kita harus bersekutu. Ketika seorang sekerja melakukan sesuatu, ia harus bersekutu dengan sekerja lainnya. Seorang penatua harus bersekutu dengan para penatua lainnya. Persekutuan akan melembutkan kita; persekutuan akan menyesuaikan; persekutuan akan mengharmoniskan kita; dan persekutuan akan membaurkan kita. Kita harus melupakan tentang apakah kita lambat atau cepat, sebaliknya harus bersekutu dengan orang lain. Kita tidak boleh melakukan sesuatu tanpa bersekutu dengan kaum saleh lain yang berkoordinasi dengan kita. Persekutuan menuntut kita berhenti ketika kita akan melakukan sesuatu. Di dalam koordinasi dalam kehidupan gereja, di dalam pekerjaan, kita semua harus belajar tidak melakukan sesuatu tanpa bersekutu.
Di antara kita, kita harus memiliki perbauran dari semua anggota Tubuh Kristus, perbauran dari semua gereja di dalam distrik-distrik tertentu, perbauran para sekerja, dan perbauran semua penatua. Berbaur berarti bahwa kita harus selalu berhenti, kemudian bersekutu dengan orang lain. Dengan demikian, kita akan menerima banyak keuntungan. Jika kita mengasingkan diri dan memisahkan diri, maka kita akan kehilangan banyak keuntungan rohani. Belajarlah untuk bersekutu. Belajarlah untuk dibaurkan. Mulai dari sekarang dan seterusnya, gereja-gereja harus datang berkumpul secara teratur untuk dibaurkan. Kita mungkin tidak terbiasa, tetapi setelah kita mulai mempraktekkan perbauran ini beberapa kali, kita akan memperoleh selera untuk hal ini. Ini adalah hal yang paling membantu di dalam memelihara keesaan Tubuh Kristus yang universal. Hari ini, sangat mudah bagi kita untuk berbaur satu sama lain karena modernnya zaman ini dengan peralatannya yang modern.
Ketika kita dibaurkan, maka kita akan memiliki salib dan Roh itu. Tanpa salib dan Roh itu, yang kita miliki hanyalah daging dengan perpecahan. Di dalam diri kita sendiri, kita tidak mudah untuk disalibkan dan melakukan segala sesuatu oleh Roh itu. Inilah sebabnya mengapa kita harus belajar untuk dibaurkan. Perbauran menuntut kita untuk disalibkan...dan dipimpin oleh Roh itu untuk menyalurkan Kristus dan melakukan segala sesuatu demi Tubuh-Nya.
Kita bisa saja datang berkumpul bersama tanpa banyak perbauran karena setiap orang tinggal di dalam diri mereka sendiri. Mereka takut melukai orang lain dan membuat kesalahan, sehingga mereka diam saja. Ini adalah cara manusia menurut daging. Ketika kita datang berkumpul bersama, kita harus mengalami pengakhiran oleh salib. Kemudian kita harus belajar bagaimana mengikuti Roh itu, bagaimana menyalurkan Kristus, dan bagaimana mengatakan dan melakukan sesuatu demi keuntungan Tubuh. Itu akan mengubah seluruh atmosfir sidang dan akan melembutkan atmosfir itu. Perbauran bukanlah masalah diam atau banyak bicara melainkan masalah dilembutkan. Akhirnya, perbedaan-perbedaan itu semuanya akan musnah. Perbauran berarti kehilangan perbedaan-perbedaan. Kita semua harus membayar harga untuk mempraktekkan perbauran ini.

Im. 2:4
Apabila engkau hendak mempersembahkan persembahan berupa korban sajian dari apa yang dibakar di dalam pembakaran roti, haruslah itu dari tepung yang terbaik, berupa roti bundar yang tidak beragi, yang diolah dengan minyak, atau roti tipis yang tidak beragi, yang diolesi dengan minyak.

1 Kor. 10:17
Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.

Di dalam Alkitab, pemikiran tentang perbauran ini sangat kuat. Di dalam Perjanjian Lama, ada satu lambang tentang perbauran bagi penggenapan ekonomi Allah. Namun, jika kita membaca Perjanjian Lama hanya secara hurufiah, maka kita tidak akan bisa melihatnya. Lambang tentang perbauran ini dengan tegas diacukan oleh rasul Paulus. Di dalam 1 Korintus 10:17, Paulus mengatakan, ”Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” Pemikiran Paulus tentang gereja adalah satu roti ini bukanlah penemuannya sendiri, melainkan ini diambil dari Perjanjian Lama. Korban sajian di dalam Imamat 2:4 terdiri dari kue yang terbuat dari tepung halus yang dibaurkan dengan minyak. Setiap bagian dari tepung itu dicampurkan atau dibaurkan dengan minyak. Itulah perbauran. Paulus memberi tahu kita bahwa gereja adalah satu roti, satu kue (roti bundar), yang terbuat dari tepung halus. Tepung halus ini berasal dari butiran-butiran gandum, dan butiran-butiran gandum ini berasal dari satu biji gandum yang adalah Kristus. Yohanes 12:24 mengatakan bahwa Kristus adalah sebutir biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati dan bertumbuh dalam kebangkitan untuk menghasilkan banyak butir, yang adalah kita, kaum beriman-Nya. Kita adalah banyak butir ini supaya kita bisa digiling menjadi tepung halus untuk membuat kue, roti gereja. Di sini kita bisa melihat pemikiran tentang perbauran di dalam Alkitab.

Kemudian di dalam 1 Korintus 12:24, Paulus menulis, ”Allah telah menyusun/membaurkan tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus.” Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa Allah telah membaurkan semua kaum beriman bersama-sama. Tetapi di manakah perbauran di dalam pemulihan ini? Kita mungkin mengira bahwa koordinasi di dalam gereja adalah realitas dari perbauran. Namun, saya harus memberi tahu Anda bahwa koordinasi di dalam gereja pun bukanlah realitas dari Tubuh Kristus. Pada poin ini, Anda mungkin membayangkan apa realitas dari Tubuh Kristus itu. Inilah sebabnya mengapa kita perlu mendirikan satu “universitas” atau satu “kejuruan” supaya kita bisa melanjutkan dari “smu” untuk mencapai puncak yang tertinggi, realitas Tubuh Kristus.
Menurut Efesus 1:22-23, sasaran dari ekonomi Allah adalah gereja, yang adalah Tubuh Kristus. Ada beberapa yang mengatakan bahwa karena gereja adalah Tubuh Kristus, dan karena kita ada di dalam gereja, maka kita juga harus berada di dalam Tubuh. Secara doktrin, mereka itu benar, tetapi secara praktis tidak benar. Kita mungkin membicarakan banyak hal tentang Tubuh Kristus, tetapi jika ktia ditanya apa Tubuh Kristus itu, kita mungkin hanya menjawab bahwa Tubuh Kristus adalah gereja. Kita ada di dalam gereja; itu adalah satu fakta. Tetapi di manakah realitas dari Tubuh Kristus ini? Kita memiliki istilah Tubuh Kristus dan kita memiliki doktrin tentang Tubuh Kristus, tetapi di manakah kepraktisan dan realitas dari Tubuh Kristus ini? Pernahkah Anda menjamah kepraktisan dari Tubuh Kristus ini? Pernahkah Anda berada di dalam realitas dari Tubuh Kristus ini.
Kita semua perlu mempertimbangkan perkara ini. Kita memiliki istilah dan kita memiliki doktrin, tetapi secara praktis, kita tidak memiliki realitas. Tujuan perbauran ini adalah membawa kita masuk ke dalam semua realitas dari Tubuh Kristus. Saya memustikakan gereja-gereja lokal, demikian juga dengan Anda. Tetapi saya memustikakan gereja-gereja lokal karena satu tujuan. Gereja-gereja lokal adalah prosedur untuk membawa saya masuk ke dalam Tubuh Kristus. Gereja-gereja adalah Tubuh, tetapi gereja-gereja mungkin tidak memiliki realitas dari Tubuh Kristus. Jadi, kita perlu berada di dalam gereja-gereja lokal supaya kita bisa dibawa masuk ke dalam realitas dari Tubuh Kristus. (The Practical Points concerning Blending, hal. 10, 19)
Perbauran yang demikian ini bukanlah sosial, melainkan perbauran dari Kristus yang yang dinikmati, dialami oleh anggota-anggota secara individu, gereja-gereja distrik, para sekerja, dan para penatua.
Perbauran adalah bagi pembangunan Tubuh universal Kristus (Ef. 1:23) untuk merampungkan Yerusalem Baru (Why. 21:2) sebagai sasaran akhir dari ekonomi Allah menurut kerelaan kehendak-Nya

Rm. 16:3, 5
Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka.

Rm. 16:25
Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, --menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya.
Rm. 16:27
Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

Kita harus mengikuti jejak rasul. Ia membawa kita ke dalam kehidupan perbauran dari seluruh Tubuh Kristus melalui pujian dan salam agar Allah damai sejahtera menghancurkan Satan di bawah kaki kita dan agar kita bisa menikmati kasih karunia Kristus yang kaya (ay. 1-16, 21-24, 20). Di dalam Roma 16, rasul Paulus memberikan salam kepada orang-orang kudus, satu demi satu, dengan sedikitnya menyebutkan dua puluh tujuh nama, termasuk Febe, seorang diakonia dari gereja di Kengkrea, dan Priska serta Akwila. Selain itu, ia memberi salam kepada kaum saleh secara umum. Ini menunjukkan kepada kita bahwa ia memiliki banyak pengenalan, pemahaman, dan perhatian terhadap setiap orang dari mereka. Pujian dan salam demikian ini menunjukkan adanya saling memperhatikan di antara kaum saleh dan saling bersekutu di antara gereja-gereja. Oleh persekutuan gereja-gereja di dalam Tubuhlah bahwa Allah damai sejahtera akan menghancurkan Satan di bawah kaki kita dan kita akan dapat menikmati kasih karunia Kristus yang kaya. Kasih karunia ini adalah manifestasi dari Allah Tritunggal dalam perwujudan-Nya di dalam tiga aspek—Bapa, Putra, dan Roh itu.

Melalui persekutuan di dalam Tubuh, penghancuran atas Satan, dan kenikmatan terhadap kasih karunialah, kita bisa melaksanakan misteri/rahasia yang didiamkan selama berabad-abad mengenai keselamatan lengkap Allah di dalam penggenapan ekonomi kekal Allah bagi orang-orang bukan Yahudi untuk memiliki ketaatan kepada iman kepada kemuliaan bagi satu-satunya Allah yang berhikmat melalui Yesus Kristus (ay. 25-27)
Kita harus memiliki realitas dari persekutuan dan perbauran Tubuh Kristus. Jika tidak demikian, tidak peduli betapa banyaknya kita menuntut dan betapa sederhana dan rendah hatinya kita, lambat atau cepat, akan ada masalah, bahkan perpecahan-perpecahan di antara kita. Karena itu, kita harus dikendalikan oleh visi tentang Tubuh dan mengikut jejak rasul dengan membawa semua kaum saleh di semua gereja ke dalam kehidupan perbauran dari seluruh Tubuh Kristus. Ini adalah memerintah di dalam hayat dan dengan memerintah di dalam hayat secara demikianlah, kita akan memberikan kemuliaan kepada Allah. Kemuliaan ini adalah Yerusalem Baru, inkorporasi universal dari persatuan dan perbauran keilahian dengan keinsanian, yang di dalamnya, Allah akan dimuliakan sepenuhnya dan ekonomi-Nya akan digenapkan seluruhnya.
Di dalam kesimpulannya, kitab Roma, yang memberikan satu diskusi yang bersifat umum tentang kehidupan orang Kristen ini, memberikan kemuliaan kepada Allah yang berhikmat. Ini menyingkapkan bahwa semua perkara yang didiskusikan di dalam kitab ini, direncanakan, dikelola, dan digenapkan oleh hikmat Allah, supaya Dia, Allah Tritunggal yang kaya yang tidak terukur ini, bisa dimuliakan, yaitu agar kemuliaan-Nya yang tiada bandingnya bisa diekspresikan sepenuhnya dan seluruhnya melalui kita yang telah disempurnakan oleh Dia secara kekal, dan yang telah menjadi Tubuh-Nya dan telah diikatkan kepada-Nya menjadi satu. Fokus dari hikmat Allah adalah pekerjaan dari Trinitas Ilahi-Nya ke dalam tiga bagian—roh, jiwa, dan tubuh—dari diri kita yang telah ditebus agar di dalam penebusan, pengudusan, dan transformasi-Nya, kita bisa memiliki satu persatuan yang utuh di dalam hayat ilahi dengan Dia sehingga kedambaan-Nya akan perbauran keilahian dan keinsanian, pengikatan keinsanian kepada keilahian, bisa digenapkan di dalam kekekalan. Ini benar-benar layak untuk kita apresiasi dan kita sembah! Ini layak untuk kita nyanyikan dan kita puji dengan tak henti-hentinya di dalam kekekalan! Kita harus memiliki hal ini sebagai pusat dan tujuan dari kehidupan Kristiani kita dan kehidupan gereja kita. Kiranya kita semua yang telah dipilih dan disempurnakan oleh-Nya, sepenuhnya mengalami penyelamatan-Nya yang organik dan memerintah di dalam hayat-Nya untuk menjadi ekspresi-Nya yang rampung di dalam kekekalan.

Rm. 15:16
Yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus.

Rm. 12:1
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Paulus menjadi seorang imam injil Allah [Rm. 15:16] untuk meministrikan Kristus kepada orang-orang bukan Yahudi adalah satu pelayanan imamat kepada Allah, dan orang-orang bukan Yahudi yang ia peroleh melalui pemberitaan injilnya ini adalah satu persembahan yang disajikan kepada Allah. Melalui pelayanan imamat ini, banyak orang bukan Yahudi, yang najis dan tercemar, dikuduskan di dalam Roh Kudus dan menjadi satu kurban persembahan yang demikian, yang berkenan kepada Allah. Mereka disisihkan dari hal-hal yang umum dan dijenuhi dengan sifat dan elemen Allah, dan dengan demikian dikuduskan baik secara posisi maupun secara watak (lihat catatan kaki dari 6:19). Pengudusan ini terjadi di dalam Roh Kudus, yaitu Roh Kudus berdasarkan penebusan Kristus memperbarui, mengubah, dan memisahkan orang-orang yang dilahirkan kembali melalui percaya ke dalam Kristus.

Di dalam Perjanjian Lama, imam-imam bekerja dan melayani untuk mempersembahkan kurban-kurban dari binatang kepada Allah, tetapi Paulus sebagai seorang imam Perjanjian Baru sibuk di dalam injil Allah.
Perjanjian Baru mengajar kita dengan jelas bahwa semua kaum beriman adalah imam-imam. Kita bukanlah imam-imam yang individu, melainkan kita adalah imam-imam di dalam satu korporasi untuk menjadi satu imamat. Ini adalah pengajaran Perjanjian Baru yang dilihat oleh Kaum Persaudaraan. Dari permulaan pemulihan Tuhan di antara kita, kita juga telah melihat kebenaran mengenai keimaman ini, tetapi baik kita maupun Kaum Persaudaraan tidak menunjukkan bahwa keimaman di dalam Perjanjian Baru adalah keimaman injil. …Menurut Roma 15:16, kita adalah imam-imam injil Allah. Kita semua perlu mengumumkan, “Aku adalah seorang imam injil Allah!”
Perjanjian Lama mewahyukan bahwa seorang imam harus menjadi seorang yang mengemban gambar Allah, mengekspresikan Allah, memiliki kuasa Allah, mewakili Allah, dan melatih rohnya untuk mengontaki Allah, untuk menerima Allah sebagai hayatnya, supaya ia bisa memperhidupkan Allah. Seorang imam juga mempersembahkan kurban-kurban persembahan yang melambangkan Kristus kepada Allah bagi kepuasan Allah. Seorang imam adalah seorang yang meministrikan Allah, membawa Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah. Karena itu, ia harus menjadi seorang yang sangat dekat dengan Allah, yaitu bersatu dengan Allah. Ia mengenal hati Allah, dan ia membicarakan kehendak Allah, jalan Allah, dan rencana Allah. Orang yang demikian adalah seorang imam yang melakukan pelayanan keimaman di dalam imamat Perjanjian Lama.
Di dalam Perjanjian Baru, ada lebih banyak butir yang ditambahkan kepada imamat ini. Seorang imam Perjanjian Baru haruslah seorang yang memperhidupkan Kristus di dalam kematian-Nya, di dalam kebangkitan-Nya, dan di dalam kenaikan-Nya. Di dalam Perjanjian Lama, ada butir-butir yang melambangkan Kristus, tetapi butir-butir itu bukan Kristus di dalam keadaan yang sesungguhnya di dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya. Paulus adalah salah satu teladan dari imam-imam injil Allah Perjanjian Baru. Ia adalah seorang yang mengemban gambar Allah, ekspresi Allah, dan memiliki otoritas Allah, mewakili Allah. Ia adalah seorang yang selalu melatih rohnya. Di dalam Perjanjian Baru, ia mengajar banyak hal mengenai roh insani kita, dan ia memakai rohnya untuk mengontaki Allah, menerima Allah. Ia menikmati Kristus sebagai Roh pemberi hayat di dalam rohnya, dan ia menikmati Kristus sebagai hayatnya. Di dalam Filipi 3, ia mengekspresikan kedambaannya untuk mengenal Kristus dan kuat kuasa kebangkitan-Nya agar ia bisa diserupakan kepada kematian Kristus. Ini menunjukkan kepada kita bahwa seorang imam Perjanjian Baru haruslah seorang yang berada di dalam pengalaman akan kematian Kristus dan di dalam kenikmatan akan kuat kuasa kebangkitan Kristus. Jika kita tidak memiliki semua butir ini, maka kita tidak layak untuk memberitakan injil karena setiap pemberita injil harus menjadi seorang imam. Kita semua harus melihat wahyu ini.

 1 Ptr. 2:5, 9
Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. ... Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.


Imamat kudus ini adalah rumah rohani [1 Ptr. 2:5]. Di dalam Perjanjian Baru ada tiga kata Yunani yang digunakan dalam hubungannya dengan imam: hierosune, mengacu kepada jabatan imamat, seperti dalam Heb_7:12; hierateia, mengacu kepada pelayanan imamat, seperti dalam Heb_7:5; dan hierateuma, mengacu kepada jemaat imam, kumpulan imam, imamat, seperti dalam ayat ini dan ay. 9. Kumpulan imam yang berkoordinasi adalah rumah rohani yang terbangun. Meskipun Petrus tidak menunjukkan kedua suratnya kepada gereja atau memakai istilah gereja sewaktu menekankan kehidupan korporat dari kaum beriman dalam ayat ini, tetapi dia memakai istilah rumah rohani dan imamat kudus untuk menunjukkan kehidupan gereja. Bukan kehidupan rohani individual, melainkan kehidupan rohani korporat yang dapat merampungkan kehendak Allah dan memuaskan hasrat-Nya. Allah mendambakan suatu rumah rohani sebagai tempat kediaman-Nya, suatu kumpulan imam, suatu imamat untuk melayani-Nya. Pandangan Petrus mengenai pelayanan korporat kaum beriman dalam koordinasi, sama dengan pandangan Paulus dalam Rm. 12. Pelayanan ini berasal dari tiga langkah vital dalam kehidupan rohani : dilahirkan kembali (ay. 2a), bertumbuh dalam hayat bersandarkan rawatan Kristus (ay. 2b), dan terbangun bersama kaum beriman.

Persembahan rohani yang dipersembahkan oleh kaum beriman dalam zaman Perjanjian Baru menurut ekonomi Allah adalah : (1) Kristus sebagai realitas segala kurban persembahan dalam Perjanjian Lama, seperti kurban bakaran, kurban sajian, kurban pendamaian (keselamatan), kurban penghapus dosa, dan kurban penebusa salah (Im. 1-5); (2) orang dosa yang beroleh selamat karena pemberitaan Injil kita, dipersembahkan sebagai anggota-anggota Kristus (Rom. 15:16); dan (3) tubuh kita, pujian kita, dan hal-hal yang kita lakukan bagi Allah (Rom. 12:1; Ibr. 13:15-16; Flp. 4:18).
Kita adalah imam-imam Perjanjian Baru, dan imamat ini bukan tersusun dari minoritas kaum saleh sebagai satu kependetaan yang menjadi satu hierarki. Imamat Perjanjian Baru yang sesungguhnya yang diwahyukan kepada kita adalah satu imamat yang universal. Ini berarti setiap kaum saleh, setiap kaum beriman adalah seorang imam. Kita mungkin tahu bahwa kita adalah imam-imam, namun apakah kita tahu apa yang harus kita persembahkan kepada Allah? Seorang imam Allah, seorang yang melayani Allah, melayani Allah dengan sesuatu yang menjamah hati Allah. Di dalam Perjanjian Lama, semua imam mempersembahkan lembu dan kambing yang melambangkan Kristus. Mereka mempersembahkan kurban-kurban ini sebagai satu wangi-wangian yang harum bagi Allah. Inilah yang didambakan hati Allah di dalam Perjanjian Lama. Tidak ada sesuatu yang menyenangkan hati Allah sebanyak lambang-lambang Kristus ini, yang menunjukkan Kristus yang akan datang. Hari ini, di dalam Perjanjian Baru, sebagai imam-imam Perjanjian Baru, apakah yang harus kita lakukan untuk bisa menyenangkan hati Allah?
Dulu, kita menunjukkan bahwa kurban-kurban yang kita persembahkan kepada Allah adalah Kristus sebagai realitas dari semua kurban di dalam lambang-lambang Perjanjian Lama, pujian-pujian kita dan hal-hal yang kita lakukan bagi Allah (Ibr. 13:15-16; Flp. 4:18). …Tuhan telah memberikan kepada kita terang lebih jauh mengenai kurban-kurban rohani yang harus kita persembahkan kepada Allah. …Paulus memberi tahu kita di dalam Roma 15:16 bahwa ia adalah seorang imam injil yang mempersembahkan orang-orang bukan Yahudi yang telah diselamatkan melalui pemberitaannya sebagai kurban-kurban kepada Allah. Ini bukanlah kurban-kurban materi melainkan kurban-kurban yang rohani.
Kurban-kurban rohani yang disinggung di dalam 1 Petrus 2:5 ini adalah hasil dari pengabaran kita, pemberitaan kita. …Ayat 9 memberi tahu kita bahwa kita, imamat ini, harus memberitahukan keselamatan yang telah kita alami. …Dengan pemberitahuan ini, orang-orang dosa diselamatkan, dan kita membuat orang-orang dosa ini menjadi kurban-kurban dan mempersembahkannya kepada Allah sebagai kurban-kurban rohani bagi perkenan-Nya. Ada kurban-kurban rohani yang dipersembahkan kepada Allah karena ada pengabaran, pemberitaan keselamatan ajaib Allah di dalam segala kebajikan-Nya. Sekarang, kita bisa melihat bahwa kurban-kurban rohani ini adalah orang-orang yang telah diselamatkan oleh keselamatan ajaib Allah melalui kebajikan-kebajikan-Nya.

Why. 1:5-6
…Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya-- dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya,…

Why. 2:6
Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.

Bahasa Yunaninya tersusun dari dua kata, yang pertama berarti menaklukkan atau mengalahkan, dan yang kedua berarti rakyat jelata, masyarakat umum, kaum awam. Sebab itu, pengikut Nikolaus menaklukkan rakyat jelata, mengalahkan kaum awam. Pengikut Nikolaus pasti mengacu kepada sekelompok orang yang menganggap dirinya lebih tinggi daripada kaum beriman pada umumnya. Tidak diragukan lagi, inilah sistem hirarki yang kemudian dianut dan dikukuhkan oleh aliran-aliran kekristenan tertentu. Tuhan membenci pekerjaan dan perilaku pengikut Nikolaus ini, dan kita harus membenci apa yang dibenci oleh Tuhan.
Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki seluruh umat-Nya menjadi imam-imam, yang melayani Allah secara langsung. Dalam Kel. 19:6, Allah menetapkan bani Israel untuk menjadi kerajaan imam. Ini berarti, Allah menghendaki mereka semua menjadi imam. Tetapi, karena mereka menyembah patung anak lembut emas (Kel. 32:1-6), mereka kehilangan jabatan imam; hanya suku Lewi saja, karena kesetiaannya kepada Allah, dipilih menjadi imam Allah menggantikan seluruh bangsa Israel (Kel. 32:25-29; Ul. 33:8-10). Sebab itu, antara Allah dengan bani Israel, timbul kelas perantara. Hal ini menjadi sistem yang kuat dalam agama Yahudi. Dalam Perjanjian Baru, Allah sudah kembali kepada maksud-Nya yang semula menurut ekonomi-Nya, yaitu membuat semua orang beriman dalam Kristus menjadi imam (Why. 1:6; Why. 5:10; 1 Ptr. 2:5, 1 Ptr. 2:9). Tetapi pada akhir gereja mula-mula, bahkan dalam abad pertama, pengikut Nikolaus menyelinap masuk sebagai kelas perantara untuk merusak ekonomi Allah. Berdasarkan sejarah gereja, kelas perantara ini terbentuk menjadi sistem yang diterima dan dipertahankan oleh aliran kekristenan tertentu. Hari ini, dalam aliran kekristenan ada sistem imam, dalam gereja negara ada sistem paderi, dan dalam gereja independen ada sistem pendeta. Semuanya ini adalah kelas perantara, yang merusak jabatan imam segenap kaum beriman. Demikianlah timbul dua macam kelas, yaitu golongan paderi dan golongan awam. Namun dalam kehidupan gereja yang normal, tidak seharusnya ada golongan paderi, juga tidak seharusnya ada golongan awam semua orang beriman seharusnya adalah imam-imam Allah. Karena kelas perantara telah merusak jabatan imam yang merata dalam ekonomi Allah, sebab itu Tuhan membencinya.

Kebenaran mengenai imamat mulai dipulihkan dari tahun 1828 ketika Kaum Persaudaraan dibangkitkan Tuhan di Inggris. Mereka melihat keuniversalan imamat ini. Sebelum waktu itu, para guru Alkitab mengira bahwa imam-imam ini adalah satu tubuh yang khusus yang terdiri dari orang-orang yang spesial. Inilah sebabnya mengapa sistem paderi dan kaum awam itu dibangunkan. Yang disebut kaum beriman pada umumnya itu menjadi kaum awam. …Jadi, dua kelas kaum beriman ini muncul, dan ini membawa anak-anak Tuhan kembali kepada Perjanjian Lama. …Namun, Kaum Persaudaraan Inggris melihat bahwa di dalam Perjanjian Baru, menurut Wahyu 1:5b-6 dan 1 Petrus 2:5 dan 9, setiap kaum beriman adalah seorang imam.
Wahyu 1:5b-6 mengatakan, “…Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya-- dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” …Di dalam ayat-ayat ini “kerajaan” dan “imam-imam” saling bergantian satu sama lain. Karena itu, imam-imam adalah kerajaan. Wahyu 5:9-10 mengatakan bahwa kita telah dibeli bagi Allah oleh darah Kristus dari setiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa, dan kita dijadikan imam-imam bagi Allah kita. Wahyu 20 memberi tahu kita bahwa di dalam milenium, semua pemenang akan menjadi sesama raja dengan Kristus, dan sesama raja dengan Kristus ini akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, yang akan memerintah bersama dengan-Nya selama seribu tahun (ay. 6). Pada akhirnya, semua kaum beriman akan mengambil bagian di dalam imamat ini sampai kekal di dalam Yerusalem Baru, di mana kita akan melayani Dia sebagai imam-imam (22:3). Di dalam Yerusalem Baru, kita juga akan memerintah bersama dengan Kristus di dalam kerajaan (22:5). Imam-imam yang menyusun Yerusalem Baru ini tidak diragukan lagi akan memiliki empat karakteristik manusia di dalam penciptaan Allah akan manusia. Mereka akan menjadi orang-orang yang membawa Allah kepada manusia dan membawa manusia kepada Allah, dan mereka akan mutlak bersatu dengan Allah. Siang dan malam mereka akan menempuh satu penghidupan di dalam kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus. …Seluruh Alkitab membicarakan tentang imamat ini.

1 Ptr. 2:7
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."

Mat. 6:32-33
… Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mazmur 22—24 adalah sekelompok mazmur yang mewahyukan Kristus dari penyaliban-Nya sampai kerajaan-Nya di zaman yang akan datang. Di dalam Mazmur 22, kita melihat kematian Kristus, kebangkitan-Nya, dan banyak saudara-Nya yang dihasilkan di dalam kebangkitan-Nya untuk membentuk gereja-Nya. Mazmur 23 adalah mengenai Kristus sebagai Gembala. Hari ini, Gembala ini ada di dalam kebangkitan. Mazmur 24 adalah mengenai Kristus sebagai Raja yang akan datang di dalam kerajaan Allah. Jadi, di dalam tiga mazmur ini, kita memiliki Kristus yang tersalib, Kristus yang bangkit, Kristus yang menghasilkan gereja, Kristus yang menjadi Gembala dan menggembalakan kawanan domba-Nya, yaitu gereja, dan Kristus yang datang kembali untuk menjadi Raja. (Life-study of the Psalms, hal. 137)
Begitu seseorang diselamatkan, konsepnya terhadap penilaian itu berubah. Ia tidak lagi menghargai apa yang pernah ia hargai sebelumnya dan ia akan memustikakan apa yang pernah ia remehkan sebelumnya. …Alkitab…menunjukkan kepada kita konsep yang tepat tentang penilaian bagi seorang Kristen. Marilah kita mempertimbangkan beberapa contoh untuk membuktikan poin kita.
Mazmur 118:22 mengatakan, “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ini adalah satu perubahan di dalam penilaian. Di mata tukang-tukang bangunan, mereka menolak apa yang mereka anggap sebagai batu yang tidak berguna. Di mata para pemimpin agama Yahudi, Krsitus adalah sesuatu yang berlebih-lebihan dan mereka ingin menyingkirkan Dia. Namun batu yang telah ditolak ini dipilih untuk menjadi batu penjuru bagi keselamatan yang baru didirikan. …Allah memustikakan batu penjuru yang telah ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi dan memakainya bagi pembangunan keselamatan-Nya. Betapa berbedanya dua jenis penilaian ini! …Apa yang sebelumnya tidak bernilai sekarang tak ternilai. Apa yang sebelumnya tidak layak diandalkan sekarang layak diandalkan. Orang lain telah menolak Kristus, tetapi kita memustikakan Dia.

1 Korintus 1:18 mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Salib diremehkan oleh mereka yang akan binasa; salib dianggap sebagai kebodohan oleh mereka. Namun, salib dihargai oleh orang-orang yang diselamatkan dan diterima oleh mereka sebagai kekuatan Allah. Ini membicarakan tentang perubahan yang besar di dalam penilaian akan salib. …Sebelum seseorang diselamatkan, ia menganggap salib itu tidak berguna. Setelah ia diselamatkan, ia melihatnya sebagai kekuatan Allah, yaitu sesuatu yang berharga dan bernilai.
Sebelum seseorang percaya kepada Tuhan (ini terutama benar bagi orang-orang yang miskin), pemikiran-pemikiran sehari-hari yang menggangunya adalah kebutuhan-kebutuhannya sehari-hari. Hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian adalah perhatian yang paling besar di dalam kehidupan manusia. Tidak ada pengecualian bagi orang-orang yang tidak percaya terhadap hal ini. Tetapi begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia berpaling untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya [Mat. 6:32-33]. Sebagai kaum beriman, kita harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu di dalam kehidupan ini yang lebih berharga daripada kerajaan Allah. Matius 13:44 mengatakan bahwa kerajaan surga itu seumpama harta yang tersembunyi di dalam ladang. Ketika seorang menemukannya, ia menyembunyikannya dan dalam sukacitanya ia menjual semua miliknya untuk membeli ladang itu. Ini mengacu kepada Tuhan menemukan harta kerajaan surga dan memberikan diri-Nya sendiri dan segala yang Dia miliki untuk membeli harta itu. Tuhan menganggap kerajaan surga sebagai sesuatu yang berharga.
Sebelum seorang percaya kepada Tuhan, ia mungkin menemukan tidak terlalu sulit untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisiknya setiap hari sekalipun ia mungkin miskin. Karena kehidupannya tidak berhubungan dengan kerajaan Allah, ia bisa berdusta atau berupaya memakai sarana-sarana yang tidak benar lainnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupannya. Setelah ia percaya kepada Tuhan, ia masuk ke dalam satu alam yang baru. Jika ia tetap berdusta untuk mengamankan kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya, ia mungkin menemukan pekerjaannya itu aman, tetapi ia akan kehilangan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Jika ia menolak untuk berdusta, maka ia akan memperolah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sekalipun menderita kerugian dalam pekerjaannya. …Makanan dan pakaian adalah bagi tubuh, tetapi tubuh itu eksis bagi kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Sebagai kaum beriman, kita harus terlebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

1 Ptr. 2:7
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."

Mat. 6:32-33
… Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mazmur 22—24 adalah sekelompok mazmur yang mewahyukan Kristus dari penyaliban-Nya sampai kerajaan-Nya di zaman yang akan datang. Di dalam Mazmur 22, kita melihat kematian Kristus, kebangkitan-Nya, dan banyak saudara-Nya yang dihasilkan di dalam kebangkitan-Nya untuk membentuk gereja-Nya. Mazmur 23 adalah mengenai Kristus sebagai Gembala. Hari ini, Gembala ini ada di dalam kebangkitan. Mazmur 24 adalah mengenai Kristus sebagai Raja yang akan datang di dalam kerajaan Allah. Jadi, di dalam tiga mazmur ini, kita memiliki Kristus yang tersalib, Kristus yang bangkit, Kristus yang menghasilkan gereja, Kristus yang menjadi Gembala dan menggembalakan kawanan domba-Nya, yaitu gereja, dan Kristus yang datang kembali untuk menjadi Raja. (Life-study of the Psalms, hal. 137)
Begitu seseorang diselamatkan, konsepnya terhadap penilaian itu berubah. Ia tidak lagi menghargai apa yang pernah ia hargai sebelumnya dan ia akan memustikakan apa yang pernah ia remehkan sebelumnya. …Alkitab…menunjukkan kepada kita konsep yang tepat tentang penilaian bagi seorang Kristen. Marilah kita mempertimbangkan beberapa contoh untuk membuktikan poin kita.
Mazmur 118:22 mengatakan, “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ini adalah satu perubahan di dalam penilaian. Di mata tukang-tukang bangunan, mereka menolak apa yang mereka anggap sebagai batu yang tidak berguna. Di mata para pemimpin agama Yahudi, Krsitus adalah sesuatu yang berlebih-lebihan dan mereka ingin menyingkirkan Dia. Namun batu yang telah ditolak ini dipilih untuk menjadi batu penjuru bagi keselamatan yang baru didirikan. …Allah memustikakan batu penjuru yang telah ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi dan memakainya bagi pembangunan keselamatan-Nya. Betapa berbedanya dua jenis penilaian ini! …Apa yang sebelumnya tidak bernilai sekarang tak ternilai. Apa yang sebelumnya tidak layak diandalkan sekarang layak diandalkan. Orang lain telah menolak Kristus, tetapi kita memustikakan Dia.

1 Korintus 1:18 mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Salib diremehkan oleh mereka yang akan binasa; salib dianggap sebagai kebodohan oleh mereka. Namun, salib dihargai oleh orang-orang yang diselamatkan dan diterima oleh mereka sebagai kekuatan Allah. Ini membicarakan tentang perubahan yang besar di dalam penilaian akan salib. …Sebelum seseorang diselamatkan, ia menganggap salib itu tidak berguna. Setelah ia diselamatkan, ia melihatnya sebagai kekuatan Allah, yaitu sesuatu yang berharga dan bernilai.
Sebelum seseorang percaya kepada Tuhan (ini terutama benar bagi orang-orang yang miskin), pemikiran-pemikiran sehari-hari yang menggangunya adalah kebutuhan-kebutuhannya sehari-hari. Hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian adalah perhatian yang paling besar di dalam kehidupan manusia. Tidak ada pengecualian bagi orang-orang yang tidak percaya terhadap hal ini. Tetapi begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia berpaling untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya [Mat. 6:32-33]. Sebagai kaum beriman, kita harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu di dalam kehidupan ini yang lebih berharga daripada kerajaan Allah. Matius 13:44 mengatakan bahwa kerajaan surga itu seumpama harta yang tersembunyi di dalam ladang. Ketika seorang menemukannya, ia menyembunyikannya dan dalam sukacitanya ia menjual semua miliknya untuk membeli ladang itu. Ini mengacu kepada Tuhan menemukan harta kerajaan surga dan memberikan diri-Nya sendiri dan segala yang Dia miliki untuk membeli harta itu. Tuhan menganggap kerajaan surga sebagai sesuatu yang berharga.
Sebelum seorang percaya kepada Tuhan, ia mungkin menemukan tidak terlalu sulit untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisiknya setiap hari sekalipun ia mungkin miskin. Karena kehidupannya tidak berhubungan dengan kerajaan Allah, ia bisa berdusta atau berupaya memakai sarana-sarana yang tidak benar lainnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupannya. Setelah ia percaya kepada Tuhan, ia masuk ke dalam satu alam yang baru. Jika ia tetap berdusta untuk mengamankan kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya, ia mungkin menemukan pekerjaannya itu aman, tetapi ia akan kehilangan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Jika ia menolak untuk berdusta, maka ia akan memperolah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sekalipun menderita kerugian dalam pekerjaannya. …Makanan dan pakaian adalah bagi tubuh, tetapi tubuh itu eksis bagi kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Sebagai kaum beriman, kita harus terlebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

1 Ptr. 2:7
Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: "Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan."

Mat. 6:32-33
… Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Mazmur 22—24 adalah sekelompok mazmur yang mewahyukan Kristus dari penyaliban-Nya sampai kerajaan-Nya di zaman yang akan datang. Di dalam Mazmur 22, kita melihat kematian Kristus, kebangkitan-Nya, dan banyak saudara-Nya yang dihasilkan di dalam kebangkitan-Nya untuk membentuk gereja-Nya. Mazmur 23 adalah mengenai Kristus sebagai Gembala. Hari ini, Gembala ini ada di dalam kebangkitan. Mazmur 24 adalah mengenai Kristus sebagai Raja yang akan datang di dalam kerajaan Allah. Jadi, di dalam tiga mazmur ini, kita memiliki Kristus yang tersalib, Kristus yang bangkit, Kristus yang menghasilkan gereja, Kristus yang menjadi Gembala dan menggembalakan kawanan domba-Nya, yaitu gereja, dan Kristus yang datang kembali untuk menjadi Raja. (Life-study of the Psalms, hal. 137)
Begitu seseorang diselamatkan, konsepnya terhadap penilaian itu berubah. Ia tidak lagi menghargai apa yang pernah ia hargai sebelumnya dan ia akan memustikakan apa yang pernah ia remehkan sebelumnya. …Alkitab…menunjukkan kepada kita konsep yang tepat tentang penilaian bagi seorang Kristen. Marilah kita mempertimbangkan beberapa contoh untuk membuktikan poin kita.
Mazmur 118:22 mengatakan, “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Ini adalah satu perubahan di dalam penilaian. Di mata tukang-tukang bangunan, mereka menolak apa yang mereka anggap sebagai batu yang tidak berguna. Di mata para pemimpin agama Yahudi, Krsitus adalah sesuatu yang berlebih-lebihan dan mereka ingin menyingkirkan Dia. Namun batu yang telah ditolak ini dipilih untuk menjadi batu penjuru bagi keselamatan yang baru didirikan. …Allah memustikakan batu penjuru yang telah ditolak oleh para pemimpin agama Yahudi dan memakainya bagi pembangunan keselamatan-Nya. Betapa berbedanya dua jenis penilaian ini! …Apa yang sebelumnya tidak bernilai sekarang tak ternilai. Apa yang sebelumnya tidak layak diandalkan sekarang layak diandalkan. Orang lain telah menolak Kristus, tetapi kita memustikakan Dia.

1 Korintus 1:18 mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. Salib diremehkan oleh mereka yang akan binasa; salib dianggap sebagai kebodohan oleh mereka. Namun, salib dihargai oleh orang-orang yang diselamatkan dan diterima oleh mereka sebagai kekuatan Allah. Ini membicarakan tentang perubahan yang besar di dalam penilaian akan salib. …Sebelum seseorang diselamatkan, ia menganggap salib itu tidak berguna. Setelah ia diselamatkan, ia melihatnya sebagai kekuatan Allah, yaitu sesuatu yang berharga dan bernilai.
Sebelum seseorang percaya kepada Tuhan (ini terutama benar bagi orang-orang yang miskin), pemikiran-pemikiran sehari-hari yang menggangunya adalah kebutuhan-kebutuhannya sehari-hari. Hal-hal yang berhubungan dengan makanan dan pakaian adalah perhatian yang paling besar di dalam kehidupan manusia. Tidak ada pengecualian bagi orang-orang yang tidak percaya terhadap hal ini. Tetapi begitu seseorang percaya kepada Tuhan, ia berpaling untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya [Mat. 6:32-33]. Sebagai kaum beriman, kita harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu di dalam kehidupan ini yang lebih berharga daripada kerajaan Allah. Matius 13:44 mengatakan bahwa kerajaan surga itu seumpama harta yang tersembunyi di dalam ladang. Ketika seorang menemukannya, ia menyembunyikannya dan dalam sukacitanya ia menjual semua miliknya untuk membeli ladang itu. Ini mengacu kepada Tuhan menemukan harta kerajaan surga dan memberikan diri-Nya sendiri dan segala yang Dia miliki untuk membeli harta itu. Tuhan menganggap kerajaan surga sebagai sesuatu yang berharga.
Sebelum seorang percaya kepada Tuhan, ia mungkin menemukan tidak terlalu sulit untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan fisiknya setiap hari sekalipun ia mungkin miskin. Karena kehidupannya tidak berhubungan dengan kerajaan Allah, ia bisa berdusta atau berupaya memakai sarana-sarana yang tidak benar lainnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kehidupannya. Setelah ia percaya kepada Tuhan, ia masuk ke dalam satu alam yang baru. Jika ia tetap berdusta untuk mengamankan kebutuhan-kebutuhan sehari-harinya, ia mungkin menemukan pekerjaannya itu aman, tetapi ia akan kehilangan kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Jika ia menolak untuk berdusta, maka ia akan memperolah kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sekalipun menderita kerugian dalam pekerjaannya. …Makanan dan pakaian adalah bagi tubuh, tetapi tubuh itu eksis bagi kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Sebagai kaum beriman, kita harus terlebih dahulu mencari kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

Mat. 10:37-38
Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

Mat. 16:26
Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?...

Seorang ayah, ibu, istri, dan anak-anak adalah hal-hal yang paling berharga bagi seorang laki-laki. …Bila hal-hal ini tidak dibandingkan dengan Tuhan, maka tidak ada sesuatu yang salah dalam mengasihi mereka. Tetapi bila satu situasi bangkit di mana kita harus memilih di antara keduanya, manakah yang akan kita pilih? Seorang laki-laki selalu memilih apa yang lebih berharga baginya. …Sanak famili kita sendiri itu berharga, tetapi mereka tidak bisa dibandingkan dengan Tuhan. Tuhan kita lebih berharga daripada sanak famili kita yang mana pun.
[Di dalam Matius 16:26] ada satu perbandingan di antara jiwa manusia dan seluruh dunia ini. …Banyak orang melihat kemustikaan dunia ini, tetapi mereka tidak melihat kemustikaan jiwa. Hari ini, Satan sedang berusaha untuk membeli jiwa manusia, tetapi banyak orang menyerahkan jiwa mereka demi kebebasan. Ini disebabkan karena mereka tidak percaya bahwa jiwa mereka itu adalah sesuatu yang bernilai. …Satan menawarkan harga yang tinggi ketika ia membawa Tuhan ke sebuah gunung yang tinggi dan menunjukkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dan kemuliaan mereka. Sebagai pengganti untuk menyembah Allah, Satan akan memberikan semuanya ini kepada Tuhan. Ini adalah satu-satunya kejadian di dalam Alkitab, di mana Satan menawarkan harga yang tinggi untuk jiwa manusia. Tentunya, ia tidak akan berhasil. …Hari ini Satan tidak menawarkan seluruh dunia ini sebagai pengganti bagi jiwa kita. Ia tidak berpikir bahwa nyawa kita itu seharga demikian. Ia memikat kita dengan manfaat-manfaat yang kecil dan keuntungan-keuntungan kecil. …Untuk memelihara kemurnian jiwa kita, kita harus rela meninggalkan segalanya.

Ayub 2:3 dan 10 menunjukkan bagaimana Ayub bisa mempertahankan integritasnya ketika ia pertama kali digoda oleh Satan. Ketika Satan datang kepadanya kali kedua, ia menyerang tubuh Ayub, dan Ayub mulai mengutuki hari kelahirannya. Ia gagal. Ini menunjukan kepada kita bahwa seseorang itu sangat mengasihi tubuhnya. Di dalam Matius 18:8-9, Tuhan menunjukkan kepada kita satu pemecahan dalam hubungannya dengan tubuh. Jika memelihara tubuh itu berarti memelihara dosa, maka kita harus menyadari bahwa lebih baik menanggalkan tubuh ini daripada memberikannya kepada dosa. …Memotong tangan dan mencungkil mata hanyalah ilustrasi. Makna yang sesungguhnya adalah bahwa seseorang harus memotong dosa sekalipun ini berarti menderita banyak kesakitan seperti memotong tangan, kaki, atau mata. Seorang Kristen harus menyadari keseriusan dosa ini. Ia harus membereskan dosa secara drastis seperti memotong bagian-bagian dari tubuhnya. Ini akan memelihara pengudusan dan pemurnian dirinya sendiri.
Para penguasa bangsa Kafir memerintah atas mereka, dan para pembesar memakai otoritas atas mereka [Mat. 20:25-27]. Ini adalah sesuatu yang dipraktekkan di antara orang-orang yang tidak percaya. Namun, di antara kaum beriman, praktek ini tidak boleh dibiarkan. Siapa saja yang ingin menjadi yang terbesar harus menjadi seorang pelayan, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama harus menjadi seorang hamba. Ini adalah satu perubahan di dalam penilaian, satu perubahan di dalam pandangan seseorang mengenai kedudukan. …Kita harus memustikakan para pelayan dan hamba-hamba. Konsep tentang penilaian yang Tuhan taruh ke dalam kita adalah penilaian yang meninggikan dan membesarkan orang-orang yang paling banyak melayani.
Paulus juga memiliki satu perubahan di dalam konsepnya tentang penilaian. Apa yang dahulu merupakan keuntungan baginya, ia anggap sebagai kerugian karena Kristus {Flp. 3:7-8]. Mengapa Paulus bisa menolak hal-hal yang merupakan keuntungan baginya? Ia bisa menganggapnya sebagai kerugian karena keunggulan pengenalan akan Kristus Yesus. …Demi Kristus, ia menderita kerugian akan segalanya dan menganggapnya sebagai sampah. Ini adalah semacam perubahan di dalam penilaian yang terjadi kepada seorang Kristen.
[Yeremia 15:19] memberi tahu kita bahwa jika kita mengeluarkan yang berharga dari yang tidak bernilai, maka kita akan menjadi seperti mulut Allah. Jika kita tidak bisa memberitahukan nilai yang tepat dari hal-hal, maka Allah akan menolak kita dan mengesampingkan kita. …Kita harus melihat pentingnya perubahan yang demikian di dalam konsep tentang penilaian. Kiranya Tuhan mengaruniakan kepada kita terang untuk memiliki satu perubahan yang menyeluruh di dalam konsep kita tentang penilaian sehingga kita tahu untuk memilih porsi yang paling unggul.

Mzm. 110:3
Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri pada hari peperangan-Mu di dalam kemegahan konsekrasi mereka; orang-orang mudamu bagimu akan tampil seperti embun dari kandungan fajar. (Tl.)

Mat. 26:12-13
Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.

Secara harfiah, kata-kata Ibrani yang diterjemahkan “merelakan diri” [di dalam Mzm. 110:3] ini berarti “mempersembahkan diri dengan sukarela.” …Kata peperangan menunjukkan bahwa ada beberapa peperangan yang sedang berlangsung. Hari ini masih merupakan satu waktu peperangan karena Kristus masih belum memiliki tumpuan kaki-Nya. Karena itu, ministri ini terkait di dalam satu pergumulan yang konstan. Kita berdiri melawan dan membatalkan setiap jenis dasar yang tidak tepat mengenai gereja, baik itu Katholik maupun Protestan, dan ini menyebabkan penentangan dan peperangan.
Kita diberitahu bahwa pada hari peperangan-Nya, umat Kristus akan mempersembahkan dirinya dengan sukarela “di dalam kemegahan konsekrasi mereka.” Apakah Anda menyadari bahwa di mata Tuhan konsekrasi kita dengan sukarela, yaitu persembahan diri kita kepada-Nya, merupakan satu kemegahan? Meskipun gereja telah merosot, tetapi di sepanjang abad, telah ada satu garis dari orang-orang yag mempersembahkan diri mereka sendiri dengan sukarela kepada Tuhan di dalam kemegahan, keelokan, konsekrasi mereka. Dengan mempersembahkan segalanya di bumi, ada ribuan orang yang telah mempersembahkan dirinya dengan sukarela kepada Kristus, dan pada kurban persembahan ini ada kemegahan konsekrasi. John Nelson Darby adalah seorang yang demikian. Darby hidup sampai usia delapan puluh empat tahun, dan karena kasihnya terhadap Kristus, ia tidak pernah menikah. Pada satu hari, dalam usianya yang telah lanjut, ia tinggal sendirian di sebuah hotel, dan ia mengatakan, “Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi Engkau.” Tidak diragukan lagi, Darby adalah satu kurban persembahan dengan sukarela bagi Tuhan di dalam kemegahan konsekrasi.

Selain memakai kata “kemegahan” beberapa versi lainnya memakai kata “berhiaskan.” Kemegahan konsekrasi adalah satu perhiasan. Kita perlu dihias dengan mempersembahkan diri kita sendiri dengan sukarela kepada Tuhan. Jika kita berbuat demikian, kita akan didandani dengan satu kemegahan yang ilahi dan surgawi.
“Orang-orang muda-Mu bagi-Mu akan tampil seperti embun dari kandungan fajar” (Mzm. 110:3b). Ini menunjukkan bahwa, di satu pihak, Kristus ingin melihat kemegahan konsekrasi kita; di lain pihak, Dia mendambakan embun yang berasal dari kandungan fajar. Kristus menikmati dalam melihat kemegahan dari orang-orang yang mempersembahkan diri mereka kepada-Nya, tetapi lebih penting lagi, Dia masih memerlukan beberapa embun untuk menyirami Dia. Kristus pun memerlukan penyiraman. Dia memerlukan kita menjadi embun yang menyirami Dia.
Menurut puisi/mazmur di sini, embun ini berasal dari “kandungan fajar.” Kita perlu masuk ke dalam kandungan/rahim ini untuk dikandung sebagai embun yang dengannya kita menyirami Kristus. Saya percaya bahwa ini melibatkan waktu penyegaran pagi. Jika kita tidak bangun pagi di pagi hari, kita akan kehilangan kesempatan untuk masuk ke dalam kandungan fajar untuk dijadikan embun untuk menyirami Kristus. Bukannya disirami, Dia malah akan menjadi kering, dan kita juga akan menjadi kering. Saya harap agar kita semua, terutama orang-orang muda, akan melihat bahwa di sini Kristus menyerupakan diri-Nya sendiri dengan sebuah tanaman yang memerlukan embun yang lembut, lunak, dan halus. Kiranya kita memberi respon kepada-Nya dengan mengatakan, “Tuhan Yesus, aku ingin menjadi embun yang dikandung dan dihasilkan dari kandungan fajar untuk menyirami diri-Mu.”
“Dari sungai di tepi jalan ia minum, oleh sebab itu ia mengangkat kepala” (Mzm. 110:7). Ketika Kristus berperang, Dia akan haus. Karena memerlukan air untuk diminum, Dia akan minum dari “sungai di tepi jalan.” Sungai ini adalah para pemenang. Orang-orang yang mempersembahkan diri mereka sendiri di dalam kemegahan konsekrasi ini adalah embun pagi untuk menyirami Kristus dan para pemenang adalah sungai untuk meleraikan dahaga-Nya. Ketika Kristus mengambil pimpinan untuk berperang sampai akhir, Dia akan memerlukan air untuk diminum, dan air ini adalah para pemenang. Saya percaya bahwa penafsiran ini tepat karena ini sesuai dengan pengajaran Perjanjian Baru.

                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar