Selasa, 23 November 2010

Iman

2 Petrus 1:1
"Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang memperoleh bagian iman (allotted faith) yang sama berharganya …. (TL)"

Ibrani 11:1 memberikan definisi iman, "Iman adalah dasar (substansiasi) dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." Kata "substansi" mudah dipahami. Misalnya, substansi meja kayu adalah kayu; dan substansi lempengan logam adalah besi. Sedangkan arti kata "substansiasi" adalah "kesanggupan untuk memahami substansi". Misalnya, bila Anda melihat sebuah meja kayu, Anda segera tahu bahwa substansinya adalah dari kayu. Kemampuan ini, kesanggupan ini, adalah substansiasi (substantiating).
Semua unsur dalam dunia materi ini nyata, demikian pula semua perkara dalam dunia rohani. Namun Anda memerlukan satu "organ" untuk dapat melihat dan mendengar hal-hal rohani. Apakah "organ" itu? "Organ" itu adalah iman!
Iman adalah satu organ yang sangat penting, seperti halnya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium. Iman adalah organ untuk mensubstansiasi segala perkara rohani ke dalam kita.
Tanpa iman, segala perkara rohani akan seperti tidak ada bagi kita. Tanpa iman, semua perkara rohani menjadi tidak masuk akal dan hanya berupa khayalan bagi kita. Alangkah pentingnya iman. Dengan iman inilah kita dapat menerima semua fakta-fakta dalam Alkitab. Itulah sebabnya iman berbeda dengan persetujuan yang merupakan hasil pemikiran. Puji Tuhan, Ia telah memberikan kepada kita bagian iman yang begitu limpah.

Substansiasi
Ibr. 11:1

Dunia di sekitar kita terdiri dari miliaran obyek dengan berbagai warna dan bentuk. Di dalam tubuh manusia kita, juga ada berbagai obyek dan benda yang tersusun menjadi suatu dunia tersendiri. Dunia yang di luar kita sering berkontak dengan dunia yang di dalam kita. Alat penengah yang menghubungkan kedua dunia itu pada pokoknya dikenal sebagai pancaindera. Kalau seseorang telah kehilangan fungsi pancainderanya, ia akan sangat sulit menyalurkan apa yang ada di dunia luar itu ke dalam dirinya.
Dalam dunia ini ada berbagai macam warna. Tetapi kalau seseorang tidak memiliki mata, maka berbagai macam warna itu tidak dapat masuk ke dalam dirinya, dan ia tidak akan memahami keindahan semuanya itu, karena ia tidak memiliki kemampuan untuk mensubstansiasi warna-warna itu. Di samping itu, ada hal-hal yang perlu kita dengar. Melalui mendengar, hal-hal itu baru dapat masuk ke dalam kita. Kalau kita tidak memiliki telinga, kita tidak akan memiliki hubungan dengan suara. Ada juga hal-hal yang memerlukan alat pengecap kita, ada pula yang memerlukan alat penciuman kita. Fungsi pancaindera kita adalah mengalihkan semua hal obyektif itu ke dalam diri kita supaya menjadi pengalaman subyektif kita. Kalau kita tidak memiliki pancaindera, obyek-obyek luaran itu tetap akan di luar kita, mereka tidak dapat masuk ke dalam kita. Antara yang di dalam dan yang di luar selamanya akan terpisah. Yang dilakukan oleh pancaindera kita adalah pekerjaan substansiasi (substantiating).
Saudara saudari, apakah perkara-perkara rohani itu ada? Kita tidak dapat memastikannya dengan pancaindera kita! Terhadap perkara rohani, pancaindera kita sama sekali tidak berguna. Terhadap perkara rohani, mata kita seperti buta, telinga kita seperti tuli, hidung kita seperti buntu, lidah kita tawar, semua indera kita tumpul. Kalau hanya mengandalkan pancaindera, Anda pasti berkesimpulan tidak ada Allah, tidak ada satu perkara pun yang disebut perkara rohani. Sebenarnya, bukannya tidak ada substansi, melainkan tidak ada kemampuan mensubstansiasi. Itulah sebabnya kita harus bersyukur untuk bagian iman kita. Tanpa organ ini, segala perkara rohani gelap bagi kita. Haleluya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar