Minggu, 21 November 2010

Komentar Kurang Ajar dalam Diskusi Agama!

Apakah anda sering terjebak masuk lingkaran setan perdebatan panas setiap berdiskusi tentang agama? Hingga adrenalin anda berlari kencang naik sampai ke ubun-ubun? Hingga akhirnya terjadi saling hujat dan saling caci maki?

Tulisan ini lahir dari pengalaman saya selama menulis. Memang saya akui bahwa tulisan atau pemikiran saya tidak lazim atau tidak mainstream. Tapi saya menganggap itu juga sebuah kebebasan dalam berekspresi dan berpendapat. Dan dibalik semua itu jujur saya berharap respon yang muncul adalah juga berupa gagasan. Setajam apapun sebuah kritik, tetaplah menarik dan sangat saya hargai bila itu tetap dalam bingkai sebuah diskusi. Justru sebaliknya yang melarang mengkritiklah itulah yang saya tidak simpati.

Tapi apa yang terjadi?
Dalam pengamatan saya, belum seberapa yang memahami apa artinya sebuah diskusi.
Dan seperti apa komentar yang tergolong diskusi.

Jika anda ingin tahu apa definisi dan segala hal tentang diskusi, silahkan anda terbang kesana kemari mencari sendiri sumbernya (nanti ongkosnya saya ganti). Karena di sini saya hanya ingin menyatakan kategori diskusi dalam konteks menulis komentar dalam forum online.

Bagi saya rumusnya sangat sederhana. Komentar yang tergolong diskusi adalah komentar yang membicarakan GAGASAN. Karena itu yang ditulis adalah ARGUMENTASI. Bukan KLAIM apalagi ungkapan EMOSI. Atau pun melontarkan pertanyaan yang memang benar-benar ingin bertanya. Bukan PURA-PURA bertanya untuk menguji kekuatan lawan diskusi. Nah sekarang mari kita lihat beberapa contoh:

KOMENTAR DISKUSI

1. Berupa sharing gagasan
  • Hmm…. Menarik sekali. Saya sendiri juga mellihat hal yang sama. Banyak umat beragama lebih mementingkan hal-hal yang bersifat zahir seremonial ketimbang makna dari ritual keagamaannya.
  • Agama bukanlah tujuan. Tapi adalah sarana untuk menyembah Tuhan. Sarana yang tidak boleh dilebih-lebihkan selain keagungan Tuhan sendiri.
2. Berupa pertanyaan
  • Saya setuju bahwa agama itu pada hakikatnya baik. Tapi bagaimana anda melihat adanya perang atas nama agama? Terima kasih.
  • Okey saya setuju sekali. Tapi saya ingin tanggapan anda tentang pemaksaan dari agama tertentu di suatu daerah. Menurut pengatamatan anda itu penyebabnya apa?
KOMENTAR BUKAN DISKUSI

1. Berupa klaim kebenaran (pembenaran)
  • Adanya Tuhan itu tidak terbantah. Sudah nyata-nyata ditegaskan dalam Alquran.
  • Bagi saya tidak mungkin tidak ada Tuhan. Lihatlah alam yang begitu luar biasa dengan sistemnya yang teratur dan sempurna.
2. Berupa klaim moral
  • Hanya orang-orang yang hatinya sudah tertutup yang tidak mengakui adanya Tuhan.
  • Seandainya tidak ada agama, berarti anda bisa bebas berbuat sesuka hati anda. Karena tidak ada lagi hukum yang mengatur anda. Apakah itu yang anda inginkan? Coba jawab dengan keceradasan otak anda yang jongkok ini.
3. Penilaian tanpa alasan
  • Agama itu jelas harus diamalkan 
  • Tidak mungkin tidak ada Tuhan
  • Ngaur. Cuma neyeleneh
  • Asal tulis
4. Berupa nasehat
  • Sadarlah kita bahwa kita lemah. Tidak mungkin kita manusia yang serba terbatas ini membicarakan tentang Tuhan. Itu adalah Kuasa Dia. Renungkanlah ayat bla bla bla ini… (disertai 1 sampai 3 ayat kitab suci). Semoga kita akan mendapat petunjuk dariNya. Amin.
  • Subhanallah…. Hati-hatilah kalau berbicara agama. Apalagi tentang Tuhan. Dia itu Maha Mengetahui akan segalanya. Saya hanya mengingatkan anda. Apakah sudah cukup ilmu anda untuk membahas masalah ini. Belajarlah dari orang yang tahu. Cukupkanlah ilmu lebih dulu sebelum berani-beraninya mengacak-acak agama dan Tuhan seperti ini. Semoga anda akan mendapat petunjuk dari Tuhan. Amin…

5. Berupa sindiran
  • Hanya orang bodoh yang tidak percaya pada adanya Tuhan
  • Kita memang diberi kebebasan oleh Tuhan untuk beragama atau tidak. Tapi hati orang yang sudah tertutup dan sudah sesat sama saja baginya beragama atau tidak.
  • Tulisan yang menarik tapi sangat menyesatkan untuk diikuti.
6. Berupa pertanyaan yang tidak perlu
  • Anda bicara moral. Apa itu moral? (secara umum semua orang sudah bisa memahami)
  • Anda bilang klaim. Apa itu klaim? (yang bertanya seorang dosen)
7. Berupa serangan terhadap pribadi
  • Hanya orang-orang cengeng yang berpikir seperti ini
  • Anda menulis hal-hal seperti ini karena anda kurang kerjaan
  • Apakah anda masih melakukan sholat dalam kehidupan anda?
  • Hmm … kalau begitu bagi anda tidak masalah isteri anda diperkosa oleh orang lain?
8. Berupa pertanyaan untuk menguji
  • Apa hal ini sudah anda buktikan? Sumbernya dari mana? Datanya mana? Tim pengujinya siapa?
  • Anda katakan “saya tahu”. Pertanyaan saya adalah apakah anda benar-benar “tahu” atau hanya “menduga”?
  • Apakah anda tidak tahu bahwa Nabi Muhammad itu punya kelebihan? (Padahal sudah ada dalam tulisan bahwa Nabi Muhammad menerima wahyu)
  • Pokoknya jawab ya atau tidak? (padahal ia sendiri sudah tahu jawabannya dalam tulisan)
9. Berupa hujatan
  • Lebih baik membaca komik dari pada membaca tulisan yang tidak bermutu seperti ini!
  • Anda benar-benar anjing busuk. Atheis tulen!
  • Ternyata saya baru tahu bahwa anda benar-benar GOBLOK!
10. Main-main dan olok-olok
  • Zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzttttttt… (padahal semuanya diskusi dengan serius)
  • hhhhmmmmmmmmm....?????
  • shy126$#^6 nJHuas......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Nah, lebih kurang itulah beberapa contoh jenis komentar yang tergolong komentar untuk saling berbagi (diskusi) dengan yang tidak. Tapi sejauh yang saya alami, komentar yang terbanyak adalah yang tidak masuk dalam kategori diskusi. Tidak komentar untuk saling berbagi, tidak untuk saling berbagi pengalaman dan pengahayatan.

Adalah sebuah ironi bagi saya untuk menghabiskan waktu untuk menjadi seorang blogger dan Kompasianer jika yang terjadi hanya menulis komentar yang tidak untuk berbagi. Termasuk para peselancar bebas di dunia maya. Atau memang tujuannya memang demikian. Saya tidak tahu. Tapi bagi saya pribadi, semua ini saya lakukan tidak lain adalah untuk belajar. Untuk belajar menulis. Untuk belajar menyampaikan gagasan dengan menarik agar bisa dipahami. Jika toh tulisan saya sulit dipahami saya berharap ada sharing gagasan dan masukan yang jelas dan membangun untuk sama-sama berbenah diri.

Bagi saya menulis apapun topiknya adalah untuk mengasah ketajaman berpikir. Dan karena berhubungan dengan berpikir tentu bukan untuk saling menasehati. Apalagi untuk mencaci maki. Karena saya beranggapan kita semua sudah dewasa dan sudah begitu kenyang mendapat nasehat sejak kecil di mana-mana dalam kehidupan pribadi kita. Apalagi jika nasehat itu adalah nasehat yang sudah klise (maaf). Kadang sentuhan yang bermakna tidak melulu datang dari sebuah nasehat. Tetapi juga bisa dari sebuah gagasan kritis dan perdebatan yang seru tanpa disadari. Kadang justru bisa lebih membakar kesadaran seseorang secara lebih mendasar.

Dan pada akhirnya saya berpendapat, dengan kesadaran berpikir kita bisa terhindar dari berbagai kepercayaan sempalan seperti mitos dan tahyul, dari berbagai benturan emosional dalam berbeda paham soal agama, dari tindakan anarkis dalam memperebutkan Tuhan dan kejayaan agama masing-masing di ruang publik, dengan tiran, dengan buas, dan untuk menghidarkan kita dari propaganda politik, dari hasutan provakator yang akhirnya akan menjadikan kita sebagai tumbal sebuah kepentingan yang tidak kita sadari.

Karena saya meyakini, bahwa pikiran kritis tidaklah mudah dimasuki apalagi ditumbangkan oleh sebuah bujuk rayu dan hasutan murahan yang menyerbu sisi emosi kita. Karena pikiran kritis ibarat benteng dan pilar kejayaan sebuah generasi yang tangguh. Entahlah…

Tapi,
Akhirnya saya sadar….
Bagaimanapun ini tetaplah sebuah keprihatinan saya pribadi,
Yang belum tentu semua orang merasakannya…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar