Minggu, 13 Maret 2011

KITAB WAHYU (Bagian 1): Inilah Wahyu Yesus Kristus

Inilah Wahyu Yesus Kristus
Wahyu 1:1a
"Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya..."
Kalimat ‘Inilah wahyu Yesus Kristus’ menunjukkan dua hal. Pertama, Yesus Kristus sendirilah yang menyingkirkan selubung-selubung yang menutupi kita, agar kita bisa melihat hal-hal yang dibicarakan dalam kitab ini, yaitu hal-hal yang akan digenapkan pada masa yang akan datang. Kedua, kitab ini juga mewahyukan tentang Yesus Kristus sendiri. Sebelum kita mengenal Tuhan seperti yang diwahyukan di pasal satu kitab Wahyu, kita tidak dapat mengerti kejadian yang diwahyukan di pasal-pasal berikutnya.
Tuhan Yesus adalah inti dari firman Allah (Luk. 24:27; Yoh. 5:39). Karena itu, Ia adalah kunci yang luar biasa untuk menyingkapkan firman Allah. Baik secara langsung maupun tidak langsung, seluruh Alkitab membicarakan Dia. Segala sesuatu yang dikatakan Alkitab mengarah kepada Dia dan seputar Dia. Di luar Dia, tidak seorang pun dapat mengerti Alkitab. "Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku" (Ibr. 10:7). Martin Luther pernah berkata, "Hanya ada satu Kitab – Alkitab, dan satu Persona – Yesus Kristus, di dalam dunia." Ia adalah garis besar dan detail dari Alkitab.
Jika kita membaca Alkitab dengan hati yang mencari Kristus, kita akan melihat wajah-Nya dan mendengar suara-Nya dalam setiap halaman. Demikian juga, dalam kitab Wahyu, persona Kristus adalah figur utamanya, dan kemuliaan Kristus adalah subyeknya. Jika kita tidak dapat melihat Kristus dalam kitab Wahyu, apa pun yang kita lihat tidak ada gunanya.

Kristus – Subyek Kitab Wahyu
Why 1:1

Kitab Wahyu membicarakan Kristus dalam hubungannya dengan takhta Allah. Kita tidak cukup hanya mengenal Tuhan sebagai Anak Domba Allah, Juruselamat dunia; kita juga harus mengenal Dia sebagai Raja, bahkan juga sebagai Hakim.
Hari ini, penghakiman-Nya masih bersifat penghakiman imamat, masih mengawasi atau mengatur kita. Pada kedatangan-Nya yang kedua kali, Dia akan menjatuhkan hukuman yang sesungguhnya. Setiap anak Allah, kelak pasti akan berhadapan dengan kedahsyatan dan kekudusan Tuhan. Pada saat itu tidak ada alasan apa pun yang dapat kita pertahankan di hadapan-Nya. Manusia boleh saja memiliki banyak alasan, tetapi di hadapan Tuhan semua alasan akan lenyap, dan semuanya akan seperti Yohanes jatuh tersungkur seolah mati (Why. 1:17). Kebenaran mengenai hal ini haruslah mengendalikan tindak tanduk kita.
Setelah penghakiman-Nya, Kristus akan kembali memiliki bumi dengan sepenuhnya. Dengan demikian, Ia akan menjadi Raja dalam kerajaan-Nya, memerintah atas bumi, atas bangsa-bangsa, bersama kaum beriman pemenang (20:4, 6; 2:26-27).
Akhirnya, kita akan nampak Kristus dalam kekekalan sebagai inti dan universalitas (kesemestaan) dalam Yerusalem Baru (21:9-10, 23). Dalam kekekalan, Kristus akan menjadi segala sesuatu.
Dalam masa hidupnya di bumi, Ia dihina dan direndahkan oleh manusia. Tetapi di kitab Wahyu kita nampak betapa agung dan mulianya Dia! Kita melihat Ia bersatu dengan mempelai perempuan-Nya mengalahkan para penentang-Nya. Lalu para pemenang akan memerintah bersama-Nya selama seribu tahun. Dalam langit dan bumi baru, kita melihat Ia memperhatikan umat-Nya. Tuhan Yesus benar-benar adalah subyek dari kitab Wahyu.
Saudara saudari kalau Tuhan kita adalah subyek yang sedemikian ajaib di dalam Alkitab, kita perlu merenungkan apakah Dia sudah menjadi subyek dalam hidup kita? Apakah Dia telah menjadi utama dalam hidup kita? Oh, kiranya kita terus diingatkan untuk menjadikan Dia sebagai subyek dalam hidup kita baik pribadi, keluarga maupun masyarakat agar kita kelak berani berdiri di hadapan tahta penghakiman-Nya tanpa takut dan gentar.

Penerapan:
Mendalami Kitab Wahyu berarti mendalami Kristus. Alangkah mengecewakan jika kita hanya memperhatikan penghakiman, tanda-tanda, misteri-misteri, tetapi melupakan Kristus, Tuhan kita yang tercinta. Karena itu, siapkan dan fokuskan hati kita untuk lebih mengenal Dia saat membaca Kitab Wahyu.

Pokok Doa:
Ya, Tuhan basuh aku sekali lagi dengan darah-Mu, agar aku tak bersekat dengan-Mu. Bersihkan hatiku dari mencari hal di luar diri-Mu. Tuhan, aku mau Engkau saja. Serahkan pembicaraanku, tindak-tandukku, masa depanku, rencana dan keputusan-keputusanku, agar semuanya berpusat pada Kristus.

Harus Segera TerjadiWahyu 1:1
"… supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi..."

Kata "harus" dalam ayat 1 ini mengandung arti tidak bisa berubah. Sedangkan frase "segera terjadi" berarti tidak dapat ditunda. Tuhan sangat ingin menunjukkan kepada kita ‘apa yang harus segera terjadi’, agar kita berjaga-jaga, namun sayang sekali seringkali kita terlalu ceroboh dan lamban untuk meresponi hal-hal ini.
Frase "harus segera terjadi" sama dengan frase "waktunya sudah dekat" dalam Wahyu 1:3, "Berbahagialah (diberkatilah) ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat." "Waktu" adalah hari kedatangan Tuhan kembali. Ketika hari itu tiba, banyak hal akan terjadi (Why. 11:15-18). Karena "waktunya sudah dekat," mengapa kita tidak segera bersiaga? Mengingat waktunya sudah dekat dan hal ini harus segera terjadi, maka kita semua memiliki tanggung jawab untuk membacakannya, mendengarkan dan menuruti semua perkataan nubuat ini
Yohanes mengatakan "waktunya sudah dekat" pada dua puluh abad yang lalu, namun Tuhan masih belum datang bahkan sampai hari ini. Hal ini bukan karena Dia menunda, tetapi karena kesabaran-Nya menunggu kesiapan kita (2 Ptr. 3:8-9).
Marilah kita mengambil kesempatan untuk berjaga-jaga bagi kedatangan-Nya. Marilah kita mulai berjaga-jaga dari saat ini. Amin.

Waktunya Sudah Dekat
Why. 1:1, 3

Roma 16:20a mengatakan, "Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu." Janji dalam Roma 16 ini serupa dengan yang ada di kitab Wahyu, janji ini belum digenapi. Ketika kita membaca kitab Wahyu, kita melihat bahwa ada hal-hal yang telah digenapi, dan ada yang belum. Lalu kita mulai berpikir, kita akan menunggu sepuluh juta tahun lagi karena masih banyak hal yang belum digenapi oleh Tuhan. Atau kita berpikir karena Tuhan belum datang juga, itu berarti Ia tidak akan datang lagi. Apakah ini bukan pikiran aneh yang berasal dari Satan? Apakah ini tidak mutlak bertentangan dengan perkataan Tuhan: "Aku datang segera"?
Mengapa Tuhan belum juga datang? Hikmat Allah benar-benar terlihat jelas di sini, karena jika Allah memberi tahu hamba-hamba-Nya bahwa akan ada dua puluh abad lagi sebelum Kristus kembali, maka hal itu akan membuat orang-orang menjadi kendur dan tidur. Kita harus ingat bahwa Allah itu panjang sabar, dan bagi-Nya seribu tahun sama dengan dengan satu hari.
Ketika melihat situasi sekarang - situasi gereja dan situasi dunia - kita tidak bisa berkata apa-apa, kecuali mengulangi berkata, "waktunya sudah dekat". Kita seharusnya tahu, bahwa Tuhan Yesus seharusnya bisa datang kembali di zaman Yohanes. Ia tidak perlu menunggu selama dua puluh abad ini dan juga tidak perlu menunggu semua nubuat digenapi. Ini mirip dengan perkataan Tuhan kepada Petrus mengenai Yohanes, "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang" (Yoh. 21:22). Meskipun Tuhan kita sampai hari ini belum datang kembali, kiranya kita bisa berharap seperti Simeon, "Dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan" (Luk. 2:26).
Di akhir kitab Wahyu Tuhan Yesus sendiri berkata, "Lihat, Aku datang segera." Karena perkataan-Nya ini, sebagai orang-orang kudus, pinggang kita harus tetap berikat dan pelita kita harus tetap menyala, kita seharusnya sama seperti orang-orang yang menanti-nantikan tuannya (Luk. 12:35-36). Marilah kita selalu siap sedia untuk kedatangan Tuhan.

Penerapan:
Jika kita membaca Kitab Wahyu dengan penuh perhatian, ayat demi ayat, niscaya kita tidak akan "tertidur". Biasa-biasa saja adalah gejala bahwa kita telah tidur secara rohani.

Pokok Doa:
Ampunilah aku, ya Tuhan, karena perasaanku kurang peka. Mengapa aku kurang merespon firman-Mu. Bangunkan aku kembali, ya Tuhan.


Kepada Hamba-Hamba-NyaWahyu 1:1
"… yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya …."
Dalam kitab ini Allah adalah Allah yang duduk di kursi pemerintahan alam semesta yang sedang memberikan perintah kepada hamba-Nya, Yesus Kristus. Dalam Injil Markus, Dia adalah Anak Allah yang menjadi hamba. Hamba tidak tahu apa yang akan dilakukan tuannya; hamba hanya tahu apa yang dikatakan tuannya kepadanya. Tuhan Yesus adalah seorang manusia dan seorang hamba Allah yang diagungkan oleh Allah. Dia tidak mengagungkan diri-Nya sendiri. Dialah teladan untuk semua hamba-Nya!
Kitab Wahyu ini ditujukan kepada "hamba-hamba" Allah. Karena itu, yang bukan hamba-Nya, pasti tidak akan memahaminya. Orang yang tidak tertebus oleh darah adi-Nya, yang tidak tergerak oleh kasih-Nya, dan yang tidak memperhambakan dirinya kepada Allah, tidak akan dapat memahami kitab ini.
Sebenarnya, kita adalah anak-anak Allah. Kita menjadi anak-anak-Nya bukan karena melayani Dia, melainkan karena percaya kepada Putra tunggal-Nya. Akan tetapi, saudara saudari, sadarlah bahwa melayani Allah dan bekerja bagi-Nya adalah benar-benar tanggung jawab setiap anak Allah. Arti hamba adalah pengakuan atas hak Tuhan yang sah. Dalam text aslinya kata ini seharusnya diterjemahkan sebagai "budak". Paulus (Rm. 1:1), Petrus (2 Ptr. 1:1), Yakobus (Yak. 1:1), dan Yudas (Yud. 1), menyebut diri mereka sebagai budak. Saudara saudari, marilah kita mengikuti jejak mereka mempersembahkan diri kita kepada Tuhan menjadi budak-Nya seumur hidup kita.

Layak Menerima Sebutan Sebagai HambaWhy. 1:1; 1 Kor. 6:20

Kitab ini merupakan kitab untuk hamba-hamba. Tuhan kita tidak menunjukkan diri sebagai Kepala Tubuh kepada murid-murid-Nya, atau sebagai Sahabat mereka untuk memberi tahu mereka apa yang ada di dalam hati-Nya. Sebaliknya, sebagai Tuan, Dia menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya hal-hal "yang harus segera terjadi."
Hal ini berbeda dengan Yohanes 15:15, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba." Dalam Injil Yohanes, tujuan utama Roh Kudus adalah untuk menunjukkan bahwa mereka yang percaya dalam Tuhan Yesus adalah anak-anak Allah. Yohanes 1:12 mengatakan, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Dia berkata, "Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu" (20:17). Tetapi di kitab Wahyu, kita berdiri di atas tumpuan yang berbeda.
Kita telah terjual kepada Tuhan, karena Dia telah membayar lunas kita dengan darah-Nya yang berharga. Karena itu, berdasarkan hak yang sah, kita adalah milik-Nya sampai selama-lamanya dan kita adalah hamba-hamba-Nya.
Sejak hari kita diselamatkan, kita telah menjadi anak-anak Allah secara posisi, dan posisi ini tidak akan pernah berubah. Tetapi, pada saat bersamaan, kita adalah hamba-hamba-Nya untuk melayani Dia dalam pekerjaan-Nya.
Kita melayani bukan karena kita disuruh oleh orang lain, kita melayani karena status kita. Kita adalah hamba-hamba-Nya. Pelayanan seorang hamba seharusnya berdasarkan pada kedudukannya sebagai seorang anak. "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Kor. 5:15).
Saudara saudari, jika kita tidak berdiri di posisi kita sebagai hamba-Nya, kita tidak bisa berharap Allah menunjukkan wahyu kepada kita. Oh, marilah kita bertobat dan kembali pada posisi kita sebagai hamba Allah.

Penerapan:
Seringkah kita menggerutu, berkeluh kesah, kecewa, mengkritik dalam menempuh hidup gereja? Kita sering kehilangan status kita sebagai hamba.
Sebelumnya kita murni, tetapi lama kelamaan kita membanggakan pelayanan kita. Setiap kali kita berbangga hati, setiap kali pula awan gelap melayang di atas kita. Adakah Anda memiliki pengalaman ini?

Pokok Doa:
Tuhan, aku belum mengerti bagaimana menjadi budak-Mu? Sikap dan tindakanku seringkali bukan seperti seorang budak. Belas kasihilah aku dan tolonglah aku agar seumurku dapat tetap menjadi budak cinta-Mu.


Sesama Hamba
Wahyu 1:1b
"...Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes."

Dalam kitab Wahyu, Yohanes bukanlah murid yang seperti dalam kitab Injil, yaitu murid yang dikasihi Yesus, yang bersandar dekat kepada-Nya, yang ada di sebelah kanan-Nya (Yoh. 13:23). Sebaliknya, dia adalah salah seorang dari hamba-Nya. Hal ini menunjukkan tanggung jawab yang luar biasa.
Di akhir kitab Wahyu, kita bisa melihat teladan seorang hamba. Wahyu 22:8-9 mengatakan, "Dan aku, Yohanes, akulah yang telah mendengar dan melihat semuanya itu. Dan setelah aku mendengar dan melihatnya, aku tersungkur di depan kaki malaikat, yang telah menunjukkan semuanya itu kepadaku, untuk menyembahnya. Tetapi ia berkata kepadaku: "Jangan berbuat demikian! Aku adalah hamba, sama seperti engkau dan saudara-saudaramu, para nabi dan semua mereka yang menuruti segala perkataan kitab ini. Sembahlah Allah!" (Why. 22:8-9). Malaikat yang menyampaikan wahyu ini tidak mau menerima penyembahan Yohanes. Dia mengganggap dirinya sebagai sesama hamba. Seorang hamba Allah yang sejati harus meneladani sikap yang dimiliki hamba ini. Keinginan mendapatkan pujian manusia adalah mencuri kemuliaan Allah. Betapa baiknya jika kita menyebabkan orang lain menyembah Allah dan membuat diri kita sendiri tersembunyi.
Jika kita bersikap seperti hamba di atas, Tuhan yang begitu mengasihi kita akan menyingkapkan isi kitab Wahyu ini kepada kita. Kiranya Tuhan membuat kita untuk tidak mengabaikan karunia-Nya ini.

Teladan Hamba
Why 1:1

Perkataan "hamba-hamba-Nya" berarti mengacu kepada semua hamba. Secara luaran dan berdasarkan penilaian yang subyektif, manusia membeda-bedakan status hamba. Pembedaan ini membuat beberapa hamba terlihat sangat rendah keadaannya; yang lain agak lebih mulia. Beberapa hamba sangat kelihatan; yang lain sangat tersembunyi. Puji syukur kepada Tuhan, Dia tidak mempedulikan penilaian orang terhadap kita. Dia hanya peduli bagaimana keadaan kita dalam kedudukan kita sebagai hamba; apakah kita setia atau tidak.
Direndahkan dan diasingkan tidak dapat menghalangi kita untuk memiliki persekutuan dengan Allah dan dengan Anak-Nya. Sebaliknya ditinggikan dan menjadi menonjol, tanpa pengalaman riil yang memadai di hadapan Tuhan, adalah sangat berbahaya. Hanya kemuliaan yang di luar tanpa pengalaman rohani memikul salib, dan mati bersama Tuhan akan menyebabkan kebangkrutan rohani.
Kita perlu memiliki sikap dan kehidupan sebagai hamba Allah seperti dalam syair kidung yang ditulis oleh Watchman Nee :

Mengasihi, tanpa dikasihi, melayani, tanpa diupahi;
Jerih lelah, tanpa orang ingat, menderita tanpa orang lihat.
Tuang arak tanpa meminumnya; pecah roti tanpa memakannya;
Curah hayat biar orang lain bah’gia, lepas nyaman biar orang lain ten’tram.
Tak mengharap rawat simpati, tak mengharap hibur dan puji;
Rela gersang, rela terkucil, rela diam, rela terpencil.
Air mata, darah s’bagai harga mahkota, rela merugi, hidup bagai musafir;
Kar’na saat Kau hidup di bumi, Kau pun menempuh jalan ini.
Dengan girang t’rima s’gala d’rita, agar yang dekat-Mu sentosa.
Koor :
Ku tak tahu b’rapa jauh jalan ini, s’kali tempuh tak mungkin kuulangi;
Biarku b’lajar sempurna s’perti diri-Mu, dihina orang tidak mengeluh.
Mohon di masa prihatin ini, sekalah air mata batini.
B’lajar kenal Kaulah Penghiburku, biar ku jadi berkat s’panjang umur.

Penerapan:
Kadang-kadang kita merasa kecil, tidak berguna; di lain pihak, kadang-kadang kita merasa lebih tinggi dari orang lain. Ketahuilah, kita ini adalah sesama hamba Allah. Allah telah mengatur semua situasi yang terbaik untuk kita masing-masing. Terimalah dan layanilah Dia dengan setia!

Pokok Doa:
Ya, Tuhan, Engkau melayani Allah dengan setia. Engkau tidak mencari perkenan manusia, Engkau juga tidak mencari hibur dan simpati manusia. Ya, Tuhan, aku rindu serupa-Mu.


Kesaksian Yesus Kristus
Wahyu 1:2
"Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian Yesus Kristus (the testimony of Jesus Christ), yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya (TL)."

Kitab Wahyu terlebih dulu mewahyukan Kristus, kemudian mewahyukan kesaksian Yesus, yaitu gereja. Dengan kata lain, kitab ini bersangkut-paut dengan Kristus dan gereja. Dalam kitab Wahyu, Kristus dan gereja diwahyukan secara unik dan khusus. Tanpa mengenal Kristus, tidak mungkin kita dapat mengenal gereja sebagai kesaksian Yesus (1:2, 9; 12:17; 19:10; 20:4).
Dalam kitab Wahyu, gereja disajikan sebagai kaki dian dalam pasal 1; sebagai kumpulan besar orang banyak yang tertebus dalam pasal 7; sebagai perempuan yang terang benderang dan anak laki-laki dalam pasal 12; sebagai tuaian dan buah sulung dalam pasal 14; sebagai para pemenang di atas lautan kaca dalam pasal 15; sebagai pengantin perempuan yang telah siap menikah dan tentara Kristus yang berperang dalam pasal 19; serta sebagai Yerusalem Baru dalam pasal 21 dan 22.
Haleluya! Gereja ialah kesaksian dan ekspresi Kristus. Dengan demikian, gereja adalah reproduksi kesaksian dan ekspresi Allah di dalam Kristus. Hari ini, kita yang berada di dalam gereja, harus benar-benar nampak kemuliaan ini. Oh, saudara saudari betapa mulianya, kita telah ditentukan untuk menjadi kesaksian-Nya di atas bumi. Rasul Yohanes telah melihat fakta ini. Dia telah melihat perampungan akhir gereja yang sangat mulia, yaitu Yerusalem Baru. Dia telah melihat bahwa di hadapan Allah, dalam kekekalan kita sudah sempurna. Saudara saudari kita harus memandang kemuliaan di depan kita, jangan tertipu lagi dengan hal-hal yang lain.

Membaca, Mendengarkan, Menuruti
Why. 1:3

Wahyu 1:3 mengatakan, "Berbaha-gialah (diberkatilah) ia yang membacakan dan mereka yang mendengar-kan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat." Sesudah membaca perkataan ini, siapa yang dapat berkata bahwa kitab ini tidak ada gunanya?
Tuhan sudah mengetahui bahwa para hamba-Nya akan mengabaikan kitab ini, itulah sebabnya sejak awal Dia memberikan janji. Sangat disayangkan banyak orang tidak melihat janji ini. Bukan hanya pada pembukaan kitab terdapat janji, tetapi juga di akhir kitab ini Tuhan berkata, "Lalu Ia berkata kepadaku: "Perkataan-perkataan ini tepat dan benar, dan Tuhan, Allah yang memberi roh kepada para nabi, telah mengutus malaikat-Nya untuk menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Sesungguhnya Aku datang segera. Berbahagialah (Diberkatilah) orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini!" (Why. 22:6-7).
Mereka yang membaca diberkati, lebih-lebih mereka yang mendengar dan menuruti perkataan-perkataan tersebut, tentunya juga akan diberkati. Jadi, tidak ada alasan bagi siapapun, bahkan bagi kaum beriman yang buta huruf sekalipun untuk tidak mendengar dan menuruti.
Selain itu, kita juga harus memandang nubuat-nubuat dalam kitab ini adalah perintah Allah. Meskipun di luarnya mengenakan baju nubuat, tetapi di dalamnya adalah perintah Allah. Jadi kitab ini adalah kitab untuk dipraktekkan bukan kitab teori untuk bahan diskusi teologi semata.
Saudara saudari, meskipun tuntutan kitab ini sangat besar, tetapi berkat-berkat yang dicurahkannya juga besar. Meskipun berdasarkan daging kadang-kadang tampak sulit menurutinya, tetapi bukankah kuk Tuhan itu mudah? Bukankah beban Tuhan itu ringan? (Mat. 11:30). Kita harus sadar bahwa pengorbanan saat ini akan memberikan manfaat yang kekal bagi kita. Bila bagi Tuhan, kita kehilangan semua hal yang tidak Dia perkenan, maka Tuhan akan mengganti semuanya itu dengan segala berkat sorgawi yang tak ternilai.
Apabila kaum saleh pada zaman rasul-rasul memperoleh manfaat dari kitab ini, maka pastilah kitab ini juga memberikan manfaat kepada kita.

Penerapan:
Ketika sudah mencapai sesuatu, kadang-kadang telinga kita sulit untuk mendengar, dan kadang-kadang kita juga tidak mau mengakui bahwa kita telah mendapat bantuan dari orang lain. Kesombongan yang tersembunyi ini akan menghalangi penglihatan rohani kita untuk melihat yang lebih dalam dan lebih bernilai.

Pokok Doa:
Terima kasih atas janji-Mu, Tuhan. Aku mau menjadi orang yang diberkati, aku mau menjadi bagian dari kesaksian-Mu. Karena itu, buatlah aku mendengarkan dan menuruti firman-Mu.


Perlu Membaca Kitab Wahyu (1)
Wahyu 1:3
"Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat."

Banyak orang kristen tidak mau membaca kitab Wahyu. Jika salah seorang dari mereka ditanya, "mengapa Anda tidak membaca kitab Wahyu ?" Jawabannya adalah "Karena aku tidak mengerti." Sebenarnya buku apapun, bila tidak dibaca, tidak akan mungkin bisa mengerti isinya. Sangat tidak masuk akal jika kita ingin mengerti suatu buku tanpa membacanya. Walaupun demikian, itulah yang dilakukan oleh banyak orang Kristen! Sering kita menyerah sebelum mencoba.
Marilah kita berpaling kepada Tuhan, agar Dia memberi kita ketekunan untuk membaca firman-Nya dan tidak menyerah karena kesulitan yang semu.
Kitab Wahyu ini diberikan oleh Allah, dikirimkan oleh Kristus dan disampaikan dengan tanda-tanda oleh malaikat, serta ditulis oleh Yohanes maka kita harus menerimanya. Tuhan kita maha tahu dan maha bijaksana. Dia tahu kita akan kurang memberi perhatian ke buku ini. Itulah sebabnya sejak awal Dia sudah memproklamirkan dengan serius kepada kita betapa pentingnya kitab ini, agar kita dapat menerimanya dengan penuh perhatian.
Kita jangan takut kesulitan, sebab semakin kita membaca, kekuatan untuk bertekun juga semakin meningkat. Karena dari kitab ini, kita dapat melihat bagaimana Anak Domba yang semula menderita di dunia akhirnya mendapatkan kemuliaan; bagaimana akhir dari dunia; dan bagaimana kesudahan Satan. Suatu hari nanti, segala air mata kita akan terseka.

Perlu Membaca Kitab Wahyu (2)
Why. 1:3

Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab, memberi tahu kita bahwa Satan telah dikutuk oleh Allah. Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, membahas bagaimana kelak Satan dikalahkan dan bagaimana Allah melaksanakan penghakiman atasnya. Wajah Satan yang sebenarnya dan nasibnya telah tercatat dalam kedua kitab ini. Karena itulah, Satan sangat membenci kedua kitab ini. Ia menyerang Kitab Kejadian dengan mengatakan bahwa apa yang tertulis di dalamnya tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan dan segala kisah mengenai penciptaan hanyalah dongeng. Terhadap Kitab Wahyu yang menubuatkan nasibnya, ia menyerang dengan cara yang berbeda. Ia meyakinkan kaum beriman bahwa Kitab ini sangat dalam dan susah dimengerti, bahkan ketika seseorang mempelajari atau menyelidikinya, itu pun hanya akan membuang waktu. Demikianlah Satan dengan mudah menutupi nasibnya yang memalukan.
Selain itu, isi kitab ini sama sekali tidak menyenangkan bagi kaum beriman yang duniawi. Kitab ini menyinggung mengenai kemuliaan kerajaan milenium dan kebahagiaan dari kerajaan kekal (20:1-9; 21:1-22:5). Akan ada kemuliaan dan sukacita sejati. Tetapi mereka yang ingin menikmati kemuliaan dan sukacita ini harus "setia sampai mati"; "berpegang teguh sampai Tuhan datang"; "berjaga-jaga"; "bertobat"; "dan "mutlak". Mereka yang akan meraih dunia yang akan datang harus meletakkan dunia yang sekarang ini. Banyak kaum beriman duniawi tidak bisa memisahkan dirinya dari dunia karena mereka telah terlalu lama melekat dengannya. Ketika tiba-tiba mereka harus mengucapkan selamat tinggal, mereka akan mengalami kesulitan menghilangkan rasa ketertarikan terhadap dunia yang ada di hati mereka. Semakin membaca Kitab Wahyu, hati mereka semakin terusik. Itulah sebabnya mereka berhenti membacanya. Alangkah kasihannya jika anak-anak Allah hanya memiliki kitab Wahyu di Alkitab mereka tetapi tidak memilikinya di hati mereka.
Karena saatnya makin dekat, kita semua harus semakin mendengarkan, membaca, dan mempertimbangkan kitab ini. Kitab Wahyu adalah buku yang dibutuhkan pada zaman ini! Kitab Wahyu adalah kebutuhan kita hari ini!

Penerapan:
Siapa pun yang membaca Kitab Wahyu tidak seharusnya menggunakan kemampuan alamiahnya sendiri. Kita harus penuh doa, merendahkan diri, dan mau menerima penerangan Roh Kudus. Ketika terang Roh Kudus datang, kita akan secara otomatis menyadari hal-hal yang tidak dapat kita mengerti selama bertahun-tahun.

Pokok Doa:
Berdoalah agar Bapa mengaruniakan Anda Roh hikmat dan wahyu (Ef.1:17-18) untuk memahami kitab ini. Berdoalah agar Tuhan menyingkapkan segala selubung-selubung pengetahun, konsep alamiah atau pengetahuan usang Anda (2 Kor.3:17)


Kepada Ketujuh Gereja
Wahyu 1:4a
"Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat (gereja) yang di Asia Kecil..."

Yohanes menulis "kepada ketujuh gereja yang di Asia Kecil." Ketujuh gereja ini ada di propinsi Asia. Perlu kita perhatikan bahwa Yohanes tidak menggabungkan ketujuh gereja tersebut dengan satu sebutan "gereja di Asia (the church in Asia)" melainkan "ketujuh gereja-gereja di Asia (the seven churches in Asia)." Mengapa Yohanes menggunakan bentuk kata benda jamak? Ini menunjukkan bahwa semua orang kristen di Asia tidak bergabung menjadi satu gereja, melainkan mereka berkumpul di kota masing-masing sebagai satu gereja. Pada masa itu mungkin diantara ketujuh gereja ini ada persekutuan dan bahkan kerjasama, namun Yohanes memandangnya sebagai gereja-gereja yang berdiri sendiri.
Gereja-gereja yang berada di berbagai kota di Asia tidak bergabung menjadi satu gereja besar di Asia. Mereka mengatur gereja masing-masing sesuai dengan kota mereka. Mereka bertanggung jawab langsung kepada Tuhan.
Meskipun gereja-gereja ini semua ada di Asia, Alkitab membedakan mereka dan menyebut mereka dengan istilah "gereja di Efesus", "gereja di Smirna", "gereja di Pergamus" dan lain-lain. Selain itu, ketika kita membaca ayat 11, kita tidak melihat sebuah nama gereja yang disebutkan. Efesus, Smirna, dan lain-lain adalah nama kota. Roh Kudus hanya mengatakan gereja di kota tertentu, Roh Kudus tidak mengatakan gereja "A" (nama gereja) di "B" (nama kota). Dari sudut pandang Tuhan, anak-anak-Nya tidak dapat dibagi-bagi karena nama-nama gereja. Tuhan menggunakan nama kota sebagai unit gereja untuk menghindarkan perpecahan.

 


Satu Kota Satu GerejaKis. 8:1b; 11:22; 13:1; 1 Kor. 16:1; Gal. 1:2

Kalau kita membaca Kisah Para Rasul, atau membaca kalimat pengantar surat-surat kiriman, kita dapat melihat bagaimana Alkitab menyebut gereja. Di sana disebutkan "gereja di Roma", "gereja di Yerusalem", "gereja di Korintus", "gereja di Filipi", "gereja di Efesus", "gereja di Kolose" dan seterusnya.
Kita dapat melihat, Alkitab memang membeda-bedakan gereja. Tetapi pembedaan itu hanya menurut nama tempat. Selain itu, gereja tidak dapat dibeda-bedakan karena alasan apa pun.
Ukuran gereja haruslah berdasarkan pada kesatuan unit ukuran sebuah kota. Yang lebih kecil daripada kota tidak bisa menjadi tumpuan gereja, yang lebih besar daripada kota juga tidak bisa menjadi tumpuan gereja.
Apa yang dimaksud dengan lebih kecil daripada kota? Satu Korintus pasal satu menunjukkan bahwa hanya ada satu gereja di Korintus. Kalau di antara mereka ada yang berkata, "Aku dari golongan Paulus", yang lain berkata, "Aku dari golongan Apolos", dan yang lain lagi berkata, "Aku dari golongan Kefas", juga ada lagi yang berkata, "Aku dari golongan Kristus", maka gereja akan terbagi menjadi empat bagian; dan setiap bagian akan lebih kecil daripada batas kota. Inilah perpecahan. Perpecahan semacam itu menimbulkan sekte-sekte yang tidak diperkenan Allah.
Namun, gereja juga tidak boleh lebih besar daripada kota. Alkitab memperlihatkan kepada kita, Galatia adalah satu propinsi dengan banyak kota. Karena itu dalam Alkitab dipakai sebutan "gereja-gereja di Galatia".
Selain itu, satu gereja hanya boleh disebut berdasarkan nama tempatnya (kotanya), tidak boleh dengan nama lain. Hal ini sangat jelas terlihat dalam Alkitab. Atas gereja, seharusnya tidak ada nama orang, nama suatu sistem, nama suatu negara, nama asal usul, nama suatu patokan doktrin, dan sebagainya.
Dalam hayat dan persekutuan, gereja-gereja adalah satu, seperti sebuah tubuh, tetapi dalam tanggung jawab dan penampilannya, gereja-gereja dijalankan secara terpisah. Itulah sebabnya, dalam bentuknya, kaki dian itu tidak bergabung menjadi satu tetapi terpisah menjadi tujuh kaki dian.

Penerapan:
Ketika kita bertemu dengan sesama orang Kristen sejati yang lain, bagaimanakah perasaan kita? Apakah kita merasa bahwa mereka bukan dari "golongan" kita? Bagaimanakah perasaan Tuhan melihat kondisi demikian?
Kiranya kita bisa diselamatkan dari perpecahan yang sangat dibenci Tuhan.

Pokok Doa:
Mintalah agar Tuhan memberi Anda pengenalan yang tepat akan gereja sebagai Tubuh Kristus dan tidak tersesatkan oleh praktek-praktek perpecahan yang ada sekarang ini.


Dari Yehovah (1)
Wahyu 1:4b
"...Kasih karunia (anugerah) dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya."

Dalam Kitab Wahyu, kita memiliki wahyu yang lengkap dan paling akhir tentang siapakah Allah itu. Allah itu Tritunggal. Kita semua kenal betul dengan istilah Allah Tritunggal. Hal ini merupakan perkara besar dalam wahyu Allah.
Dia yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang, mengacu kepada Allah Bapa yang kekal, yang adalah sumber segala sesuatu. Tetapi, di sini tidak disebut secara jelas bahwa Dia adalah Bapa, melainkan disebut sebagai Dia yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang. Pasti, hal ini mengandung suatu makna yang perlu kita perhatikan.
"Yang ada, Yang sudah ada, dan Yang akan datang" adalah arti nama Yehovah. Dalam bahasa Ibrani, "Yehovah" berarti "Aku adalah". Ini menyatakan, Ia adalah "Yang ada dari masa kekekalan azali sampai kekekalan abadi". Tidak ada bahasa manusia yang bisa sepenuhnya menyatakan makna sebutan "Aku Adalah" ini.
Ini bukan hanya menunjukkan bahwa Ia itu ada, tetapi dalam pengertian yang positif, menunjukkan bahwa Ia adalah segala sesuatu. Haleluya! Dia adalah. Apa yang kita perlukan? Hayat? Terang? Kekudusan? Kasih? Hiburan? Kekuatan? Kesabaran? Kelemahlembutan? Kerendahan hati? Dia adalah. Anda memiliki Dia, Anda memiliki segalanya.
Saudara saudari apa yang perlu kita kuatirkan lagi, kalau kita sudah memiliki Sang Adalah? Keperluan kita hari ini adalah berpaling dari hal yang lain dan mengalami Dia menjadi realitas segala keperluan kita. Mari kita berpaling!

Dari Yehovah (2)
Why. 1:4

Apa yang dijunjung tinggi oleh Perjanjian Baru adalah Dia yang tidak pernah berubah. Dia tidak berubah di tengah-tengah segala perubahan. Kerajaan-Nya kekal.
Kita adalah orang yang sering berubah. Sewaktu Tuhan menjamah kita. Atau kita mendapatkan terang saat membaca Alkitab, atau ketika kita mendengarkan kotbah dari hamba Tuhan, Tuhan menggugah kasih kita kepada-Nya. Saat itu kita segera tergerak untuk mengasihi dan melayani Dia. Tetapi, tidak berselang lama, kasih kita padam. Dunia menarik hati kita kembali dan kita kembali berdosa. Demikianlah kita terus berubah-ubah. Tetapi, Dia tetap tidak berubah. Haleluya! Kita berubah, tapi Dia tidak berubah!
Dalam kitab Injil dan surat rasuli, Ia adalah Bapa Tuhan Yesus Kristus. Namun di kitab Wahyu Ia tidak menggunakan nama itu lagi, tetapi Ia kembali menggunakan nama yang Ia gunakan untuk mendirikan perjanjian dengan orang Israel di Perjanjian Lama. Sekarang, Allah di dalam Perjanjian Baru menggunakan nama Perjanjian Lama! Penggunaan nama ini menyatakan bahwa Allah itu tidak pernah berubah.
Semoga ketika membaca kitab Wahyu, kita bisa mendapatkan terang. Dalam Wahyu 1:3 Dia menyebut Diri-Nya sebagai "Yang ada, Yang sudah ada, dan Yang akan datang", artinya Allah akan kembali memberi anugerah (kasih karunia) kepada orang-orang Israel.
Saudara saudari, sebelum Ia kembali menggenapkan janji-Nya kepada Israel, Ia harus terlebih dulu menghakimi semua orang yang menyebut diri sebagai gereja. Tuhan sangat tidak puas kepada gereja yang hanya punya nama, namun tanpa realitas rohani. Sebab itu pada kedatangan-Nya kembali, Ia akan memberikan anugerah – bukan hukum Taurat – kepada suku-suku Israel. Karena kematian Kristus, anugerah Allah kembali mengalir kepada orang Israel. Penggunaan nama ini menyatakan hal ini.
Akan tetapi, sekarang Ia masih panjang sabar, dan hari ini anugerah serta damai sejahtera-Nya masih datang kepada kita. Semoga kita tersadar, dan memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita. Semoga di dalam zaman anugerah ini, kita bisa menjadi orang-orang yang setia.

Penerapan:
Seringkali kita banyak memohon ini dan itu karena kita kekurangan pengenalan bahwa Dia-lah Sang "Aku adalah". Kita sering secara tidak sadar memperlakukan Allah seperti pedagang eceran. Kurang kasih, kita minta kasih. Kurang sabar, kita minta kesabaran. Semoga mata kita tercelik! Dia, Sang "Aku Adalah" itu kini sudah berdiam di dalam kita.

Pokok Doa:
Ya Allah Bapa, terpujilah Engkau karena Engkaulah sumber segala sesuatu. Anugerah-Mu dan damai sejahtera-Mu kiranya memenuhi hidupku hari ini. Aku tidak tahu perkara apa, peristiwa, atau situasi apa yang akan terjadi dalam hidupku, namun aku percaya Dikau sang "Aku adalah" selalu menyertaiku di dalam semuanya itu.


Dari Tujuh Roh (1)
Wahyu 1:4b
"...Kasih karunia (anugerah) dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya."
Dalam kitab Wahyu, urutan Allah Tritunggal berbeda dengan yang terdapat dalam Injil Matius. Dalam Matius 28:19, urutan Allah Tritunggal ialah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi dalam Wahyu 1:4-5, urutannya sudah berubah. Tujuh Roh Allah diletakkan pada urutan kedua, bukan urutan ketiga. Ini mewahyukan bahwa ketujuh Roh Allah memiliki peran yang sangat penting.
Tujuh adalah angka lengkap dalam pekerjaan Allah, misalnya Allah menciptakan bumi selama enam hari ditambah satu hari Sabat. Selain itu, ada tujuh zaman dalam Alkitab. Dalam kitab Wahyu terdapat tujuh meterai, tujuh sangkakala, dan tujuh cawan untuk pergerakan Allah menurut zaman. Maka tujuh Roh pasti untuk pergerakan Allah di bumi. Dalam hakiki dan eksistensi-Nya, Roh Allah adalah satu; dalam fungsi untuk pergerakan Allah, Roh Allah adalah tujuh kali lipat. Ini seperti kaki dian dalam Zakharia 4:2, dalam eksistensinya adalah satu kaki dian, tetapi dalam fungsinya adalah tujuh dian.
Ketika Yohanes menulis kitab Wahyu, gereja sudah merosot keadaannya dan zaman pun gelap. Sebab itu, pergerakan dan pekerjaan Allah di bumi memerlukan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali lipat. Tujuh Roh bukan berarti ada tujuh buah Roh, melainkan Roh ini diperkuat tujuh kali lipat. Hari ini, zaman boleh semakin gelap, sehingga kadang-kadang kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, namun di dalam kita ada Tujuh Roh yang memampukan kita menghadapi segala keadaan di zaman ini.

Dari Tujuh Roh (2)
Why. 1:5a

Ketujuh Roh Allah adalah ketujuh mata Anak Domba (5:6; Za. 3:9; 4:10). Mata adalah untuk pergerakan. Jika kita buta, kita sulit bergerak. Dalam pergerakan Allah hari ini, Kristus sebagai Anak Domba Allah mempunyai tujuh mata. Ketujuh mata Anak Domba juga untuk mengamati, melihat, dan menyalurkan. Sewaktu kita memandang seseorang, sesuatu yang berasal dari dalam kita mengalir ke dalamnya. Jika kita memandang orang lain dengan pandangan penuh kasih, kita akan mengalirkan kasih kita ke dalam orang tersebut. Jika kita memandang orang lain dengan pandangan penuh amarah, maka kemarahan akan mengalir ke orang itu. Demikian pula saat Kristus memandang kita dengan ketujuh mata-Nya, maka unsur Kristus akan mengalir ke dalam kita.
Roh Kudus hari ini adalah ketujuh mata Kristus. Banyak orang Kristen mendebat, mengatakan bahwa Roh Kudus Allah terpisah dari Kristus; tetapi Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus adalah mata Kristus. Dengan demikian, mustahil Roh Kudus terpisah dari Kristus.
Jadi, Roh itu, mata Kristus, tidak terpisah dari Kristus. Ia adalah mata Kristus yang memandang kita. Pengalaman kita membuktikan hal ini. Hari demi hari, kita merasakan seseorang memandangi kita. Orang itu adalah Roh itu, yang adalah Kristus itu sendiri.
Kristus kita bukanlah Kristus yang buta. Ia adalah Kristus dengan tujuh mata. Setiap hari Ia menyalurkan diri-Nya ke dalam kita melalui Ia menatap kita. Bukankah kita sering merasakan Ia sedang mengamati kita. Seringkali kita merasakan adanya teguran di hati nurani kita, "Apa yang sedang kaulakukan?"; "Mengapa engkau bertengkar dengan suamimu?"; "Mengapa engkau ke tempat ini? Disini tak cocok untuk orang kristen!"; "Pakaian ini tak cocok untuk anak Allah"; "Jangan melanggar rambu lalulintas." dan lain-lain. Semua perasaan ini muncul dari pengamatan-Nya. Pengamatan ini bukan sekedar menghakimi kita, namun melalui pengamatan ini anugerah disalurkan ke dalam kita. Akhirnya kita bisa taat kepada perasaan itu bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena anugerah-Nya makin berlimpah dalam kita menjadi kekuatan kita. Haleluya.

Penerapan:
Dalam zaman yang gelap ini, semua orang cinta diri, cinta uang, penuh dosa, penuh kebobrokan moral dan kekerasan, dan tiada rasa aman, hal ini sering membuat pelita roh kita padam, kasih terhadap Tuhan pudar. Ingatlah bahwa setiap hari kita dapat mengalami Roh Allah yang diperkuat tujuh ganda melalui berdoa dan membaca firman.

Pokok Doa:
Tuhan intensifkan pekerjaan Roh-Mu di dalam diriku, agar aku makin dimurnikan, dibersihkan, dan menang terhadap semua situasi yang penuh kegelapan di sekelilingku. Kuatkan aku dengan ketujuh Roh Allah agar aku makin berguna di tangan-Mu bagi kesaksian gereja-Mu, kesaksian kerajaan-Mu di bumi ini.

Dari Yesus Kristus (1)
Wahyu 1:5a
"Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini..."
Tuhan kita adalah "Saksi yang setia". Roh Kudus secara khusus menyebutkan "setia" disini untuk memperingatkan gereja-gereja yang tidak setia. Allah tidak membicarakan kesuksesan gereja, tetapi membicarakan kesetiaan gereja. Oh, betapa gereja berbeda dengan Tuhan! Hari-hari ini, banyak orang menaruh perhatian pada kesuksesan luaran dan melupakan kesetiaan batini!
Jika hati kita tidak setia kepada perkara-perkara Tuhan, meskipun kita memiliki banyak kesuksesan, Tuhan tidak peduli. Kita seharusnya menyelidiki hati kita jangan-jangan kita telah berjerih payah dengan sia-sia.
Di satu pihak, kita harus ingat bahwa kita bukanlah tuan, tetapi adalah hamba, dan kita tidak bebas mengerjakan apa pun yang kita mau. Di lain pihak, Tuhan yang kita layani adalah setia dan yang Ia minta hanyalah hati kita yang murni, tidak mendua, dan setia. Bagi-Nya kesetiaan kita lebih penting daripada kesuksesan kita.
Tuhan kita dengan setia bersaksi sampai mati. Dari sudut pandang dunia, kalvari adalah kegagalan-Nya. Sesungguhnya bukan Dia yang gagal, tetapi pangeran dunia yang kalah dan dipermalukan. Sesungguhnya, kematian yang luaran itu mudah, tetapi kematian batini sangat sulit. Kita seharusnya bersaksi sampai mati dan mempersaksikan kematian dalam hidup kita. Tuhan rela dikalahkan secara luaran agar memperoleh realitas kemenangan. Jika ini adalah jalan salib, kemenangan yang sejati, lalu bagaimana dengan kita?

Dari Yesus Kristus (2)
Why. 1:5a

Tuhan kita adalah Yang menang di atas semuanya. Dia tidak pernah gagal, dan Ia tidak akan pernah gagal. Meskipun Ia mati, Ia adalah "yang pertama bangkit dari antara orang mati". Tidak ada seorang pun seperti Dia. Karena itu, Dia bukan hanya "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Kor. 15:20), tetapi juga adalah Dia "yang lebih utama dalam segala sesuatu" (Kol. 1:18). Karena Ia telah bersaksi dengan setia, Ia menjadi yang pertama bangkit dari antara orang mati dan melaluinya Ia mendapatkan segala sesuatu sebagai warisan-Nya dan menjadi Tuhan bagi yang hidup maupun yang mati. Inilah kemenangan-Nya.
Ketika waktu-Nya tiba, Ia akan datang lagi menjadi "penguasa atas raja-raja di bumi." Ini mewakili perkataan dalam Filipi 2. Tuhan Yesus sebagai manusia merendahkan diri-Nya sendiri sampai mati. Karena itu, Allah sangat meninggikan Dia. Semua ini berkaitan dengan persona Tuhan Yesus sebagai seorang manusia. Karena Ia begitu sempurna sebagai seorang manusia, Ia mendapatkan semua janji dan semua karunia yang Allah berikan kepada manusia. Bukan hanya Tuhan kita seperti ini; Ia menginginkan kita juga seperti Dia sedikitnya dalam tiga hal: menjadi saksi-Nya, memiliki pengharapan beroleh kebangkitan dari antara orang mati (Flp. 3:11), dan mendambakan memerintah dengan-Nya sebagai raja dalam kekekalan.
Apa yang akan ada di masa yang akan datang semuanya tergantung sekarang. Jika kita tidak menjadi saksi yang setia, meskipun kita tidak akan kehilangan keselamatan kita, namun kita akan kehilangan kemuliaan untuk memerintah bersama Tuhan dalam kerajaan milenium. "Anugerah (kasih karunia) dan damai sejahtera … dari Saksi yang setia …" Ketika dunia bermusuhan dengan Allah dan telah kehilangan damai sejahtera-Nya, Allah memberikan anugerah dengan mengutus Putra-Nya untuk mati di atas salib, dan menjadikan damai sejahtera. Sekarang siapa yang ingin menerima anugerah Allah akan mendapatkannya dan akan memiliki damai sejahtera dengan Allah. "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya" (Ibr. 4:16).

Penerapan:
Sukses besar dalam pekerjaan dan pelayanan memang adalah hal yang baik, namun kita perlu waspada. Jika kita mulai ingin semua orang tahu bahwa kita ada di balik semua itu, atau jika kita mulai ingin mendapatkan lebih banyak pujian melalui bekerja lebih keras, maka kita sedang mencuri kemuliaan Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, selidikilah hatiku ini, murnikanlah aku dari segala motivasi jahat. O, Tuhanku berikanku hati yang setia untuk mengasihi-Mu, bukan sekadar pelayanan yang sukses di hadapan manusia.


Yang Mengasihi Kita
Wahyu 1:5b
"...Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya"
Ketika kita membaca Wahyu 1:5b-6, kita tidak bisa tidak terkesan oleh begitu banyak yang telah Ia rampungkan bagi kita: (1) mengasihi kita, (2) melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya, (3) Membuat kita menjadi suatu kerajaan, (4) membuat kita menjadi imam-imam bagi Allah!
Fakta ajaib dari maha karya Tuhan ini, telah Ia rampungkan di kayu salib. Realitasnya dialami setiap orang Kristen saat dilahirkan kembali. Jadi kita menjadi imam adalah karena kelahiran kembali. Ini sama sekali tak tergantung pada kondisi rohani kita. Kita sadar atau tidak; mengerti atau tidak; kuat atau lemah, semuanya tak akan mengubah ke-imam-an kita.
Namun sangatlah kasihan, walaupun kita memiliki status sedemikian, banyak dari kita tidak memiliki pengalaman menjadi imam-imam Allah saat ini. Jika kita diminta untuk mengurus hal-hal yang lain, kita bisa menanganinya, namun jika kita diminta untuk melayani Tuhan, kita merasa tidak mampu, kita minder, kita mengira itu hanya bisa dikerjakan oleh sekelompok kecil orang Kristen, khususnya mereka yang lulusan sekolah theologi. Konsep ini bukan dari Alkitab! Kita harus sadar bahwa Satan sudah membohongi jutaan orang Kristen, kiranya kita dapat diselamatkan dari tipuannya.
Secara individu, kita adalah imam. Secara korporat kita adalah satu imamat, sebagai satu kerajaan (1 Ptr. 2:9, 5). Bila kita hari ini setia melayani, kita akan meraja bersama Tuhan dan menerima kemuliaan agung yang tidak tertandingi.

Kesaksian Kita Terhadap Dunia
Why. 1:7

Dari ayat 5-7 kita melihat dua hal: pertama, persekutuan di antara kaum saleh dengan Tuhan; kedua, kesaksian kaum saleh terhadap dunia. Melalui nampak Kristus dan menyadari berkat yang kita miliki di dalam-Nya, kita dibawa masuk ke dalam persekutuan dengan-Nya dan menyembah-Nya. Demikian juga, nampak penghakiman Tuhan terhadap dunia, pasti akan membuat kita merasa sangat tidak nyaman apabila kita masih terhanyut oleh dunia sekarang ini.
Sama halnya dengan Yohanes yang sungguh-sungguh mendambakan kemuliaan Tuhan hingga sepertinya telah melihat permulaan kedatangan Tuhan, kita pun akan bersukacita dan bersorak, "Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan." Ini bukan malaikat yang datang, melainkan Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus yang kita kasihi akan segera datang. Haleluya."Setiap mata akan melihat Dia." Tidak peduli tua muda, besar kecil, laki perempuan, kaya miskin, dari suku bangsa apapun, tidak ada yang terkecuali, suatu hari, semua akan melihat wajah-Nya! Bukan hanya demikian, bahkan "mereka yang telah menikam Dia" juga akan melihat Dia. Orang yang menikam Tuhan Yesus adalah prajurit Romawi (Yoh. 19:34) yang mengacu kepada orang kafir. Namun pada kenyataannya, adalah orang Yahudi yang menikam Dia (Yoh. 19:37; Zak. 12:10). "Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia." Zakharia mencatat bahwa bangsa Israel akan meratap setelah melihat Tuhan yang telah tertikam (Zak. 12:12-14). Tetapi, "bumi" juga bisa berarti seluruh bumi dan "semua bangsa" bisa mengacu kepada seluruh suku bangsa. Karena itu, di sini bukan hanya membicarakan ratapan orang Israel, tetapi ratapan semua manusia. Pada saat itu, zaman anugerah (kasih karunia) telah sepenuhnya berlalu, Allah akan merahmati bangsa Israel berdasarkan keadilbenaran-Nya. Mengapa kita tidak datang kepada salib Tuhan hari ini untuk meratap atas dosa-dosa kita? Marilah kita mohon Tuhan Yesus, Sang Juruselamat, mengampuni dosa-dosa kita. Jangan menunggu sampai hari itu. Pada hari itu, semua akan terlambat! Saudara saudari, Kristus akan segera datang! Amin, Dia segera datang! Ya, Dia segera datang! Kita sadar akan hal ini atau tidak?

Penerapan:
Kita ditebus untuk menjadi imam-imam bagi Allah, kita juga adalah imamat rajani. Berdoa syafaatlah bagi saudara-saudari yang ada dalam berbagai masalah, yang lemah, sakit, dalam penderitaan, juga teman-teman injil kita. Persembahkan juga orang-orang berdosa kepada Allah sebagi kurban melalui injil yang kita beritakan
(Rm. 15:16).

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku yang melalaikan tugasku sebagai seorang imam. Ampuni aku karena lebih sibuk untuk dirku, keluargaku, bisnisku, daripada untuk-Mu. Ampuni aku karena seringkali lupa bahwa tanpa-Mu yang aku miliki hanyalah dosa. Oh, Tuhanku, berilah aku permulaan baru dalam hidupku, agar aku dapat menempuh hidup yang melayani-Mu.

Firman Tuhan AllahWahyu 1:8
"Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa."
Menurut F. W. Grant, seorang peneliti Alkitab, frasa "Ya, amin" dalam ayat sebelumnya (ay. 7) juga dapat dimasukkan dalam ayat ini (ay. 8). Ini berarti frasa ini, "Ya, amin" diucapkan oleh "Tuhan Allah." Karena ketidakpercayaan manusia, Dia berdebat dengan manusia dan menyangkal ketidakpercayaan mereka. Dia telah memproklamirkan di masa lampau bahwa Tuhan Yesus akan datang segera. Pada zaman ini, Dia juga sedang membuktikannya. Bukankah pada hari-hari ini Dia sedang memberikan tanda melalui situasi politik, agama, moralitas, dan kerohanian bahwa Kristus akan segera datang kembali? Tidak peduli betapa tidak percayanya manusia, hal-hal ini tetap adalah seruan Allah."Tuhan Allah" adalah nama yang dipakai Allah di Taman Eden (Kej. 2:8). Kitab ini menceritakan kepada kita bagaimana Tuhan akan menciptakan kembali taman Eden yang baru di mana manusia tidak akan pernah jatuh lagi. Karenanya, ketika menyebutkan taman Eden yang baru, Dia sekali lagi disebut sebagai "Tuhan Allah" (Why. 22:5, 6). "Tuhan" berarti Yehovah, adalah nama yang dipakai-Nya ketika Dia menetapkan perjanjian dengan Israel. "Akulah Yehovah…Aku juga telah menetapkan perjanjian-Ku dengan mereka" (TL, lihat Kel. 6:2, 4 -- ASV). "Allah" adalah nama-Nya yang umum, menandakan bahwa Dia itu lebih besar daripada semua manusia. Jadi, kita perlu mempercayai peringatan dan janji-Nya.

Alfa dan Omega
Why. 1:8

Setiap nama yang Allah gunakan dalam Alkitab masing-masing memiliki arti. Allah mewahyukan nama-Nya sendiri berdasarkan situasi yang berbeda-beda dalam interaksinya dengan umat-Nya. Pemahaman akan makna nama-nama Allah, akan memperdalam pengenalan kita akan Dia, kehendak-Nya dan janji-Nya serta karya-Nya bagi kita. Semuanya ini akan meningkatkan kualitas persekutuan kita dengan-Nya."Akulah Alfa dan Omega, ... yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" Alfa adalah huruf pertama dari alfabet Yunani dan omega adalah huruf yang terakhir. Ini menunjukkan bahwa Dia adalah permulaan dari semua permulaan dan akhir dari semua akhir. Dia adalah Yang tanpa permulaan dan tanpa akhir, juga adalah permulaan dan akhir dari semua hal. Pada mulanya, semua hal bisa ada karena perkataan-Nya. Dan semua hal ada di tempatnya adalah menurut perintah-Nya. Dia yang sekarang berbicara dan bersaksi, juga adalah Dia yang pernah berbicara. Demikian pula Dia juga akan tetap berbicara selamanya. Selama-lamanya Dialah Allah. Apa yang disaksikan-Nya sepenuhnya benar, karena Dia tidak dibatasi oleh ruang dan waktu."Yang Mahakuasa" menyatakan kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Bagi manusia banyak hal mustahil, namun bagi Allah tak ada yang mustahil. Yang Mahakuasa adalah nama yang dipakai-Nya untuk menetapkan perjanjian dengan Abraham. "Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela" (Kej. 17:1). Setelah itu Allah memberi Abram janji. Melalui percaya pada janji ini, maka Abraham mendapatkan anak di usia lanjut, yang sebenarnya mustahil bisa memiliki anak
Saudara-saudari kita memiliki Allah yang sedemikian berkuasa. Tidak ada satu hal-pun yang tak dapat Dia kerjakan. Marilah kita mengalihkan pandangan kita dari segala masalah yang mengelilingi kita kepada Dia yang sanggup membawa kita melewati semua persoalan kita. Dulu Dia Mahakuasa sekarang masih Mahakuasa, demikian juga akan datang tetap Mahakuasa!

Penerapan:
Kita harus selalu ingat apa yang dikatakan dalam Filipi 1:6, "Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus."

Pokok Doa:
Ya, Tuhanku, aku percaya terhadap setiap janji-Mu di dalam Firman. Aku menolak setiap keragu-raguan di dalam benakku. Tuhan Yesus, buatku terus berjaga-jaga dan selalu siap sedia karena Engkau datang segera.

Yohanes di Pulau PatmosWahyu 1:9
"Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus."

Yohanes tidak menyebut dirinya sebagai rasul. Dia menyebut dirinya sebagai saudara dan sekutu dalam kesusahan. Betapa lemah lembut dan manisnya hal ini! Meskipun ia berada sendirian di Pulau Patmos, rohnya tetap bersama saudara-saudaranya, menderita bersama mereka, bertekun bersama mereka, dan menantikan bersama mereka kedatangan kerajaan sorgawi.
Inilah pekerjaan ajaib dari Roh Kudus, yang memampukan kita menderita bersama dengan kaum saleh di setiap tempat. Karena Yohanes memiliki simpati yang mendalam terhadap kaum saleh dan memiliki keesaan (dalam hayat ilahi) dengan mereka, maka penderitaan mereka adalah sama dengan penderitaannya sendiri. Ketika mereka menderita, dia seakan-akan ada di sisi mereka sebagai orang yang ikut serta menderita.
Semoga Tuhan memberi kita hati yang lebih besar untuk menerima semua saudara dalam Tuhan, sehingga mereka tahu bahwa kita merupakan orang-orang yang turut serta berpartisipasi dalam segala penderitaan mereka.
Orang Kristen yang sungguh-sungguh telah mengalami pekerjaan salib Tuhan di atas diri mereka, pasti akan tahu bagaimana bersatu dengan semua anak Tuhan.
Salib memisahkan kita dari orang dosa, tetapi salib telah menyatukan kita dengan Allah, juga menyatukan kita dengan semua anak Allah. Itulah sebabnya Yohanes bisa berkata bahwa ia adalah saudara dan sekutu dalam kesusahan.

Jalan Menuju Kerajaan - PenderitaanWhy. 1:9

Kesusahan (penderitaan), kerajaan, dan ketekunan – ketiga hal ini merupakan jalur perjalanan semua kaum saleh pada saat ini dan yang akan datang.
Kerajaan ini adalah kerajaan milenium (seribu tahun) dalam Wahyu 20, yaitu saat kaum saleh meraja bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Kerajaan ini adalah pengharapan dan pahala untuk setiap pemenang. Allah telah memanggil kita semua ke dalam kerajaan-Nya untuk mendapatkan kemuliaan-Nya (1 Tes. 2:12). Haleluya! Allah telah memanggil! Namun, apakah kita mau mendengarkan panggilan ini? Apakah kita mau memenuhi permintaan Allah?
Jalan menuju kerajaan adalah penderitaan. Berbagai penderitaan dan penganiayaan akan menyusun jalan ke arah kemuliaan! “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:10). Jika kita berpihak pada dunia, bagaimana mungkin dapat terjadi penganiayaan? Jika kita “dari dunia, tentulah dunia mengasihi kita sebagai miliknya” (Yoh. 15:19). Jika kita meninggalkan dunia; baik dunia materi maupun dunia agama, maka dunia akan bangkit menganiaya kita. Tetapi, dengan cara inilah kita berjalan menuju kemuliaan.“Jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17). Penderitaan di masa sekarang merupakan faktor yang menentukan kemuliaan di masa yang akan datang. Bila seijin Tuhan, kita semakin menderita maka kita semakin siap untuk mendapatkan kemuliaan, karena “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu” (1 Ptr. 4:14). Roh Kudus menyiapkan kita untuk kemuliaan kerajaan melalui penderitaan.
Saudara saudari, kita harus sadar bahwa penderitaan adalah jalan setapak menuju kemuliaan. Namun sebelum semua hal ini terjadi, Tuhan lebih dulu memperingatkan kita. Dia ingin kita siap sedia. Kita boleh menghitung pengorbanannya, namun jangan lupa juga menghitung kemuliaan kerajaan yang menanti kita. Oh waktu tak banyak lagi, semoga kita tak salah bersikap! Penderitaan sementara ini tak sebanding dengan kemuliaan kekal!

Penerapan:
Jika kita ingin bisa berkata seperti Yohanes, "Aku saudara dan sekutumu dalam ...", maka kita perlu lebih sering mendoakan saudara saudari kita. Semakin banyak kita mendoakan, semakin kita bersatu dengan orang-orang yang kita doakan. Selain itu, kita perlu terus membiarkan Tuhan bekerja di atas diri kita.

Pokok Doa:
Bersyukurlah bahwa semua penderitaan, kesusahan, kesulitan, atau bahkan penganiayaan yang menimpa Anda saat ini justru akan membawa Anda ke dalam kemuliaan kerajaan yang akan datang.


 Nampak Kemuliaan Yang Akan Datang
Wahyu 3:21
"Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya."
Duduk bersama Tuhan di atas takhta-Nya! Alangkah mulia! Semoga mata kita dicelikkan, melihat kemuliaan yang akan datang! Semoga Tuhan menyadarkan kita bahwa kita “dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita bagi Dia” (Flp. 1:29). Tentu saja, penderitaan ini tidak akan sia-sia, karena orang yang menderita akan mendapatkan pahala.“Untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22). Jika kita mengikuti “Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia” (Ibr. 12:2), di masa yang akan datang kita akan bisa duduk bersama dengan Dia di takhta. Bila kita semakin memikirkan sukacita kerajaan yang akan datang, maka salib kecil hari ini semakin tidak berarti. “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18).
Keterangkatan ke takhta adalah hasil dari salib. Tuhan mengharapkan kita juga menempuh jalan-Nya. Betapa sayangnya, hari ini, tidak banyak orang yang mau menempuh jalan ini. Kata-kata kidung yang ditulis oleh Mary E. Maxwell di bawah ini kiranya dapat mendorong kita:

Ni-lah jalan salib! Maukah menempuh? Mau pikul bagi Tuhanmu? Kau telah persembahkan dirimu! Murnikah setiamu?

Ketekunan2 Tim. 2:12

Saat ini, Tuhan juga sedang mempersiapkan diri kita untuk menjadi raja. Itulah sebabnya, Ia membawa kita melalui banyak ujian yang berat. Jika kita tidak rela, kita akan kehilangan kerajaan.
Sekarang, Tuhan sedang melatih kita dengan salib agar kita belajar taat melalui penderitaan. Hasilnya adalah sifat kerajaan akan terbentuk di dalam kita.
Meskipun salib bukan hanya penderitaan, namun pengalaman salib terbanyak adalah penderitaan. Tapi kita tidak boleh menyalahpahami dengan berpikir bahwa semua penderitaan adalah salib. Oh, tidak ada banyak raja di bumi ini! Kita tidak tahu berapa raja yang akan ada dalam kerajaan seribu tahun. Tidak diragukan, mereka yang memikul salib hari ini akan benar-benar menjadi raja di masa yang akan datang.
Selain kesusahan (penderitaan), Yohanes juga membicarakan mengenai ketekunan. Karena untuk memasuki kerajaan harus melewati banyak kesulitan, maka kita perlu tinggal dalam ketekunan. Jika tidak, kita akan menjadi orang yang siap membajak tetapi menengok ke belakang. Kita akan dianggap tidak layak oleh Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan Allah.
Jika seseorang mengeluh dalam penderitaannya, penderitaannya menjadi sia-sia. Penderitaan memang adalah bagian kita. Jangan berharap akan sesuatu yang lebih baik daripada ini. Kebajikan seorang Kristen dalam penderitaan adalah ketekunan.
Saudara saudari, bagaimanakah kondisi kita hari ini? Apakah kita sudah kembali kepada dunia? Pada awal perjalanan salib, karena gairah akan pengharapan kemuliaan yang akan datang, banyak yang maju dengan bersemangat. Namun, karena penundaan Tuhan, berbagai tuntutan kebutuhan jaman ini, tarikan kemewahan dunia, dan serangan Satan, membuat perjalanan kita menjadi berat. Akhirnya banyak orang berkompromi dan menyerah serta meninggalkan jalan sempit ini. Kiranya kita bukan termasuk orang kristen yang disebutkan dalam syair lagu di bawah ini:

Siapa yang padamkan p’litanya, sebelum sang fajar merekah?
Siapa yang menanggalkan jubahnya, sebelum musim panas tiba?

Kita perlu mohon Tuhan menambahkan ketekunan kita sampai pada hari-Nya.

Penerapan:
Semakin kita memikirkan sukacita kerajaan yang akan datang, semakin kurang kita memperhatikan salib kecil hari ini. Belajarlah mengalami salib melalui teguran, ucapan, fitnahan, kritikan atau caci maki seseorang. Penderitaan atau kesukaran macam apa pun jangan membuat kita mundur dan meninggalkan Tuhan serta kehidupan gereja.

Pokok Doa:
O, Tuhan Yesus, walaupun jalan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah harus mengalami banyak siksaan, namun aku tetap mau melihat kemuliaan yang Kau berikan kepadaku. Tambahkanlah iman ke dalam diriku agar aku semakin melihat kemuliaan-Mu. Amin

Di Mana Ada Penderitaan Di Sana Ada Kemuliaan
Wahyu 1:9
"Aku, Yohanes, saudara dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus."

Jika kita tidak berbagian di dalam kesusahan (penderitaan), kerajaan, dan ketekunan, kita mungkin tidak akan mampu mengerti makna rohani kitab ini. Jika kita bersahabat dengan dunia, bagaimana kita bisa bersimpati terhadap Yohanes di pulau Patmos? Karena kita semua saudara, kita seharusnya menderita bersama, berharap bersama akan kemuliaan, dan bertekun bersama menunggu. Banyak dari saudara kita yang tetap berperang dalam peperangan yang dahsyat di medan perang. Bagaimana kita bisa melarikan diri untuk menikmati kenyamanan sendirian? “Masakan saudara-saudaramu pergi berperang dan kamu tinggal di sini?” (Bil. 32:6).
Mendapatkan keuntungan saat ini adalah menderita kerugian di masa yang akan datang. Sebaliknya, menderita saat ini adalah mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Di mana ada penderitaan, di sana ada kemuliaan. Semakin sedikit penderitaan, semakin sedikit kemuliaan. Allah ingin memuliakan kita, tetapi apakah kita mau menerima kemuliaan-Nya? Apakah kita rela mengambil jalur yang tepat untuk menderita demi memasuki kerajaan mulia? Mungkinkah Kristus sendiri memikul salib dan kita tetap bersenang-senang?
Watchman Nee pernah menulis syair kidung :

Muliaku di kelak hari, ku sabar menanti;
Tuhan takkan kudului, berbahagia di sini.

Apakah kita juga demikian...?

Merebut Kerajaan
Why. 1:9

Kita harus tahu bahwa hayat (kehidupan) kekal, kita dapatkan melalui iman dengan cuma-cuma. “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:36), kita pasti tidak akan binasa. Namun, bagaimana dengan kerajaan? “Kerajaan Sorga diserbu dan orang yang menyerbunya mencoba merebutnya” (TL, Mat. 11:12). Ini berarti kerajaan tidak bisa didapatkan dengan cuma-cuma. Perlu bekerja di pihak penerima. Tetapi, ini bukanlah pekerjaan dengan usaha kita sendiri untuk melakukan Hukum Taurat, melainkan pekerjaan oleh kekuatan kasih karunia Allah (2 Kor. 1:12; 9:8). Kasih karunia Allah adalah Kristus yang hidup di dalam kita sebagai suplai kehidupan rohani kita (2 Kor. 8:9; 13:13).
Tuhan tidak saja telah memberi kasih karunia sebagai modal dasar kita untuk berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan Yesus, tetapi juga memberi cara terbaik untuk mempraktekkannya. Saudara saudari, Kitab Wahyu pasal satu tersusun sangat baik sekali. Setelah ayat 7-9, yang membahas kedatangan kembali Tuhan Yesus dan penantian kita terhadap-Nya melalui ikut serta dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan-Nya, di ayat sebelas kita temukan perintah Allah kepada Yohanes untuk mengirimkan kitab yang ia tulis kepada tujuh gereja lokal.
Berdasarkan pengalaman, cara terbaik untuk berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan adalah dengan berada di dalam gereja lokal. Dalam gereja, ada ratusan kesempatan untuk mempraktekkan hal-hal ini. Di luar gereja, kita sulit berbagian dalam ketiga perkara tersebut. Jika kita benar-benar menempuh kehidupan gereja, akan timbul banyak masalah, baik ringan maupun berat. Begitu kita terlibat dalam persekutuan, dalam pelayanan, kita akan segera perlu ketekunan. Semakin kita bergairah, semakin kita mengalami banyak kesusahan, juga semakin banyak kita akan melihat kelemahan saudara saudari yang kita anggap senior. Apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan “pindah” gereja, atau apakah kita akan mendirikan “gereja” lain? Semoga kita bukan orang yang demikian.
(Catatan: Bila Anda tergoda berbuat demikian bacalah minggu ke 2 hari Senin)

Penerapan:
Seorang yang bersifat daging mengganggap jalan salib adalah menakutkan dan selalu berusaha menghindarinya. Jika terjadi masalah dalam kehidupan gereja di lokal kita, bagaimanakah kita menyikapinya? Mengkritik? Bertengkar? Mundur dari gereja atau pelayanan? Ataukah pindah (ibadah) ke tempat lain?

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, kiranya berita tentang salib bukan sekadar menjadi pengetahuan bagiku. Tuhan, berilah aku anugerah yang cukup agar aku selalu menyangkal egoku, hayat jiwaku dengan segala kesenangannya, kenikmatannya atau preferensinya. Buatlah aku tunduk, taat, dan rela dimatikan oleh pekerjaan salib-Mu.

 Bagaimana Melihat Wahyu Allah? (1)
Wahyu 1:9b
"Aku, Yohanes, … berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus."
Pulau Patmos adalah satu tempat yang gersang di tengah laut. Karena Yohanes setia kepada kebenaran Allah, ia dibuang di sana. Ia percaya kepada raja yang lain, Tuhan Yesus. Ia mencari kerajaan yang lain, Kerajaan Sorga, yang jauh lebih baik daripada Kerajaan Romawi. Firman Allah dan kesaksian Yesus telah dipercayakan Allah kepada Yohanes.
Untuk melihat wahyu Allah dan mengenal ekspresi-Nya, kita perlu tersisih bagi Allah. Rasul Yohanes sepenuhnya tersisih bagi Allah di Pulau Patmos (1:9). Ia juga dibawa ke atas sebuah gunung yang besar dan tinggi (21:10). Hari ini, banyak orang Kristen yang kurang mengenal kebenaran, terutama karena mereka tidak mutlak tersisih bagi Allah.
Hanya orang yang telah mengalami Patmos, yang memiliki wahyu Patmos. Bukankah Yusuf dipenjara, Musa di padang belantara, Daud dalam penderitaan, dan Paulus dibelenggu, baru semuanya memiliki wahyu yang segar? Mereka yang mencari kenyamanan dan kemuliaan dunia, tidak menderita di Patmos, juga tidak memiliki wahyu Patmos.
Saudara saudari, kita sungguh perlu belas kasih Tuhan agar kita rela membayar harga berapa pun untuk menempuh hidup mutlak tersisih bagi Tuhan, seperti kidung di bawah ini:

Kalau suka duka kita tak dapat sefaham,
Kau girang, perlu ku korban, begitupun ku rela;
Genap hati ku mau taat, tak peduli harga,
Asal Kau dimuliakan, salib berat kupikul jua.


Bagaimana Melihat Wahyu Allah? (2)
Why. 1:10

Kitab Wahyu bisa dibagi menjadi empat bagian, yang mencakup empat visi besar, semuanya dilihat Yohanes di dalam roh.
Pertama, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh (di dalam roh)” (Why. 1:10). Yohanes di dalam roh melihat tujuh kaki dian emas dan Tuhan yang berjalan di tengah-tengah mereka. Ini visi dalam ketiga pasal pertama kitab Wahyu.
Kedua, “Segera aku dikuasai oleh Roh (di dalam roh) dan lihatlah, ….” (Why. 4:2). Yohanes melihat takhta di Surga dan dari takhta itu dilaksanakanlah ketujuh meterai, ketujuh sangkakala, dan ketujuh cawan. Ini adalah visi mengenai takhta yang berhubungan dengan nasib dunia, disebutkan dalam pasal 4-16.
Ketiga, “Dalam roh aku dibawanya ke padang gurun. Dan aku melihat ….” (Why. 17:3). Yohanes melihat Babel, pelacur itu (pasal 17-20).
Keempat, “Lalu, di dalam roh ia membawa aku ….” (Why. 21:10). Yohanes melihat Yerusalem Baru. Ini mencakup pasal 21-22.
Untuk melihat wahyu gereja-gereja lokal, kita perlu berpaling dari pertimbangan pikiran ke dalam roh insani kita. Manusia itu tripartit, terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh (1 Tes. 5:23). Tubuh adalah kerangka di luar, memiliki kesadaran fisik. Jiwa adalah seluruh kepribadian kita, memiliki kesadaran akan diri. Roh adalah organ bagi kita untuk menyembah Allah, memiliki kesadaran akan Allah.
Kitab Wahyu bukan hanya menekankan Roh Allah sebagai Roh yang diperkuat tujuh kali lipat untuk pergerakan Allah, juga menekankan roh manusia, sebagai organ untuk mengerti serta menanggapi pergerakan Allah. Hanya roh (kita) yang bisa memberi tanggapan kepada Roh (Allah). Yohanes melihat keempat visi tersebut dalam roh (1:10; 4:2; 17:3; 21:10), maksudnya dia menerima wahyu tentang rahasia Kristus dalam rohnya, sesuai dengan yang dikatakan dalam Efesus 3:5 (“di dalam Roh” seharusnya “di dalam roh”). Jika kita ingin melihat visi dalam kitab ini, kita juga harus di dalam roh. Hal ini bukan hanya soal pemahaman dengan otak dalam pikiran kita, melainkan realisasi rohani dalam roh kita.
Cara menggunakan roh kita adalah dengan berdoa sungguh-sungguh, sehingga dari dalam batin kita bisa mendengar suara Tuhan.

Penerapan:
Kita jangan terus menghitung pengorbanan kita, membandingkannya dengan orang lain. Kita perlu ingat, bahwa para pendahulu kita telah mengorbankan segala-galanya, sebandingkah dengan pengorbanan kita hari ini?

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku membuka rohku untuk bersekutu dengan-Mu. Dengan wadah yang hampa, aku datang kepada-Mu untuk menerima rahmat dan pertolongan. Tuhan, aku mau melihat diri-Mu. Buatlah aku lebih mutlak bagi-Mu, tersisih untuk-Mu. Amin.

 Kaki Dian Dari Emas
Wahyu 1:12
"Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas."
Dalam Kitab Wahyu, gereja-gereja diwahyukan sebagai kaki dian (1:11-20). Istilah ini tidak pernah dipakai dalam kitab-kitab lainnya di Perjanjian Baru. Sebagai kaki dian, gereja bersinar dalam kegelapan. Inilah fungsi gereja. Fungsi gereja tidak hanya untuk berkhotbah atau mengajarkan doktrin. Dalam malam yang gelap pekat di zaman ini, gereja harus memancarkan kemuliaan Allah. Inilah kesaksian gereja.
Gereja, sebagai kaki dian (pelita), bukan terbuat dari tanah liat, kayu, atau bahan-bahan lain yang rendah mutunya, tetapi terbuat dari emas murni. Setiap jenis logam yang tercantum dalam Alkitab, masing-masing memiliki makna tertentu. Besi melambangkan kekuasaan politik, tembaga melambangkan penghakiman, perak melambangkan penebusan, dan emas melambangkan kemuliaan Allah.
Kemuliaan Allah adalah suatu perkara yang tidak diketahui dan dimengerti manusia. Kekudusan Allah walau agak sulit dimengerti, tetapi kita masih bisa memahaminya, demikian pula keadilan Allah. Hanya kemuliaan yang tidak diketahui manusia, karena kemuliaan itu adalah unik dan hanya Allah yang memilikinya.
Gereja adalah dari emas. Orang-orang dalam gereja ialah yang dilahirkan oleh Allah, bukan dari darah atau daging, bukan dari hawa nafsu daging, dan bukan pula dari keinginan manusia. Gereja mutlak tidak berhubungan dengan manusia usang, karenanya kita harus mengejar pertumbuhan kadar Allah di dalam kita agar gereja dipenuhi kemuliaan-Nya.

Hidup Oleh Hayat Ilahi
Why. 1:12

Semua gereja lokal harus bersifat ilahi. Tanpa keilahian, tidak akan ada gereja. Emas dimurnikan dengan api. Itulah sebabnya, kitab Wahyu adalah sebuah kitab pembersihan dan pemurnian oleh api. Dalam 1:14-15 mewahyukan mengenai Dia yang mata-Nya bagaikan nyala api. Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian.
Ketika Ia melihat orang-orang, Ia membakar mereka untuk membersihkan mereka dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat Allah. Pembersihan dan pembakaran ini adalah penghakiman-Nya, dan penghakiman-Nya dimulai dari gereja.
Dalam kitab Wahyu ini, kita melihat penghakiman Allah dalam tiga bagian. Pertama-tama ada penghakiman melalui pembakaran ilahi di dalam gereja. Setelah bagian ini selesai, kita melihat lagi penghakiman melalui pembakaran ilahi di dalam dunia. Inilah bagian yang kedua. Bagian yang terakhir mewahyukan hasil atau akibat dari penghakiman melalui pembakaran ilahi. Segala sesuatu yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan sifat Allah dimurnikan melalui api yang membakar ini dan dicampakkan ke dalam lautan api. Setelah seluruh penghakiman melalui pembakaran ini, segala sesuatu dalam langit baru dan bumi baru juga Yerusalem Baru telah dimurnikan.
Kita perlu menyadari, segala sesuatu yang tidak berasal dari hayat ilahi akan dihakimi. Apa pun yang bersifat kekal pasti berasal dari hayat ilahi ini, karena itu apa pun yang tidak berasal dari hayat ilahi ini akan dihakimi, dimurnikan, dan dibakar.
Dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus diwahyukan sebagai sang Hayat (1:4; 11:25; 14:6). Tetapi dalam kitab Wahyu, meskipun Ia masih tetap sang Hayat, Ia juga adalah hakim. Ia datang untuk menghakimi segala sesuatu seturut hayat ilahi-Nya. Ini bukan masalah sepele. Kristus telah datang untuk memberikan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam kita, dan kita harus hidup oleh hayat ini. Jika tidak, kita akan memiliki banyak perkara yang tidak sesuai dengan sifat hayat ini. Pada waktu penghakiman, semua itu akan dibakar habis. Marilah kita sadar, agar kelak jangan menanggung kerugian yang sebesar itu.

Penerapan:
Gereja adalah dari emas, yang adalah mulia di pandangan Allah. Lalu, bagaimana dalam pandangan kita melihat gereja? Apakah karena di dalam gereja banyak masalah kita memandang gereja tidak mulia? Tidak! Bagaimana pun, gereja adalah milik Allah dan mulia.

Pokok Doa:
Tuhan, beriku mata rohani untuk melihat kemuliaan gereja. Berkatilah gereja di kotaku agar semakin memancarkan sinar kemuliaan Allah yang menerangi kegelapan. Tuhan Yesus,murnikanlah seluruh diriku bagi gereja Tuhan yang mulia.

Mengekspresikan Kemuliaan Allah Tritunggal
Wahyu 1:12
"Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Dan setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki dian dari emas."
Ketujuh kaki dian emas yang dilihat Yohanes adalah lambang dari ketujuh gereja (ay. 20). Seluruh kaki dian tersusun oleh emas, menyatakan Bapa sebagai hakikinya. Wujud kaki dian yang bisa kita lihat, menyatakan Putra sebagai perwujudan Bapa. Cahaya kaki dian, menyatakan Roh itu sebagai ekspresi Bapa dalam Putra. Jadi, di dalam kaki dian terkandung makna gereja yang mengekspresikan Allah Tritunggal.
Selain itu, dalam Alkitab, emas adalah logam yang paling berharga, mulia, anggun, murni, dan kudus. Gereja sebagai kaki dian emas berarti bahwa di pandangan Allah gereja adalah mustika yang paling berharga di dunia. Allah mendirikan gereja dalam kebenaran dan menetapkan bahwa gereja harus bersinar dalam dunia. Tanggung jawab gereja adalah mengekspresikan kemuliaan Allah Tritunggal.
Dalam kitab Keluaran 25, kaki dian berkaitan dengan pembangunan dan berfungsinya Kemah Suci (ay. 31-40; 1Raj. 7:49). Kemah Suci tidak berjendela, dan pintu masuknya ditutup dengan sehelai tirai, tidak ada sinar yang bisa masuk dari luar. Tanpa sinar kaki dian yang ada di dalamnya, tidak ada seorang pun yang bisa menunaikan fungsinya di dalam Kemah Suci. Sering kali, kita tidak tahu apa yang harus diperbuat, semakin berpikir, semakin pekat kegelapan yang meliputi kita. Tetapi, ketika kita menghadiri persekutuan, berdoa bersama kaum saleh, kita mendapat sorotan terang, sehingga kita menemukan jalan atau pimpinan Tuhan.

Bersinar Bagi Tuhan
Why. 1:12

Pelita Kemah Suci dalam Perjanjian Lama dinyalakan dari petang sampai pagi (Kel. 27:20-21). Pada malam yang gelap, pelita dinyalakan. Zaman ini adalah malam panjang yang sangat gelap. Tuhan Yesus adalah Surya kebenaran, dan sejak Dia ditolak oleh manusia dan disalibkan, Surya dunia ini terbenam dan bumi menjadi sangat gelap. Kini Tuhan berhuni di sorga dan Dia memerintahkan kita untuk bercahaya. Jadi, sebagai pelita Allah, kini kita harus bercahaya. Namun, kita memiliki begitu banyak alasan, “Ada banyak penentangan dari luar, jadi kita hanya dapat bersembunyi. Hati orang-orang terlalu gelap, jadi kita tidak perlu menghabiskan tenaga.” Apakah alasan-alasan ini masuk akal? Justru kegelapan adalah waktu yang tepat bagi kita untuk bercahaya. Jika dunia sudah terang, kita tidak diperlukan.
Saudara saudari, saatnya akan datang, tidak lama lagi, di mana kita tidak memiliki kesempatan untuk menderita dan bersinar bagi Tuhan. “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang” (Rm. 13:12). Pada waktu yang terakhir ini, marilah kita bersinar dengan setia bagi Tuhan dalam kehidupan dan perkataan kita. Ketika Bintang Fajar datang, kita akan diangkat.
Ada hal lain yang perlu kita perhatikan bahwa kaki dian itu sendiri tidak memiliki terang. Penerangan pelita tergantung kepada minyak dan api. Ini adalah hal yang sangat penting untuk diingat. Jika kita ingin bersinar bagi Tuhan, kita harus senantiasa bersandar pada Roh Kudus dan terus menerus mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Jika semenit saja kita tanpa minyak Roh Kudus (Za. 4:1-14) dan api kudus, maka kita akan segera berhenti bercahaya.
Kita sering mendengar istilah “Roh Kudus” dan “kekudusan,” tetapi sudahkah kita benar-benar dipenuhinya? Kita bisa membicarakan perkara bercahaya, tetapi sekarang kita perlu memeriksa diri kita untuk melihat apakah kita benar-benar memiliki minyak dan api dari Allah. Kita sungguh berharap untuk “bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia sambil berpegang pada firman kehidupan” (Flp. 2:15-16). Betapa kita mendambakan untuk menjadi “terang dunia” (Mat. 5:14).

Penerapan:
Bila kita di dalam masalah, jalan serasa buntu, tidak ada vitalitas, dan merasa lemah. Datanglah menghadiri persekutuan dengan anggota tubuh Kristus yang lain untuk mendapat terang yang menyinari kegelapan di dalam diri kita. Percayalah, Tuhan akan memberi kekuatan dan jalan kepada kita.

Pokok Doa:
Tuhan aku mau menjadi terang yang bersinar di dalam kegelapan yang pekat ini. Tuhanku, meluaslah atasku, agar aku semakin mengekspresikan kemuliaan-Mu melalui kehidupanku dalam keluarga, masyarakat, dan dunia ini. Buatlah aku menjadi saluran-Mu hingga orang lain dapat melihat terang-Mu melalui aku.


Seorang Serupa Anak Manusia
Wahyu 1:13
"Dan di tengah-tengah kaki dian itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas."

Haleluya! Tuhan Yesus ada di tengah-tengah kaki dian. Ini menggenapkan janji dalam Matius 28:20. Sungguh mustika! Kita perlu menyadari bahwa Ia selalu beserta kita. Dialah Sang Imanuel. Tetapi untuk itu, kita perlu berpaling seperti yang dilakukan Yohanes (ay. 12)."Seorang serupa Anak Manusia." Seorang ini adalah Tuhan Yesus Kristus kita. Yehezkiel berkata bahwa Dia "kelihatan seperti rupa manusia" (Yeh. 1:26). Daniel juga berkata bahwa Dia "seperti anak manusia" (Dan. 7:13). Mengapa di kitab Wahyu dikatakan lagi bahwa Dia serupa Anak Manusia? Ini memperlihatkan Tuhan Yesus bukan hanya Anak Allah, Dia juga adalah Anak manusia.
Ketika Kristus datang berurusan dengan kita di dalam gereja-gereja, Ia melakukannya bukan hanya di dalam keilahian-Nya, tetapi juga di dalam keinsanian-Nya.
Seringkali untuk menutupi kegagalan, kita mungkin memaafkan diri dengan alasan bahwa kita adalah manusia yang penuh kelemahan. Kalau Tuhan dapat melakukan semua hal karena Ia adalah Anak Allah, tetapi, di sini Tuhan datang kepada kita sebagai Anak Manusia bukan sebagai Anak Allah. Dialah pelopor dan teladan kita.
Karena itu tidak ada alasan bagi kelemahan kita. Saat ini, keperluan kita adalah menyadari hal ini dan mulai belajar hidup oleh-Nya. Asal saja hari demi hari kita hidup oleh-Nya (Kol. 3:4; Yoh. 6:57), kita akan diserupakan dengan Dia, sehingga kita akan diagungkan sama seperti Dia.

Sebagai Imam Besar
Why. 1:13

Ayat 13 mengatakan bahwa Kristus "berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki." Jubah di sini adalah jubah imam (Kel. 28:33-35). Meskipun istilah "imam" tidak disebut di sini, namun melalui kata "jubah", kita mengetahui bahwa di sini Kristus dilukiskan sebagai Imam Besar. "Dada-Nya berlilitkan ikat pinggang dari emas." Pernahkah Anda melihat orang yang dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas? Imam-imam dalam Perjanjian Lama, berlilitkan ikat pinggang pada pinggangnya ketika mereka bertugas (Kel. 28:4). Dalam Daniel 10:5, Kristus pun berikat pinggang emas. Tetapi di sini, sebagai Imam Besar kita, Kristus memakai ikat pinggang di dadanya. Dada melambangkan kasih. Jadi, dada berlilitkan ikat pinggang emas melambangkan perawatan dalam kasih ilahi.
Hari ini, Anak Manusia, Yesus Kristus, yang sedang berjalan di tengah-tengah gereja, adalah seorang Imam. Imam ini sangat manis dan menarik, karena Ia merawat orang banyak. Di satu aspek, sebagai Imam Besar, Kristus berdoa syafaat di atas surga untuk gereja-gereja (Ibr. 9:24; 7:25-26; Rm. 8:34), di aspek lain, Dia juga berjalan di antara gereja-gereja, merawat gereja-gereja. Karena itu, untuk berbagian dalam pergerakan-Nya dan menikmati perawatan-Nya, kita harus berada di dalam gereja.
Akan tetapi, kita juga perlu melihat dari sudut pandang yang lain. Alkitab memberitahukan bahwa Dia sebagai Anak Manusia akan segera menghakimi dunia. Sebelum Dia menghakimi dunia, Dia akan menghakimi gereja-Nya karena penghakiman harus dimulai pertama-tama pada rumah Allah (1 Ptr. 4:17).
Dia menghakimi berdasarkan kebenaran Allah. Ikat pinggang emas melambangkan kebenaran Allah, ketika Dia datang untuk menghakimi, "Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang" (Yes. 11:5). Puji Tuhan, ikat pinggang emas ada pada dada-Nya, kita dihakimi menurut kebenaran Allah, tetapi di dalam kasih ilahi-Nya. Karena itu, marilah kita bekerja sama dengan-Nya, menyingkirkan apa yang Tuhan tidak kehendaki di dalam kita dan membiarkan Tuhan menyusun diri-Nya ke atas diri kita.

Penerapan:
Kita sering menutupi kelemahan dan kekurangan kita. Ketika Tuhan mengeksposnya, kita menjadi malu dan ingin mengundurkan diri. Ketahuilah, Tuhan ingin memakai kita sebagai ciptaan baru-Nya untuk mempermalukan dan mengalahkan Iblis. Pengeksposan-Nya adalah awal pekerjaan-Nya untuk memperbarui kita.

Pokok Doa:
Terima kasih Tuhan atas penghakiman-Mu. Kadang aku merasa tidak tahan. Tetapi, justru itulah bukti kasih-Mu padaku. Amin.

Rambut dan Mata-Nya
Wahyu 1:14
"Kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api."

Kepala dan rambut-Nya putih." Ini menyatakan hikmat Tuhan yang penuh. Amsal mengatakan, "Rambut putih adalah mahkota yang indah" (16:31), dan juga mengatakan, "keindahan orang tua ialah uban" (20:29). Rambut putih juga menandakan lanjut umur (Ayb. 15:10), mengacu kepada kepurbaan Kristus. Kristus itu purba, namun Ia tidak tua. Haleluya!"Kepala dan rambut-Nya putih seperti bulu domba, seputih salju." Dalam Yesaya 1:18, kita melihat bahwa Allah berjanji untuk membasuh dosa-dosa kita, sehingga menjadi seputih bulu domba dan salju. Ketika kita memikirkan dosa-dosa kita telah dibasuh sampai kita seperti kepala dan rambut Tuhan, tidakkah kita takjub pada anugerah Tuhan? Namun, tidak ada mahkota di atas kepala-Nya! Waktu-Nya untuk menjadi Raja belum tiba. "Mata-Nya bagaikan nyala api." Di sini, "mata-Nya" bagaikan nyala api adalah untuk menyelidiki dan memeriksa, agar Ia dapat melaksanakan penghakiman-Nya melalui sorotan-Nya. Boleh jadi ketika kita mencoba menyembunyikan sesuatu dari istri kita, Tuhan datang dengan mata-Nya menyoroti dan mengungkapkan keadaan kita yang sesungguhnya. Mata Tuhan mengamat-amati anak-anak manusia (Mzm. 11:4). "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab" (Ibr. 4:13).

Bagaikan Nyala ApiWhy. 1:14

Kitab Wahyu adalah sebuah kitab yang mengandung sifat pengha-kiman. "Api" adalah untuk penghakiman ilahi (1 Kor. 3:13; Ibr. 6:8; 10:27). "Allah kita adalah api yang menghanguskan" (Ibr. 12:29); "takhta-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya" (Dan. 7:9-10). Semuanya ini untuk menghakimi. Mata Tuhan yang seperti nyala api terutama untuk penghakiman (Why. 2:18-23; 19:11-12). Ketika Dia datang untuk mengambil alih bumi dengan melaksanakan penghakiman terhadap bumi, kedua kaki-Nya pun bagaikan tiang api (Why. 10:1).
Pada hari yang terakhir, saat Kristus berdiri di hadapan takhta penghakiman, Tuhan juga akan menggunakan api untuk menguji pekerjaan manusia, "sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu" (1 Kor. 3:13). "Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah" (1 Kor. 4:5). "Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat" (2 Kor. 5:10). Walaupun kini kita dapat berbuat dosa dengan tersembunyi dan melakukan perbuatan yang tidak dilihat dan didengar orang lain, tetapi "tidak ada satu pun yang tersembunyi yang tidak akan disingkapkan." Dalam kitab Maleakhi, Kristus "seperti api tukang pemurni logam" (3:2). Api menyebabkan orang-orang yang baik menjadi murni dan yang jahat dibinasakan. Saudara saudari, jangan takut dimurnikan, agar kelak kita berani berdiri di depan takhta penghakiman.
Mata Kristus tidak hanya mengamati, menyelidiki, menghakimi, tetapi juga menyalurkan diri-Nya. "Mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia" (2 Taw. 16:9).

Penerapan:
Ketika mata-Nya memandang kita, yang tadinya dingin akan dibarakan dan dibangkitkan.
Jika kita menyembunyikan sesuatu kepada pasangan kita, mata-Nya juga menembus diri kita dan menyingkapkan siapa sebenarnya diri kita. Ketika kita berbantahan dengan orang lain, sorotan mata-Nya akan membungkam mulut kita.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, ampunilah, begitu banyak dosa tersembunyi yang aku lakukan. Memang orang lain tidak tahu, tetapi Engkau tahu, ya Tuhan. Ampunilah aku. Bekerjalah di dalamku. Ubahlah aku, ya Tuhan.

Perilaku-Nya Telah Melewati Ujian
Wahyu 1:15
"Dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah."
Tembaga melambangkan penghakiman ilahi (Kel. 27:1-6). Inilah kaki Tuhan. Kaki melambangkan perilaku. "Membara di dalam perapian" berarti menerima pengujian melalui pembakaran. Perilaku Kristus telah teruji oleh penderitaan-Nya, bahkan oleh kematian-Nya di atas salib. Karena itu, perilaku-Nya berkilauan, seperti kilau tembaga yang mengkilap, membuatnya layak menghakimi orang yang lalim. Dia akan menghakimi apa saja yang berdosa di pandangan-Nya. Kaki-Nya "bagaikan tembaga membara." Betapa murni-Nya tindakan-Nya! Kekudusan-Nya yang luar biasa berjalan di tengah-tengah gereja. Betapa banyaknya dosa yang Dia hakimi! Kita akan segera melihat kaki-Nya menginjak Iblis dan segala sesuatu yang Dia benci di bawah kaki-Nya."Suara-Nya bagaikan desau air bah." Desau air bah adalah suara gemuruh, adalah suara Allah Yang Mahakuasa (Yeh. 1:24; 43:2). Ini melambangkan keseriusan dan kewibawaan perkataan Allah (10:3). Kadang kala suara Tuhan itu lembut dan ramah, tetapi kadang kala suara-Nya seperti guntur dan mengejutkan kita. Bila kita teledor atau mengantuk, suara Tuhan akan membangunkan kita. Suara-Nya, suara Allah Yang Mahakuasa, memperingatkan kita dan membangunkan kita. Alkitab berkata, "Orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup" (Yoh. 5:25).
Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Jadilah Bintang Yang BersinarWhy. 1:16

Wahyu 1:16 mengatakan, "Dan di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang." Ayat 20 menjelaskan hal ini, "Ketujuh bintang itu ialah malaikat (utusan) ketujuh jemaat (gereja)." Para utusan ialah orang-orang yang memikul tanggung jawab "kesaksian Yesus". Mereka seperti bintang-bintang, mempunyai sifat surgawi, dan berada di atas kedudukan surgawi. Dalam Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman, penatua adalah pemimpin dalam mengelola gereja lokal (Kis 4:23; 20:17; Tit. 1:5). Jabatan penatua sangat alkitabiah. Paulus berkata, "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah" (1 Tim. 3:1), namun di kitab Wahyu, karena kemerosotan gereja, ada jabatan penatua yang berubah mutu menjadi sekedar ‘jabatan’ tanpa realitas rohani. Dalam kitab ini, Tuhan menghendaki kita memperhatikan realitas rohani sehingga kita bisa menjadi bintang yang bersinar.
Kaki dian dan bintang bersinar di waktu malam. Gereja dan orang-orang yang memimpin dalam gereja, haruslah bersinar di zaman yang gelap ini.
Sewaktu Kristus berjalan di antara gereja-gereja, Ia memegang orang-orang yang memimpin di tangan kanan-Nya. Betapa menghiburnya hal ini! Orang-orang yang memimpin seharusnya memuji Dia, karena Ia memegang mereka. Karena orang-orang yang memimpin berada di dalam tangan-Nya, maka mereka tidak perlu kecil hati, lemah ataupun takut keliru. Kristus bertanggung jawab untuk kesaksian-Nya. Mereka sangat aman berada di tangan Tuhan. Namun, mereka juga memikul tanggung jawab yang sangat besar. Mereka harus setia agar bercahaya sampai kekal. Jika tidak, mereka akan menjadi "bintang-bintang yang berkelana" (Yud. 13).
Karena itu kita perlu dimurnikan. "Dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua." Inilah perkataan Kristus yang memisahkan, menghakimi, dan membunuh (Ibr. 4:12; Ef. 6:17). Sering kali kita mengalami penghakiman ini karena kesalahan yang kita perbuat dan karena kita meninggalkan Tuhan. Setiap kata yang keluar dari mulut-Nya di dalam gereja hari ini, seperti sebilah pisau tajam yang menghakimi kita (Ibr. 4:12).

Penerapan:
Perilaku kita sehari-hari haruslah melewati penghakiman ilahi. Ketika Kristus hidup di bumi, pergerakan-Nya dan kehidupan sehari-hari-Nya telah melewati pencobaan dan pengujian, baik dari Allah, iblis, atau manusia. Segala perilaku kita yang tidak sesuai dengan standar kekudusan-Nya kiranya dihakimi dan kita makin dimurnikan.

Pokok Doa:
Berdoalah agar sorotan mata Kristus menyoroti Anda, membakar serta memurnikan segala perilaku, perbuatan-perbuatan, kebobrokan sifat daging, serta keduniawian Anda yang tidak sesuai dengan tuntutan sifat kekudusan-Nya.

Tersungkur Di Depan Kaki-Nya (1)
Wahyu 1:17
"Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir"
Tuhan Yesus yang mulia ini hanya membutuhkan sekejap mata untuk menghasilkan pengaruh yang sedemikian. Kemuliaan ini luar biasa. Mata siapakah yang dapat tahan terhadap pemandangan ini? Yohanes pernah bersandar di pangkuan Yesus, tetapi oleh karena kemuliaan, kemegahan, kuasa, dan kekudusan ini, ia tersungkur di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati. Ketika Kristus datang untuk menghakimi gereja dan dunia, siapakah yang dapat tahan terhadap pemandangan sedemikian? Jika Yohanes bereaksi demikian, bagaimana dengan orang lain? Orang-orang beriman yang tidak setia itu? Musuh Tuhan? Semua orang kudus dan orang berdosa akan menyadari keagungan penghakiman yang segera datang ini!
Kebanyakan kita menganggap diri sendiri memiliki sesuatu yang baik. Jika kita melihat Kristus, kita akan menyadari ketidak-layakan kita. Sebelum Yesaya melihat Tuhan, ia sedang memberitakan firman Allah. Dalam pasal 5 disebutkan "Celakalah mereka" sebanyak enam kali, tetapi setelah melihat Tuhan, ia berkata, "Celakalah aku." Pasal 6:1 berbunyi, "Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci." Kemudian ayat 5, "Lalu kataku: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam."

Tersungkur Di Depan Kaki-Nya (2)
Why. 1:17b

Ketika Ayub diuji, ia mempertahankan kebenarannya sendiri kepada ketiga temannya dan menganggap dirinya sempurna.
Lalu ia melihat Tuhan, dan ia berkata, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu" (Ayub 42:5-6).
Daniel adalah orang yang disebut Alkitab sebagai orang yang saleh, tetapi setelah ia bertemu Tuhan, ia berkata, "Demikianlah aku tinggal seorang diri. Ketika aku melihat penglihatan yang besar itu, hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. Lalu kudengar suara ucapannya, dan ketika aku mendengar suara ucapannya itu, jatuh pingsanlah aku tertelungkup dengan mukaku ke tanah" (Dan. 10:8-9). Nabi Habakuk berkata, "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami" (Hab. 3:16).
Jika kita benar-benar telah melihat kemuliaan Tuhan, kekudusan Tuhan, bahkan diri Tuhan sendiri, kita akan sangat membenci diri kita dan akan menganggap diri kita musuh yang paling besar dan menjijikan.
Sebenarnya kita sama sekali tidak mengenal diri kita. Instropeksi diri sama sekali tidak bermanfaat, itu bukan panduan yang sempurna. Jika kita tidak berada di bawah terang Tuhan, bagaimana kita dapat melihat dengan terang kita sendiri? Hanya ketika kita datang ke hadapan Tuhan untuk memeriksa diri kita barulah kita dapat melihat diri kita yang sesungguhnya.
Tuhan mengatur dan menggerakkan segala sesuatu dalam kehidupan kita untuk membantu kita melihat kegagalan kita sendiri secara total. Betapa sulitnya kita mempelajari pelajaran ini! Ketika kita dipenuhi anugerah Allah dan berhasil dalam pekerjaan kita, kita sulit mengenali diri kita bahwa kita tidak berguna. Betapa indahnya jika kita dapat melihat Tuhan Yesus sepanjang waktu dan tidak hentinya tersungkur di depan kaki-Nya.

Penerapan:
Jika mata hati kita tercelik, sehingga kita bisa melihat visi Anak Manusia – Kristus yang luar biasa ini, maka dari cara pembicaraan kita, sikap, pakaian, potongan rambut, bahkan sampai pergaulan kita akan mengalami perubahan. Kita pasti akan tersungkur dan akan menyadari keadaan kita yang sebenarnya, dan tahu sedang di manakah kita saat ini.

Pokok Doa:
Berdoalah agar Kristus menyingkapkan diri-Nya pada Anda. Pada tingkat tertentu, Anda masih belum mengenal Kristus yang sedemikian. Pada tingkat tertentu, Anda juga masih belum mengenal siapa diri Anda sesungguhnya. Mintalah Tuhan mencelikkan mata Anda hingga melihat bahwa diri Anda sendirilah musuh yang paling besar dan menjijikan.

Jangan TakutWahyu 1:17b
"...Tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir"

Tangan kanan Tuhan yang berotoritas dan perkataan-Nya berjalan seiring (Dan. 8:17-18; 10:9-10, 18). Meskipun Dia ada dalam kemuliaan, Ia tetap penuh kasih! Kasih-Nya dapat diekspresikan dalam frasa ini, "Jangan takut!" Perkataan ini sungguh mengekspresikan sifat Tuhan!
Kitab ini membicarakan "hari TUHAN yang besar dan menakutkan." Pada hari itu, Allah akan membalas manusia menurut perbuatan mereka. Semua akan dihakimi. Namun, ada sekelompok orang yang mengenal bahwa Tuhan Yesus mengasihi mereka, bahwa Dia mencucurkan darah-Nya bagi mereka, dan bahwa Dia menjadikan mereka imam dan raja. Keadaan rohani mereka akan sama dengan Yohanes, dan mereka tidak perlu takut.
Ketika Tuhan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, kita akan menyadari kelemahan kita sendiri, tetapi lebih dari ini, kita akan melihat kebesaran persona-Nya. Karena itu, Dia berkata, "Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir." Kristus adalah Yang Awal, juga Yang Akhir. Hal itu menjamin kita bahwa begitu hidup gereja dimulai, Ia pasti menggenapkannya. Ia tidak akan meninggalkan pekerjaan-Nya terbengkalai. Semua gereja lokal harus percaya bahwa Tuhan Yesus adalah permulaan dan akhir. Ia akan menggenapkan apa yang telah dimulai-Nya dalam pemulihan-Nya. Kiranya hal ini menjamah dan mempengaruhi kita sehingga kita menyerahkan masa depan kita ke tangan-Nya.

Yesus adalah Yang Hidup
Why. 1:18

Dalam ayat 18, Tuhan melanjutkan, "Dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." Walaupun Kristus adalah hakim yang menyatakan keagungan-Nya, dan walaupun orang-orang kudus memikul tanggung jawab yang serius di hadapan-Nya, Yohanes mendengar ada yang berkata, "Jangan takut." Mengapa? Karena Tuhan Yesus adalah Yang Hidup, yang telah menjadi manusia, mati, dan bangkit. Dia telah mengalahkan Iblis, dan mematikan sengat maut dan kuasa kerajaan maut. Sekarang Dia memegang kunci kerajaan maut. Karena Dia telah mati dan bangkit, kita seharusnya tidak takut.
Hanya kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus yang dapat memberi kita keberanian untuk berdiri di hadapan tahkta penghakiman. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita dilepaskan dari penghukuman telaga api kekal. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, kita diselamatkan dari rasa malu di hadapan tahkta penghakiman. Kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kemegahan kita adalah kematian dan kebangkitan Tuhan? Orang yang rohani dan yang selalu siap sedia adalah orang yang demikian, bukan karena mereka lebih maju daripada orang lain, tetapi karena mereka bersatu dalam kematian dan kebangkitan Tuhan (Rm. 6:5).
Saudara saudari, kita bukan menantikan maut (1 Kor. 15:26). Kita sedang menantikan saatnya Tuhan datang kembali. Pada zaman ini, Tuhan bukan sedang memulihkan ciptaan-Nya yang semula dari cengkeraman maut dan kerajaan maut. Sebaliknya, Dia sedang membuka pintu alam maut dan kerajaan maut dan memimpin kita ke tempat berkat yang lebih besar. "Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut." Karena Tuhan Yesus memegang kunci maut dan kerajaan maut, Dia dapat membangkitkan mereka untuk menerima penghakiman di hadapan-Nya. Terima kasih kepada Tuhan karena "Genaplah firman Tuhan yang tertulis: Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" (1 Kor. 15:54-55).

Penerapan:
Ketika kita mengalami perasaan maut seperti lemah, kosong, cemas, gelisah, sumpek, kering, gelap, nyeri dalam kehidupan kristiani kita, janganlah takut! Segeralah memproklamirkan ayat ini. Roma 8:2 mengatakan, "Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. "

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku bersyukur memiliki Engkau sebagai Yang Awal dan Yang Akhir. Kiranya Engkau genapkan rencana-Mu atas hidupku. Mulai hari ini, aku mau hidup hanya bagi-Mu, masa depanku biarlah bagi kemuliaan-Mu semata.


Malaikat Ketujuh Gereja
Wahyu 1:20
"Dan rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki dian emas itu: ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat (gereja) dan ketujuh kaki dian itu ialah ketujuh jemaat."
Ayat 19 mengatakan, "Karena itu tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini." Di sini Tuhan memberi amanat kepada Yohanes untuk memberitakan tanggung jawab kaum beriman dan kekalahan si jahat.
Ayat 20 melanjutkan dengan perkataan bahwa ketujuh bintang dan ketujuh kaki dian adalah suatu misteri (rahasia). Sebuah misteri adalah sesuatu yang memiliki makna rohani yang tersembunyi. Kecuali Allah menjelaskannya kepada manusia, misteri tidak akan dapat dipahami.
Malaikat (utusan, pembawa pesan, pemberita) di ayat 20 bukan mengacu kepada malaikat, roh yang melayani (Ibr. 1:14). Wahyu 2:10 memberi bukti, bahwa Tuhan berbicara kepada utusan di Smirna bahwa dia harus setia sampai mati (Why. 2:10). Mereka mengacu kepada orang-orang yang mewakili gereja-gereja, yaitu orang-orang yang bertanggung jawab untuk gereja.
Tuhan mengingatkan mereka perihal kaki dian yang akan diambil, tentang jangan memegang ajaran Bileam, tentang penderitaan karena Izebel, tentang kedatangan-Nya sebagai pencuri. Tuhan menanggulangi mereka, karena mereka diperintahkan Tuhan agar bertanggung jawab terhadap gereja. Mereka adalah orang Kristen sejati, di dalam gereja, yang telah menerima karunia, memiliki pengaruh dan kemampuan mempengaruhi gereja. Kiranya kita damba menjadi utusan.

Damba Menjadi Utusan
Why. 1:20

Kalimat pertama dalam kitab Wahyu pasal dua dan tiga adalah, "Kepada malaikat (utusan) gereja di … " Meskipun surat-surat tersebut ditulis kepada tujuh utusan, kita menemukan perkataan "mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada gereja-gereja." Sangat jelas di sini bahwa utusan dan gereja adalah satu. Tuhan memperlakukan utusan itu sebagai gereja-gereja dan memerintahkan mereka mengemban tanggung jawab gereja.
Jadi, utusan ini adalah mereka yang setia mengasihi Tuhan, memiliki posisi sorgawi dan mempunyai pengalaman seperti bintang di sorga. Mereka bersinar untuk Tuhan seperti bintang pada malam hari. Pengharapan dan kebahagiaan mereka ada di sorga. Mereka memiliki persekutuan yang intim dengan Kristus. Mereka juga memiliki kekuatan dan kuasa Tuhan, sebab mereka ada pada tangan kanan Tuhan Yesus. Mereka mewakili gereja karena mereka paling setia di dalam gereja. Mereka memikirkan gereja. Mereka melihat kegagalan dan kesuksesan gereja sebagai milik mereka. Mereka memikul tanggung jawab gereja di dalam hati mereka.
Setiap orang dari kita bisa menjadi utusan! Tuhan akan menjaga mereka yang setia melayani Dia, yang bertanggung jawab untuk kebangkitan dan kejatuhan gereja mereka. Betapa sucinya pemikiran ini! Marilah kita dengan jelas melihat tanggung jawab kita. Kita harus dengan gembira memikul tanggung jawab gereja di hadapan Tuhan. Di dalam Roh, kita harus menolak semua serangan dan taktik Satan. Kita harus berlutut, menangis, dan dengan segenap jiwa berdoa syafaat bagi gereja Kristus. Meskipun kita tahu bahwa semua kegagalan gereja bukan karena kita, tetapi itu akan menjadi kegagalan kita, jika kita tidak memperhatikan kegagalan mereka. Kita harus memiliki hati yang diperluas untuk menerima semua anak-anak Allah, melihat urusan mereka sebagai urusan kita. Namun, jika kita sendiri tidak setia, maka kita tidak hanya akan menyebabkan diri kita dalam bahaya tetapi juga menyebabkan hati Tuhan berduka. Jika kita dengan rela memberikan diri kita kepada tangan Tuhan dan dengan gembira memikul tanggung jawab untuk kepentingan-Nya, maka kita tidak hanya akan menerima berkat yang tidak terkata, tetapi Tuhan juga akan memakai kita menggenapkan pekerjaan yang besar dan luar biasa.

Penerapan:
Mulailah ambil bagian dalam pelayanan gereja. Jangan undur dari pelayanan karena situasi yang di luar, sebaliknya perkuat doa syafaat kita supaya Tuhan menjaga kesaksian-Nya dan pelayanan kita. Biarlah hidup kita bisa menjadi teladan sehingga banyak orang bisa diselamatkan dan lebih mengasihi Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tidak mau sekadar menjadi orang Kristen yang biasa-biasa saja. Pakailah diriku ini menjadi utusan Tuhan yang murni dan sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar