Jumat, 25 Maret 2011

Wahyu (Bagian 2): Utusan Messenger

Wahyu 2:1
"Tuliskanlah kepada malaikat (utusan) jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu."


Tuhan Yesus penuh kasih karunia, tetapi Ia juga adil benar. Berhubung gereja telah merosot dan jatuh, maka dalam kitab Wahyu, Dia tidak lagi dapat menulis dengan nada penuh kasih. Surat ini bukan lagi ditujukan kepada seluruh kaum saleh seperti dalam Efesus 1:1, tetapi hanya kepada utusan gereja, mengapa? Karena gereja telah meninggalkan Dia (Bd. Why. 3:20), Dia harus memerintahkan Yohanes untuk menulis kepada utusan gereja. Manusia telah mengasingkan dirinya sendiri dari Allah sehingga Allah tidak mampu menariknya lebih dekat lagi. Sebenarnya kasih Tuhan tidak pernah berubah, yang berubah adalah umat-Nya.
Siapakah utusan itu? Mengapa mereka mampu berbicara dengan Allah berhadapan muka? Apakah mereka adalah orang-orang yang menonjol atau orang-orang yang cakap dalam gereja? Ataukah mereka adalah para pengurus gereja, orang-orang yang hari ini mendapat sebutan ‘hamba Tuhan’? Tuhan bukan berbicara kepada orang berdasarkan kedudukan atau karunia mereka, melainkan berdasarkan kualitas hubungan mereka dengan Tuhan. Para utusan ini adalah orang-orang yang ditarik lebih dekat kepada Tuhan. Mereka mempunyai telinga untuk mendengarkan Tuhan, mata untuk memandang Tuhan, dan hati untuk mengasihi Tuhan.
Utusan ini adalah orang-orang dalam setiap gereja yang diselamatkan oleh darah Tuhan, yang mau memikul tanggung jawab bagi Tuhan, dan yang mau melayani Tuhan dengan setia. Mereka adalah bintang-bintang yang bersinar di malam yang gelap. Mari kita renungkan: ‘Kita utusan atau bukan’?

 
Pengirim Surat
Why. 2:1

Sebelum mengatakan sesuatu kepada gereja-gereja, Tuhan selalu memper-kenalkan siapa Dia. Tanpa mengenal diri Tuhan, kita tidak mungkin mengenal gereja. Dalam surat yang pertama, Tuhan mengatakan bahwa Ia adalah Yang memegang ketujuh bintang di tangan kanan-Nya. Kalau dulu, yang berdiri di hadapan Allah ialah gereja; tetapi sekarang, utusanlah yang berdiri di hadapan-Nya (dilambangkan oleh ketujuh bintang - Why. 1:20). Tuhan telah memilih cahaya bintang yang tak terpadamkan dan menyatakannya sebagai utusan-Nya.
Bintang-bintang ini ada dalam genggaman tangan-Nya, bukan dalam saku manusia. Meskipun manusia dapat mengorganisasi ‘gereja’, menginstitusi hukum dan menyusunnya, dan menetapkan susunan hamba Tuhan, dalam realitasnya, pekerjaan-pekerjaan itu menyingkirkan tempat dan kekuasaan Kristus! Hanya ketika bintang-bintang itu ada di dalam tangan-Nya, barulah mereka dapat memikul tanggung jawab bagi gereja-gereja.
Mereka yang ingin memikul tanggung jawab bagi gereja-gereja seharusnya pertama-tama rebah di kaki Tuhan seperti mati dan secara pribadi mengalami penggenggaman dan penjagaan kuasa dari "tangan kanan"-Nya. Hanya tangan kanan Tuhan yang dapat membuat bintang bersinar menurut kehendak-Nya. Semoga Tuhan membangkitkan kita untuk melayani-Nya dengan setia, memikul tanggung jawab membangun gereja. Jatuh bangunnya gereja adalah tanggung jawab kita. Kita harus seperti bintang-bintang di langit, yang memberikan terang dan menetapkan waktu.
Tuhan kita bukan hanya "di tengah-tengah kaki dian" (1:13), tetapi "berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu". Kita perlu melihat, bahwa meskipun segala sesuatu di dunia ini berada di bawah tangan Tuhan, Tuhan tidak berjalan di tengah-tengah dunia. Ia berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu! Ini berarti, Ia bukan hanya mengatur semua kaki dian, tetapi juga memeriksa tingkah laku mereka. Kaum beriman sering kali lupa bahwa Tuhan mengetahui bukan hanya perkataan dan tingkah laku kita, melainkan juga pemikiran kita. Dia menyelidiki kegagalan kita yang di luar dan menghakimi kekurangan kita yang di dalam.

Penerapan:
Hari ini, Tuhan masih terus berbicara kepada orang-orang yang mendengarkan-Nya. Ia tidak berubah. Yang penting bukanlah jabatan atau kedudukan, melainkan benar-benar memiliki kekuasaan rohani di hadapan Allah, bisa mewakili gereja. Allah menyerahkan kekuasaan-Nya itu kepada orang-orang yang sedemikian.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, ampuni aku karena telah jauh memisahkan diri dari-Mu. Tariklah aku sekarang juga Tuhan, tariklah aku terus lebih dekat kepada-Mu. Dapatkan telingaku untuk mendengarkan Engkau, mataku untuk memandang-Mu, dan hatiku hanya mengasihi-Mu.


Aku Tahu Segala Pekerjaanmu
Wahyu 2:2
"Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta."
Di antara tujuh gereja dalam kitab Wahyu ini, lima gereja dicela; satu gereja tidak dicela pun tidak dipuji; hanya satu gereja yang dipuji. Dan gereja di Efesus termasuk di antara gereja-gereja yang dicela. Kata "Efesus" dalam bahasa Yunani berarti "yang didambakan". Hal ini menandakan bahwa Tuhan tetap menaruh pengharapan yang besar terhadapnya. Gereja di Efesus adalah gereja yang Tuhan sayang dan Tuhan indahkan.
Walau ditegur, namun pekerjaan gereja di Efesus tidak hilang dari perhatian Tuhan. Tuhan kita sebenarnya suka berbicara mengenai perbuatan baik umat-Nya. Sayangnya kita tidak memiliki banyak perbuatan baik untuk dipuji Tuhan!
"Aku tahu" — dua kata ini seharusnya menusuk hati kita, namun juga sangat menghibur! Semua pekerjaan dan kondisi umat-Nya berada di bawah penyelidikan-Nya, karena Dia berjalan di tengah-tengah kaki dian emas. Berapa banyak pekerjaan yang kita miliki di hadapan Tuhan yang dapat disebut sebagai pekerjaan? Kaum saleh di Efesus bukan hanya memiliki iman, tetapi juga memiliki pekerjaan.
Betapa banyaknya pujian Tuhan bagi Efesus! Selain pekerjaan, mereka juga memiliki jerih payah. Berjerih payah berarti bergumul dan berjuang, atau bekerja dengan usaha yang keras. Berapa banyak orang yang mengesampingkan segala sesuatu bagi pekerjaan Tuhan? Ketika kita merenungkan betapa dinginnya hati kita terhadap pekerjaan Tuhan, kita seharusnya bertobat dari kondisi kita yang sedemikian rendah dibandingkan dengan gereja di Efesus!

 
Realitas Rohani
Why. 2:2-4

Tuhan memuji ketekunan gereja di Efesus. Ini berarti gereja ini pernah teraniaya, tetapi tekun dalam penderitaan. Ketekunan, memang adalah kebajikan yang paling penting dalam gereja. Jika hidup sendirian, kita tidak perlu banyak ketekunan, tetapi ketika berkumpul bersama, bahkan hanya dengan dua atau tiga orang sekalipun, ketekunan sangat diperlukan. Dalam gereja, ada ratusan kesempatan bagi kita untuk bertekun, dan ini bukan hal yang mudah. Ketekunan disini juga memiliki arti kegigihan. Banyak orang, kelihatan baik pada mulanya, tetapi ketika kesulitan datang, mereka terseret bersama yang lain dan kehilangan iman mereka. Apa yang diperlukan dalam pencobaan adalah ketekunan, tetapi hal yang paling cepat menghilang dalam pencobaan justru adalah ketekunan.
Masih banyak pujian bagi gereja di Efesus, tetapi semua itu tidak cukup memuaskan Tuhan. Itulah sebabnya setelah memuji, Tuhan mencela mereka (ay. 4). Ada yang mengira, sebelum mencela, Tuhan terlebih dulu memuji gereja di Efesus, supaya mereka merasa sedikit enak; seolah-olah Tuhan sedang melakukan suatu diplomasi. Sebenarnya bukan demikian. Tuhan ingin memperlihatkan realitas rohani. Ada sesuatu yang disebut realitas rohani, dan yang eksistensinya tidak terpengaruh oleh keadaan lahiriah.
Kita mudah sekali melihat betapa suram dan gersangnya kondisi gereja dewasa ini, mengira saudara ini atau saudara itu munafik, tanpa realitas, dll. Kita sungguh perlu terang agar melihat bahwa kelemahan atau kegagalan saudara saudari itu palsu. Seperti seorang anak yang sekujur tubuhnya kotor karena bermain di lumpur, tetapi kotornya itu bukan timbul dari dalam dirinya, asal dibasuh, ia pasti bersih kembali. Anak-anak Allah wajib belajar, melihat kebaikan saudara saudari berdasarkan realitas rohaninya. Kenajisan itu palsu, karena realitasnya adalah baik.
Menurut pandangan manusia, keadaan orang Israel memang tidak benar, akan tetapi Allah berfirman melalui Bileam bahwa Dia tidak melihat adanya kejahatan di antara keturunan Yakub (Bil. 23:21). Apakah mata Allah tidak lebih baik daripada mata kita? Tidak, melainkan karena Allah lebih memandang realitas rohaninya dibandingkan penampilan luarannya.

Penerapan:
Apakah kita menganggap hidup kita begitu berharga sehingga kita tidak bisa mengesampingkan segala sesuatu bagi pekerjaan Tuhan?

Pokok Doa:
Tuhan, aku damba memiliki banyak perbuatan baik yang diperkenan oleh-Mu. Oh, Tuhan, selamatkan aku dari begitu banyak pekerjaan untuk diri sendiri, tetapi melupakan keperluan-Mu. Tuhan Yesus, tolonglah aku agar bisa berjerih payah bagi-Mu.



Kasih Yang Semula

Wahyu 2:4
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."

Pada mulanya gereja memiliki kasih yang luar biasa dalam terhadap Tuhan, tetapi tak lama kemudian, kasih ini pelan-pelan menjadi pudar. Tuhan sangat berduka. Ini adalah hal yang sangat serius. Jika mereka telah meninggalkan kasih yang semula, bukankah pada masa yang akan datang mereka juga akan meninggalkan pekerjaan yang dimiliki saat ini? Inilah penyebab utama kemerosotan hidup gereja, juga sumber segala kemerosotan gereja dalam tahap-tahap selanjutnya.
Banyak orang Kristen mengira, bahwa kasih yang semula adalah kasih yang kita tujukan kepada Tuhan Yesus ketika kita baru dilahirkan kembali, atau kegairahan dan kerajinan dari kaum beriman yang baru. Pengertian ini tidak memadai. Istilah "semula" dalam bahasa Yunaninya ialah "proten". Kata ini tidak hanya menunjukkan pertama dalam waktu, juga pertama dalam sifat. Kata "terbaik" dalam Lukas 15 — jubah yang terbaik yang dikenakan sang bapa kepada si anak hilang — adalah kata yang sama dengan "semula" di sini. Gereja di Efesus telah meninggalkan kasih yang terbaik ini terhadap Tuhan.
Banyak orang telah mencucurkan air mata syukur ketika mereka mengenal keselamatan salib. Pada saat demikian, mereka bersedia bahkan untuk mati dan dikubur bagi Tuhan. Betapa kuatnya "kasih semula" ini! Sayangnya, kondisi sedemikian tidak bertahan lama. Ketika situasi berubah, hati yang membara bagi Tuhan dan sakit asmara itu menjadi semati abu. Saudara saudari, bagaimana dengan kita?

 
Kasih Yang Semula — Mengutamakan TuhanWhy. 2:5; Ef. 2:15; 3:16-19; 6:24


Semua orang yang dipenuhi dengan kasih semula ini memiliki satu karakteristik, yaitu mereka begitu terpikat oleh Tuhan. Mereka tidak peduli dengan keuntungan atau kerugian, ejekan atau teguran. Jika ada senyum Tuhan, wajah-wajah masam tidak akan membuat kita sengsara. Orang lain boleh memiliki dunia, ketenaran, puji-pujian, dan kemulian. Tetapi apa yang kita inginkan hanyalah Tuhan Yesus. Inilah maksud dari Filipi 3:7-8, "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus." Kedambaan yang sedemikian, membuat kita hanya mau melakukan satu hal: "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus" (ay. 13-14).
Kita harus tahu bahwa Allah bukan hanya yang terbaik, tetapi juga yang pertama. Di alam semesta, Allahlah yang pertama. Surat Kolose memberi tahu kita, bahwa Kristus harus mendapatkan tempat pertama (1:18b). Dalam hidup sehari-hari, kita harus mengutamakan Dia dalam perkara besar maupun kecil. Ketika saudara-saudara membeli barang, mereka seharusnya mengutamakan Kristus. Para saudari seharusnya juga mengutamakan Kristus dalam hal memotong rambut. Bila kita mengutamakan Kristus dalam segala hal, ini membantu kita memulihkan kasih semula yang telah hilang.
Dalam usia yang sangat lanjut, ketika hendak tidur, Darby berdoa dengan sederhana sekali, katanya, "Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi-Mu." Seorang saleh yang sudah tua bisa berkata demikian, benar-benar berharga. John Nelson Darby mulai mengasihi Tuhan sejak muda. Setelah 60 tahun lebih, ia masih mengasihi-Nya. Setiap hari, kita juga harus berkata kepada Tuhan, "Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi-Mu. Segalaku boleh berubah, ya Tuhan, tetapi aku tidak mau berubah dalam hal mengasihi-Mu."

Penerapan:
Kita perlu belajar untuk tidak melakukan suatu perkara, bukan hanya karena perkara itu tidak benar, atau karena takut kepada Allah, melainkan karena kita mengasihi-Nya. Berkatalah kepada Tuhan, "Tuhan Yesus, aku cinta kepada-Mu, maka aku tidak bisa melakukan hal ini."

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jangan biarkan aku kehilangan kasih yang terbaikku kepada-Mu. Jagalah hatiku tidak tercemar dan dinodai oleh tarikan dunia dan tarikan daging. Jagalah hatiku tetap perawan dan membara mengasihi-Mu.


Memelihara Kasih Yang Semula (1)
2 Korintus 5:14
"Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati."
Apa yang kurang dari diri kita bukanlah kasih kepada Tuhan. Kita telah memiliki kasih ini dari mulanya. Namun, tarikan keindahan dunia dan tuntutan kebutuhan hidup, tanpa sadar mendinginkan kasih semula yang begitu bergairah! Jadi, apa yang kita perlukan ialah kemampuan untuk memelihara kasih ini. Dalam melewati dunia jahat, sangatlah sulit untuk menjaga agar kaki kita tidak dicemari oleh debu dunia. Akan tetapi, jika kita memiliki hadirat Tuhan bersama kita sepanjang waktu, maka baskom air dan handuk Tuhan akan bekerja, dan kita sebagai pengembara di dunia ini, tidak akan dikotori oleh debu dunia.
Tentu saja, kita tidak mungkin sepenuhnya meninggalkan kasih Kristus. Kita tahu bahwa Kristus mengasihi kita dan kita mengasihi Kristus. Tetapi kasih kita menjadi biasa, tawar dan kabur. Kasih Tuhan tidak lagi sesegar sebelumnya dan tidak lagi mengikat kita seperti sebelumnya. Kasih Tuhan tidak lagi menjadi tarikan yang kuat. Kita hanya memiliki kasih Tuhan dalam ingatan kita. Oh, kita seharusnya meratapi keadaan ini.
Hanya mereka yang hidup di hadapan Tuhan dapat memelihara kasih mereka terhadap Tuhan. Jika setiap hari kita menerima pelayanan-Nya, dan setiap hari kita ditarik dekat kepada-Nya, bisakah kita menjadi dingin terhadap-Nya? Kita perlu memiliki persekutuan mesra dengan Tuhan. Sangat disayangkan, banyak kaum beriman tidak pernah memiliki perasaan yang pribadi kepada Tuhan. Tuhan mereka hanyalah di mulut pengkotbah atau di hati teman-teman mereka. Mereka sendiri tidak pernah bersekutu dengan Tuhan.

Memelihara Kasih Yang Semula (2)
Ef. 3:17-19; Yoh. 4:13-14

Telah kita katakan, kasih kita kepada Tuhan begitu mudah menjadi pudar, mengapa? Karena kasih ini tidak berakar dan berdasar dalam hati kita. Karena itu, Paulus berdoa, "Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih." (Ef. 3:17). Segala sesuatu yang tidak memiliki fondasi tidak akan bertahan lama. Apakah akar dan dasar ini? Yaitu Kristus membuat rumah dalam hati kita. Bahaya terbesar ialah memiliki pengetahuan rohani tanpa pengalaman akan Kristus yang tinggal dalam hati kita.
Apakah Kristus benar-benar membuat rumah dalam hati kita? Kita tidak seharusnya menjawab pertanyaan ini dengan tergesa-gesa. Kita tidak seharusnya menduga bahwa kita telah memilikinya. Pertanyaan ini seharusnya mendorong kita untuk berdoa dalam ruang tertutup. Kasih Tuhan itulah yang melahirkan kasih kita. Kasih-Nya menarik kasih kita. Jika kita melupakan kasih Tuhan kepada kita, kita akan kekurangan kasih kepada Dia. Ketika kita melacak kembali sumber keselamatan kita, kita akan memelihara kegairahan kasih semula kita.
Saat kita menikmati kasih ini setiap hari, kita akan "memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus" (Ef. 3:18). Demikianlah, Tuhan sang kasih ini membuat rumah di dalam kita, dan kita akan menyadari ukuran kasih. "Dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan" (Ef. 3:19). Berlalunya waktu hanya akan menyatakan kasih Tuhan yang tidak akan berubah.
Selain Kristus membuat rumah dalam hati kita, tidak ada perkara lain yang dapat memuaskan kita. "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:13-14). Keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup berasal dari dunia. Setiap orang yang mengejarnya akan haus lagi, karena dunia mengikat orang dengan daya tariknya, namun ketika kita menikmati kasih yang Tuhan berikan, Dia sepenuhnya akan memuaskan kita.

Penerapan:
Marilah kita bertobat dan meratap, bila kasih Tuhan tidak lagi menarik dan menguasai kita. Kita perlu menjaga kesegaran kasih kita kepada Tuhan dengan terus menerus hidup di hadirat-Nya, bersekutu dengan-Nya setiap hari dan setiap waktu.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, aku tahu bahwa Engkau mengasihi aku dan aku juga mengasihi-Mu, tetapi hal ini sepertinya telah menjadi biasa bagiku. Oh, Tuhan, sekali lagi celupkan aku dalam kelimpahan kasih-Mu, taklukkan aku dengan kasih-Mu, dan dapatkan aku seutuhnya.


Pekerjaan Vs Kasih (1)Wahyu 2:4
"Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula."
Kita harus selalu waspada terhadap kemungkinan hilangnya kasih semula kita kepada Tuhan. Boleh jadi kita telah bekerja dan berjerih lelah bagi Tuhan, kita juga berpegang pada ajaran yang murni dan sesuai dengan Alkitab, tetapi bisakah seseorang yang lapar akan kasih dipuaskan dengan pekerjaan baik dan kerajinan? Kita mungkin tetap dapat bekerja seperti sebelumnya, tetapi sebenarnya kita telah kehilangan kuasa semula yang mendorong kita untuk bekerja. Gereja dapat bergairah dan aktif di luaran, memiliki iman yang murni, dan penghakiman yang tepat, tetapi bisakah mempelai laki-laki puas jika mempelai perempuannya setia melakukan semua kewajibannya tetapi dingin dalam kasih? Bisakah kasih Kristus dipuaskan dengan aktifitas yang dingin dan pekerjaan yang kering, yang hampa akan kasih yang membara? Tuhan cemburu akan kasih kita! Kasih menuntut kasih, dan hal itu tidak dapat digantikan dengan kerajinan di luaran.
Dalam kehidupan rohani, tidak ada satu pun yang dapat mengantikan hati yang membara bagi Tuhan. Jika hati ini hilang, dengan apakah kita dapat menyenangkan Tuhan? Bisakah suara gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (1 Kor. 13:1) melayani Tuhan? Kita mungkin rajin bekerja karena pekerjaan itu telah menjadi suatu kebiasaan atau karena pekerjaan itu telah memelihara nama baik kita; namun, penampilan di luaran yang sia-sia itu tidak dapat menipu Tuhan. Setiap pekerjaan yang akan kita lakukan haruslah berasal dari kasih kita kepada Tuhan. Jika bukan karena mengasihi Tuhan, janganlah kita melakukan sesuatu.

Pekerjaan Vs Kasih (2)
Why. 2:2-4

Orang-orang Kristen yang mengenal kasih salib seharusnya menjaga diri mereka di hadapan Tuhan dan membiarkan salib menyegarkan dan memikat hati mereka.
Hal yang mengejutkan kita ialah bahwa ketika orang-orang Efesus meninggalkan kasih semula, mereka masih dapat memiliki banyak kegiatan, begitu penuh gairah, rajin, dan bahkan tekun dalam penderitaan. Tetapi, meskipun ada banyak buah di pohon, mereka tidak selezat sebelumnya.
Jika suatu kegagalan tidak diakui di hadapan Tuhan dan dibasuh oleh darah, kita mungkin membuat suatu kemajuan luaran, tetapi tahun-tahun kita akan dilalui dalam kesia-siaan. Kehidupan kita setelah kejatuhan ialah suatu perjalanan penuh kesia-siaan dan tidak dianggap oleh Allah kecuali kita berbalik ke titik kejatuhan dan memulai perjalanan kita dari sana.
Bahaya yang kita hadapi ialah kita tidak mengubah kebiasaan di luar, tetapi kehilangan kasih semula yang di dalam. Setiap pekerjaan yang akan kita lakukan haruslah berasal dari kasih kita kepada Tuhan. Kasih adalah motivasi setiap hal yang kita lakukan bagi Tuhan. Jika bukan karena mengasihi Tuhan, janganlah kita melakukan sesuatu karena kita tidak akan terpelihara dalam penyertaan-Nya. Adalah hal yang kasihan jika kita bekerja karena kebiasaan atau dengan tujuan menjaga nama kita untuk ketenaran, dari pada terdorong karena kasih Tuhan! Hal ini membuat kita tidak perlu lagi berada dalam terang Tuhan. Kita menganggap bahwa segala sesuatu sama seperti sebelumnya dan tidak merasa ada bahaya besar karena terpisah dari Tuhan dalam kehidupan rohani kita. Kita tidak sadar bahwa kita telah kehilangan persekutuan dari kasih yang kuat dengan Tuhan. Meninggalkan kasih yang semula adalah sumber dari segala kemerosotan gereja.
Kedudukan kita di hadapan Tuhan tidak bergantung pada seberapa banyak kita berjerih lelah tetapi seberapa banyak kita mengasihi. Tentu saja, ketika kita memiliki kasih, kita akan memiliki jerih lelah juga. Tidak peduli seberapa banyak kita bekerja, jika kita telah kehilangan kasih kepada Tuhan, kita adalah orang yang jatuh. Adam telah jatuh. Israel juga jatuh. Gereja di Efesus juga telah jatuh. Marilah kita bertobat dari kejatuhan kita.

Penerapan:
Jangan tertipu dan mengira bahwa karena kita telah begitu aktif bekerja dan berjerih lelah bagi Tuhan, itu berarti kita sudah mengasihi Tuhan! Jangan biarkan pekerjaan kita merampas waktu dan hati kita.
Apa yang Dia selidiki ialah seberapa banyak yang kita lakukan berasal dari kasih kita kepada-Nya. Hanya pekerjaan yang didorong oleh kasih yang adalah emas, perak dan batu berharga.

Pokok Doa:
Lebih baik kehilangan sebagian pekerjaan kita daripada gagal mempertahankan kasih kita kepada Tuhan. Kita semua harus mengatakan, "Tuhan, aku mengasihi Engkau. Aku tidak mengasihi pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan bagi-Mu. Aku juga tidak memustikakan jerih lelahku bagi-Mu. Tuhan, aku mengasihi-Mu! Bila jerih lelahku mengurangi kasihku kepada-Mu, aku akan berhenti berjerih lelah."


Lakukanlah Lagi Apa Yang Semula Engkau Lakukan
Wahyu 2:5a
"Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan."
Sangatlah mudah untuk bekerja dengan sibuk dan berjerih lelah dengan tekun, tetapi pertobatan adalah hal yang paling sulit untuk dimiliki. Tetapi pertobatan berarti melucuti kemuliaan kita. Kita senang melayani Tuhan jika hal itu tidak mengorbankan pencapaian yang kita banggakan. Namun, kita perlu bertobat!
"Lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan." Meskipun pekerjaan kita mungkin tepat sama dengan yang sebelumnya, namun ada perbedaan dalam motivasi batiniah. Suatu pekerjaan yang dihasilkan dari hati yang dipenuhi dengan kegairahan terhadap kasih sangat berharga di mata Tuhan. Jika kita tidak segera bertobat, maka pada takhta penghakiman, kita akan terkejut dengan jumlah kayu, rumput kering, dan jerami yang kita miliki.
"Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala. Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, — yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota — menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih" (Ef. 4:15-16). Pekerjaan yang dianggap berharga oleh Tuhan bukanlah pekerjaan yang besar di luaran atau yang penting, tetapi yang sebenarnya membangun Tubuh Kristus dalam kasih. Karena kasih, semua pekerjaan menjadi pembangunan gereja, dan akan ada penyusunan dan pengikatan dalam keserasian, dan tidak ada perbedaan opini yang dibawa masuk.

Latar Belakang Gereja Di Efesus
Ef. 1-2

Ketika Paulus menulis surat kiriman kepada Efesus, dia membicarakan visi yang tinggi. Ia menunjukkan bagaimana pada mulanya mereka berjalan menurut jalan dunia ini, menuruti operasi Satan, telah mati dalam pelanggaran dan dosa-dosa, dan telah dihidupkan bersama dengan Kristus, dibangkitkan bersama dengan Kristus, dan didudukkan bersama dengan Dia di surga untuk menerima segala berkat rohani di dalam surga. Semua kaum beriman sebagai individu telah menerima kasih karunia sedemikian di hadapan Allah.
Selanjutnya melalui Roh Kudus, Dia telah menyatukan kita dengan Kristus untuk menjadi Tubuh-Nya. Surat Kiriman Efesus menunjukkan kepada kita kebenaran mengenai gereja dan posisi gereja. Pada akhirnya, ia membawa kita kepada kisah Adam dan Hawa sebagai satu ilustrasi untuk menceritakan misteri dari kesatuan antara Kristus dan gereja. Efesus 5:25-27 mengatakan, "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela." Betapa mulianya doktrin sedemikian! Jika gereja pada hari itu tidak memiliki kuasa Roh Kudus dalam kehidupan, pekerjaan, dan kesaksian mereka, ia tidak akan memiliki persyaratan untuk menerima berita yang sedemikian terhormat. Kondisi rohani dari orang-orang beriman di Korintus, Galatia, dan Ibrani pada waktu itu membuat Paulus tidak bisa menyingkapkan pengajaran sedemikian kepada mereka (1 Kor. 3:1-2; Gal. 3:1-3; Ibr. 5:11-14). Tetapi orang Efesus mampu menerima pengajaran ini.
Tetapi, sejangka waktu kemudian, tanda-tanda keruntuhan mulai nampak! Sungguh sulit dipahami jika gereja serohani seperti Efesus dapat merosot ke kondisi yang sedemikian. Itulah sebabnya ketika dalam kitab Wahyu, Tuhan menulis surat lagi kepada gereja di Efesus, Dia menegor dengan sangat keras. Saudara saudari kita jangan puas diri dengan apa yang kita capai. Kita harus hati-hati agar jangan mengulangi kejatuhan gereja di Efesus.

Penerapan:
Apakah kita menjadi lebih mudah marah karena tingkat kesibukan yang luar biasa? Apakah kita bersungut-sungut saat saudara saudari meminta bantuan dan merepotkan? Jika demikian, berarti kita tidak berada di dalam kasih dan apa yang kita lakukan bukanlah bagi pembangunan gereja-Nya.

Pokok Doa:
Berdoalah, "Tuhan Yesus, aku ingin memiliki lebih banyak kasih daripada pekerjaan. Ampuni aku Tuhan karena semua yang kulakukan lebih banyak adalah untuk ketenaranku atau karena kebiasaan saja. Tuhan, kuduskanlah dan berkatilah semua yang kulakukan, agar berguna untuk pembangunan gereja-Mu"


Jikalau Engkau Tidak Bertobat (1)
Wahyu 2:5
"Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat."
Di bumi, gereja adalah sebagai suatu kesaksian bagi Tuhan Yesus. Karenanya, ia dilambangkan dengan kaki dian, sesuatu yang bersinar dalam kegelapan dunia ini. Gereja seharusnya bersaksi mengenai pekerjaan-pekerjaan Tuhan di masa lampau, kedudukan-Nya sekarang, dan kemuliaan-Nya yang akan datang. Inilah fungsi kaki dian emas. Jika gereja tidak mempersaksikan ini atau tidak layak mempersaksikan ini, ia akan menjadi kesaksian yang palsu dan pada akhirnya akan ditolak oleh Allah.
Tetapi syukur pada Tuhan karena Ia benar-benar sabar, Ia menasihati gereja untuk bertobat. "Bertobatlah …." Jika kata-kata dorongan dan teguran dari Tuhan sendiri tidak dapat menyebabkan kita bertobat, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengubah kegagalan dan kemerosotan kita lagi! Selain penghakiman, tidak ada yang lain. Tidak peduli seberapa besar kesabaran Allah, jika gereja tidak bertobat, sudah dipastikan akhirnya akan bagaimana. Jika nasihat Allah jatuh pada telinga yang tuli, kaki dian akan diambil dan gereja tidak lagi mampu menjadi terang Allah di dalam dunia. Betapa mengerikannya hal ini.
"Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!" Kita perlu mengingat kondisi awal kita dan meratap karena situasi kita saat ini sambil berkata, "Kalau saja aku menjadi seperti sebelumnya!" atau "Aku berharap dapat kembali ke kondisi beberapa bulan yang lalu!" Ingatan akan kondisi pada mulanya akan membuat kita bertobat. Inilah langkah awal menuju kebangunan.

Jikalau Engkau Tidak Bertobat (2)
Why. 2:5; Mzm. 73:25

Bagaimanakah kondisi gereja di mana kita berada? Apakah seperti Efesus? Allah memiliki banyak pujian bagi Efesus. Bisakah Ia menerapkan pujian yang sama kepada kita? Akibat kejatuhan gereja ialah kehilangan kesaksian. Kehilangan kesaksian tidak lain berarti diambilnya kaki dian. Jika suatu gereja telah kehilangan kasih semulanya dan kesaksiannya sebagai kaki dian, di mata Tuhan ia tidak lagi menjadi gereja tetapi telah menjadi organisasi duniawi dan suatu perkumpulan yang dikendalikan oleh peraturan manusia.
Kita harus menyadari bahwa gereja akan dihakimi pada jaman ini dan akan kehilangan kuasa pencahayaan dan kedudukannya. Kapankala kekuatan rohani hilang, penghakiman Allah akan mengikutinya.
Penyingkiran kaki dian ialah sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, karena itu adalah sesuatu yang Tuhan lakukan dalam tabernakel surgawi. Ketika Tuhan Yesus mengabaikan bait di Yerusalem, Dia tidak lagi menyebutnya sebagai rumah Bapa-Nya, tetapi "rumahmu", yang akan ditinggalkan sebagai reruntuhan (Mat. 23:38). Namun, pada waktu itu, batu putih dan emas masih bersinar di sana! Hanya pandangan rohani yang dapat mendeteksi keruntuhan di balik kemakmuran itu. Bila kaki dian diambil dari tempatnya, maka bagaimana pun kita bekerja, tidak akan ada nilainya di hadapan Tuhan. Ini berlaku bagi gereja juga bagi kaum saleh perorangan.
Kaum beriman yang duniawi dan tidak setia seharusnya membiarkan kata-kata ini menusuk dalam hati mereka. Karena jalan mereka sepenuhnya duniawi, mereka tidak mampu berbicara kepada orang lain mengenai Juruselamat mereka, apa yang mereka bicarakan tidak memiliki kuasa sebab Roh Kudus tidak bekerja dengan mereka. Melalui keserakahan, keegoisan, dan kasih terhadap dunia, dan bahkan menjadi serupa dengan dunia, mereka telah kehilangan persyaratan untuk melatih karunia-karunia mereka. Kesempatan mereka telah hilang, dan tidak ada lagi pahala yang tersedia bagi mereka. Pada hari penghakiman, orang sedemikian tidak akan mampu berdiri di hadapan Tuhan dengan berani dan tidak malu. Saudara saudari marilah kita bertobat pada masa ini, karena kesempatan masih terbuka bagi kita. Jangan mengeraskan hati dan jangan terus mabuk oleh anggur duniawi.

Penerapan:
Jika kita melihat bahwa Tuhan sangat dalam mengasihi kita, kita tentunya akan merendahkan diri dalam debu dan mengakui kegagalan kita. Jika kita percaya pada kasih-Nya, datang mendekat pada-Nya, dan mengakui dosa-dosa kita dengan penuh penyesalan, Ia tidak akan membuat kita pulang dengan hampa tangan tetapi akan memberikan kekuatan dan berkat-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan, terima kasih untuk semua teguran-Mu. Jangan biarkan kami bebal, selamatkan kami dari semua kegagalan dan kemerosotan ini.


Membenci Perbuatan Pengikut Nikolaus
Wahyu 2:6
"Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci."

Gereja di Efesus membenci apa yang dibenci Tuhan yaitu perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus. Dalam sejarah, tidak tercatat adanya pengikut-pengikut Nikolaus. Karena kitab ini adalah kitab nubuat, maka kita harus menyelidiki makna dari kata Nikolaus itu. Dalam bahasa Yunani, "nikolaus" terdiri dari dua kata, yaitu "niko" artinya "mengalahkan" atau "berada di atas orang lain"; dan "laus" artinya "rakyat biasa" atau "umum" atau "kaum Kristen awam". Jadi "nikolaus" berarti "lebih tinggi dari rakyat umum" atau "lebih tinggi dari kaum Kristen awam". Jadi, pengikut-pengikut Nikolaus tidak lain ialah segolongan orang yang mengangkat dirinya sehingga lebih tinggi daripada orang Kristen biasa. Tuhan berada di atas, orang Kristen awam di bawah; sedangkan mereka memang berada di bawah Tuhan, namun di atas kaum awam itu. Tuhan membenci perbuatan pengikut Nikolaus. Perbuatan yang membuat diri sendiri berada di atas kaum beriman awam inilah yang tidak diperkenan Tuhan. Perbuatan yang menimbulkan kasta-kasta adalah perbuatan yang patut dibenci.
Pada mulanya, Allah menetapkan seluruh bangsa Israel untuk menjadi imam (Kel. 19:5-6). Habel bisa mempersembahkan kurban, begitu pula Nuh. Orang-orang Israel pada mulanya pun bisa. Inilah maksud Allah sebermula sebelum terjadi kasus penyembahan anak lembu emas. Sekarang, dalam Perjanjian Baru, Allah ingin memulihkan hal ini. Itulah sebabnya, Allah sangat membenci perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus.

Imam-Imam Allah
Kej. 19:5b-6a; Kel. 32:25-29; 1 Ptr. 2:9; Why. 1:5,6

Petrus mengatakan, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri" (1 Ptr. 2:9). Segenap gereja menjadi imam, itulah yang sesuai dengan keadaan yang semula. Melalui Wahyu 1:5 dan 6 kita melihat bahwa berapa banyak orang yang terbasuh oleh darah-Nya, sebanyak itu pula yang menjadi imam.
Imam adalah orang yang mengurusi urusan Allah. Setiap orang beriman seharusnya mengurusi urusan Allah. Gereja tidak sepatutnya ada kelas-kelas mediator (kasta-kasta). Gereja hanya mempunyai seorang Imam Besar, yakni Tuhan Yesus sendiri.
Dalam Perjanjian Baru, Allah telah memulihkan posisi imam ini. Pada gereja sebermula, seluruh orang beriman turut mengambil bagian dalam pelayanan urusan Allah. Akan tetapi setelah zaman para rasul berlalu, orang mulai tidak bergairah terhadap pelayanan tersebut. Pada saat itu, orang yang benar-benar percaya dan menerima Tuhan Yesus sangat sedikit, tetapi orang yang dibaptis cukup banyak. Oleh karena banyak orang tidak rohani, lalu apa yang harus mereka lakukan? Mereka mencari segolongan orang yang diberi tugas khusus untuk menangani urusan pelayanan kepada Allah, sedangkan orang-orang lainnya boleh mengerjakan pekerjaan duniawi saja. Demikian terbentuklah apa yang disebut "kaum paderi (clergy)", yang bertentangan dengan kehendak Allah yang semula.
Sebagian orang menganggap diri sendiri sebagai orang duniawi yang hanya layak mengerjakan urusan duniawi saja, dan bahkan merasa boleh menjadi duniawi sekehendak hati mereka. Mereka merasa cukup hanya dengan memberikan persembahan. Padahal Allah tidak saja menghendaki kita membawa benda-benda materiil, lebih-lebih harus membawa seluruh diri kita ke hadapan-Nya. Saudara saudari! Gereja tidak memiliki orang duniawi seorang pun, setiap orang haruslah rohani. Ini bukan berarti kita tidak melakukan urusan dunia, melainkan dunia sudah tidak dapat menjamah kita. Kita harus jelas, begitu dalam gereja hanya tinggal segelintir orang yang menangani urusan rohani, maka gereja itu sudahlah jatuh!

Penerapan:
Pernahkah kita merasa lebih tinggi atau lebih baik dari saudara saudari kita? Atau bahkan pernahkah kita merasa lebih rohani dari yang lain karena kita lebih mengerti Alkitab, lebih mampu mengutarakan firman? Ingatlah, bahwa kita semua adalah saudara yang sama berharganya di mata Allah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, kami mau membenci apa yang Kaubenci, kami tidak mau bertoleransi bila Engkau tidak bertoleransi. Oh Tuhan, bersihkan kami dari perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus.


Telinga yang Bisa Mendengar
Wahyu 2:7a
"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."

Untuk urusan rohani, melihat tergantung pada mendengar. Penulis kitab ini pada mulanya mendengar suara (1:10), kemudian baru melihat visi (1:12). Orang Yahudi tidak mau mendengar firman Tuhan, sebab itu mereka tidak melihat perkara yang diperbuat Tuhan menurut Perjanjian Baru (Mat. 13:15; Kis. 28:27).
Telinga yang berat untuk mendengar perlu disunat (Yer. 6:10; Kis. 7:51). Untuk melayani Tuhan sebagai imam, telinga kita perlu dibersihkan dengan darah penebusan (Kel. 29:20; Im. 8:23-24). Menurut kitab ini, ketika Roh itu berbicara kepada gereja-gereja, kita memerlukan telinga yang terbuka, disunat, dibersihkan, dan diurapi untuk mendengar pembicaraan Roh itu.
Setelah Tuhan ditolak oleh orang Israel dalam Matius 12, Ia berbicara di pasal 13, perkataan-perkataan yang tidak dapat dimengerti oleh mereka (ay. 13-15), tetapi murid-murid dapat (ay. 9). Demikian juga hari ini, Tuhan telah menghakimi gereja dan membicarakan perkataan yang "mereka dengar tetapi tidak dapat dipahami" (ay. 14), sehingga mereka yang bertelinga dapat mengikutinya secara pribadi. Betapa khidmatnya hal ini! Perkataan Tuhan ialah bagi kaum saleh yang rohani; mereka bukanlah untuk orang Kristen yang bersifat daging. Inilah sebabnya mereka tidak mampu mendengar (1 Kor. 2: 10-11). Meskipun Roh Kudus terus menerus berbicara, hanya sedikit yang mendengar perkataan-Nya. Untuk alasan inilah, mereka yang mampu mendengar harus mendengar. Bila kita tak dapat mendengar, kita harus sadar, betapa dalamnya kita jatuh. Marilah cepat bertobat!

Mendengarkan Apa Yang Dikatakan Roh
Why. 2:1, 5, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14

Pada permulaan setiap surat kiriman, dikatakan bahwa Tuhan "berkata" (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7 dan 14). Ini menunjukkan bahwa ketujuh surat kiriman tersebut adalah perkataan yang dikatakan Tuhan Yesus. Tetapi di akhir semua surat kiriman itu, dikatakan, "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat." Apakah maksudnya?
Kita perlu memperhatikan hal ini. Tuhan Yesus memerintahkan Yohanes untuk menuliskan perkataan-Nya lalu mengirimkan ke tiap gereja. Karena itu, perkataan yang Tuhan bicarakan kepada gereja-gereja adalah perkataan yang ditulis oleh Yohanes. Tuhan Yesus telah berbicara, firman-Nya telah dicatat dan ditulis dalam Alkitab. Tetapi sekarang, Roh Kudus masih harus berbicara kepada gereja-gereja melalui perkataan ini. Roh Kudus tidak berbicara dari diri-Nya sendiri. Sebaliknya, Ia mengulangi perkataan tertulis tersebut dalam hati manusia. Ketika kita membaca Alkitab, kita harus menaruh perhatian kepada perkara ini.
Memang benar bahwa dalam Alkitab, kita memiliki perkataan Tuhan dan perkataan Allah. Namun, Roh Kudus masih mengatakan perkataan-perkataan tersebut di dalam kita. Pembacaan Alkitab juga bertujuan untuk menerima pembicaraan Roh Kudus. Jika kita hanya membaca Alkitab tetapi tidak memiliki pembicaraan Roh Kudus, pembacaan kita akan sia-sia.
Firman Allah, Alkitab, adalah umum. Kita harus memiliki pembicaraan Roh Kudus hingga bisa menerapkan firman Allah dalam hidup sehari-hari kita juga bisa mendapatkan firman sesuai kebutuhan kita. Ketika membaca Alkitab, kita menyadari kebaikannya secara umum. Tetapi ketika Roh Kudus berbicara kepada kita dari dalam, kita menerima pengajaran, teguran, hiburan, dan dorongan yang tak terkatakan. Ketika Roh Kudus berbicara kepada kita, kita menerima wahyu yang istimewa. Apa yang sebelumnya kita pikir sudah tahu, sekarang terlihat sangat dangkal.
Karenanya, ini bukanlah perkara membaca Alkitab seberapa banyak atau mendapat pengetahuan seberapa banyak. Pembacaan Alkitab adalah untuk tujuan menerima pembicaraan Roh Kudus. Marilah kita memberi kesempatan lebih banyak kepada Roh Kudus untuk berbicara kepada kita.

Penerapan:
Setiap kali kita mendengarkan firman dalam persekutuan gereja, atau saat membaca firman Tuhan, marilah kita merendahkan diri di hadapan Tuhan. Mintalah agar Tuhan mengaruniakan kepada kita telinga yang bisa mendengar.

Pokok Doa:
Tuhan, aku memerlukan penglihatan dan pendengaran. Belas kasihanilah aku ya Tuhan, dan anugerahilah aku telinga yang bisa mendengar pembicaraan-Mu hingga aku dapat melihat kehendak-Mu.


Gereja-Gereja
Wahyu 2:7a
"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat."
Dalam ketujuh surat yang tercatat pada pasal dua dan tiga, setiap surat diawali oleh pembicaraan Tuhan (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14), tetapi pada akhir setiap surat, Roh itulah yang berbicara kepada gereja-gereja (2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Sekali lagi ini membuktikan bahwa Kristus yang berbicara adalah Roh itu. Apa saja yang Kristus katakan, itu adalah pembicaraan Roh itu. Tak seorang pun dapat menyangkal hal ini.
Tuhan menggunakan perkataan yang sama kepada ketujuh gereja, ini membuktikan bukan gereja di Efesus saja yang wajib mendengarkan, tetapi semua gereja pun wajib mendengarkan. Karena hari ini Roh itu sudah berbicara kepada gereja-gereja, maka kita harus berada di dalam gereja, berdiri pada posisi yang tepat untuk mendengarkan Roh itu berbicara. Kalau tidak, bagaimana kita bisa mendengar?
Roh itu berbicara kepada gereja-gereja, bukan hanya berbicara kepada satu gereja lokal saja. Hal ini menyatakan bahwa tidak ada satu gereja lokal-pun yang boleh menganggap dirinya adalah satu-satunya saluran pembicaraan Allah.
Selain itu, kalimat di atas menunjukkan kepada kita pentingnya kita tinggal dalam persekutuan dalam gereja lokal. Di luar gereja lokal, kita tidak mungkin dapat mendengar perkataan Roh itu. Apapun kondisi gereja, Roh masih akan menggunakannya sebagai saluran perkataan-Nya. Jangan anggap diri sendiri lebih baik dari gereja dan jangan mencari perkataan Tuhan di luar gereja.

Mendengar dan Taat
Why. 2:7; 1 Sam. 15:22-23

Semua kata-kata Tuhan dibicarakan kepada mereka yang memiliki telinga untuk mendengar, karena hanya mereka yang bertelinga, yang dapat mendengar. Ini menunjukkan bahwa mereka yang telah mendengar perkataan Tuhan memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Mengapa?
Pada umumnya, kita akan mengakui bahwa mereka yang memiliki jabatan tertentu memiliki tanggung jawab tertentu. Adalah benar bahwa seorang kaum beriman yang mengasihi Tuhan tidak dapat mengubah lingkungannya, tidak peduli seberapa rohaninya dia. Kita tidak akan pernah dapat mengubah situasi yang umum. Kemerosotan gereja bukanlah sesuatu yang bisa kita hentikan dengan tangan kita. Tetapi, ini bukan mengecilkan tanggung jawab kita. Kondisi dari rekan kita sebenarnya adalah cermin dari kondisi rohani kita sendiri.
Begitu mendengar, kita perlu segera taat. Tidak taat berarti memberontak. Satu Samuel 15:22-23 mengatakan, "Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan. Sebab pendurhakaan adalah sama seperti dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan terafim."
‘Pemberontakan’ ialah kata yang sangat menakutkan! Seringkali kita berharap Allah memakai istilah yang lebih ringan untuk menggambarkan dosa kita! Ketika memberontak, kita memiliki banyak alasan. Bahkan dalam pemberontakan, kita masih ingat mempersembahkan harta! Ketika hal-hal berjalan sesuai dengan maksud kita, kita dapat mematuhi Tuhan, karena tidak memerlukan banyak harga. Ketaatan sejati melibatkan penyangkalan opini, hikmat, dan kasih kita, serta mempraktekkan ketulusan hati terhadap perintah Allah dalam Kitab Suci. Bahkan jika diremehkan oleh kerabat dan teman-teman serta ditolak oleh rekan-rekan kita, kita seharusnya terus berjalan bagi kepentingan Allah. Marilah kita menunggu sampai kekekalan ketika yang lain akan iri dan bertepuk tangan dengan sorak sorai atas tindakan kita sekarang ini. Saat ini, senyuman dari takhta sudahlah cukup.

Penerapan:
Jangan menjadi Kristen sendirian, diam di rumah. Kita perlu datang ke persekutuan gereja, berbaur dengan saudara saudari, menempuh hidup gereja yang riil. Demikianlah kita akan dapat mendengarkan perkataan Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan, Engkau berbicara kepada gereja-gereja. Letakkan aku dalam gereja-Mu hingga aku dapat mendengarkan setiap pembicaraan-Mu. Berilah aku bukan hanya telinga yang mendengar tetapi juga hati yang taat, tidak memberontak, dengan segenap hati dan dengan kesungguhan melaksanakan firman-Mu.


Pemenang
Wahyu 2:7b
"Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
Ketujuh surat itu, semuanya diakhiri dengan panggilan kepada pemenang. Siapakah pemenang, dan apakah makna pemenang? Apakah mereka adalah orang-orang yang istimewa atau yang di atas normal? Menurut Alkitab, pemenang berarti orang-orang yang normal dan wajar. Mereka bukan orang-orang yang abnormal dalam masa-masa yang abnormal. Pada hari ini, kebanyakan orang berada di bawah garis normal. Para pemenang bukanlah yang melebihi garis normal, melainkan tepat berada pada garis normal.
Sama seperti orang berdosa tidak perlu menunggu seluruh dunia percaya kepada Tuhan sebelum dia dapat diselamatkan, demikian pula orang beriman tidak perlu menunggu seluruh gereja bertobat baru dia dapat menang. Seorang pemenang tidak perlu menunggu orang lain; setiap orang dapat menang.
Abram tidak ingin pergi ke Kanaan sendiri. Akibatnya, dia tertahan di Haran oleh ayahnya. Menunggu rekan itu membuang-buang waktu. Bagaimanapun juga, jalan yang kita tempuh bukannya tanpa jejak kaki pendahulu kita. Paling sedikit ada sepasang kaki dengan tanda paku yang telah melangkah sebelumnya dan meninggalkan jejak kaki yang jelas bagi kita.
Kita harus menaruh perhatian yang khusus pada satu hal di sini: kemenangan di sini bukan hanya atas Satan, dunia, dan daging. Kemenangan ini khususnya mengacu kepada perkara kemerosotan dalam gereja. Gereja telah meninggalkan kasih semulanya. Karena itu, para pemenang harus memelilhara kasih mereka tetap membara bagi Tuhan.

Barangsiapa Menang
Why. 2:7

Kita seharusnya membedakan dengan jelas antara keselamatan dengan pahala. Semua orang yang percaya kepada Tuhan akan diselamatkan dan semua orang yang menang akan diberi pahala. Tidak semua orang yang di dunia ini akan diselamatkan. Dengan jalan yang sama, tidak setiap kaum beriman akan menang dan menerima pahala. Orang Kristen duniawi puas dengan "berdiri di pintu gerbang surga". Tetapi mereka yang mengenal hati Allah dan mengasihi Allah akan menyenangkan Dia dalam kehidupan dan pekerjaan mereka. Mereka akan menerima senyuman Tuhan di jaman ini dan pujian-Nya di jaman yang akan datang.
Pahala yang diterima para pemenang ialah hadiah yang mereka dapatkan di samping keselamatan mereka. Ketekunan istimewa yang kita tampilkan selama ujian yang istimewa akan memenangkan pahala yang istimewa dari Tuhan.
Bila kita membaca Alkitab dengan hati-hati, kita dapat menyimpulkan bahwa perbedaan antara orang yang diselamatkan dengan para pemenang hanyalah di jaman yang akan datang, yaitu di dalam kerajaan seribu tahun. Dalam kekekalan, tidak akan ada perbedaan lagi. Namun, bukankah seribu tahun adalah waktu yang lama?
Hati kita yang jahat seringkali mengabaikan pahala Tuhan, tetapi jika Tuhan menganggap berharga untuk memberi kita pahala, bukankah kita juga harus menganggapnya berharga untuk memenangkannya? Ada banyak kesempatan bagi kita untuk menang dan mendapatkan pahala. Kaum beriman sejati namun mengasihi dunia dan bergelimang nafsu, tetap diselamatkan, tetapi mereka tidak dapat mencegah untuk dipermalukan dan menderita teguran. Fakta ini seharusnya membangunkan kita.
Meskipun situasi gereja pada umumnya cukup mengecewakan, panggilan Tuhan masih berlanjut. Kita semua suka mahkota Paulus, namun kita tidak menginginkan batu yang merajam Stefanus. Pahala Tuhan tidak diberikan kepada seluruh kaum beriman tetapi hanya kepada para pemenang. Tidak peduli betapa sulitnya jalan salib, kita tidak seharusnya mundur. Meskipun penderitaan bertambah, hal ini tidak seharusnya membuat kita menyerah tetapi mendorong kita kepada kemenangan.

Penerapan:
Menjadi pemenang tidak perlu menunggu sampai besok. Kita juga jangan mengikuti arus dunia ini. Jangan berpikir, karena semua orang begitu maka aku juga boleh. Kita harus jadi pemenang, tidak ikut arus jaman yang terus menerus merosot. Kita perlu kembali kepada kehendak Allah.

Pokok Doa:
Ya Tuhan, Engkau terus memanggil pemenang. Belaskasihi aku agar bisa masuk dalam jajaran pemenang ini. Jangan biarkan aku terseret arus jaman ini. Jagalah terus hatiku agar murni mengasihi-Mu. Jagalah terus rohku agar terus menyala-nyala dan melayani Tuhan.


Taman Firdaus Allah
Wahyu 2:7b
"Barangsiapa menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah."
Dunia telah kehilangan taman Eden-nya (Kej. 3:23). Tetapi sungguh kasihan, manusia melupakan bahwa dunia telah dihakimi oleh Allah! Mereka berusaha untuk mendirikan taman Eden lain bagi kenikmatan mereka! Kasih akan dunialah yang memalingkan orang-orang di Efesus sehingga menjadi dingin terhadap kasih Kristus. Dunia ini bukanlah tempat tinggal tetap mereka. Mereka seharusnya tidak kehilangan sifat pengembara (musafir) mereka.
Tuhan Yesus menyuruh kita menang atas perkara meninggalkan kasih yang semula dan mempertahankan makan Kristus sebagai pohon hayat. Makan Kristus sebagai pohon hayat menuntut kita mengasihi Dia dengan kasih semula.
Makan pohon hayat, ialah menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, ini seharusnya merupakan hal utama dalam hidup gereja. Jika kita mengutamakan Kristus dalam segala hal dan menikmati Dia sebagai pohon hayat setiap hari, kita akan menjadi orang Kristen yang hebat dan menang. Hidup gereja akan menjadi Taman Eden dan kelak, di dalam kerajaan seribu tahun, kita pun akan menikmati pahala ini.
Jika kita tidak mengutamakan Tuhan atau tidak menikmati Tuhan selama satu bulan saja, maka hidup gereja akan menjadi tempat yang tidak menyenangkan bagi kita. Mungkin kita tidak berkata apa-apa tetapi di dalam batin akan menganggap hidup gereja tidak begitu baik. Isi hidup gereja tergantung pada kenikmatan kita atas Kristus. Semakin banyak kita menikmati Kristus, semakin kaya isi hidup gereja.

Makan dari Pohon Kehidupan (Hayat)
Why. 2:7; 22:2, 14, 19

Perihal makan pohon hayat ini membawa kita kembali kepada yang semula (Kej. 2:9, 16), karena pada mulanya sudah ada pohon hayat itu. Pohon hayat selalu membawa kita kembali kepada yang semula, tempat tidak ada yang lain selain Allah sendiri. Tidak ada pekerjaan, jerih payah, kesabaran, atau apa pun, kecuali diri Allah. Dalam hidup gereja, kita perlu terus-menerus kembali kepada yang semula, dengan melupakan hal-hal lain, dan menikmati diri Allah sebagai pohon hayat. Sebab itu, kita harus mengasihi Tuhan melebihi segalanya, melebihi pekerjaan kita bagi-Nya, dan apa saja yang kita miliki bagi-Nya. Inilah jalan yang tepat untuk memelihara hidup gereja yang terbaik, dan terlindung dalam hidup gereja.
Agama selalu mengajar orang, tetapi Tuhan merawat orang (Yoh. 6:35). Rasul Paulus juga melakukan perkara yang sama, yaitu merawat kaum beriman (1 Kor. 3:2). Untuk hidup gereja yang wajar dan pemulihan hidup gereja, yaitu untuk pertumbuhan yang tepat bagi hayat orang Kristen, yang kita perlukan bukan hanya memahami ajaran di dalam otak, terlebih adalah makan Tuhan sebagai roti hayat kita di dalam roh (Yoh. 6:57). Sekalipun itu adalah perkataan Alkitab, tidak seharusnya hanya dianggap sebagai teori yang mengajar pikiran kita, melainkan dianggap sebagai makanan yang memberi rawatan kepada roh kita (Mat. 4:4; Ibr. 5:12-14).
Selain itu, pohon hayat di taman Eden memiliki makna lainnya, yaitu hayat yang bersandar. Adam seharusnya menerima hal ini. Meskipun dia tidak berdosa, tanpa menerima rawatan dari pohon hayat dia tidak dapat berumur panjang. Allah menginginkan ciptaan-Nya mengingat bahwa hayat mereka adalah hayat yang bersandar pada Allah dan tidak dapat merdeka. Bahkan hayat mereka yang telah ditebus oleh darah dan telah menerima hayat kekal itupun adalah hayat yang bersandar pada Allah.
Makan pohon hayat bukan hanya maksud semula Allah terhadap manusia, juga adalah kesudahan kekal penebusan Allah. Seluruh umat tebusan Allah akan menikmati pohon hayat, yaitu Kristus beserta segala kelimpahan ilahi, menjadi bagian kekal mereka (Why. 22:2, 14, 19).

Penerapan:
Pakailah beberapa ayat dari pembacaan firman Anda setiap hari untuk dinikmati lebih dalam. Renungkan ayat-ayat itu, bacalah ayat-ayat itu berulang-ulang, pakailah ayat-ayat itu menjadi doa Anda. Bila mungkin, hafalkan ayat-ayat tersebut. Anda bisa juga menggunakan ayat-ayat dalam buku ini.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk semua yang telah Kauberikan. Engkau bahkan telah menyediakan Taman Firdaus Allah bagi kami, tetapi kami begitu mengabaikannya dan sibuk membangun firdaus kami sendiri. Tuhan Yesus, ampunilah kami, bantulah kami terus menikmati diri-Mu sebagai pohon hayat setiap hari.


Hajaran Allah
Ibrani 12:10
"Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya."
Kita telah melihat bagaimana gereja di Efesus telah meninggalkan kasih semula. Ini adalah kerugian yang besar. Sekarang, di jaman Smirna, kita melihat bagaimana Allah menghakimi kemerosotan ini dan bagaimana Allah dengan keras menegur kegagalan mereka. Tidak ada jalan lain bagi orang yang jatuh dan tidak bertobat kecuali menerima penghajaran. Lebih baik dihajar oleh Tuhan dari pada ditinggalkan oleh-Nya.
“Bapa segala roh” mendisiplin kita “untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr. 12:9-10). Tongkat Allah selalu memiliki tujuan, yaitu membawa kita kepada posisi yang diinginkan-Nya, yaitu membuat umat-Nya berpaling dan memulihkan kesegarannya yang hilang.
Sering kali, ketika suara kasih tidak dapat manjur, cambuk hajaran akan manjur. Banyak orang yang telah meninggalkan mata air kehidupan (hayat) tidak akan kembali sampai mereka menemukan bahwa kolam yang mereka gali bocor, tidak dapat menampung air (Yer. 2:13). Banyak anak durhaka yang tidak akan mengingat kasih bapa sampai mereka bertemu dengan kelaparan dan bekerja di antara babi-babi.
Bukankah dalam ujian-ujiannya, Daud menyusun banyak mazmur yang manis, yang penuh ilham Roh Kudus. Mazmur-mazmur ini masih berada dalam hati manusia dan pada bibir mereka hari ini. Karena itu, janganlah kita menghindari cambuk Tuhan. Watchman Nee menulis sebuah syair:
Perlukah Kau petik dawai hatiku, gemakan musik-Mu?
Perlukah siksaan kasih-Mu, Agar musik makin merdu?

Makna Penderitaan
Ibr. 2:9-10; Mat. 24:21; 1 Yoh. 5:19; 2:17

Gereja di Efesus telah meninggalkan kasih semula dan telah berpaling ke dunia. O, betapa dunia seringkali menjadi jerat bagi kaum saleh! Banyak yang menguburkan kasih, kesaksian, kegairahan, dan kerohanian mereka dalam kuburan dunia ini! Tetapi Allah tahu bagaimana menyembuhkannya. Inilah makna dari kesusahan (penderitaan). Berapa banyak kaum saleh yang masih mengasihi dunia? Karena itulah, Allah tidak memiliki pilihan kecuali menyerahkan mereka pada penderitaan.
Penderitaan ini akan “seperti yang belum pernah terjadi sejak awal dunia sampai sekarang dan yang tidak akan terjadi lagi” (Mat. 24:21). Karenanya, penderitaan ini sangat hebat. Awalnya, kasih Tuhan tidak mampu menarik mereka dari dunia. Sekarang, dunia menjadi pahit. Mereka menemukan diri mereka terjebak. Mereka ingin meninggalkan dunia secepat mungkin. Mereka akan mulai membenci apa yang dahulunya mereka kasihi. Mereka akan menyadari bahwa “seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yoh. 5:19). Karenanya, dunia bukanlah tempat perhentian mereka. Mereka akan menyadari bahwa “dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya” (2:17). Saudara saudari yang terkasih, jangan mengasihi apapun dalam dunia ini. Jika tidak, Anda akan menemukan diri Anda terjerat oleh apa yang Anda inginkan.
Pada mulanya, Allah ingin kaum saleh menyalibkan dunia dan mengejar perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Tetapi, daya tarik dunia dan kemuliaan dunia begitu kuat, karena itulah, pada akhirnya Allah harus membawa mereka melalui penderitaan, sehingga mereka akan menyadari kemunafikan dalam wajah dan hati manusia, dan akan menemukan bahwa Juruselamat mereka adalah satu-satunya sahabat sejati dan batu karang mereka. Adalah baik bagi gereja yang jatuh untuk hidup di dunia yang menganiaya mereka. Adalah baik juga bagi kaum beriman duniawi untuk hidup dalam lingkungan penderitaan.
Saudara saudari jangan mengeraskan hati dalam penderitaan. Semua penderitaan harus menjadi dorongan untuk pertobatan kita.

Penerapan:
Kita perlu bersyukur untuk semua keadaan yang Tuhan aturkan bagi kita. Janganlah bersungut-sungut. Jika kita dengan penuh syukur menerima semuanya, kita akan seperti Daud, menghasilkan banyak mazmur yang indah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena begitu memperhatikan kami. Bahkan hajaran-Mu juga untuk kebaikan kami hingga kami dapat beroleh bagian dalam kekudusan-Mu.
Tuhan Yesus, berilah kami hati yang terbuka untuk semua pengaturan-Mu, karena semuanya adalah
yang terbaik bagi kami.


Yang Awal Dan Yang Akhir
Wahyu 2:8
"Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali."
Smirna secara mendasar menunjukkan kepada kita satu hal — penganiayaan. Apakah kita mengasihi Tuhan? Apakah kita memberi-Nya keutamaan dalam segala hal? Kalau ya, kita harus bersiap untuk mengalami penganiayaan.
Istilah Smirna berasal dari “myrrh” yang berarti pahit. Maka gereja di Smirna mewakili gereja yang menderita kesengsaraan (dari akhir abad pertama hingga awal abad keempat).
Tuhan memberi tahu gereja yang menderita bahwa Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Betapa penuh penghiburan nama-Nya bagi mereka yang menderita dan tertekan!
Seringkali ketika pengharapan kita hilang, iman yang terguncang akan bertanya di manakah Allah. Kita berpikir bahwa kita sendirian di dunia ini, berperang sendiri dengan musuh yang kejam. Namun ini bukanlah faktanya. Apa pun yang terjadi, Tuhan kita selalu adalah “Yang Awal”, menjanjikan kita janji-janji yang berharga. Pada waktu yang bersamaan, Dia juga adalah “Yang Akhir”, penuh kekuasaan dan kuasa untuk melaksanakan apa yang sudah Dia janjikan dan tidak akan gagal bahkan satu iota atau satu titik pun. Ia adalah yang ada untuk selama-lamanya dan yang tidak berubah selamanya. Bagaimanapun situasi penganiayaan itu, Ia tetap sama; tidak ada sesuatu yang bisa berada di depan-Nya, juga tidak ada sesuatu yang bisa berada di belakang-Nya. Segala sesuatu berada di dalam batas pengendalian-Nya.
Haleluya! Kalau segala sesuatu dalam pengendalian-Nya, apa yang perlu kita takutkan lagi?

Yang Telah Mati dan Hidup Kembali
Why. 2:8

Gereja di Smirna berada dalam penganiayaan, karena itu Tuhan mewahyukan diri-Nya sebagai yang telah mati dan hidup kembali. Hal ini untuk menyiapkan mereka untuk martir.
Banyak orang hanya nampak “hidup” tidak nampak “hidup sampai selama-lamanya” (Why. 1:18), juga tidak nampak betapa besar makna “hidup kembali” itu. Pada hari Pentakosta, rasul berkata demikian, “Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu” (Kis. 2:24). Maut tidak dapat menawan Dia. Semua orang, begitu masuk ke dalam maut, ia tidak akan keluar lagi. Namun, Tuhan Yesus tidak dapat ditawan oleh maut, maut tak berdaya menangkap-Nya, karena Dia adalah kebangkitan (Yoh. 11:25). Inilah Dia yang menulis surat kepada gereja di Smirna.
Gereja yang menderita juga perlu mengenal bahwa Dia adalah Sang kebangkitan, sehingga gereja bisa bertahan terhadap berbagai macam penderitaan. Betapa pun beratnya aniaya, gereja akan tetap hidup, karena hayat kebangkitan Kristus yang ada di dalamnya tahan terhadap maut. Yang terberat yang dapat dilakukan penderitaan atau penganiayaan hanya membunuh kita. Tetapi setelah kematian karena aniaya, ada kebangkitan. Seolah-olah Tuhan berkata kepada gereja yang menderita, “Kamu harus tahu, Aku adalah yang dianiaya sampai mati. Tetapi kematian bukanlah yang terakhir, kematian adalah pintu gerbang untuk masuk ke dalam kebangkitan. Ketika Aku masuk ke dalam kematian, aku ada di ambang pintu kebangkitan. Jangan takut terhadap aniaya, atau ngeri terhadap bahaya dibunuh. Sambutlah kematian dan bergembiralah, karena begitu kamu masuk ke dalam kematian, kamu akan memasuki gerbang kebangkitan. Ingatlah, Akulah yang telah mati dan hidup kembali.”
Jadi, hakiki gereja ialah kebangkitan. Bila gereja telah kehilangan kekuatan kemenangannya terhadap kesengsaraan, maka ia sudah tidak berguna lagi. Banyak orang begitu menjumpai perkara yang tidak lancar, ia segera lenyap, seolah-olah jumpa dengan maut. Namun kebangkitan tidak takut kepada maut. Saudara saudari jangan takut penderitaan,sebab kita memiliki Sang Kebangkitan!

Penerapan:
Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Karenanya, Dia dapat memimpin umat-Nya dari permulaan sampai akhir. Semua persoalan kita diambil alih oleh-Nya. Lalu apa yang kita takutkan? Kapan saja kita mengalami penganiayaan, kita harus bangkit dan mendeklarasikan, "Haleluya, aku sedang menuju pengakhiran. Aku segera mencapai pintu gerbang kebangkitan."

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena Gereja sanggup melampaui segala penderitaan dan mencapai garis akhir; karena Engkau, Sang hayat dan Kepala gereja, adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Tuhan Yesus, buatlah kami mengalami hal ini hingga kami dapat menang atas penganiayaan, termasuk kesusahan, kemiskinan, pencobaan, pemenjaraan dan fitnahan dari ajaran Iblis yang menyimpang/rusak (Why. 2:9-10a).


Miskin Namun Kaya (1)
Wahyu 2:9a
"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya."
Bagi hampir semua gereja yang lain, Tuhan berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu.” Tetapi Tuhan tidak mengatakan perkataan yang sama kepada gereja di Smirna. Tuhan menganggap lebih penting untuk menderita bagi Dia dari pada bekerja bagi Dia.
Sampai taraf mana gereja telah mengalami dan menikmati hayat kebangkitan Kristus, semuanya dapat diuji dengan kesusahan. Tidak hanya demikian, kesusahan juga mendatangkan kekayaan hayat kebangkitan Kristus. Tuhan mengizinkan gereja tertimpa kesusahan bukan hanya untuk mempersaksikan bahwa hayat kebangkitan-Nya mengalahkan maut, juga membuat gereja menikmati kelimpahan hayat-Nya.
Tuhan berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya.” Tuhan menghargai gereja yang menderita ini. Gereja yang menderita ini miskin dalam hal materi, tetapi kaya dalam kelimpahan hayat Tuhan. Seseorang mungkin makmur dalam usahanya, berhasil dalam pekerjaannya, dan mungkin melihat pertumbuhan dan keuntungan di sekitarnya. Namun, Tuhan mungkin tidak memiliki penilaian yang sama dengannya.
Di lain pihak, mereka yang setia kepada Tuhan, yang mengasihi Tuhan dengan bergairah, dan yang bersedia menderita penentangan dan penganiayaan dari dunia dan dari gereja bagi kepentingan Tuhan dan bagi kepentingan kebenaran-Nya, meskipun kosong akan usaha hebat di dunia, berharga di mata Tuhan.

Miskin Namun Kaya (2)
Why. 2:9

Penderitaan-penderitaan seringkali mengarah kepada kemiskinan, yaitu kehilangan kenikmatan yang sah di jaman ini. Sangatlah sulit bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan surga dibandingkan seekor unta masuk ke dalam lubang jarum. Masalahnya bukan pada kekayaannya, namun karena tidak ingin kehilangan kenikmatan yang sah itu. Orang miskin yang tak mau kehilangan kenikmatan ini juga tak mungkin masuk ke dalam kerajaan surga.
Meskipun apa yang disebut “standar kehidupan” dapat menjadi alasan untuk hidup nyaman, namun “standar kehidupan” seperti apakah yang dapat menjadi alasan yang dibenarkan apabila kita bandingkan dengan cara hidup Anak Allah ketika Dia turun dari surga?
Lagu di bawah ini yang ditulis oleh Frances R. Havergal kiranya dapat menguatkan kita.
Bagimu berdarah, korbankan jiwa-Ku,
Kau Ku cuci bersih, tolong kau dari maut.
Bagimu Ku korban jiwa, kau korbankan apa? (2X)

Banyak waktu Ku buang, datang d’rita c’laka,
Biar kau s’lalu senang, dapatkan perhentian.
Banyak waktu Ku korbankan, kau korbankan b’rapa? (2X)

Rumah Bapa indah, takhta-Ku yang mulia,
Bagimu Ku tinggal, datang d’rita susah.
Bagimu Ku tinggalkan s’mua, kau tinggalkan apa? (2X)

Nista dan celaka, bagimu Ku d’rita,
Sengsara tak terp’ri, tolong kau dari maut.
Bagimu Ku d’rita semua, kau d’rita apa? (2X)

Dari rumah Bapa, bagimu Ku bawa,
Kurnia yang berlimpah dan ampunan Bapa.
Bagimu Ku bawa cinta, kau membawa apa? (2X)

Kini kusembahkan waktu, jiwa s’gala,
Lepas b’lenggu dunia, ikut Tuhan saja.
Bagiku Kau korban s’gala, ku pun harus juga! (2X)

Penerapan:
Setiap penderitaan yang kita temui dalam hati dan jiwa, dan setiap luka dalam tubuh yang kita derita, akan menarik kita lebih dekat kepada Tuhan. Bukankah air mata yang tercurah dan tangisan di hadapan Tuhan membuat hati kita makin membara mendambakan Dia?

Pokok Doa:
Tuhanku, ampuni aku karena begitu meremehkan pandangan-Mu, tidak peduli apakah Engkau menganggap aku kaya atau miskin. Ampuni aku Tuhan, karena aku lebih suka pandangan dunia terhadapku. Buatlah aku lebih mengasihi-Mu dan lebih bergairah bagi-Mu, rela menderita penentangan dan penganiayaan dunia bagi kepentingan-Mu. Buatlah aku kaya menurut pandangan-Mu.


Aku Tahu
Wahyu 2:9a
"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya."
"Aku tahu”. Kondisi gereja dan ujian-ujiannya ada di bawah pengamatan Tuhan. Dia mengetahui bagaimana gereja telah menderita bagi Dia dan bertahan dalam kesunyian. Dia tahu bagaimana gereja menjadi miskin bagi kepentingan-Nya, dan Dia tahu apa arti penderitaan dan kemiskinan gereja. Dia sangat akrab dengan hal-hal ini. Pengalaman-Nya di masa lampau memampukan Dia untuk menghibur mereka dengan penuh pengertian: “Aku tahu kesusahanmu.” Lebih lagi, Dia dapat memuji mereka dengan sikap yang sangat manis: “Aku tahu kemiskinanmu.” Bagaimana Tuhan bisa tahu kesusahan kita dan kemiskinan kita? Semuanya ini hanya karena “Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai” (Ibr. 2:18)
“Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Mat. 5:11-12). Disini Tuhan memerintahkan kita untuk bersukacita dalam penderitaan. Inilah jalan keselamatan.
Ia adalah Allah, tetapi Ia turun ke tempat kematian dan keluar dari sana. Ia telah melangkah di tempat di mana umat-Nya sedang melangkah sekarang. Karenanya, Ia bersimpati. Siapakah yang berbicara kepada kita? Dia adalah Manusia-Allah yang telah mengalami penderitaan yang paling hebat di seluruh bumi dan telah melalui kematian. Haleluya!

Fitnah Mereka - Bait Suci
1 Ptr. 2:9; Why. 1:5, 6, 2:9; Ef. 1:3; 2:21-22

Frasa “dan fitnah mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi” menunjukkan bahwa kesulitan itu berasal dari dalam. Apakah arti orang Yahudi di sini? Mereka adalah orang-orang di dalam gereja yang ingin membaurkan Kekristenan dengan Yudaisme. Dengan kata lain, mereka ingin menggabungkan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru dan mencampurkan kasih karunia dengan Hukum Taurat. Orang-orang Yahudi ini, bersikeras mempertahankan sistem agama Yahudi, yang meliputi keimaman suku Lewi, tata cara mempersembahkan kurban, dan Bait Suci yang material. Semuanya itu adalah lambang yang telah digenapkan dan digantikan oleh Kristus. Karena gereja berada di bawah perjanjian yang baru, maka tidak berbagian dalam praktek ini, sehingga membuat penganut agama Yahudi mefitnah gereja.
Tetapi, banyak orang berkata bukankah keselamatan itu datangnya dari bangsa Yahudi? (Yoh. 4:22). Untuk itu, kita perlu mengetahui apakah yang disebut agama Yahudi dan apakah yang disebut kekristenan. Empat hal istimewa yang harus kita perhatikan adalah: pertama ialah Bait Suci, kedua ialah hukum Taurat, ketiga ialah Imam dan keempat ialah Perjanjian.
Jika orang Yahudi ingin beribadah kepada Allah, ia harus pergi ke Bait Suci. Baik pengakuan dosa maupun ucapan syukur harus dikerjakan di Bait Suci. Itulah jalan satu-satunya. Mereka baru dapat menyembah Allah setelah tiba di Bait Suci.
Namun, dalam Perjanjian Baru tidaklah demikian. Keistimewaan kekristenan justru tidak membutuhkan Bait Suci sebagai tempat kebaktian, sebab orang kristen sendiri adalah Bait Suci. Efesus 2:21-22, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Dari segi pribadi, setiap diri kita masing-masing adalah Bait Suci; dari segi korporat, kita semua dibangun dan disusun rapi sehingga menjadi tempat kediaman Allah. Ke mana kita pergi ke sana pula tempat ibadah itu mengikuti (Bd. Yoh. 4:21-24). Maka, pada dasarnya kekristenan sangatlah berbeda dengan agama Yahudi.

Penerapan:
Tuhan selalu tahu kondisi kita. Ia tahu kesusahan kita dan kemiskinan kita. Masih perlukah kita berkeluh kesah? Kita hanya perlu datang kepada-Nya, menikmati pujian-Nya dan penyertaan-Nya.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, akhir dari jalan kematian-Mu ialah hayat yang kekal. Terima kasih Tuhan, karena Engkau berjalan di depan kami. Engkau tidak pernah meminta sesuatu melebihi kapasitas kami. Terima kasih Tuhan, karena Engkau dapat turut merasakan semua kelemahan kami.


Fitnah Mereka – Hukum Taurat
Wahyu 2:9
"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu — namun engkau kaya — dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis."
Orang Yahudi memiliki hukum Taurat yang menjadi peraturan bagi kehidupan sehari-hari. (Sebenarnya Taurat hanya dipakai Allah untuk menyatakan dosa-dosa manusia semata). Setiap orang Yahudi wajib memelihara kesepuluh hukum itu. Akan tetapi, Tuhan Yesus berkata dengan tegas bahwa sekalipun kita telah memelihara kesepuluh Taurat itu, kita tetap masih kekurangan satu perkara (Luk. 18:20-22). Ajaran Yahudi menetapkan satu standar bagi manusia, terukir di atas loh batu, dan yang harus dihafalkan oleh mereka. Namun di sini timbullah satu persoalan: Kalau aku bisa membaca, aku bisa mengenalnya, tetapi kalau aku buta huruf, aku pasti tidak akan mengenalnya. Lagi pula kalau aku memiliki ingatan baik, aku bisa menghafalkannya; sebaliknya kalau aku seorang pelupa, aku tidak dapat menghafalkannya. Begitulah keadaan agama Yahudi. Patokan kehidupan agama Yahudi adalah statis, mati, dan berada di luar.
Kekristenan tidak memiliki Taurat, hukumnya pun tidak terletak di tempat lain; sebab ia bukan tertulis di atas loh batu, melainkan di dalam hati (Ibr. 8:10). Hari ini, jika di dalam “gereja” terdapat banyak peraturan yang serupa, ini bukan kekristenan. Semua yang peraturannya terpampang dan ditulis di luar, bukan kekristenan. Kita tidak memiliki hukum atau peraturan yang di luar, patokan kehidupan kita berada di dalam. Kesengsaraan gereja di Smirna justru disebabkan karena ada orang-orang yang menyebut dirinya Yahudi ingin memasukkan peraturan agama Yahudi ke dalam gereja.

Fitnah Mereka – Imam Dan Perjanjian
Why. 2:9; Ef. 1:3

Dalam agama Yahudi, orang yang menyembah Allah dengan Allah yang disembah itu saling terpisah jauh. Maka jarak merupakan ciri-ciri agama Yahudi. Dalam agama Yahudi, bila manusia melihat Allah, ia segera akan mati. Lalu, bagaimana mereka dapat mendekati Allah? Mereka harus bersandarkan seorang mediator, yaitu imam.
Kekristenan tidak demikian. Dalam kekristenan, Allah tidak saja menghendaki kita membawa benda-benda materiil, bahkan Dia menghendaki kita membawa diri kita sendiri ke hadapan-Nya. Kini kelas mediator sudah dihapus. Apakah kata-kata fitnah/hina yang diucapkan orang Yahudi itu? Di gereja di Smirna ada segolongan orang yang berkata, “Wah, kalau setiap urusan rohani: berkhotbah, membaptiskan orang dan lain sebagainya, boleh dilakukan oleh saudara-saudara awam itu, pasti akan kacau dan akibatnya bahaya sekali!” Mereka bermaksud mendirikan kelas-kelas mediator.
Saudara saudari, jangan mengubah Kekristenan menjadi Yahudi. Jangan anggap kita cukup memberi persembahan harta saja, sedangkan urusan pelayanan dikerjakan sekelompok kecil orang yang disebut ‘hamba Tuhan’. Sisanya sebagai kaum awam yang duniawi, maka hanya layak mengerjakan urusan duniawi dan boleh menjadi duniawi sekehendak hati mereka. Akan tetapi, saudara saudari, di dalam gereja tidak ada orang duniawi seorang pun. Ini bukan berarti kita tidak melakukan urusan dunia, melainkan dunia sudah tidak dapat menjamah kita. Dalam kekristenan, setiap orang haruslah rohani. Apabila dalam gereja hanya tinggal segelintir orang yang menangani urusan rohani, maka gereja itu sudahlah jatuh!
Mari kita teruskan melihat butir keempat. Tujuan orang Yahudi beribadah kepada Allah ialah supaya mereka diberkati Allah dengan berkat duniawi. Akan tetapi, janji Tuhan yang pertama dalam kekristenan ialah memikul salib dan mengikut Dia. Tuhan Yesus tidak menjanjikan kekayaan, namun apabila kita mencari kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepada kita (Mat. 6:33). Kita mungkin bisa kehilangan berkat duniawi, tetapi kita pasti bisa mendapatkan berkat surgawi. Jangan salah pilih!

Penerapan:
Roh Kudus berdiam di dalam kita dan menjadi hukum di dalam kita. Maka pada hari ini, mana yang benar atau mana yang salah, tidak dinyatakan di atas loh batu, melainkan dinyatakan di dalam hati.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih karena kini kami hidup dalam jaman Perjanjian Baru. Kami dapat memuji-Mu, menyembah-Mu kapan pun dan di mana saja.


Jangan Takut
Wahyu 2:10a
"Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!"

Jangan takut.” Adakah alasan yang membuat kita tidak takut? Tentu saja, bukan karena kesusahannya sedikit. Sebenarnya, kesusahan hari itu lebih besar dari apa yang dapat ditanggung oleh daging. Juga bukan janji perlindungan dari kesusahan. Sebaliknya, kita harus melalui kesusahan secara sepenuhnya. Bukan berarti bahwa kita memiliki kuasa untuk menghadapi sehingga dapat setia dalam kesusahan. Jika ini adalah alasannya, maka berarti semua itu sebenarnya tidak dapat dipercaya.
Tuhan memberitahu kita: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33). Kemenangan-Nya adalah dasar dari kemenangan kita. Ini bukan berarti karena Dia penuh kemenangan maka kita juga dapat menang dengan diri kita sendiri. Sebaliknya, Dialah yang menang dan kita menang di dalam Dia.
Meskipun Dia adalah teladan terbaik dalam dunia, di luar Dia kita tidak berkuasa. Kita akan menderita kesusahan. Namun, kita tidak perlu takut karena kesusahan ini, karena kuasa Kristus lebih besar dari pada Satan. Kita seharusnya menyatakan kepada para rasul: “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Rm. 8:37). Karena kita memiliki Dia, dan karena alasan inilah, kita tidak takut. Betapa mustikanya “Dia” ini!

Apa Yang Harus Engkau Derita
Why. 2:10a

Apa yang harus engkau derita.”Di sini, Tuhan Yesus memperingatkan umat-Nya akan penderitaan yang akan datang. Dia mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi. Tidak ada satu hal pun yang tidak dia ketahui. Dia adalah penjaga kita. Sebelum malapetaka tiba, Dia telah memperingatkan kita dan membuat kita menyadari posisi kita.
Jika ingin melayani Tuhan dengan setia, kita tentunya akan menghadapi penderitaan dan penganiayaan. Hasil dari mengambil jalan salib ialah pengakhiran salib. Salib yang kita percayai pada akhirnya akan menyalibkan kita. Untuk menjadi murid-murid Tuhan, kita harus menyerahkan segala sesuatu. Siapa yang tidak mengasihi Tuhan lebih dari dia mengasihi orang tuanya, istri, anak-anak, saudara, dan nyawanya sendiri, dia tidak layak menjadi murid-murid Tuhan.
Mereka yang ingin mengikuti Tuhan dan hidup dalam kesalehan tidak dapat menghindari penganiayaan. Tuhan tidak menipu kita. Dia tidak menyimpan perkataan-Nya sebelum kita menjadi murid-murid-Nya dan kemudian membiarkan kita mengalami penderitaan yang tidak kita harapkan. Dia terlebih dahulu memberitahu kita “apa yang harus engkau derita”, Ia juga memberitahu “di dalam dunia engkau mengalami penderitaan” (Yoh. 16:33). Dengan jalan ini, mereka yang ingin membangun menara dan terlibat dalam peperangan akan tahu bagaimana harus “duduk dan menghitung biayanya” atau “duduk dan mempertimbangkan” (Lukas 14:28, 31).
Tuhan memperingatkan kita terlebih dahulu bukan untuk membuat kita takut, justru untuk menyelamatkan kita dari rasa takut. Melalui diselamatkan dari rasa takut akan penderitaan dan penganiayaan, hal ini membuat kita tidak menjadi sembrono, kendor, dan tidak berjaga-jaga.
Sebelum ujian tiba, banyak orang yang percaya diri akan membanggakan keberanian mereka. Tetapi ketika penganiayaan tiba, mereka gagal. Namun, mereka yang berhati-hati dan berpikiran jernih, yang memperkirakan kemungkinan akan gagal, sering kali justru mengalami kemenangan penuh dan memuliakan nama Tuhan.

Penerapan:
Kita bisa lebih dari pada orang-orang yang menang adalah tak lain oleh Dia, yang mengasihi kita. Saudara saudari, ingatlah kemenangan kita adalah di dalam Dia, bukan di dalam diri sendiri. Jadi, berhentilah berusaha sendiri, bawalah semuanya kepada Tuhan.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, kesusahan sering kali membuat kami takut dan putus asa. Oh, Tuhan, ampuni kami karena kurang mengalami kuasa-Mu yang lebih besar dari pada Satan. Tuhan, Engkau telah menang, segala sesuatu ada di bawah kaki-Mu. Buatlah aku terus tinggal di dalam-Mu.


Selama Sepuluh Hari
Wahyu 2:10
"… Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari…."
Apakah sebenarnya maksud sepuluh hari itu? Dalam Alkitab, kita dapati beberapa kali "sepuluh hari". Ketika hamba Abraham hendak membawa Ribka, ibu dan kakak Ribka meminta supaya ia tinggal lagi bersama mereka paling sedikit sepuluh hari lamanya (Kej. 24:55). Ketika Daniel dengan kawan-kawannya menolak hidangan raja, maka ia mohon petugas raja untuk mencoba mereka selama sepuluh hari juga (Dan. 1:12, 14, 15). Maka sepuluh hari dalam Alkitab mengandung makna tertentu, yakni waktu atau masa yang tidak lama. Sepuluh juga adalah angka yang penuh, seperti sepuluh perintah yang menyatakan kesempurnaan tuntutan Allah; dan seperti persepuluhan dari kurban persembahan, yang menunjukkan sepuluh bagian dari kurban itu membentuk persembahan yang sempurna. Jadi, sepuluh hari menyatakan sejangka waktu yang singkat namun sempurna.
Firman Tuhan di sini pun mengandung arti yang serupa. Di satu pihak berarti, bahwa kesusahan kita itu ada masanya yang tertentu; ini juga berarti hari-hari di mana kita mengalami kesesakan itu telah dihitung oleh Tuhan. Dan setelah harinya berlalu, kita pasti akan dibebaskan, seperti halnya yang terjadi pada diri Ayub. Di pihak lain, sepuluh hari pun berarti waktu yang sangat singkat. Tidak peduli ujian atau pencobaan apa pun yang kita terima di hadapan Allah, waktunya tidak akan berlangsung terlalu panjang. Apabila waktu itu telah penuh, Iblis tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Kesusahan atau pencobaan yang kita alami akan berlalu dengan cepat, karena itu kiranya kita bisa bertekun sampai akhir.

Iblis Yang Melemparkan Kamu Ke Dalam Penjara
Why. 2:10

Gereja di Smirna tidak hanya menerima cercaan dan penderitaan dari tangan manusia. Iblis akan melemparkan beberapa orang di antara mereka ke dalam penjara. Mereka mengalami penganiayaan hebat, tetapi di sini Tuhan menyingkapkan bahwa yang menganiaya, menyakiti, dan membunuh kita bukanlah pegawai, atau tentara kekaisaran Roma, melainkan iblis.
Tuhan Yesus ingin kita mengindentifikasi dengan jelas siapakah sebenarnya musuh kita, siapakah sebenarnya yang menyakiti kita dan siapakah sebenarnya sumber dari semua penderitaan kita. Sangatlah mudah bagi kita untuk melihat manusia dan membenci manusia. Tetapi Tuhan ingin kita mengenal tokoh utama di balik semua penderitaan itu. Di satu aspek, Petruslah yang mencoba menghentikan Tuhan Yesus agar tidak naik ke atas salib. Tetapi Tuhan Yesus tahu siapa di baliknya.
Ini seharusnya menjadi pelajaran bagi kita. Kita seharusnya dengan jelas mengidentifikasikan musuh kita. Langkah pertama dari pekerjaan Satan ialah menyembunyikan dirinya. Dia membiarkan manusia hanya melihat ular di taman Eden, tanpa melihat siapa di belakangnya. Kita seringkali menganggap penganiaya kita adalah manusia, kita tidak melihat penyusupan Satan di balik orang-orang ini. Jika kita sungguh-sungguh mengenal pekerjaan Satan, kita tidak akan menyalahkan orang lain, tetapi akan lebih membenci Satan. Dengan jalan demikian, akan menjadi mudah bagi kita untuk memaafkan orang lain.
Allah membiarkan Satan menampi kaum saleh sehingga terang mereka akan bersinar dan nama Allah akan dimuliakan. Ini tidak berarti bahwa mereka tidak benar. Tetapi kesusahan dan ujian akan menghasilkan emas murni. Tawaran yang murah, jalan yang mudah, memiliki dua kaki yang berada pada dua perahu yang terpisah, dan hidup di antara dua jalan, adalah godaan-godaan terbesar yang Satan berikan kepada manusia. Allah lebih suka melihat anak-anak-Nya diserang oleh musuh dari pada mereka masuk dalam godaannya. Allah membiarkan Satan menganiaya kaum saleh sehingga mereka tidak menjadi orang-orang duniawi, tetapi menjadi orang-orang saleh dalam jemaat orang-orang kudus.

Penerapan:
Meskipun kuasa Satan itu besar, dan meskipun pembantaian dari kesusahan itu kejam, segala sesuatu ada di dalam tangan Tuhan. Ini berarti kita harus menerima kesusahan itu seperti kesusahan itu berasal dari tangan Tuhan. Segala kuasa dari musuh berada di bawah tangan kuasa Allah, waktu penekanan dan penganiayaannya diukur oleh Allah.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah salah. Segala sesuatu ada di dalam tangan-Mu, sesuai kedaulatan-Mu. Kuatkan dan tabahkan kami semua, arahkan pandangan kami kepada-Mu. Cukupkanlah kasih karunia-Mu bagi kami.


Setia Sampai Mati (1)
Wahyu 2:10b
"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."
Setia sampai mati adalah masalah waktu dan sikap. Tuhan menghendaki kehidupan setiap pelayan-Nya menjadi milik-Nya, itulah sebabnya kita harus setia sampai mati. Kita sepenuhnya adalah milik Tuhan. Sejak semula, Kristus hendak memperoleh segala sesuatu kita. Kini Tuhan berfirman, "Hendaklah engkau setia sampai mati." Dari segi sikap, kita harus setia sampai mati; dari segi waktu, kita harus setia selama hidup kita, sampai kita mati.
Kita tidak perlu mengelilingi dunia untuk mengalami penderitaan dan penganiayaan. Dalam gereja lokal, juga ada penganiayaan untuk kita alami. Di depan hidup gereja ada pintu yang sempit, tetapi begitu kita menetapkan untuk masuk ke dalam hidup gereja, tidak ada "pintu belakang" dan tidak ada "pintu darurat". Pada satu aspek, semua orang kudus dalam hidup gereja menjadi para "penganiaya" kita. Ketika kita baru masuk ke dalam hidup gereja, setiap orang menyenangkan bagi kita. Itu adalah bulan madu hidup gereja kita, tetapi bulan madu itu tidak tahan lama. Setelah sejangka waktu, kita sadar, bahwa Tuhan memakai hampir setiap orang kudus untuk menanggulangi kita.
Tidaklah sulit bagi seorang Kristen untuk mempertahankan kasihnya kepada Tuhan dan standar hidupnya menurut firman Tuhan dalam hari-hari yang tenang dan damai. Tetapi ketika berhadapan dengan pedang, penganiayaan, dan rantai dari orang-orang non Kristen sangatlah jarang dan berharga bagi seseorang untuk tetap bertindak sebagai "yang selalu dia lakukan" seperti Daniel (Dan. 6:11).

Setia Sampai Mati (2)
Why. 2:10; Mat. 16:25

"Sampai mati" bukan hanya perkara waktu. Ini juga berarti setia bahkan sampai pada harga kematian. Kematian adalah cobaan terbesar dan ujian yang terakhir. Jika kita melayani Tuhan dengan setia, kita akan kehilangan hidup kita. Menjadi setia berarti mati, sedangkan berkompromi, mengundurkan diri, mengalah pada kehendak manusia, dan menurunkan standar Allah berarti hidup. Jika seseorang setia kepada Tuhan dan bersedia untuk meninggalkan segala sesuatu, akhir hidupnya ialah mati. Mereka yang membuka hubungan yang pribadi dengan Satan secara sembunyi-sembunyi dan bersedia menyembah dia di gunung, ketika tidak ada siapa pun di sekelilingnya, tentu akan diselamatkan dari kematian dan akan mendapat berkat dari dunia ini. Tetapi orang yang melayani Tuhan dengan setia harus duduk dan menghitung biayanya, harga yang harus dia bayar.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hadapan kita. Tetapi, jika waktunya tiba bagi kita untuk mencurahkan darah bagi perkataan kesaksian kita, apakah kita sepenuhnya siap? Ketika hidup kita terancam, mampukah kita menjaga kesetiaan kita? Bagaimanakah perasaan kita ketika mendengar Tuhan berkata,"Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya" (Mat. 16:25)? Sekarang adalah waktu bagi kita untuk mempersiapkan diri menjadi martir.
Sering kali kita mengira masih ada banyak waktu dan peperangan baru saja di mulai, atau kita berpendapat bahwa lebih baik menyelamatkan tubuh kita hari ini agar berguna di masa depan. Namun, jika kita memhindari kesaksian pada momen yang penting ini, dan mencoba menyelamatkan tubuh kita bagi kegunaan yang lebih besar kemudian, pekerjaan kita di masa depan di hadapan Tuhan tidak ada nilainya. Martir adalah pekerjaan yang terbesar. Kesaksian yang paling besar ialah setia sampai mati. Darah berbicara lebih baik dari pada mulut. Suara darah lebih keras dari pada suara lainnya, dan kuasanya lebih besar dari pada kuasa lainnya. Tuhan ingin kita semua menjadi martir, jika tidak secara fisik, paling tidak secara psikologi.

Penerapan:
Kita perlu melatih tekad kita untuk setia sampai mati. Hari ini, semua ketidaknyamanan yang terjadi, kesalahpahaman, kata-kata tajam, muka asam, dll, belum membuat kita sampai mencucurkan darah, mengapa kita tidak bisa bertahan? Bila kita menerima semua kerugian ini dengan sukacita, ini berarti kita setia sampai mati.

Pokok Doa:
Tuhanku, kami damba bisa seperti Daniel, tidak goyah, dan tidak bergeming walaupun berhadapan dengan pedang, penganiayaan, dan rantai. Tuhan, kami mengasihi-Mu, dapatkan hidup kami sepenuhnya bagi-Mu, karena Engkau memang patut mendapatkannya.


Mengalahkan Maut (1)

Wahyu 2:10b
"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."
Meskipun Tuhan kita adalah Yang Menghakimi, Dia masih memikirkan keperluan umat-Nya. Dalam hari-hari yang sulit dan membahayakan, Dia masih bersama dengan kita. Dalam Perjanjian Baru, cara Dia menyelamatkan umat-Nya tidak lagi seperti yang dilakukan-Nya dalam Perjanjian Lama. Penyelamatan-Nya pada masa Perjanjian Lama adalah menyelamatkan mereka dari dapur api, atau lubang singa, atau menyelamatkan mereka dari kematian.
Sebaliknya kita harus setia sampai mati. Tuhan tidak berjanji untuk menyelamatkan kita dari liang kubur. Malahan kita harus mati untuk memuliakan Allah. Kristus mampu, bukan hanya menyelamatkan kita dari kematian, tetapi juga untuk menang atas kematian. Dia ingin supaya kita menyadari kuasa ini. Kematian tubuh tidak berarti apa-apa, hal ini malahan memimpin kita kepada hadirat Kristus.
Kuasa terbesar dari musuh ialah kematian. Namun Tuhan melampaui kematian. Setelah tubuh mati, kuasa musuh akan selesai. Kematian bukanlah untuk maut itu sendiri, melainkan adalah jalan masuk ke dalam hayat yang lebih berlimpah, yaitu kebangkitan. Karenanya, mengapa kita khawatir akan kematian? Juruselamat telah melaluinya dan bangkit kembali. Dia juga yang akan membangkitkan umat-Nya.
Bukan berarti setiap orang dari kita akan mati martir, namun kalau kita ingin menjadi pemenang, kita harus memiliki sikap hati seorang martir, yaitu seorang yang tidak takut berkorban apapun, bahkan nyawa kita sekalipun. Bila kita bersikap demikian, maka Satan sepenuhnya tidak berdaya.

Mengalahkan Maut (2)
Why. 2:8

Sebagai pencari Yesus yang penuh kasih, kita harus siap martir. Banyak orang di antara kita mungkin tidak menderita sebagai martir jasmani, melainkan menderita sebagai martir secara psikologis, atau menderita sebagai martir secara rohani.
Ada seorang saudari yang dipaksa menundukkan kepala dan memberi hormat pada dewi Diana (sebuah berhala Artemis di Efesus seperti yang tercantum dalam Kisah Para Rasul 19). Ia akan segera dibebaskan asal berbuat demikian. Bagaimanakah reaksinya? Ia berkata, "Apakah kalian menyuruh aku memilih Kristus atau Diana? Sejak semula aku telah memilih Kristus, kalau kini kalian menyuruh aku memilih lagi, aku tetap memilih Kristus." Akhirnya ia pun dihukum mati. Saat itu ada dua orang saudari menyaksikan peristiwa itu, lalu mereka berkata satu sama lain, "Sudah banyak anak-anak Allah yang diangkut pergi, mengapa kita berdua masih tinggal di sini?" Akhirnya mereka pun dijebloskan ke dalam penjara. Di sana mereka melihat banyak orang yang dijadikan mangsa binatang buas, sekali lagi mereka berkata, "Banyak orang sudah bersaksi dengan darahnya, mengapa kita hanya bisa bersaksi dengan mulut?" Salah seorang dari kedua saudari itu sudah bersuami, sedang yang lainnya telah bertunangan. Maka datanglah orang tua, suami, dan calon suami mereka, bahkan anak saudari itu pun dibawa ke sana, semua orang itu membujuk mereka supaya mau menyangkal Tuhan. Tetapi mereka tetap menolak bujukan orang-orang itu dan berkata, "Apalagi yang hendak kalian bawa untuk dapat dibandingkan dengan Kristus?" Akhirnya kedua saudari itu pun diseret keluar untuk dijadikan mangsa singa buas. Sambil berjalan, mereka masih dapat berkidung sampai akhirnya tewas terkoyak-koyak oleh singa.
Alangkah dahsyatnya penderitaan dan penganiayaan yang dialami gereja di Smirna! Tetapi, tidak peduli bagaimana dan apa yang akan kita alami, hayat tetap akan hidup kembali meskipun ia melewati maut. Penganiayaan itu hanya menyatakan, gereja itu adalah gereja yang bagaimana. Dia adalah "Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali."
Saudara saudari sudah banyak orang berkorban untuk Tuhan, apakah boleh kita hanya menonton mereka berkorban bagi Tuhan?

Penerapan:
Karena Tuhan telah meletakkan kita dalam kesusahan, kita tidak seharusnya berharap atau berdoa kepada Tuhan untuk membelaskasihani kelemahan kita, memimpin kita keluar dari kesusahan, menghentikan ujian yang kejam, dan mengaruniakan kenyamanan dan hidup yang damai.

Pokok Doa:
Tuhan, Engkau telah melampaui kematian. Pimpinlah aku melaluinya, siapkan aku dalam hidup sehari-hari tidak melarikan diri dari kesusahan, tidak mencari kenyamanan, hingga aku selalu siap martir bagi-Mu.


Mempertahankan Roh Martir (1)
Wahyu 2:10b
"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."
Apabila kita membaca buku Foxe’s Book of Martyrs, kita yang berada di abad ke-20 ini tidak dapat tidak kecuali tercengang. Penderitaan-penderitaan yang dialami kaum beriman pada waktu itu ialah yang tidak dapat ditanggung oleh daging manusia. Siksaan-siksaan yang kita lihat dalam sejarah, tidak dapat dibandingkan dengan sepersepuluh dari kekejaman hukuman yang dialami mereka pada hari-hari itu. Metode penganiayaan dan langkah-langkah penyiksaan bagi kriminal pada waktu itu adalah penemuan terbesar! Cara-cara yang begitu kejam melampau imajinasi manusia dipakai dan diterapkan kepada kaum saleh. Ini membuat kita heran, penganiayaan macam apa nantinya yang Antikristus pakai untuk menganiaya orang Kristen selama kesusahan besar! Tentunya akan lebih kejam dan tidak dapat ditanggung. Sungguh kasihannya mereka yang tidak mau melepaskan dunia sekarang, tetapi menunggu penderitaan tiba. Lebih kasihan lagi jika kaum beriman harus melalui hajaran Allah yang kejam sebelum mereka melepaskan dunia!
Murid Yohanes, Polycarp, adalah salah satu penatua di Efesus. Di usia 86 tahun, dia dibawa oleh pemerintahan Romawi dan dijanjikan untuk dibebaskan jika dia mau menyangkal nama Tuhan Yesus. Jawabannya menjadi motto sepanjang jaman : "Aku sudah melayani-Nya selama 86 tahun. Dia tidak pernah meninggalkan aku. Bagaimana aku dapat meninggalkan Dia hanya untuk mencegah kematianku?"

Mempertahankan Roh Martir (2)
Why. 2:8-10

Kita tahu bahwa adalah suatu kekecewaan yang besar bagi kaum saleh kuno ketika mereka diampuni oleh pemerintah dan disingkirkan dari eksekusi pada waktu penganiayaan. Banyak surat yang menggugah, yang tersimpan sampai sekarang. Surat-surat itu mengekspresikan kesedihan dan duka karena tidak mampu berbagian dalam hak istimewa dan kehormatan untuk mati bagi Tuhan. Di banyak kasus, mereka sungguh-sungguh menerima apa yang mereka harapkan, dan mereka sangat bersukacita. Pengalaman yang sungguh luar biasa. Ini menunjukkan kepada kita betapa besar kuasa Tuhan.
Tetapi, beberapa orang berpikir bahwa mati buat Tuhan adalah mudah karena hanya sekali untuk selamanya. Mereka mengira lebih sulit menderita bagi Tuhan setiap hari. Tidaklah mudah jika kita harus terus menerus menanggung kesalahpahaman dan penentangan demi mematuhi Tuhan dan firman-Nya agar menyenangkan hati Tuhan. Namun, jika seseorang tidak dapat hidup sebagai martir bagi Tuhan dalam hidup sehari-hari, dia juga tidak dapat mati sebagai martir bagi Tuhan. Jika seseorang menyadari sakit yang mengoyakkan hati yang di hadapi seorang martir pada titik kematian, dia tidak akan menganggap mati bagi Tuhan sebagai hal yang mudah. Jika Tuhan Yesus dengan keinsanian-Nya yang sempurna masih perlu berdoa di Getsemani, bagaimana dengan manusia biasa? Hidup seorang martir adalah hidup kematian. Jika seseorang tidak memperhidupkan suatu hidup kematian dalam hidup sehari-harinya, akan sulit untuk mengharapkan dia menjadi martir yang tidak undur. Karena itu, janganlah menolak untuk menderita setiap hari bagi Tuhan, untuk memikul kesalah pahaman dan penentangan, untuk mematuhi Tuhan dan firman-Nya.
Jika setiap hari kita memperhidupkan kehidupan seorang martir, maka begitu waktunya tiba untuk mempersaksikan iman dengan darah kita, kita akan mampu menghadapi kematian dengan kasih karunia-Nya. Gereja sanggup menderita kesusahan sampai mati sekalipun karena ia memiliki hayat kebangkitan. Kita semua bersyarat menjadi martir yang mengagumkan, menang, dan mulia.

Penerapan:
Hanya melalui meletakkan pikiran kita kepada Tuhan di kayu salib, pada penderitaan-Nya dan pada kemenangan akhir-Nya, maka kita akan dipenuhi dengan keberanian Tuhan dan tidak takut akan kematian tubuh kita, tetapi akan menjadi martir dalam segala hal.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, saat menghadapi kesusahan, peliharalah aku dengan kuasa-Mu, sehingga aku dapat bertahan dalam ujian dari penderitaan itu, setia dalam penganiayaan, dan tidak mundur dari kematian.


Tidak Sayang NyawaWahyu 12:11
"Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut."
Skema Satan ialah mengancam kita dengan ketakutan akan kematian dan mengecilkan hati kaum beriman dengan prospek akan kehilangan nyawanya. Dia membuat kaum beriman menimbang keuntungan dari melayani iblis dengan harga menyangkal Bapa, dan dia membuat mereka merasa bahwa yang satu begitu manis sedangkan yang lain begitu pahit. Tidaklah mudah bagi manusia daging untuk diselamatkan dari kemuliaan, posisi, ketenaran, hubungan manusia, dan kerugian keuangan. Jika sebagai tambahan akan hal ini, seseorang diberitahu bahwa menyerahkan hidup adalah harga yang harus dibayar karena percaya kepada Tuhan, setiap orang akan mundur dan mencoba melarikan diri.
Sifat manusia adalah menginginkan hidup dan membenci kematian. Di dalam setiap manusia alamiah ada sifat seperti semut yang mendambakan keberanian. Satan mengetahui diri kita lebih dari pada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tahu bahwa kelemahan kita ada pada keinginan kita untuk hidup. Pada saat yang kritis, dia menawarkan penjagaan untuk hidup kita sebagai harga untuk mengabaikan kebenaran. Itulah sebabnya, kita perlu mengalahkan Satan, "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, … tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut" (Why. 12:11).
Tidak mengasihi nyawanya sendiri adalah persyaratan untuk berperang dengan musuh. Jika kita memiliki hati yang tidak takut akan kematian, dan jika kita tidak peduli sekalipun kita akan dibantai dan dibunuh, Satan akan menemui jalan buntu.

Mahkota Kehidupan
Why. 2:10

Dalam Perjanjian Baru, mahkota selalu mengacu kepada pahala di samping karunia keselamatan (Why. 3:11; Yak. 1:12; 1 Tim. 4:8; 1 Ptr. 5:4; 1 Kor. 9:25).
"Aku akan memberimu mahkota hayat." Pada saat ini kita tinggal dalam waktu damai. Ketika kita menengok kembali pada penderitaan hari itu, kita hanya dapat gemetar. Namun, kita dapat melihat Roh kemuliaan Allah turun pada saudara-saudara yang menderita. Meskipun mereka menderita banyak bagi Kristus, mereka banyak dihibur oleh Kristus. Lebih baik mendapat hiburan Tuhan melalui penderitaan dari pada tidak mendapat penderitaan juga hiburan Tuhan. Siapakah yang dapat menghabiskan kemanisan hiburan Tuhan?
Kaum saleh di Smirna telah mendengar firman Tuhan kepada mereka: "Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan" (Why 2:10). Mahkota ini adalah mahkota kemenangan, sebab kondisi untuk menerima mahkota ini ialah memiliki pengalaman akan kemenangan. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (1 Kor. 9:25). Dunia memberi penghargaan pada atlit yang bertanding, tetapi Tuhan kita memberi pahala kepada para pemenang yang pergi berperang melawan Satan dan pasukannya. Tetapi, seseorang harus melatih pengendalian diri yaitu, memelihara "aturan" Allah, sebelum dia dapat memenangkan pahala. Jika tidak, dia tidak dapat menang, dan bahkan jika dia menang secara luaran, kemenangan sedemikian tidak terhitung. Ini karena "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga" (2 Tim. 2:5).
Kaum beriman yang tidak menerima pahala dan yang menderita kerugian masih diselamatkan (1 Kor. 3:15). Tidak ada perbedaan antara kasih karunia yang diterima oleh pencuri yang diselamatkan di atas kayu salib dan dengan keselamatan yang di terima Saulus dari Tarsus. Tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa pahala dari dua orang ini dalam kemuliaan adalah sama.

Penerapan:
Apa yang Satan lakukan ialah membuat kita mengasihi diri sendiri, mencucurkan air mata dengan sembunyi-sembunyi, membuat diri sendiri bermandikan kesedihan selama waktu-waktu sulit, pernderitaan, dan bahaya. Kita harus bangun dan melawan semua itu.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, jangan biarkan kami begitu mengasihi diri sendiri sehingga Satan berhasil membuat kami meletakkan senjata doa kami dan menghentikan peperangan.
Oh Tuhan, selamatkan juga kami semua dari dunia, agar dunia tidak menggerakkan hati kami. Tuhan Yesus, kami mau menjadi orang yang tidak mengasihi nyawa kami.


Barangsiapa Menang (1)
Wahyu 2:11
"Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat: Barangsiapa menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua."
Karena kejatuhan manusia dan masuknya dosa, maka semua orang harus mati satu kali (Ibr. 9:27). Namun kematian yang pertama ini bukanlah penyelesaian yang terakhir. Selain orang-orang yang sudah tercatat dalam kitab hayat karena percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua orang yang mati akan dibangkitkan dan menerima penghakiman takhta putih besar pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, yaitu pada kesudahan langit dan bumi yang lama. Melalui penghakiman kali itu, mereka akan dilemparkan ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua, sebagai penyelesaian yang terakhir (Why. 20:11-15). Sebab itu, kematian yang kedua ini adalah penanggulangan Allah terhadap manusia setelah manusia mati dan bangkit.
Karena para pemenang telah mengalahkan maut demi kesetiaan mereka sampai mati di bawah penganiayaan, dan tidak menyisakan apa-apa yang perlu ditanggulangi Allah, maka setelah mereka dibangkitkan, mereka akan mendapatkan mahkota hayat sebagai pahala, dan tidak akan dijamah lagi oleh maut, yaitu tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.
Setiap perkara negatif berasal dari kematian. Sebab itu, jika kita masih memiliki hal-hal negatif yang perlu ditanggulangi, berarti kita masih dapat dijamah oleh kematian. Itu bukan berarti kita akan binasa, melainkan kita pasti menderita oleh kematian yang kedua. Tak seorang pun dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan menderita oleh kematian yang kedua itu, tetapi pasti akan menderita sesuatu yang sangat berat.

Barangsiapa Menang (2)
Why. 2:10, 11

Kita jangan mengira bahwa setelah bangkit dari kematian, kaum beriman tidak perlu ditanggulangi lagi. Seandainya kita meninggal, beranikah kita berkata, "Tidak ada perkara apa pun pada diri kita yang perlu ditanggulangi oleh Tuhan?" Ini berarti, setelah meninggal dunia, kita masih mempunyai beberapa perkara yang perlu ditanggulangi lebih lanjut oleh Tuhan, tetapi bukan berarti kita akan binasa. Sekali lagi, bukan berarti kita akan binasa. Tidak. Setiap orang yang telah beroleh selamat, beroleh selamat selama-lamanya (Yoh. 10:28-29).
Setelah dibangkitkan, orang yang tidak percaya akan dihakimi oleh Allah, untuk menetapkan nasib kekal mereka. Dalam prinsip yang sama, setelah kita dibangkitkan, kita masih akan ditanggulangi oleh Tuhan. Hal itu tergantung pada cara hidup dan perilaku kita hari ini. Jika kita hidup dan berperilaku dalam kemenangan, berarti kita telah mengalahkan kematian dan tidak ada perkara apa pun yang perlu Tuhan tanggulangi. Jika kita mengalahkan aniaya dan kesusahan dengan hayat kebangkitan yang ada di dalam kita, di pihak positifnya, kita akan menerima mahkota hayat; di pihak negatifnya, kita tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.
Di sini dengan jelas dikatakan, tidak saja tidak akan mati, bahkan tidak akan menderita malapetaka apa-apa, sebab kita telah mempelajari pelajaran itu. Penderitaan merupakan sesuatu yang sangat berat. Jika kita tidak pernah jatuh dalam penderitaan, kita tidak akan tahu betapa beratnya hal itu. Kemiskinan juga sangat menyesakkan, terlebih pula fitnah. Kalau kita belum pernah difitnah orang, kita tidak mungkin mengerti betapa sakit tekanannya. Setiap musibah seolah-olah menyeret kita ke dalam maut.
Namun setelah kita mengalami semua itu, kita dapat membuktikan bahwa kebangkitan adalah suatu fakta. Tuhan telah keluar dari kubur, kita pun keluar dari situ. Hari ini, hayat kebangkitan-Nya tidak mungkin tenggelam ke dalam maut. Sebab itu, kita pun berani berkata bahwa kita juga tidak mungkin ditenggelamkan oleh maut!
Haleluya, Tuhan menang, kita juga menang. Tuhan bangkit, kita juga bangkit!

Penerapan:
Kita perlu setiap hari membiarkan Tuhan memurnikan kita melalui berbagai situasi yang menimpa kita, sehingga kita tidak meninggalkan apa-apa untuk ditanggulangi Allah kelak.

Pokok Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih untuk janji-Mu yang menghibur. Aku mau menjadi pemenang, karena itu tolonglah aku baik-baik mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada gereja-gereja dan segera bertobat. Jangan biarkan aku terus dalam kondisi demikian, bawalah aku maju dengan pesat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar